Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Aku di Rasa Sesalmu
Alyssa menerobos pintu darurat lantai lima tanpa menunggu lift. Sepatunya berdentang di anak tangga beton, napasnya terputus-putus. Di lorong, perawat berlari membawa troli obat. Dari balik kaca buram ruang isolasi terdengar bunyi pompa udara, dan suara Dokter Arman menghitung dengan lantang.
"Satu, dua, tiga, empat... lanjut!"
Vito berdiri di depan pintu, bajunya basah oleh keringat. Ia tidak bicara. Ia hanya menggeser tubuh, memberi Alyssa jalan ke jendela.
Di dalam, Devan terbaring dengan dada terbuka, dikelilingi dua dokter dan satu perawat. Pad defibrilator menempel di tulang rusuknya.
"Tiga ratus joule! Semua menjauh!"
Brak.
Tubuh Devan terangkat, lalu jatuh lemas. Garis di monitor bergetar kacau, lalu melandai.
Alyssa menempelkan telapak tangan ke kaca. Ibu jarinya mencari gelang di pergelangan kirinya, dan menemukannya dingin.
Jangan. Jangan sekarang.
"Sekali lagi!" Dokter Arman meremas kantong udara dengan kedua tangan. "Kompresi!"
Satu menit yang terasa seperti satu jam.
Bip.
Satu puncak kecil di layar. Lalu satu lagi. Lalu irama yang pelan, lemah, tapi ada.
"Nadi kembali!" seru perawat. "Saturasi tujuh puluh!"
Lutut Alyssa melemas. Vito menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
***
Penyusup itu tertangkap di lorong servis belakang, seorang teknisi bergaji tunai yang membawa dua tabung oksigen kosong dalam kotak peralatan. Ia tidak tahu apa-apa. Hanya tahu bahwa seseorang membayarnya sepuluh juta untuk menukar tabung dan mengunci panel pusat selama lima belas menit.
Kompol Dimas mengundang Alyssa ke ruang pemeriksaan sore itu. Di seberang meja, Bram Mahendra duduk dengan tangan terlipat, tenang seperti sedang menunggu rapat dimulai.
"Ponsel Anda, Pak Bram," kata Kompol Dimas sambil meletakkan sebuah perangkat di atas meja. "Disita pagi tadi saat Anda dibawa dari Tower. Isinya sudah dibuka tim forensik."
Bram tidak mengubah ekspresinya. Tapi jari-jarinya sedikit menegang.
"Ada pesan singkat terenkripsi ke satu nomor tak terdaftar," lanjut Kompol Dimas, "dikirim pukul tujuh lewat dua belas pagi. Dua menit sebelum Anda berhadapan dengan Nona Alyssa di lobi. Isinya satu kata: Lanjutkan."
Hening panjang.
Alyssa menatap pamannya. Lelaki yang dulu memangkunya waktu ia kecil, yang membawakan boneka dari Zurich, yang berdiri paling depan di pemakaman Kakek Broto.
"Kenapa, Paman?"
Bram akhirnya menoleh. Topeng itu sudah lepas sepenuhnya.
"Karena yang Kakek Broto berikan padamu seharusnya milikku." Suaranya datar, tanpa dramatisasi. "Aku yang mengurus perusahaan ini selama dua puluh tahun. Anak yang dibuang ke panti dan seorang cucu yang tidak tahu apa-apa, itu yang dia pilih. Aku hanya mengambil kembali yang kuanggap hakku."
"Dengan meracuni polisi? Menyandera saya? Membunuh Devan?"
"Devan itu urusan Siska." Bram mengangkat bahu. "Aku hanya memastikan semuanya berjalan." Ia menatap Alyssa lurus. "Dan Henry di Zurich hanya alat. Kamu pikir seorang penasihat bisa menggerakkan semua ini sendirian?"
Kompol Dimas menutup map.
"Terima kasih, Pak Bram. Itu cukup."
Alyssa tidak bicara apa-apa. Ia hanya berdiri, dan di dalam dadanya ia mencari sisa amarah yang selama ini jadi bahan bakar, tapi hanya menemukan kelelahan.
***
Tiga hari kemudian Devan membuka mata sepenuhnya.
Selang di tenggorokannya sudah dilepas. Suaranya masih serak, tapi jernih. Alyssa duduk di kursi samping ranjang, tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya Devan yang bicara lebih dulu.
"Aku mendengarmu," katanya. "Waktu aku koma. Tidak semuanya, tapi suaramu."
Alyssa menunduk. "Kamu tidak perlu bicara banyak."
"Aku perlu." Tangannya bergerak ke bawah bantal dan menarik keluar sebuah amplop cokelat. "Tolong terima ini."
"Apa ini?"
"Pengakuan tertulis. Soal laporan keuangan yang dimanipulasi di Narendra Group selama sepuluh tahun, dan semua yang kutahu tapi kututup mata. Serta pelepasan seluruh saham pribadiku." Devan menahan napas sebentar. "Bukan untukmu. Untuk dana abadi Panti Kasih Bunda dan anak-anak di dalamnya."
Alyssa tidak menyentuh amplop itu. "Kamu tidak perlu pergi ke penjara. Kamu hampir mati untuk saya."
"Justru itu." Devan tersenyum tipis, pucat, sangat lelah. "Aku sudah membuktikan satu hal. Tapi aku belum membayar yang lain. Tiga tahun kamu tidur di kamar belakang yang dingin, makan di dapur, dengar kata-kata ibuku. Aku diam tiga tahun itu. Jadi biarkan aku diam tiga tahun lagi, di tempat yang pantas."
