Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukun Dan Frekuensi
Udara pagi di lereng Gunung Sibayak menusuk hingga ke tulang. Di dalam ruang tengah rumah panggung kayu milik Guru Tawa, bau asap kemenyan bercampur dengan sengatan aroma tembaga panas dan timah cair.
Guru Tawa meletakkan piringan tembaga merah murni—Sigaik Begu—di atas tatakan batu hitam. Di sekeliling piringan itu, Maya sudah menggelar berbagai komponen elektronik modern dari ranselnya: sebuah pemancar frekuensi portabel berdaya tinggi, dua unit osiloskop mini, serta sirkuit inverter yang telah dimodifikasi.
"Sains modern menyebutnya phase cancellation atau pembalikan fase gelombang," terang Maya sembari menyolder kabel tembaga halus ke sirkuit inverter. "Dua gelombang dengan amplitudo yang sama tetapi dengan fase berlawanan seratus delapan puluh derajat akan saling meniadakan saat bertabrakan. Hasilnya adalah zero signal—hening total."
Guru Tawa mengangguk pelan, menyimak penjelasan Maya tanpa sedikit pun rasa heran. "Manusia kota menyebutnya dengan nama-nama rumit. Kami menyebutnya Pembalik Angin. Daging dan darah memberi wujud pada mantra, sedangkan tembaga merah adalah wadah untuk memantulkannya kembali ke asal."
Guru Tawa mengambil sebuah pisau kecil berukir gagang gading, lalu menatap Faris. "Ulurkan tangan kananmu, Nak."
Faris menelan ludah. Ia melangkah mendekati batu hitam, mengulurkan telapak tangan kanannya. Ia menahan napas saat Guru Tawa menggoreskan ujung pisau di telapak tangannya. Darah segar berwarna merah pekat menetes perlahan, jatuh tepat di atas pusat ukiran rajah Sigaik Begu.
PSSSSSHHH!
Saat tetesan darah Faris menyentuh permukaan tembaga merah yang telah dipanaskan, asap tipis berwarna keunguan menyembur pelan. Piringan tembaga itu mendadak bergetar halus, memancarkan denyut elektromagnetik yang membuat layar osiloskop mini milik Maya melukiskan grafik kurva sinus sempurna yang berbalik arah secara instan.
"Grafiknya berhasil terbalik!" seru Maya, matanya berbinar melihat layar osiloskop. "Sinyal darah Faris berhasil mengunci pola frekuensi induk 0000!"
Namun, kegembiraan itu langsung sirna ketika udara di dalam rumah panggung mendadak runtuh menjadi sangat dingin.
Bzzzt... Bzzzt...
Meskipun Desa Penatapen Tua tidak terjangkau jaringan seluler biasa, dua unit radio panggil (handie-talkie) yang dibawa Maya di dalam ransel tiba-tiba menyala sendiri. Lampu indikatornya berkedip merah liar, memancarkan dengung statis berfrekuensi rendah yang sangat dikenal Faris.
Tek... tek... tek...
"Mereka menemukan tempat ini!" jerit Faris seraya menyambar tang isolasi.
"Bukan sinyal seluler biasa," potong Guru Tawa tenang, menyambar tongkat kayu jati dan sebuntal garam jantan. "Mereka memakai pemancar kendaraan bergerilya mendaki lereng Sibayak."
Dari luar rumah panggung, suara raungan mesin mobil jip berdaya tinggi terdengar menderu menerobos semak-semak ladang kopi. Tiga unit jip hitam tanpa pelat nomor menerobos halaman berkerikil rumah Guru Tawa.
Dari atas kap salah satu jip, sebuah menara antena pemancar portabel berukuran raksasa telah terpasang, mengarahkan moncong pemancarnya lurus ke arah rumah panggung.
Puluhan pria berjaket hujan hitam—para pengikut Jamiah Frekuensi Nol—melompat turun dari kendaraan. Di barisan paling depan, berdiri seorang pria berjas rapi dengan kacamata hitam, memegang sebuah pengeras suara frekuensi militer.
Dialah utusan pribadi Hartono Senjaya.
"Serahkan piringan tembaga itu dan Faris kepada kami, Guru Tawa," suara dari pengeras suara itu memantul di lereng bukit, terdistorsi oleh bisikan ghaib yang menusuk gendang telinga. "Tuan Hartono tidak ingin merusak tanah keramat ini dengan pertumpahan darah."
Guru Tawa melangkah ke selasar rumah panggung, berdiri tegap menantang angin gunung. "Tanah ini keramat karena tidak terjamah oleh kesombongan manusia seperti tuanmu. Pergi, atau angin Sibayak akan mengubur kalian bersama besi-besi busukmu!"
Utusan Hartono tersenyum dingin. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pada teknisi di atas jip.
BZZZZZZZZT!
Antena pemancar raksasa di atas jip meraung seketika. Gelombang frekuensi ELF berdaya megapiksel disemburkan lurus menghantam rumah panggung. Kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping, dan tiang-tiang kayu rumah panggung berderat keras seolah hendak tumbang dihantam gempa lokal.
Faris dan Maya tersungkur di lantai kayu, memegangi kepala mereka yang serasa mau pecah oleh tusukan frekuensi mematikan tersebut.