Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Blam.
Pintu mobil tertutup rapat, memblokir semua suara bising dan panasnya jalanan ibu kota.
Dewi menelan ludah dengan susah payah saat mendudukkan dirinya di kursi kulit mobil mewah ini.
Ini bukan sekadar mobil, ini lebih mirip ruang tamu berjalan yang interiornya berlapis kayu mengkilap dan lampu temaram.
AC mobil yang terlalu dingin membuat Dewi sedikit menggigil dalam balutan kaus lusuhnya.
Di kursi seberang, Raka Mahardika duduk menyilangkan kaki dengan aura yang masih sedingin es.
"Jalan, ke rumah sakit terdekat," perintah Raka kepada sopir di depan.
Mobil itu melaju dengan sangat mulus tanpa goncangan sedikit pun.
Dewi masih mendekap Elvan yang menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.
"Eh, Tuan Jas Mahal, anakmu sepertinya tidak perlu ke rumah sakit," ucap Dewi memecah keheningan.
Raka menatap tajam ke arah Dewi.
"Namaku Raka Mahardika. Berhenti memanggilku dengan sebutan konyol itu."
"Dan kau bukan dokter, jangan sok tahu soal kondisi anakku."
Dewi mendengus sebal mendengar nada arogan pria di depannya ini.
"Aku memang bukan dokter, tapi badan anakmu tidak panas sama sekali, Tuan Raka."
"Dia hanya kelelahan menangis dan sepertinya sangat haus."
Ding!
Suara mekanis itu kembali berbunyi tepat di dalam kepala Dewi.
Sebuah layar biru transparan muncul mengambang di udara, tepat di antara wajah Dewi dan Raka.
Dewi tersentak kaget dan refleks memundurkan kepalanya.
Dia menatap Raka, memastikan apakah pria itu bisa melihat layar biru ini atau tidak.
Ternyata tatapan Raka masih terfokus pada Elvan, sama sekali tidak peduli dengan layar di depannya.
Berarti cuma aku yang bisa melihat benda aneh ini, batin Dewi merasa sedikit lega.
[Misi Pemula Selesai!]
[Tuan Putri berhasil masuk ke dalam mobil Tuan Raka Mahardika.]
[Hadiah ditransfer: 10 Juta Rupiah tunai, Resep Susu Penenang Bayi Tingkat Dewa, dan Poin Kasih Sayang +10]
Tring.
Ponsel murahan di saku celana Dewi tiba-tiba bergetar singkat.
Dewi mengambil ponselnya dengan satu tangan dan membuka layar yang retak di ujungnya itu.
Matanya seketika membulat sempurna melihat notifikasi pesan singkat dari bank.
"Transfer masuk Rp 10.000.000 dari pengirim tidak dikenal."
Astaga naga, sistem ini ternyata sungguhan dan bukan ilusiku karena lapar! teriak Dewi dalam hati kegirangan.
Uang sepuluh juta bagi CEO di depannya mungkin cuma recehan, tapi bagi Dewi ini adalah penyambung nyawa.
[Misi Baru Diterima!]
[Buat target asuhan Elvano Mahardika tertidur lelap dalam waktu 15 menit!]
[Hadiah Penyelesaian: Pakaian Kasual Elegan Item Sistem dan 5 Poin Kasih Sayang]
[Hukuman Kegagalan: Elvan akan menangis tanpa henti selama 3 jam!]
Waduh, hukuman macam apa ini, anak ini bisa kehabisan nafas kalau menangis terus-terusan, rutuk Dewi panik.
"Mama... Elvan haus," rengek anak itu tiba-tiba, memecah lamunan Dewi.
Dewi buru-buru menoleh ke arah Raka yang masih duduk bersedekap dengan kaku.
"Tuan Raka, kau dengar kan? Anakmu haus, mana susunya?" pinta Dewi tanpa basa-basi.
Raka menghela nafas kasar, sepertinya tidak terbiasa disuruh-suruh oleh wanita asing.
"Bram, siapkan susunya," perintah Raka pada ajudannya yang duduk di kursi penumpang depan.
Ajudan bernama Bram itu dengan sigap mengambil sebuah tas bayi dari jok depan.
Dia menyerahkan botol susu kosong, termos air panas, sebotol air mineral, dan sekotak susu formula mahal ke arah belakang.
Dewi meletakkan Elvan di pangkuannya dengan hati-hati lalu menerima barang-barang itu.
"Biar saya saja yang buatkan susunya, Nona," tawar Bram dengan sopan.
"Tidak usah Pak Bram, biar aku saja, takutnya takarannya tidak pas kalau bukan tangan ibu yang meracik," jawab Dewi asal.
Raka mendengus meremehkan mendengar jawaban Dewi.
"Kau bahkan belum punya suami apalagi anak, jangan bertingkah seperti ahli asuh bayi di depanku."
Dewi tidak mempedulikan cibiran Raka dan fokus menatap botol susu di tangannya.
Di dalam kepalanya, sederet teks resep dari sistem mulai bermunculan bak buku panduan.
[Resep Susu Penenang Bayi Tingkat Dewa diaktifkan]
[Langkah 1: Tuangkan air panas 40% dan air suhu ruang 60% untuk mencapai suhu ideal 37 derajat celcius]
Tangan Dewi bergerak lincah menuangkan air dari termos dan botol mineral bergantian.
Tanpa termometer, entah bagaimana Dewi merasa sangat yakin suhu air di dalam botol ini sudah sangat pas.
[Langkah 2: Masukkan 4 sendok takar susu formula, putar perlahan searah jarum jam selama 10 detik]
[Peringatan: Jangan dikocok naik turun agar tidak banyak gelembung udara yang membuat bayi kembung!]
Dewi mengikuti instruksi sistem itu dengan sangat teliti dan hati-hati.
Bram yang melihat dari kaca spion tengah tampak sedikit terkejut dengan kelihaian Dewi.
Bahkan pengasuh profesional yang dibayar mahal oleh Tuan Raka saja sering panik saat membuat susu, batin Bram keheranan.
"Ini sayang, susunya sudah jadi, ayo minum dulu," ucap Dewi lembut sambil menyodorkan ujung botol ke mulut Elvan.
Elvan langsung menyedot susu itu dengan sangat rakus.
Kedua tangan mungilnya memegangi botol, sementara matanya terus menatap wajah Dewi tanpa berkedip.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