NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Keheningan yang Menyakitkan

Suasana di meja makan itu perlahan menjadi canggung. Setelah kejadian tagihan tadi, tak ada lagi yang berinisiatif membuka percakapan. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing, seolah lebih nyaman menikmati hidangan dalam diam daripada harus berhadapan dengan suasana yang masih menyisakan ketegangan.

Berbeda dengan yang lain, Tantya tampak santai. Sesekali ia menyeruput jus pesanannya yang mahal, lalu kembali menatap layar ponsel. Ia sedang menyaksikan siaran langsung dari toko bajunya yang dilakukan oleh salah seorang karyawannya.

Senyum puas mengembang di bibirnya. Kolom komentar bergerak begitu cepat, sementara jumlah penonton terus bertambah. Tak sedikit pula yang mulai menanyakan ukuran, warna, dan harga pakaian yang sedang dipromosikan.

Penjualan melalui siaran langsung itu rupanya berjalan sangat baik. Tantya bahkan melihat beberapa pesanan masuk dalam waktu berdekatan.

Hatinya berbunga-bunga. Usahanya yang selama ini ia bangun dengan kerja keras mulai menunjukkan hasil yang semakin menggembirakan.

Namun, ketenangan itu rupanya mengusik Farah.

Perempuan itu melirik ponsel Tantya, lalu mendengus sinis.

"Makan ya makan aja. Pakai nonton live segala. Di toko itu sih sakit hati kalau cuma nonton doang, soalnya harga bajunya mahal-mahal. Mana kebeli kamu?”

Farah menatap Tantya dengan senyum mengejek, seolah yakin bahwa adik iparnya itu hanya bisa memandangi pakaian mahal tanpa sanggup membelinya.

Tantya mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Ia menatap Farah sekilas, kemudian kembali menyeruput jusnya.

"Nggak ada yang larang nonton live, Mbak.”

"Aku cuma ngingetin, soalnya nanti yang jadi korban suamimu sendiri.”

Kening Tantya berkerut. Kali ini ia benar-benar menoleh kepada Farah.

"Apa hubungannya dengan suamiku?”

Farah menyunggingkan senyum penuh arti. Ia melirik Rendra yang duduk tak jauh darinya, kemudian kembali mengarahkan tatapannya kepada Tantya.

"Ya, nanti setelah nonton live, kamu merengek minta dibeliin baju itu.”

Ucapan tersebut disampaikan dengan nada meremehkan, seolah Farah sudah mengenal betul kebiasaan Tantya yang menurutnya gemar mengincar barang-barang mahal.

Namun, alih-alih membalas dengan kemarahan, Tantya justru terdiam beberapa detik. Lalu, tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha!”

Tawanya begitu lepas sampai beberapa orang di meja itu menoleh kepadanya. Bahkan, Tantya sampai harus meletakkan gelas jusnya agar tak tumpah karena bahunya berguncang menahan geli.

Farah langsung memasang wajah masam. "Dinasehatin, malah tertawa. Dasar gendeng!”

Tantya masih tersenyum lebar. Ia bahkan kembali melirik layar ponselnya, seolah ucapan Farah sama sekali tak layak mendapatkan tanggapan serius.

Sikap itu membuat Farah semakin kesal. Ia merasa sedang dipermainkan oleh adik iparnya sendiri.

Alih-alih berhenti, Farah justru mengalihkan serangannya kepada Rendra.

"Ren, mending ganti istri. Pacar SMA kamu, siapa tuh? Andini, lebih oke ke mana-mana.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Farah. Suasana meja makan yang sebelumnya hanya canggung mendadak terasa jauh lebih dingin.

Tangan Tantya yang semula hendak mengambil gelas jus berhenti di udara. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia menatap Farah dengan sorot mata tajam, menahan sesuatu yang mulai bergolak di dalam dadanya.

Menyebut nama Andini saja sudah cukup membuatnya tidak nyaman. Namun, menyarankan Rendra untuk mengganti istri demi mantan kekasihnya? Farah benar-benar sudah keterlaluan.

