Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Pertempuran Tennozan
Provinsi Bitchu, tepat di kamp pertahanan Hashiba Hideyoshi. Seorang pria duduk di dalam tenda besar yang berdiri kokoh di tengah perkemahan. Wajahnya dihiasi rambut lebat yang menyelimuti dagu hingga rahangnya. Ia memang bukan pria tampan seperti kebanyakan bangsawan, namun karisma kepemimpinannya terpancar begitu anggun dan berwibawa. Pria ini adalah sang panglima yang bertugas menahan gempuran klan Mori: Hideyoshi Hashiba. Ia dijuluki "Monyet Bijak dari Aichi" dan merupakan tangan kanan tepercaya dari Nobunaga Oda.
Saat Hideyoshi sedang sibuk mengatur strategi penyergapan terhadap klan Mori, seorang utusan dilaporkan datang mencarinya. Mendengar kabar bahwa utusan tersebut datang jauh-jauh dari Kyoto, Hideyoshi segera bergegas kembali ke tenda utama. Sesampainya di sana, ia terkejut mendapati seorang kunoichi yang sangat dikenalnya tengah bersandar dengan tubuh penuh luka.
"Nene, ada apa ini? Kenapa tubuhmu penuh luka?" cecar Hideyoshi, tak mampu menyembunyikan kecemasannya.
Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya sebelum menyampaikan kabar darah yang dibawanya.
"Mitsuhide-dono berkhianat dan menyerang Kuil Honnoji. No-hime terbunuh, dan Nobunaga-sama telah melakukan seppuku di dalam kuil," bisik Nene terbata-bata.
Bagai disambar petir, Hideyoshi tertegun mendengarnya. Ia tahu betul bahwa Mitsuhide adalah salah satu orang paling dipercaya oleh Nobunaga. Sama sekali tak terlintas di benaknya bahwa Mitsuhide akan menusuk Nobunaga Oda dari belakang. Hideyoshi perlahan duduk, lalu mengelus rambut wanita di hadapannya dengan lembut.
"Kerja bagus. Pergilah dan obati dirimu. Aku akan menuntut penjelasan tuntas atas tindakan Mitsuhide ini," perintah Hideyoshi pada Nene.
Nene adalah seorang kunoichi yang sebelumnya mengabdi di bawah klan Oda. Belakangan, diketahui bahwa ia menjalin hubungan dekat dengan Hideyoshi, bahkan rumor yang beredar menyebutkan mereka akan segera menikah. Saat insiden berdarah di kuil itu terjadi, Nene memang sedang ditugaskan oleh Hideyoshi untuk mengawasi Nobunaga. Dengan sisa tenaganya, Nene segera bergegas meninggalkan Hideyoshi menuju tenda pengobatan.
Mendengar kabar kematian tuannya, Hideyoshi langsung mengambil langkah cerdik. Ia mengerahkan segala upaya agar berita kematian Nobunaga tidak bocor ke telinga musuh mereka, klan Mori. Beberapa utusan Mitsuhide dari Kyoto yang tertangkap basah ingin membocorkan informasi tersebut langsung diringkus dan dijatuhi hukuman mati.
Begitu melihat Nene keluar dari tenda medis, Hideyoshi langsung bergegas menemuinya. Bagaimanapun, Nene adalah sosok yang teramat penting baginya.
"Syukurlah kau sudah membaik. Bisa kau ceritakan kronologi lengkap apa yang terjadi di Kyoto?" tanya Hideyoshi.
"Aku akan menceritakan bagian pentingnya saja," jawab Nene singkat.
Nene pun mulai memaparkan awal mula pergerakan pasukan Mitsuhide di Kyoto. Awalnya, Nene mengira itu hanyalah parade militer biasa yang kerap dilakukan Nobunaga untuk memamerkan kekuatan tempurnya. Namun, kecurigaannya memuncak saat melihat Mitsuhide berada di barisan depan pasukan yang bergerak mengepung Kuil Honnoji. Nene tahu betul bahwa Nobunaga sebelumnya telah memerintahkan Mitsuhide untuk membawa pasukan ke Bitchu, bukan ke Kyoto. Sayangnya, saat Nene mencoba menerobos kembali ke dalam Kuil Honnoji, segalanya sudah terlambat. Ia bahkan terkena imbas pertempuran hingga terluka parah. Dalam keputusasaan, Nene memacu kudanya tanpa henti menuju Bitchu demi melaporkan bencana ini kepada Hideyoshi.
