**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 seminggu setelah menikah
Seminggu kemudian, ruang kerja Altres tampak seperti medan perang yang dipenuhi kertas. Tumpukan tagihan belanja bahan makanan menggunung di atas meja kayu besar, sebagian bahkan jatuh berserakan di lantai, dan Altres duduk di balik tumpukan itu dengan alis berkerut dalam sambil menjumlahkan angka-angka yang tidak pernah ingin ia lihat. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah, dan sesekali ia menggosok pelipis seakan angka-angka itu bisa dihapus dengan cara demikian. Cahaya sore yang masuk lewat jendela jatuh pada tinta yang masih basah, membuat deretan angka itu tampak semakin mengerikan. Istrinya benar-benar menghabiskan stok makanan yang seharusnya cukup untuk dua bulan hanya dalam waktu seminggu, dan setiap lembar tagihan di hadapannya seolah menertawakan dompetnya yang makin menipis. Pintu diketuk pelan, dan Emma melangkah masuk dengan buku catatan kecil di tangan. "Maaf mengganggu, Tuan. Ada hal yang perlu saya laporkan. Saya melaporkan bahwa saya sudah merekrut beberapa pekerja tambahan untuk menyiapkan makanan Duchess, karena para koki tidak sanggup lagi mengimbangi kebutuhannya."
Altres menyandarkan punggung ke kursi, mengembuskan napas panjang, dan memejamkan mata sejenak. Ia tidak marah, hanya pasrah, seperti seorang kesatria yang sudah menyadari bahwa musuhnya terlalu besar untuk dikalahkan dengan pedang, dan dalam kepalanya mulai berputar satu pertanyaan yang sama sekali tidak ingin ia ucapkan keras-keras, yaitu berapa lama lagi ia sanggup menghidupi seekor naga. "Lakukan apa yang perlu," ucapnya akhirnya dengan suara datar. "Pastikan saja mereka bekerja dengan baik dan tidak ada yang jatuh sakit karena kelelahan." Namun Emma tidak langsung pergi. Ada senyum kecil yang tertahan di sudut bibirnya, dan matanya tampak lebih cerah dari biasanya. "Sebenarnya, Tuan, saya merasa majikan baru saya sangat menyenangkan. Duchess sudah mulai terbuka pada saya. Sekarang saya diperbolehkan membantunya mandi dan berpakaian." Altres membuka sebelah matanya dan menatap gadis itu dengan alis terangkat, sedikit tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Kau tidak takut padanya?" Emma tertawa pelan sambil menggeleng. "Awalnya saya sempat gemetar setiap kali ditatap, Tuan, seakan beliau ingin menerkam saya. Tapi sekarang saya sudah terbiasa. Sepertinya Duchess memang tidak punya ekspresi seperti manusia. Dan wajahnya selalu terlihat lembut sekali saat sedang makan dengan lahap."
Altres mendengus pendek dan kembali menunduk pada tumpukan kertasnya, berpura-pura tidak tertarik, padahal ujung pena di tangannya berhenti bergerak selama beberapa detik. "Aku tidak peduli dia lembut atau tidak. Yang kuinginkan hanya mengamankan kekayaanku yang berkurang setiap hari." Ia meraih pena, mencoret satu angka, lalu menghela napas panjang yang terdengar hampir seperti keluhan. "Aku akan mencari cara supaya kita bisa bertahan, entah bagaimana pun caranya. Brune tidak boleh bangkrut hanya karena seorang istri yang lapar." Setelah Emma membungkuk dan keluar, Altres memanggil Reynan yang berdiri di dekat jendela. "Lakukan efisiensi anggaran. Kurangi pengeluaran yang tidak perlu, sekecil apa pun." Reynan menunduk dengan sopan, tetapi wajahnya jelas menunjukkan keraguan, dan ia sempat melirik tumpukan tagihan di atas meja dengan ngeri. "Saya akan mencobanya, Tuan, tapi itu hampir mustahil selama Duchess masih makan sebanyak itu." Ia terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan hati-hati, "Biar saya yang bicara dengan Duchess. Semoga beliau mau sedikit mengurangi makannya." Altres melambaikan tangan lelah tanpa mengangkat wajah dari kertas-kertasnya. "Terserah kau saja, Reynan. Yang penting hasilnya terlihat sebelum akhir bulan."
