Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: BUKTI DI BALIK KULIT LILIN
BAB 2: BUKTI DI BALIK KULIT LILIN
Lampu neon panjang di plafon kamar jenazah VPCI berdengung halus, memancarkan cahaya putih dingin yang memantul di atas permukaan meja stainless steel. Suasana di ruangan steril itu begitu hening, hanya didominasi oleh denting instrumen logam yang beradu pelan dan desah napas dr. Sara Maheswari yang teratur.
Di sudut ruangan, Nadia berdiri sigap memegang lembar pencatatan medis. Tangannya sesekali mengelap keringat tipis di dahi dr. Sara yang tertutup hairnet khusus. Jasad Hartawan terbaring kaku di tengah ruangan, kulitnya yang makin membiru seperti lapisan lilin dingin di bawah sorotan lampu otopsi.
"Reno terlalu percaya diri dengan instingnya," cetus dr. Sara tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskop binokuler di atas meja. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan latex memutar kenop fokus dengan ketelitian penuh.
"Dia pikir pembuktian medis bisa diselesaikan dengan tebakan fiksi detektif. Kalau kita tidak menemukan apa-apa di sela jari kaki ini, laporan ke keluarga dan polisi akan jadi bencana besar buat reputasi VPCI yang baru berdiri."
Nadia tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tapi insting Mas Reno jarang meleset, Dok. Lagipula, tidak ada salahnya kita sapu bersih semua kemungkinan sebelum berkas ini ditutup resmi."
dr. Sara menghela napas berat. Baginya, sains tidak mengenal 'insting'. Sains hanya tunduk pada bukti empiris, jaringan sel, dan reaksi kimia. Sang dokter forensik menarik lampu ultraviolet berdaya tinggi, memosisikannya persis beberapa sentimeter di atas kaki kanan jasad Hartawan.
Ia mulai memeriksa celah lembut di antara ibu jari dan telunjuk kaki korban. Jemari lentiknya merenggangkan lipatan kulit yang kaku itu secara perlahan.
"Nadia, matikan lampu utama," perintah dr. Sara mendadak. Suaranya berubah tajam, kehilangan nada skeptis yang tadi menyelimutinya.
Nadia bergerak cepat menekan sakelar. Seketika, kamar jenazah tenggelam dalam kegelapan temaram, diselimuti pendar pendaran biru keunguan dari lampu UV.
Di bawah pendaran gelombang cahaya ultraviolet itu, dr. Sara menahan napas. Tepat di lipatan paling dalam di antara sela jari kaki kanan Hartawan, muncul sebaris pendaran fluoresens tipis titik memar mikroskopis berwarna keunguan yang dikelilingi bekas tusukan jarum halus berdiameter tak lebih dari sembilan belas gauge.
Begitu kecil, hingga pasti akan terlewatkan dalam pemeriksaan fisik luar standar pihak kepolisian.
"Astaga..." bisik dr. Sara. Tangannya bergetar halus saat mengambil kaca pembesar medis. "Ada jejak ekstrakasasi darah di bawah jaringan epidermis. Seseorang benar-benar menusukkan sesuatu di sini."
Nadia mendekat dengan mata membelalak. "Jadi... Mas Reno benar?"
dr. Sara tidak menjawab. Rasa gengsi dan keterkejutannya bertarung sengit di dalam dada. Bagaimana mungkin seorang detektif yang hanya memegang kancing baju di ruang rapat bisa memprediksi lokasi titik suntikan yang sekecil ini tanpa menyentuh jasadnya secara langsung?
"Nadia, ambil spuit aspirasi sampel jaringan dan lakukan tes toksikologi cepat!" seru dr. Sara tegas, memecah ketegangannya sendiri. "Kita butuh mengidentifikasi jenis Senyawa yang masuk ke aliran darahnya dalam sepuluh menit!"