Setelah mendengar penjelasan terperinci itu, Hideyoshi terdiam sejenak, memutar otak, lalu kembali menatap Nene.
"Menurutmu, apa langkah terbaik yang harus kita ambil sekarang?"
"Tepat setelah Jepang berada di bawah kendali Nobunaga-sama, Mitsuhide-dono malah memberontak dan menyebabkan kematian beliau. Tentu saja kau harus bergerak cepat untuk menumpas pemberontak ini, agar negeri ini tidak jatuh ke tangan yang salah," saran Nene tegas.
"Kau benar! Aku adalah tangan kanan Nobunaga-sama, maka akulah yang akan meneruskan impian yang telah beliau mulai. Aku akan menebas siapa pun yang berani menghalangi jalanku!" seru Hideyoshi sambil mengepalkan tinjunya erat-erat.
"Namun sebelum itu, kau harus membereskan urusan dengan klan Mori terlebih dahulu," Nene mengingatkan.
"Ah, soal itu, aku akan mengajukan negosiasi damai sementara kepada klan Mori. Aku yakin mereka tidak akan menolak dalam situasi seperti ini. Setelah urusan di sini selesai, kita langsung bergerak ke Kyoto untuk menumpas pengkhianat itu," balas Hideyoshi dengan senyum penuh keyakinan.
Usai perbincangan tersebut, Hideyoshi segera menulis surat negosiasi damai untuk klan Mori. Ia mengutus seorang samurai muda yang tangkas untuk mengantarkan surat tersebut ke Istana Takamatsu. Begitu utusan itu kembali membawa kabar baik kesepakatan damai, Hideyoshi tanpa membuang waktu langsung mengomandani ribuan pasukannya berbaris menuju Kyoto.
Saat melintasi Provinsi Osaka, Hideyoshi singgah di Sakai untuk menggalang kekuatan, mengajak Nagahide Niwa dan Nobutaka Oda bergabung demi membalas kematian Nobunaga. Nobutaka, putra ketiga Nobunaga, kebetulan menguasai kastil di wilayah Sakai. Tidak hanya itu, Hideyoshi juga mengumpulkan mantan bawahan Nobunaga di seputar Osaka, termasuk kelompok Saika Ikki-pasukan infanteri tangguh yang sangat piawai menggunakan senapan sundut. Kelompok ini dipimpin oleh Magoichi Saika, seorang samurai eksentrik yang ahli dalam taktik senjata api dan mesiu.
"Nobutaka, bagaimanapun juga, mengalir darah Nobunaga-sama di tubuhmu. Kita harus mengumpulkan sisa-sisa pengikut ayahmu secepat mungkin untuk menghancurkan pemberontak ini," ajak Hideyoshi memotivasi.
Nobutaka yang masih berjiwa muda hanya bisa mengangguk patuh mengikuti arahan Hideyoshi. Keesokan harinya, mereka bergerak serentak menuju Kyoto. Di tengah perjalanan, Hideyoshi juga berpapasan dengan Hanbei Takenaka, ahli strateginya yang juga sedang dalam perjalanan menuju Kyoto. Sepanjang jalur berbaris, Hideyoshi terus melipatgandakan jumlah pasukannya. Dengan kekuatan raksasa sekitar 40.000 tentara, Hideyoshi bergerak mantap menuju kota Yamazaki.
Sementara itu, di pihak Akechi Mitsuhide. Mitsuhide saat itu telah menguasai dua benteng strategis di Yamazaki, yaitu Kastil Shoryuji dan Kastil Yodo. Ketika mendengar laporan mengenai gelombang masif pasukan Hideyoshi, ia menyadari bahaya jika harus terperangkap di dalam benteng dengan pasukan yang terbagi dua. Akhirnya, Mitsuhide memutuskan untuk menyambut musuh di medan terbuka di sebelah selatan Yamazaki. Posisi geografis daerah tersebut yang dijepit oleh sungai dan pegunungan memberikan keuntungan taktis bagi Mitsuhide, karena corong alami itu dapat membatasi jumlah pasukan musuh yang bisa merangsek maju secara bersamaan. Pasukan Akechi pun segera mendirikan perkemahan tempur di sana.
