Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Pelarian dari Alam Dewa
Cahaya bulan purnama yang menyusup melalui celah jendela seolah membeku di udara. Di dalam kamar yang telah disegel oleh Formasi Pengunci Suara dan Aura itu, dua nyawa yang saling menyembunyikan kini berdiri saling berhadapan tanpa ada lagi kebohongan.
Mata Lin Chen menatap lurus ke dalam sepasang mata Permaisuri Lin Yue yang memerah dan bergetar. Hati Lin Chen kini berdesir hebat melihat ketakutan seorang ibu yang mengira putranya telah digantikan oleh iblis.
Lin Yue mencengkeram pinggiran ranjang semakin erat, napasnya tertahan menunggu jawaban yang bisa saja menghancurkan seluruh dunianya.
Namun, alih-alih melepaskan tekanan tiran yang arogan atau memancarkan Niat Membunuh, pandangan tajam di mata keemasan Lin Chen perlahan melembut. Hawa dingin yang sempat membekukan ruangan itu mencair, digantikan oleh kehangatan murni yang selalu ia rasakan setiap kali memakan kue teratai buatan kakaknya atau bersandar di bahu ibunya.
Lin Chen mengangkat tangan kanannya secara perlahan.
WUSSH.
Di ujung jari telunjuknya, seutas Qi murni berwarna keemasan berputar dengan sangat lembut, menari-nari memancarkan aura Foundation Establishment yang agung namun sama sekali tidak mengancam.
Lin Yue menahan napasnya melihat kemurnian Qi tersebut. Itu bukanlah aura iblis yang merasuk, melainkan energi spiritual yang menyatu sempurna dengan.
"Ibu..." suara Lin Chen mengalun pelan, memecah keheningan yang menyiksa. Tidak ada nada berat dari Lin Chen, yang ada hanyalah suara remaja tujuh belas tahun yang sangat tulus.
Lin Chen menurunkan tangannya dan menggenggam kedua tangan Lin Yue yang gemetar. Tangan pemuda itu terasa luar biasa hangat.
"Tidak peduli jiwa siapa yang mengingat masa lalu berdarah sebelum aku lahir ke dunia ini... darah yang mengalir di nadiku, daging yang membalut tulangku, dan jantung yang berdetak di dadaku ini adalah milikmu," Lin Chen tersenyum lembut, sebuah senyuman yang menyiratkan kasih sayang tak terhingga. "Aku tidak pernah berniat membohongi Ibu. Aku menyembunyikannya karena aku ingin melindungi kehangatan keluarga ini. Tidak peduli siapa aku di kehidupan laluku, di kehidupan ini... aku tetaplah Lin Chen, putra Ibu."
Kata-kata itu bagaikan mantra penawar racun bagi jiwa Lin Yue.
Beban teror yang mencekiknya sejak sore tadi seketika hancur lebur. Tembok ketegasan seorang mantan kultivator runtuh tanpa sisa. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya.
"Chen'er... oh, Chen'er-ku..." Lin Yue jatuh berlutut di lantai, memeluk pinggang putranya sambil menangis tersedu-sedu.
Lin Chen ikut turun, berlutut di hadapan ibunya, lalu mendekap wanita itu erat-erat. Lin Yue membelai wajah tampan Lin Chen, mencium kening putranya berkali-kali seolah memastikan bahwa kehangatan ini nyata. Insting kasih sayangnya selama tujuh belas tahun tidak bertepuk sebelah tangan. Monster yang ia takuti ternyata adalah putranya sendiri yang berusaha melindungi keluarga dari balik bayang-bayang.
Keduanya berpelukan cukup lama, membiarkan air mata membersihkan sisa-sisa kecurigaan.
Setelah tangis Lin Yue perlahan mereda, Lin Chen mengambil saputangan sutra dari meja dan menghapus air mata ibunya dengan lembut. Ia menuntun Lin Yue duduk di tepi ranjang.
"Maafkan Ibu yang meragukanmu," bisik Lin Yue, tersenyum pahit menertawakan ketakutannya sendiri. "Ibu seharusnya tahu, mata yang menatap Ibu dengan penuh cinta setiap pagi tidak mungkin milik iblis yang tak punya hati."
"Ibu berhak curiga," Lin Chen duduk di sebelahnya. "Formasi penyegel Qi yang Ibu buat tadi sangat presisi. Hanya seseorang yang pernah mendaki jalur kultivasi yang bisa melakukannya di dunia tanpa Qi ini. Rahasia apa yang Ibu sembunyikan dari Kami?"
Lin Yue menundukkan wajahnya. Tangannya meremas gaun sutranya. Ia menatap ke luar jendela, pandangannya menerawang menembus langit Kerajaan Chen, seolah melihat sebuah dunia yang jaraknya jauh dari tempat mereka berada.
"Karena kita berdua menyimpan rahasia, biarkan Ibu yang bercerita lebih dulu, Chen'er," Lin Yue memulai, suaranya kembali tenang namun membawa bobot sejarah yang luar biasa berat.
"Kau mungkin tahu tentang Alam Abadi, tempat di mana tamu-tamu tak diundang tadi berasal. Namun... Ibu tidak berasal dari sana. Ibu berasal dari tempat yang jauh lebih tinggi, sebuah alam di mana bahkan udara yang dihirup bisa menghancurkan tubuh biasa."
Mata keemasan Lin Chen sedikit menyipit. Lebih tinggi dari Alam Abadi?
"Ibu berasal dari Alam Dewa (God Realm)," Lin Yue mengucapkan nama itu dengan helaan napas panjang, sebuah nama yang membawa nostalgia sekaligus luka yang sangat dalam.