"Devan..."
"Tiga tahun, Alyssa. Hanya itu yang kuminta."
Alyssa memandang cincin perak di jari manis kirinya, cincin yang ia pasang sendiri malam itu di ICU. Devan mengikuti pandangannya.
"Kalau suatu hari kamu ingin melepasnya," bisiknya, "aku tidak akan menolak."
***
Satu bulan kemudian, ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Hakim Ketua mengetukkan palu. Ratusan wartawan terdiam.
"Terdakwa Bram Mahendra, terbukti bersalah atas konspirasi pembunuhan berencana, penggelapan, dan sabotase. Dijatuhi pidana penjara dua puluh tahun."
Bram menunduk. Di bangku pengunjung, Alyssa tidak bergerak.
"Terdakwa Wira Vanya, dua belas tahun. Terdakwa Siska Narendra, perawatan psikiatri isolasi penuh dan pidana tambahan sesuai hasil pemeriksaan dokter jiwa."
Siska duduk di kursinya dengan tatapan kosong. Saat ia digiring keluar, bibirnya bergerak menyebut satu nama yang tidak lagi bisa ia panggil. Alyssa menutup mata sebentar, dan tidak ada kemenangan di dalamnya.
Di sisi lain ruang sidang, hakim membaca perkara Devan Narendra Pratama secara terpisah. Ia mengaku, tanpa pembelaan. Vonisnya tiga tahun.
Devan berdiri dengan kemeja putih tahanan, menatap lurus ke depan. Sebelum digiring keluar, ia menoleh sekali ke barisan depan. Mata mereka bertemu. Ia tidak tersenyum, hanya mengangguk kecil seperti seseorang yang menyerahkan sesuatu pada tempatnya.
***
Dua minggu kemudian, auditorium Mahendra Tower dipenuhi tepuk tangan.
Lampu kristal menyorot panggung. Di layar raksasa terpampang tulisan baru: Mahendra Corp: Integritas yang Dikembalikan. Alyssa berdiri di balik mimbar, mengenakan blazer putih gading. Di pergelangan kirinya, gelang berukir daun berkilau pelan.
"Perusahaan ini bukan milik satu orang," katanya. Suaranya tenang, tanpa teks. "Ia dibangun oleh banyak tangan. Dan kalau ada pelajaran dari beberapa bulan terakhir, itu adalah bahwa kejujuran lebih tahan lama daripada kekuasaan."
Tepuk tangan menggema. Di sudut panggung, Aris dan Hendri berdiri berdampingan, tersenyum. Alyssa memandang Aris sebentar. Ia menyimpan satu permintaan maaf yang sudah ia sampaikan sehari sebelumnya di ruang kerjanya, dan Aris hanya menjawab, "Nona hanya berhati-hati."
Setelah acara, ia tidak pulang. Mobilnya membelok ke arah Bogor.
Panti Kasih Bunda berdiri dengan wajah baru: dinding yang kokoh, perpustakaan, ruang kesehatan gratis. Anak-anak berlarian di rumput, menjerit riang tanpa tahu apa yang dibayar untuk setiap bata. Bunda menyambutnya di depan kapel dan memeluknya lama.
"Kamu sudah menyelesaikan tugasmu, Nak."
"Bukan saya sendiri, Bunda." Alyssa memandang anak-anak itu. "Ada banyak orang yang membayar mahal."
Bunda tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengusap punggung Alyssa pelan.
***
Sore harinya, Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Ruang kunjungan bercat semen. Sinar matahari sore jatuh miring lewat jeruji jendela, menggaris meja kayu tebal.
Devan duduk dengan kemeja biru longgar warga binaan. Ia lebih kurus, tapi matanya lebih tenang daripada yang pernah Alyssa lihat selama mereka saling mengenal. Saat Alyssa masuk, ia berdiri dan membungkuk singkat, lalu duduk lagi.
"Bagaimana di sini?"
"Baik." Devan tersenyum kecil. "Tidak ada laporan palsu, tidak ada Ibu. Aku tidur nyenyak."
Pandangannya turun ke tangan Alyssa di atas meja. Cincin perak itu sudah tidak ada di jari manisnya. Ia tidak bertanya. Hanya mengangguk, sangat pelan, seperti seseorang yang sudah lama tahu jawabannya.
"Aris bilang investasi energi terbarukan di Sumatra berjalan lancar," ujarnya.
"Berjalan baik." Alyssa menatapnya. "Panti juga."
"Bagus."
Petugas mengetuk pintu. Waktu kunjungan habis.
Devan berdiri. Ia merapikan kemejanya, lalu menatap Alyssa dari jarak dua meter. Tidak ada permohonan di matanya, tidak ada harapan yang dipaksakan. Hanya penerimaan.
"Terbanglah tinggi, Alyssa," katanya. "Jangan menoleh ke belakang."
Ia berhenti sebentar di ambang pintu.
"Tapi kalau suatu hari kamu merindukan seseorang yang benar-benar menyesali semuanya..."
Ia tersenyum, tipis, hangat, dan sedikit pecah.
"...cari aku di rasa sesalmu."
Pintu besi menutup perlahan di belakangnya.
Alyssa berdiri sendiri di ruang kunjungan yang sunyi. Air mata mengalir di pipinya, tapi ini bukan air mata luka. Ini air mata orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang terlalu lama ia bawa.
Ibu jarinya menyentuh gelang di pergelangan kirinya, sekali, pelan.
Lalu ia berbalik dan melangkah keluar, menuju sore yang terang, tanpa menoleh.
.....
.....
Tamat.