Setelah selesai mengatur formasi dan mengambil posisi bertahan, Mitsuhide memanggil sepupunya, Samanosuke.
"Samanosuke! Sebelumnya kau telah gagal membawa kepala Nobunaga untuk dipajang di jalanan. Jika kau orang lain, aku pasti sudah menjatuhkan hukuman mati. Namun, karena kau adalah sepupuku, aku memaafkanmu. Apa kau paham maksudku?" tanya Mitsuhide dingin.
"Aku mengerti, Mitsuhide-dono. Aku akan menebus kegagalan itu, apa pun taruhannya," sahut Samanosuke dengan tatapan mata yang tajam dan serius.
"Bagus! Aku menghargai tekadmu. Kalau begitu, pergilah ke garis depan dan pimpin pasukan. Pancing pasukan monyet itu agar masuk ke celah pegunungan. Aku akan bersiap di sini untuk menyergap dan menghabisi mereka," perintah Mitsuhide.
"Dimengerti. Akan kupastikan mereka terpancing masuk ke celah gunung," jawab Samanosuke menyanggupi perintah kakak sepupunya itu.
Mitsuhide tersenyum puas, lalu melangkah menuju kotak penyimpanan baju zirah di sudut ruangan. Begitu kotak dibuka, tampaklah sebuah zirah mewah berwarna ungu terang yang dihiasi lambang klan Akechi pada bagian dadanya. Ia mengambil zirah beserta kabuto (helm perang) tersebut, lalu menyerahkannya kepada Samanosuke.
"Kenakan zirah ini dalam pertempuran. Komando pasukan kini berada di tanganmu. Jangan kembali sebelum kau membawa kepala si monyet. Pilihanmu hanya dua: gugur dengan terhormat atau pulang membawa kepala Hideyoshi," ujar Mitsuhide dengan nada sinis yang menusuk.
Samanosuke segera mengorganisasi pasukan yang dipimpinnya dan bersiap bergerak ke garis depan keesokan paginya.
Di saat yang sama, Hanbei Takenaka menganalisis medan perang dan menyimpulkan bahwa kawasan berhutan di Gunung Tennozan, yang terletak di luar kota Yamazaki, merupakan titik kunci yang sangat strategis untuk mengamankan akses jalan menuju Kyoto. Ia menyarankan Hideyoshi untuk mengirim satu detasemen pasukan khusus di bawah komando Nagahide Niwa untuk menguasai daerah tersebut.
"Nagahide adalah seorang samurai yang sangat jeli. Dia pasti mampu mengatasi musuh jika terjadi serangan mendadak di area tersebut," ujar Hanbei meyakinkan Hideyoshi saat mendiskusikan penugasan Nagahide ke Gunung Tennozan.
"Lalu, bagaimana denganku? Aku tidak sudi hanya berdiam diri sementara bawahanku bertempur habis-habisan demi menumpas pengkhianat," tanya Hideyoshi pada Hanbei.
"Tuan sebaiknya memimpin pasukan utama masuk ke kota Yamazaki. Ambil jalur di atas pegunungan agar kita mendapatkan keunggulan posisi tinggi yang krusial. Tempatkan kelompok penembak senapan sundut untuk berjaga di sana," jawab Hanbei dengan tenang.
"Kenapa harus penembak sundut? Bukankah kita memiliki pasukan penunggang kuda yang bisa menyergap mereka dengan cepat dari atas bukit?" cecar Hideyoshi ingin menguji ahli strateginya.
"Aku sangat yakin musuh sengaja memanfaatkan celah pegunungan untuk memancing kita masuk ke perangkap mereka. Kita akan menderita kekalahan besar jika nekat menggunakan pasukan berkuda di medan sempit seperti itu. Jauh lebih efektif menggunakan senapan sundut untuk menghujani mereka dengan peluru dari atas bukit," jelas Hanbei.
Hideyoshi sebenarnya sudah mengendus taktik Mitsuhide yang ingin memancing mereka ke dalam jebakan celah gunung. Namun, ia sengaja bertanya hanya untuk menguji seberapa jauh ketajaman visi dan rencana Hanbei.