Sementara itu, di lantai atas, ketegangan di ruang operasional VPCI tidak kalah panas. Dion 'Zero' Prasetya tampak mengacak-acak rambut jabriknya yang mulai berantakan. Tiga layar monitor di depannya menampilkan ratusan deret kode biner, diagram gelombang sinyal, dan potongan rekaman CCTV yang terdistorsi garis-garis noise.
Reno berdiri tepat di belakang kursi Dion, menyilangkan tangan dengan wajah datar, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang. Efek pusing akibat psychometry tadi masih menyisakan denyut nyeri di balik pelipisnya.
"Gila, Ren... ini gila!" seru Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari papan ketik. Jarinya menari bagai kesetanan menekan tombol-tombol keyboard. "Seseorang meretas jaringan kamera pengawas rumah Hartawan memakai protokol enkripsi kelas militer. Mereka mengacaukan sinyal selama delapan belas menit. Tapi mereka melakukan satu kesalahan kecil."
"Kesalahan apa?" tanya Reno dingin.
"Mereka pikir mereka sudah menghapus log server secara permanen," Dion menyeringai lebar, menunjuk salah satu layar yang menampilkan peta termal koridor belakang rumah korban. "Gue berhasil me-restore cache tersembunyi dari sensor gerakan infrared milik sistem alarm. Lihat ini!"
Dion menekan tombol enter. Di layar, dua siluet titik merah tampak bergerak cepat secara berurutan. Siluet pertama berpostur tinggi tegap keluar dari pintu darurat belakang pada pukul 21.42. Hanya berselang empat belas detik, siluet kedua—berpostur lebih pendek dan sedikit bungkuk menyusul keluar dari arah yang sama, melompati pagar pembatas kompleks menuju semak-semak.
Reno memicingkan mata. Penglihatan dari kilas balik kancing kemeja itu kini tervisualisasi sempurna dalam bentuk data termal. Dua orang pelaku. Presisi dan tidak terbantahkan.
"Dion, bisakah kamu memetakan kemana arah pergerakan dua titik termal ini setelah keluar dari kompleks?" tanya Reno.
"Gue lagi meretas jaringan CCTV lalu lintas kota di sekitar radius dua kilometer dari lokasi," jawab Dion cepat. "Tapi masalahnya, kalau kita cuma punya siluet termal tanpa wajah, Mbak Widya nggak akan bisa pakai data ini sebagai bukti resmi di depan penyidik."
Pintu ruang operasional mendadak terbuka kasar. Widya Kusuma masuk dengan wajah tegang, membawa tumpukan map tebal dan ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Reno! Kita punya masalah besar!" ujar Widya setengah setengah setengah berbisik sambil menutup pintu rapat-rapat. Ia mematikan panggilan teleponnya.
"Pihak kepolisian baru saja memanggilku. Pengacara keluarga besar Hartawan dari kubu saudara kandungnya menuntut agar jasad Hartawan segera diserahkan siang ini juga untuk proses pembakaran lusa. Mereka mengancam akan mencabut izin investigasi swasta VPCI kalau kita terus-terusan menahan jasadnya tanpa bukti tindak pidana!"
Reno menatap Widya tanpa berkedip. "Saudara kandungnya? Siapa?"
"Yudha Hartawan," jawab Widya cepat. "Adik kandung korban yang memegang posisi direktur keuangan di perusahaan mereka. Dia mengklaim bahwa investigasi VPCI hanya bentuk ketakutan tak berdasar dari istri muda Hartawan dan cuma membuang-buang waktu."
Yudha. Nama itu memicu kilatan memori di kepala Reno. Dalam kilas balik tadi, walau kedua pelaku mengenakan topeng, posture tubuh pelaku kedua yang memiting leher Hartawan dari belakang terasa sangat familiar pendek, bungkuk, dengan cara berjalan yang agak timpang pada kaki kiri. Tepat seperti gaya berjalan Yudha yang pernah Reno lihat di media massa saat wawancara bisnis.