"Di Alam Dewa, kehidupan tidak seindah gelar yang disandangnya. Itu adalah ladang pembantaian bagi mereka yang berada di puncak kekuatan. Bertahun-tahun yang lalu, saat Ibu masih muda dan buta oleh ambisi, Ibu memasuki sebuah Alam Rahasia Kuno yang baru saja terbuka."
Lin Yue menutup matanya, seolah masih bisa merasakan panasnya pertarungan di masa lalu itu. "Di dalam sana, Ibu tidak sengaja menemukan sebuah pusaka tingkat Surga. Sesuatu yang bahkan membuat para penguasa di alam itu menjadi gila. Mengetahui Ibu mendapatkan pusaka itu, dua kultivator di ranah Immortal King (Raja Abadi) mengejar Ibu menembus tiga benua suci."
Mendengar gelar Immortal King, Lin Chen mematung. Di kehidupan masa lalunya, ia tahu betapa mengerikannya eksistensi seorang Immortal King. Mereka adalah penguasa yang bisa memadamkan matahari hanya dengan lambaian tangan! Bagi ibunya untuk bisa bertahan hidup dari kejaran dua sosok seperti itu... tingkat kultivasi ibunya di masa lalu pasti sangat menakutkan!
"Ibu tidak bisa menang melawan dua Immortal King (Raja Abadi) sekaligus," lanjut Lin Yue, suaranya sedikit bergetar. "Dalam keputusasaan yang kuat, saat meridian Ibu nyaris hancur, Ibu menggunakan sebuah Jimat Pemecah Ruang kuno yang tidak stabil. Ibu memaksakan diri merobek dimensi untuk melarikan diri."
Lin Yue menyentuh perutnya, tepat di mana Dantian-nya berada.
"Jimat itu menyelamatkan nyawa Ibu, namun harganya sangat mahal. Tekanan ruang antar dimensi dari Alam Dewa menuju dunia fana ini luar biasa kejam. Tekanan ruang mencabik-cabik seluruh meridian Ibu. Saat Ibu terjatuh dari langit dan mendarat di dunia tanpa Qi ini... lautan energi Ibu telah kosong, dan Dantian Ibu hancur total. Ibu kehilangan seluruh kultivasi Ibu, berubah dari seorang penguasa langit menjadi manusia biasa yang rapuh."
Lin Chen mengepalkan tangannya di bawah jubah. Amarah perlahan merayap di hatinya, membayangkan ibunya yang terluka parah jatuh dari langit, sendirian dan kehilangan segalanya. "Siapa nama kedua Immortal King (Raja Abadi) itu, Bu?" tanya Lin Chen dingin, mencatat dalam ingatannya untuk memburu mereka kelak.
Lin Yue menggeleng pelan, tersenyum menenangkan. "Itu sudah sangat lama, Sayang. Mereka mungkin mengira Ibu sudah mati tertelan badai dimensi."
Lin Yue kemudian menatap mata putranya dalam-dalam. "Ibu tidak menceritakan ini untuk membuatmu membalas dendam, Chen'er. Ibu menceritakan ini agar kau mengerti mengapa Ibu sangat panik saat kau memamerkan kemampuan yang melampaui batas fana di depan orang-orang Alam Abadi tadi."
Lin Yue memegang kedua pipi Lin Chen. Wajahnya tiba-tiba menjadi sangat serius, memancarkan kebanggaan yang telah terkubur belasan tahun.
"Ibu tidak pernah menceritakan ini pada Ayahmu karena Ibu takut musuh-musuh Ibu melacak sisa-sisa garis keturunan kita ke dunia ini. Chen'er... Ibu bukanlah sekadar pengembara tanpa nama."
Suara Lin Yue di dalam kamar yang sunyi itu bergema dengan otoritas yang luar biasa agung.
"Di Alam Dewa, Ibu berasal dari keluarga utama. Ibu adalah putri dari Keluarga Kuno Lin... sebuah klan primordial yang di dalam nadinya mengalir sisa-sisa dari garis keturunan agung Dewa Raja (God King)."
Lin Chen membeku.
Napasnya tertahan. Matanya membelalak sempurna menatap wanita di depannya.
Keluarga Kuno Lin? Garis keturunan Dewa Raja?!
Nama keluarga yang ia gunakan di dunia ini, 'Lin', bukanlah sekadar nama kebetulan dari ayah angkatnya. Darah ibu yang kini mengalir di dalam tubuh barunya... menyimpan rahasia tingkat dewa yang bahkan jauh lebih kuno dari Sektor Langit Primordial yang ia ketahui!
"Kejeniusan dari garis darah itu sering kali memunculkan rasa iri, bahkan dari keluarga sendiri," Lin Yue tersenyum sedih, matanya menerawang. "Itulah sebabnya Ibu lari, dan itulah sebabnya... saat Ibu melihatmu, putra bungsuku yang tampan dan terlalu pintar ini... Ibu merasa takdir akhirnya menebus dosa-dosa Ibu di masa lalu."
...TINGKATAN KULTIVASI...
...Pengumpulan Qi (Tingkat 1‑9)...
...Foundation Establishment...
...Golden Core...
...Nascent Soul...
...Soul Formation...
...Soul Transformation...
...Ascendant...
...Nirvana...
...Kaisar Langit...
...Immortal Lord (Tingkat 1-9)...
...Immortal King (Tingkat 1-9)...
...Immortal Emperor (Tingkat 1-9)...
...God King...
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