Sementara itu, Samanosuke Akechi yang memimpin pasukan perintis menempatkan pasukannya tepat di balik sebuah sungai kecil bernama Sungai Enmyoji. Parit alam tersebut memberikan posisi defensif yang sangat kokoh, sehingga membuat penjagaan di bagian dalam perkemahan agak melonggar karena merasa aman. Pada malam hari tanggal 1 Juli, Nakamura Kazuuji dan Horio Yoshiharu-dua jenderal andalan Hideyoshi-menyusupkan sejumlah shinobi ke dalam kamp Samanosuke. Para shinobi ini berhasil membakar gudang-gudang logistik makanan, memicu kepanikan dan kekacauan hebat di perkemahan pasukan Akechi. Samanosuke segera bertindak cepat untuk meredam kepanikan dan menata ulang barisan pasukannya. Ia memerintahkan para samurai untuk memperketat keamanan di sekeliling kamp. Walaupun pihak Hideyoshi tidak melancarkan serangan lanjutan malam itu, kondisi pasukan Mitsuhide yang terpaksa berjaga semalaman membuat mereka kehilangan fokus dan stamina saat fajar pertempuran tiba.
Keesokan paginya, genderang pertempuran utama bertabuh hebat ketika pasukan Hideyoshi mulai berbaris rapat di sepanjang tepian Sungai Enmyoji, berhadapan langsung dengan musuh. Sebagian samurai Mitsuhide yang dipimpin oleh Matsuda Masachika dan Nabioka Kamon nekat menyeberangi sungai, berharap dapat merebut kawasan berhutan di Gunung Tennozan terlebih dahulu. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Hideyoshi telah menempatkan pasukan Nagahide di sana. Sementara itu, Samanosuke Akechi tetap bertahan di seberang sungai, bersiap memancing sisa pasukan Hideyoshi ke arah celah gunung.
Melihat pergerakan musuh yang semakin mendekat, Nagahide yang telah bersiap di Gunung Tennozan segera memberi aba-aba kepada pasukan pemanah di bawah komandonya. Begitu musuh berada dalam jarak efektif seratus meter, Nagahide memberi isyarat tembak. Ratusan anak panah melesat membelah langit, menghujani pasukan Matsuda Masachika hingga banyak dari mereka yang langsung tersungkur tewas. Namun, sisa pasukan musuh yang tangguh tetap merangsek maju demi mencapai garis pepohonan. Ketika jarak musuh sudah semakin tipis, Nagahide memerintahkan pasukan pemanahnya untuk mundur teratur.
"Pemanah, mundur! Pasukan berkuda, bersiap maju!" teriak Nagahide menjalankan taktik Hanbei dengan presisi tinggi.
Pasukan berkuda yang semula bersembunyi di lini belakang langsung menghentak maju, menghantam keras barisan pasukan Matsuda Masachika. Nagahide yang memimpin dari depan tidak mau tinggal diam; ia memacu kuda abu-abunya dengan kencang, melesat langsung mengincar Nabioka Kamon yang sejak awal telah ditargetkannya.
"Pengkhianat seperti kalian tidak layak menginjakkan kaki di bumi ini! Nabioka, bersiaplah menemui ajalmu!" seru Nagahide lantang.
"Orang-orang bodoh seperti kalian tidak akan pernah paham! Mitsuhide-sama adalah sosok yang ditakdirkan untuk menyatukan negeri ini! Hideyoshi itu hanyalah seorang anak petani yang kebetulan beruntung, dia tidak akan pernah pantas menjadi Shogun!" balas Nabioka sembari mengangkat tombaknya tinggi-tinggi dan memacu kudanya menerjang Nagahide.
Nagahide dengan sigap menyambut benturan senjata lawan. Tubuhnya yang kekar dan tegap memberikan keuntungan besar dalam adu kekuatan jarak dekat. Namun, ukuran tubuh itu menjadi bumerang saat bertarung di atas pelana; beban berat membuat kudanya bergerak kurang lincah dibandingkan kuda lawan. Sebaliknya, Nabioka yang berpostur lebih kecil mampu bermanuver dengan sangat gesit. Setelah beberapa kali dentingan tombak beradu, tangan Nabioka mulai gemetar menahan kedahsyatan tenaga Nagahide yang berada jauh di atasnya. Tak kehilangan akal, Nabioka memacu kudanya berputar cepat mengelilingi Nagahide untuk mengacaukan fokusnya. Begitu melihat celah terbuka, Nabioka melesatkan mata tombaknya lurus ke arah leher kuda Nagahide. Kuda abu-abu itu meringkik kesakitan dan melompat liar, melemparkan Nagahide terjerembab ke tanah.