Tantya menunggu reaksi suaminya. Setidaknya, ia berharap Rendra akan menegur kakaknya atau menunjukkan bahwa ucapan semacam itu tidak pantas dilontarkan di hadapan istrinya sendiri.

Namun, jawaban Rendra justru membuat dadanya terasa seperti dihantam sesuatu. "Masih dipikirkan, Mbak.”

Rendra mengucapkannya dengan santai, bahkan tanpa terlihat merasa bersalah. Seolah-olah ucapan Farah tadi hanyalah candaan biasa yang tak perlu ditanggapi dengan serius.

Untuk beberapa saat, Tantya hanya memandangi suaminya. Masih dipikirkan? Dua kata itu terus terngiang di telinganya.

Jadi, Rendra benar-benar mempertimbangkannya? Atau laki-laki itu hanya sengaja menjawab demikian untuk menyakiti hatinya?

Tantya tak tahu. Namun, apa pun alasannya, jawaban tersebut tetap terasa menyakitkan.

Jemarinya perlahan mengepal di bawah meja. Ada kemarahan yang mendesak untuk diluapkan, tetapi ia berusaha keras menahannya. Ia tak ingin memberikan kepuasan kepada Farah dengan menunjukkan betapa telak ucapan itu menghantam perasaannya.

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Di hadapan mereka, Tantya berusaha tetap tenang. Namun, sorot matanya tak lagi sama.

Sementara itu, Farah tampak puas. Ia melirik Tantya sekilas, seolah sengaja ingin memastikan bahwa kata-katanya berhasil melukai hati adik iparnya.

Dan Rendra?

Laki-laki itu kembali menyantap makanannya, seakan tak baru saja melontarkan jawaban yang berpotensi meretakkan hubungan rumah tangganya sendiri.

Tantya menunduk, menatap jus yang tinggal separuh. Nafsu makannya mendadak hilang.

Beberapa menit lalu, ia masih tersenyum bahagia menyaksikan bisnisnya berkembang. Namun, kini senyum itu telah lenyap, digantikan rasa kecewa yang perlahan berubah menjadi kemarahan.

Ia memang bisa bersabar menghadapi sindiran Farah. Ia juga bisa menertawakan hinaan tentang pekerjaannya dan kemampuannya membeli pakaian mahal.

Namun, ketika suaminya sendiri menjadikan kemungkinan mengganti istri sebagai bahan candaan, ada sesuatu dalam hati Tantya yang terasa patah.

Dan kali ini, ia tak yakin bisa berpura-pura tidak terluka.

Perjalanan pulang dari mal berlangsung dalam keheningan. Setelah menyelesaikan makan malam yang penuh sindiran dan menyakitkan hati itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Tak ada lagi obrolan ringan seperti saat berangkat tadi. Suasana yang semula ramai oleh canda dan tawa kini berubah dingin, seolah masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Rendra mengemudikan mobil dengan pandangan lurus ke depan. Kedua tangannya memegang kemudi, sementara sesekali ia melirik jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Sejak meninggalkan restoran, laki-laki itu nyaris tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Entah karena merasa bersalah atas jawabannya tadi atau memang tak menganggap ucapannya sebagai masalah besar, Rendra memilih diam. Ia tak berusaha menjelaskan maksud perkataannya, apalagi meminta maaf kepada Tantya.

Di kursi penumpang, Tantya duduk menghadap ke jendela. Lampu-lampu jalan berkelebat di luar sana, memantulkan cahaya yang sesekali menyapu wajahnya. Namun, tak satu pun pemandangan itu benar-benar menarik perhatiannya.

Pikirannya masih tertinggal di meja makan tadi.

Masih dipikirkan, Mbak.

Kalimat Rendra terus berputar di kepalanya. Semakin berusaha mengabaikannya, semakin jelas pula ia mengingat nada santai suaminya ketika menjawab pertanyaan Farah.

Tantya menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang sejak tadi mengendap di dada.

Ia bisa menerima jika Farah meremehkan pekerjaannya sebagai penjaga toko. Ia juga bisa menahan diri ketika kakak iparnya menyindir kemampuan ekonominya, seolah-olah dirinya tak pantas menikmati sesuatu yang mahal.

