Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Serangan Fajar Dan Senjata Rahasia Dark Lord
Jarum jam di dinding ruang kendali utama lantai lima puluh gedung Blackwood Corp menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam. Suasana di dalam ruangan tersebut sangat sunyi, tegang, dan dipenuhi oleh deru kipas pendingin server komputer yang berputar kencang.
Di atas meja konsol pusat, puluhan layar monitor menampilkan peta digital tiga dimensi dari gudang pelabuhan terbengkalai sektor tujuh—lokasi yang dijadikan tempat persembunyian utama oleh Scorpion Syndicate dan pemimpin kejam mereka, Marcus Vance.
Aira berdiri tegak di samping konsol utama. Mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuhnya—lengkap dengan sarung tangan kulit tipis dan rambut panjangnya yang diikat ekor kuda—ia memancarkan aura seorang wanita tangguh yang siap bertempur di samping suaminya. Tidak ada raut ketakutan sedikit pun di wajah cantiknya; yang ada hanyalah sorot mata penuh tekad dan kepercayaan penuh pada pria di sisinya.
Beberapa langkah dari Aira, Gabriel berdiri mengenakan mantel panjang kulit hitam tebal. Di balik mantelnya terselip berbagai macam senjata api canggih kelas militer, mulai dari pistol otomatis berperedam hingga pisau tempur berlapis baja. Namun, di saku mantel sebelah kanannya, tampak menyembul sepucat ujung plastik merah muda yang mencurigakan—senjata rahasia konyol miliknya yang selalu ia bawa ke mana-mana: pistol air bertekanan tinggi.
Felix melangkah mendekat dengan membawa sebuah tablet taktis, melaporkan situasi terakhir kepada sang bos besar.
"Tuan, seluruh pasukan elite garis depan sudah mengepung perimeter luar gudang pelabuhan sektor tujuh sesuai instruksi. Jalur pelarian mereka di sisi laut sudah ditutup total oleh kapal patroli kita. Mereka terkunci di dalam," lapor Felix dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
Gabriel mengangguk pelan. Sepasang mata cokelat gelapnya menyipit tajam, memancarkan pendar dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Bagus," desis Gabriel dingin. "Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa keluar hidup-hidup—kecuali Marcus Vance. Pria sialan itu harus merasakan sendiri akibatnya karena berani mengirim ancaman kepada istriku."
Aira menoleh ke arah suaminya, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan kerah mantel hitam Gabriel.
"Ingat janjimu, Gabriel," ucap Aira lembut namun tegas, menatap langsung ke dalam mata suaminya. "Hancurkan mereka, tapi pastikan kamu kembali kepadaku dalam keadaan utuh tanpa ada goresan sedikit pun."
Mendengar kata-kata itu, aura dingin dan mengerikan di tubuh Gabriel seketika meleleh seketika. Pria tegap berotot itu menunduk, menangkap tangan Aira, lalu mengecup telapak tangan istrinya dengan penuh kelembutan dan rasa takdzim yang mendalam.
"Aku berjanji, Aira," bisik Gabriel sangat lembut, suaranya berubah hangat. "Nyawaku adalah milikmu. Setelah membersihkan sampah-sampah itu, aku akan langsung kembali ke pelukanmu."
Felix yang berdiri di dekat pintu memilih memalingkan wajahnya ke arah lain, pura-pura memeriksa senjata di tangannya demi menjaga kesehatan mentalnya dari kebucokan akut sang bos di tengah situasi mau perang besar.
Pukul dua belas tepat tengah malam.
Gudang pelabuhan terbengkalai sektor tujuh tampak gelap gulita dan diliputi kesunyian yang mencekam. Di dalam ruangan utama gudang yang berdebu, Marcus Vance duduk menyilang kaki di atas sebuah kursi besi tua, memegang gelas wiski sambil tersenyum licik. Di sekelilingnya, puluhan anak buah bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut ruangan, bersiaga menunggu kedatangan Gabriel Blackwood.
"Kalian dengar itu?" tawa Marcus meremehkan kepada anak buahnya. "Ketua mafia terhebat yang ditakuti dunia itu sebentar lagi akan datang berlutut seorang diri di hadapanku untuk menyerahkan seluruh aset perusahaannya demi menyelamatkan istrinya yang manis. Betapa menyedihkan!"
Brak!
Suara dentuman keras menggema dari arah pintu utama gudang. Pintu besi setebal sepuluh sentimeter itu mendadak hancur berkeping-keping akibat ledakan terarah dari luar, memunculkan kepulan asap putih tebal yang memenuhi ruangan.
Para anak buah Scorpion Syndicate langsung mengangkat senjata mereka, membidik panik ke arah pintu masuk.
"Siapa di sana?!" bentak salah satu penjaga.
Dari balik kepulan asap putih, sesosok pria berpostur tegap tinggi melangkah masuk dengan tenang. Mantel kulit hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam, dan sepasang mata cokelat gelapnya memancarkan cahaya kematian yang begitu pekat.
Gabriel Blackwood telah tiba.
Marcus Vance berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah pintu dengan seringai lebar di wajahnya. "Wah, wah... Lihat siapa yang datang! Kamu benar-benar datang seorang diri, Gabriel? Di mana pasukan elitmu? Keberanianmu patut dipuji, tapi otakmu benar-benar bodoh!"
Gabriel menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia memandang sekeliling, menatap puluhan orang bersenjata yang mengarahkannya, lalu menghela napas panjang seolah-olah ia sedang bosan.
"Bodoh?" Gabriel mendengus dingin, suaranya menggema memenuhi seluruh sudut gudang. "Yang bodoh adalah kalian, karena memilih tanggal ulang tahun kematian kalian sendiri malam ini."