Sementara itu di kamarnya, Veronica duduk bersila di kursi dekat jendela dengan piring kue di pangkuan, tidak peduli bahwa tata krama manusia jelas melarang cara duduk seperti itu. Aroma mentega dan gula memenuhi seluruh ruangan. Meja di hadapannya penuh dengan kue berbagai bentuk, ada yang berlapis krim, ada yang ditaburi buah beri, dan ada yang meleleh manis di lidahnya. Ia menggigit potongan terakhir dengan mata setengah terpejam, menikmati rasa manis yang perlahan meleleh di lidahnya, lalu mengerutkan dahi. Bagaimana mungkin manusia, makhluk rendahan yang hidupnya hanya sekejap, mampu membuat sesuatu seenak ini? Ia mengetuk-ngetukkan garpu ke tepi piring, berpikir keras, lalu memanggil pelayan yang sedang merapikan tirai dan bertanya dengan nada serius, "Sihir apa yang kalian gunakan untuk membuat makanan ini?" Pelayan itu tersentak hingga kain tirai di tangannya hampir terlepas, wajahnya langsung pucat melihat sorot mata ular yang menatapnya lurus. "S-saya tidak tahu apa-apa, Nyonya. Mohon maaf, saya permisi." Ia membungkuk cepat-cepat lalu berlari keluar tanpa menoleh lagi, dan langkah kakinya yang tergesa terdengar menjauh di sepanjang lorong.
Veronica menatap pintu yang tertutup itu dengan bibir mengerucut dan alis berkerut kesal. Ia hanya ingin tahu rahasia manusia dalam membuat makanan selezat itu, tetapi lagi-lagi ia diabaikan seperti binatang buas yang harus dijauhi. "Aku kan hanya bertanya baik-baik," gerutunya sambil mengambil kue berikutnya, dan jemarinya menekan krim hingga hampir tumpah dari tepinya. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, dan Altres masuk dengan langkah berat. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, memandangi kue-kue yang memenuhi meja dengan alis bertaut, lalu menghitung dalam hati berapa banyak koin emas yang telah berubah menjadi krim dan gula di hadapannya. Sesaat ia bertanya dalam hati apakah semua ini benar-benar hanya dimakan oleh satu orang.
Altres menarik kursi dan duduk di seberang meja, menarik napas dalam-dalam seperti seorang jenderal yang hendak menyampaikan kabar buruk kepada pasukannya. Ia sendiri bingung harus memulai dari mana, sebab tak satu pun kata yang ia siapkan sepanjang lorong tadi terasa cocok. "Apakah kau menyukai makanan yang disiapkan para pelayan?" tanyanya akhirnya, memilih pembuka yang paling aman. Veronica mengangguk acuh tanpa menoleh sedikit pun, sibuk menjilat sisa krim di ujung jarinya, seakan pertanyaan itu sama sekali tidak penting. "Tentu saja. Kenapa kau bertanya hal yang sudah jelas? Kau melihat sendiri berapa banyak yang sudah kuhabiskan." Altres mengusap tengkuknya dengan canggung, menimbang kata-katanya sebelum melanjutkan. "Sepertinya kau harus mengurangi jumlah makananmu. Aku tidak bisa menyediakan sebanyak itu setiap hari. Aku memang seorang duke dan cukup kaya, tapi kalau terus menuruti keinginanmu, dalam waktu kurang dari lima tahun aku akan jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi. Aku harap kau bisa mengerti keadaannya."
Veronica meletakkan garpunya dengan bunyi denting kecil dan menatapnya sekilas dengan wajah datar tanpa emosi, lalu kembali pada kue di piringnya. "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikmati makanan manusia. Rasanya luar biasa, dan aku tidak mau berhenti." Rahang Altres mengeras mendengar jawaban yang begitu santai itu, dan urat di pelipisnya berdenyut sesaat. Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua sikunya bertumpu di meja, dan suaranya merendah menjadi lebih tegas. "Aku tidak akan menuruti keinginanmu. Itu akan berdampak pada kekuasaanku sebagai Duke Brune. Aku tidak bisa mengendalikan keadaan kalau aku tidak punya harta." Di luar dugaan, Veronica justru tersenyum lebar sambil menyandarkan dagu pada telapak tangannya, dan senyum itu memperlihatkan deretan gigi putih yang jauh lebih tajam dari gigi manusia mana pun. "Oh, aku senang mendengarnya. Aku harap kau tidak bisa berkuasa lagi dan jatuh miskin. Itu pasti pemandangan yang menyenangkan, dan aku akan menontonnya sambil makan kue."
Altres menatapnya lama tanpa berkedip, tidak sedikit pun terpancing oleh senyum itu, lalu sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang lebih menyerupai tantangan daripada kehangatan. Ia bersandar dengan tenang, menyilangkan lengan di dada, dan mengangkat dagu sedikit, dan berkata dengan suara yang sengaja dibuat ringan. "Silakan saja berharap begitu, aku tidak melarangmu. Tapi kalau aku jatuh miskin, istriku yang tercinta ini tidak akan bisa menikmati makanan seperti ini lagi. Tidak ada kue, tidak ada daging panggang, tidak ada sup hangat, tidak ada apa pun." Gerakan tangan Veronica yang sedang meraih kue berhenti di udara. Senyumnya lenyap seketika, kue di jemarinya terlupakan, dan ia menoleh perlahan dengan mata menyipit tajam, seolah baru saja diancam oleh seorang pria yang dengan tenang menemukan titik terlemahnya.