Namun, ucapan Rendra tadi berbeda. Laki-laki yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar justru ikut mempermalukannya di hadapan keluarga. Suaminya sendiri, orang yang semestinya menjaga perasaan dan kehormatannya, malah menjadikan persoalan mengganti istri sebagai bahan candaan.

Apa Rendra sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaannya saat mendengar jawaban itu?

Atau memang selama ini keberadaan Tantya tak cukup berharga baginya?

Tantya mengepalkan jemari di atas pangkuannya. Ada rasa sakit yang perlahan berubah menjadi kemarahan. Bukan semata-mata karena nama Andini kembali disebut, melainkan karena Rendra seolah tak keberatan membayangkan perempuan lain menggantikan posisinya.

Padahal, selama ini Tantya sudah berusaha menjalankan perannya sebagai istri sebaik mungkin. Ia bekerja, mengurus rumah tangga, dan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada suaminya. Bahkan, ketika keluarga Rendra memperlakukannya dengan tidak menyenangkan, ia masih berusaha menjaga sikap demi menghormati ikatan pernikahan mereka.

Lalu, apa yang ia dapatkan sebagai balasannya?

Penghinaan yang dibungkus candaan.

Tantya memalingkan wajah lebih jauh ke arah jendela. Ia tak ingin Rendra melihat matanya yang mulai terasa panas. Bukan karena ia ingin menangis di hadapan laki-laki itu, melainkan karena ia tak ingin memperlihatkan betapa dalam luka yang baru saja ditorehkan suaminya.

Di sisi lain, Rendra sesekali meliriknya melalui kaca spion. Ia menyadari istrinya berbeda dari biasanya. Sejak keluar dari restoran, Tantya bahkan tak sekali pun mengajaknya bicara. Rendra mengira, semua karena ada ibunya diantara mereka, yang kini tertidur pulas di sebelahnya.

Malam ini, tak ada satu pun yang dilakukannya.

Namun, Rendra tetap memilih diam.

Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, tetapi gengsi membuatnya enggan membuka percakapan terlebih dahulu. Ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Baginya, jawaban kepada Farah tadi mungkin hanya candaan spontan. Ia tak pernah benar-benar menyangka bahwa perkataan itu akan menjadi persoalan sebesar ini.

Atau, jangan-jangan, ia memang tak ingin mengakui bahwa dirinya telah menyakiti hati sang istri?

Mobil terus melaju membelah jalanan malam. Jarak menuju rumah semakin dekat, tetapi keheningan di antara keduanya justru terasa semakin menyesakkan.

Tantya menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Malam itu, ia tak ingin berdebat. Ia terlalu lelah untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya bisa dipahami Rendra tanpa perlu diberi tahu.

Bukankah seorang suami semestinya tahu bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar ketika bercanda dengan orang lain, terlebih jika candaan itu menyangkut harga diri istrinya sendiri?

Tantya tak menuntut Rendra untuk selalu membelanya dalam setiap persoalan. Ia hanya ingin dihargai sebagai seorang istri. Ia ingin suaminya memahami bahwa pernikahan bukan sekadar status yang bisa dipermainkan dalam percakapan keluarga.

Namun, malam ini, harapan sederhana itu terasa begitu jauh. Ketika mobil akhirnya memasuki halaman rumah, Tantya bersiap untuk turun. Ia tak menunggu Rendra mengatakan apa pun. Begitu mobil berhenti sempurna, ia langsung membuka pintu dan keluar.

Rendra sempat menoleh ke arahnya.

"Tya—”

Namun, Tantya sudah lebih dahulu menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju rumah tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya terlihat tenang, tetapi dadanya masih dipenuhi rasa sakit yang belum menemukan tempat untuk berlabuh.

Rendra hanya bisa memandangi punggung istrinya sebelum akhirnya mematikan mesin mobil. Kali ini, ia mulai menyadari bahwa diamnya Tantya bukan sekadar tanda sedang kesal. Perempuan itu benar-benar terluka.

Sayangnya, hingga ia keluar dari mobil dan melangkah masuk ke rumah, Rendra masih belum tahu apakah ia akan berusaha memperbaiki luka itu atau justru membiarkannya semakin dalam.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!