"Sombong sekali kamu!" murka Marcus. "Bunuh dia! Habisi pemimpin Blackwood itu sekarang juga!"
Puluhan anak buah Scorpion Syndicate segera menarik pelatuk senjata mereka, bersiap memberondong Gabriel dengan peluru tajam.
Namun, sebelum jari mereka sempat menekan pelatuk, gerakan Gabriel bergerak jauh lebih cepat dari kilat.
Dengan refleks tingkat tinggi seorang petarung bawah tanah, Gabriel melompat ke samping, mencabut dua pucuk pistol otomatis dari balik mantelnya, dan dalam hitungan detik, suara letusan tembakan berperedam beruntun memecah kesunyian malam.
Bum! Tak! Tak!
Peluru-peluru tajam itu melesat akurat, menghantam senjata di tangan para musuh hingga terpelanting hancur. Dalam waktu kurang dari tiga menit, puluhan anak buah bersenjata itu berjatuhan ke lantai akibat hantaman fisik yang brutal dan tembakan melumpuhkan di titik-titik vital.
Marcus Vance melotot tak percaya. Wajahnya pucat pasi melihat pasukannya dibantai seorang diri semudah membalikkan telapak tangan.
"M-Monster..." bisik Marcus ketakutan, melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding gudang.
Gabriel berjalan perlahan melewati tumpukan anak buah Marcus yang sudah tidak sadarkan diri. Sepatu bot militernya menginjak lantai beton, menghasilkan suara ketukan yang terdengar bagaikan hitung mundur kematian bagi Marcus.
Gabriel berhenti tepat satu meter di depan Marcus. Tanpa aba-aba, ia mencengkeram kerah baju Marcus dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria paruh baya itu ke udara dengan mudah, lalu membantingnya kasar ke atas meja kayu hingga hancur berkeping-keping.
Brugh!
"Uhuk!" Marcus memuntahkan darah segar, matanya terbelalak kesakitan saat lutut Gabriel menindih kuat dadanya.
"Kamu... kamu..." rintih Marcus kesakitan, mencoba meraih pisau di pinggangnya.
Gabriel tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan super cepat, Gabriel merogoh saku mantelnya—bukan mengeluarkan pisau atau senjata api, melainkan menarik keluar pistol air merah muda bertekanan tinggi yang dipenuhi air!
Marcus mengerjap bingung bercampur ngeri saat melihat moncong pistol air mainan itu tepat berada di depan batang hidungnya.
"Apa... apa-apaan ini?!" teriak Marcus panik.
"Ini adalah senjata penghakiman khusus untuk orang yang berani mengganggu istriku," jawab Gabriel dengan ekspresi sangat serius yang justru terlihat sangat menakutkan.
Tanpa ampun, Gabriel menarik pelatuk pistol air itu, menyemprotkan air bertekanan tinggi langsung ke wajah dan mata Marcus berulang kali. Marcus menjerit histeris tersedak air, matanya perih dan napasnya tersengal-sengal, merasa tersiksa secara fisik maupun mental oleh hukuman yang tidak masuk akal tersebut.
"Rasakan ini! Rasakan akibatnya karena membuat istriku cemas!" geram Gabriel sambil terus menyemprot wajah Marcus tanpa henti.
Felix yang baru saja masuk bersama pasukan elite ke dalam gudang langsung berhenti melangkah. Ia menatap pemandangan di depannya dengan mulut sedikit terbuka. Bos besar mereka baru saja melumpuhkan sindikat kriminal internasional kelas kakap... menggunakan pistol air mainan berwarna merah muda. Terkadang, batas antara kejeniusan dan kewarasan seorang ketua mafia benar-benar sangat tipis.
Setengah jam kemudian, seluruh operasi pembersihan markas Scorpion Syndicate selesai tanpa ada satu pun korban dari pihak Blackwood. Marcus Vance dan sisa anak buahnya yang sudah basah kuyup, babak belur, dan terikat erat diserahkan kepada pihak penegak hukum internasional melalui jalur rahasia.
Gabriel melangkah keluar dari gudang pelabuhan menuju mobil Limousine yang terparkir di halaman luar. Udara malam terasa dingin, namun hatinya begitu hangat karena misi telah tuntas dengan sempurna.
Begitu pintu mobil dibuka, Aira yang duduk di dalam langsung menyambut suaminya dengan tatapan cemas bercampur lega.
Gabriel melepas mantel kulitnya yang beraroma asap mesiu, melemparnya ke kursi depan, lalu merosot masuk ke dalam pelukan Aira. Pria tegap berotot itu menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dengan manja, seolah-olah sosok monster pembunuh tadi sama sekali tidak pernah ada.
"Sayang... misinya sudah beres," bisik Gabriel manja, melingkarkan tangannya di pinggang Aira. "Marcus Vance sudah dikasih pelajaran pakai pistol air merah muda. Sekarang aku mau minta bonus pelukan yang banyak."
Aira tersenyum lembut, mengusap helaian rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang. Ia bisa mencium aroma sabun dan kehangatan dari tubuh Gabriel.
"Kerja bagus, suamiku," puji Aira tulus, lalu mengecup puncak kepala Gabriel dengan penuh kelembutan. "Kamu benar-benar menepati janjimu untuk kembali dengan selamat."
Gabriel mendongakkan kepalanya, menatap manik mata istrinya dengan senyuman paling bahagia di dunia. Di bawah pendar lampu jalanan kota yang temaram, mereka tahu bahwa tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang dapat memisahkan mereka.