"Widya, tahan mereka minimal tiga jam lagi," tegas Reno.
"Tiga jam?" Widya menaikkan suara, matanya membelalak stres. "Ren, secara hukum mereka punya hak penuh kalau kita tidak punya bukti fisik pembunuhan! Aku tidak bisa menahan pengacara kelas atas mereka hanya dengan modal 'insting' kamu!"
Brak!
Pintu ruangan kembali terdorong pelan. dr. Sara berdiri di ambang pintu. Jas laboratorium putihnya masih ternoda sedikit cairan pereaksi kimia. Di tangannya, ia memegang selembar kertas hasil cetakan analisis laboratorium yang masih hangat dari mesin printer.
Seluruh mata di ruang operasional tertuju pada sang dokter forensik. Suasana mendadak menjadi sangat hening hingga suara detak jam dinding terdengar begitu keras.
dr. Sara menatap Reno cukup lama. Matanya memancarkan kombinasi rasa tak percaya, kekaguman yang tersembunyi, sekaligus kebingungan yang luar biasa. Ia berjalan pelan mendekati meja rapat dan meletakkan kertas analisis itu di tengah-tengah mereka.
"Hasil tes toksikologi cepat," kata dr. Sara dengan suara bergetar tipis.
"Kami menemukan kandungan succinylcholine dosis tinggi pada jaringan sela jari kaki kanan korban. Itu adalah senyawa pelemas otot sintetis tingkat tinggi. Racun itu melumpuhkan sistem pernapasan korban dalam hitungan detik tanpa meninggalkan jejak memar yang kentara, memicu gagal jantung seketika yang secara kasat mata terlihat seperti serangan jantung alami."
Widya menutup mulutnya yang ternganga. Dion menghentikan jemarinya di atas keyboard.
dr. Sara beralih menatap Reno lurus-lurus, melangkah satu tindak mendekati sang detektif.
"Dan bukan cuma itu... Di area leher belakang korban, kami menemukan sisa mikroskopis serat kain wol langka berwarna biru tua di bawah pendaran UV. Serat itu terlepas saat leher korban dipiting dengan sangat kuat dari belakang."
"Dua pelaku..." gumam Widya shock. "Satu menyuntikkan racun, satu memiting dari belakang."
"Ya," potong dr. Sara, matanya tak lepas meneliti raut wajah Reno yang tetap tenang. "Ini pembunuhan berencana oleh dua orang eksekutor yang amat rapi."
dr. Sara menarik napas panjang, merendahkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh Reno.
"Sekarang jelaskan padaku, Reno Devano... Bagaimana bisa kamu tahu ada tusukan jarum di sela jari kaki dan pitingan di leher belakang sebelum aku menyentuh pisau bedahku? Kamu bahkan belum menyentuh jasad Hartawan sama sekali."
Suasana di ruangan itu mendadak membeku. Dion dan Widya kini turut memandang Reno, menunggu jawaban dari teka-teki gila tersebut.
Reno mengepalkan telapak tangan kanannya yang tersembunyi di dalam saku celana tangan yang tadi menyerap kilas balik mengerikan dari kancing kemeja korban. Ia menatap dr. Sara dengan tatapan tajam yang tak tergoyahkan, mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Seorang detektif tidak pernah membocorkan rahasia deduksinya sebelum pelakunya tertangkap, Sara," jawab Reno pelan namun sarat akan tekanan.
Ia memutar tubuhnya menghadap Dion dan Widya. "Dion, cocokkan serat kain wol biru tua itu dengan pakaian para tersangka. Widya, gunakan laporan resmi toksikologi Sara untuk menerbitkan surat perintah penahanan darurat bagi Yudha Hartawan dan orang kepercayaannya. Kasus ini baru saja dimulai, dan kita akan menangkap kedua eksekutor itu sebelum matahari terbenam."