"Tammatlah riwayatku," batin Nagahide pasrah saat melihat Nabioka memacu kuda bersiap menusuk tubuhnya yang tak berdaya.
DOR!
Secara tak terduga, kuda yang ditunggangi Nabioka mendadak tersungkur roboh. Rupanya, kaki kuda tersebut berhasil ditembak tepat sasaran oleh seseorang dari barisan belakang menggunakan senapan sundut. Pria itu adalah Magoichi Saika, yang baru saja tiba memperkuat sayap kiri pasukan.
Strategi Hanbei berjalan mulus. Hideyoshi telah memerintahkan pasukan sayap kiri yang semula berada di atas pegunungan untuk turun mengalir, membantu pasukan Nagahide yang sempat terdesak, sementara pasukan sayap kanan sengaja tetap disembunyikan sebagai kejutan akhir.
"Mundurlah, biar kami yang menyelesaikan urusan ini," ujar Magoichi sambil melangkah maju, moncong senapannya kini membidik langsung ke arah Nabioka Kamon yang tengah merangkak bangun dari kudanya yang mati.
DOR!
Magoichi melepaskan tembakan tepat ke leher Nabioka. Dalam sekejap, Nabioka meregang nyawa dengan kondisi leher yang hancur bersimbah darah. Nagahide yang menyaksikan cara bertarung Magoichi langsung bangkit dan melayangkan protes keras.
"Tindakanmu barusan melanggar kode etik Bushido! Sama sekali tidak mencerminkan kehormatan seorang samurai!" protes Nagahide sengit.
Magoichi justru terkekeh geli mendengar teguran tersebut. "Sungguh salah kaprah jika kau menganggap kami sebagai samurai. Kami ini hanyalah sekelompok bandit yang kebetulan memiliki dendam pribadi pada Mitsuhide. Hideyoshi membayar kami mahal untuk menghabisi para pengkhianat ini, dan kami hanya melakukan pekerjaan kami," pungkasnya santai.
Nagahide memilih tidak memperpanjang perdebatan ideologis tersebut. Ia memungut tombaknya, lalu berdiri tegak di samping Magoichi.
"Aku tidak peduli apa yang ada di dalam kepala kalian, tetapi untuk saat ini, aku menerima bantuan ini. Lagipula, karena ini adalah perintah langsung dari Hideyoshi-dono, aku tidak punya alasan untuk menolaknya," kata Nagahide seraya mengangkat tombaknya kembali, bergerak maju menyapu sisa musuh bersama Magoichi.
Melihat pasukannya hancur berantakan akibat hujan peluru senapan sundut, Matsuda Masachika yang panik segera memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk mundur menyeberangi sungai. Hideyoshi yang melihat momentum emas ini langsung memerintahkan pasukan di bawah pimpinan Nagahide dan Magoichi untuk terus menyeberangi sungai, memburu musuh yang mencoba melarikan diri ke celah gunung dengan kawalan tembakan perlindungan senapan sundut dari puncak Gunung Tennozan. Pasukan Hideyoshi kini bergerak masif, menjepit dan mendesak pasukan Mitsuhide masuk semakin dalam ke perangkap maut di celah gunung.
Catatan Istilah Resmi:
Hime: Panggilan hormat untuk wanita bangsawan Jepang, dapat diartikan juga sebagai Putri.
Saika Ikki: Sekelompok ronin (tentara bayaran) yang ahli dalam taktik penggunaan senapan api dan mesiu. Istilah ini secara harfiah berarti "Persaudaraan Saika".
Ronin: Sebutan bagi samurai bebas yang tidak memiliki tuan (Daimyo) atau tidak terikat pada pemilik tanah.
Shogun: Panglima tertinggi pasukan samurai sekaligus penguasa militer dan pemerintahan de facto di Jepang kuno.
Bushido: Kode etik kesatria, norma, dan pedoman hidup yang wajib dipegang teguh oleh setiap samurai.