Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Tidak terasa, kehamilan Anisa kini telah memasuki usianya yang kesembilan bulan. Hari-hari yang dilalui penuh dengan debaran, antisipasi, dan tawa kecil di tengah rasa lelah yang kian menumpuk.
Namun, sore itu, udara di rumah keluarga Burhan mendadak terasa begitu berat dan mencekam.
"Mas... Mas Burhan!" panggil Anisa dari arah kamar mandi. Suaranya serak, bergetar menahan rasa sakit yang amat sangat.
Burhan yang sedang duduk di ruang tamu ketika sedang mau siap-siap berangkat kerja Anisa langsung memanggil Burhan sambil teriak " mas.... Burhan
"Anisa? Ada apa, Sayang?" Burhan mengetuk pintu kamar mandi dengan panik. Tangan kirinya masih memegang sarung tangan kerja
Pintu terbuka perlahan. Anisa muncul dengan wajah pucat pasi. Peluh dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Tangan kanannya mencengkeram erat pinggiran pintu, sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang sudah membuncit sempurna.
"Sakit, Mas... Perutku terasa melilit sekali. Kayaknya... kayaknya ketubannya sudah pecah," bisik Anisa lirih. Napasnya terengah-engah, berusaha menata irama dada yang kian sesak.
Seketika wajah Burhan memucat. Rasa panik menyergapnya tanpa ampun. "Pecah?! Ketuban pecah?! Oke, oke, jangan panik! Maksudku, aku yang jangan panik!" Burhan berteriak linglung, justru menunjukkan betapa kalut dirinya.
"Mas... jalan..." ringis Anisa sambil memejamkan mata rapat-rapat saat kontraksi hebat kembali menghantam.
"Iya, iya! Kita ke rumah sakit sekarang! Sebentar, mana tas perlengkapan bayi?!" Burhan berlari ke dalam kamar utama, bolak-balik seperti ayam kehilangan induk. Ia menyambar tas pakaian bayi, tapi tak sengaja menyenggol lampu tidur hingga jatuh berdentang ke lantai.
"Aduh! Abaikan lampunya, Burhan, fokus!" gumamnya pada diri sendiri. Ia kembali berlari ke depan dan merangkul tubuh Anisa dengan amat hati-hati.
"Bisa jalan, Sayang? Aku papah, ya? Atau mau aku gendong?" tanya Burhan dengan suara gemetar. Tangan laki-laki itu yang biasanya tenang dan tegas saat bekerja di bangunan
"Dipapah saja, Mas... Aduh, sakit sekali..." Anisa merintih, meremas lengan kemeja Burhan hingga kusut.
"Tahan sebentar, ya. Mas mau ke tetangga sebelah yang punya mobil biar langsung Kita berangkat!" ucap Burhan sembari membanting pintu rumah nya dan berlari mengitari kap mobil menuju orang yang punya dan bicara agar meminta tolong untuk diantar ke RSUD
Lalu yang punya mobil pun
Mesin mobil meraung. Burhan menyuruh sopir menancap gas keluar dari halaman rumah. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, ketegangan makin menjadi-jadi.
Jalanan kota sore itu rupanya sedang dipadati kendaraan yang pulang kantor. Kemacetan mengular di depan mereka.
"Mas... makin sering kontraksinya..." Anisa merintih, kepalanya bersandar lemas di kaca jendela. Tangan kirinya terus mencengkeram dasbor.
Burhan menepuk pahanya dengan frustrasi. "Kenapa harus macet sekarang, sih?! Ayo dong, jalan!" teriaknya pada deretan mobil di depan. Ia menoleh ke arah Anisa, matanya berkaca-kaca melihat penderitaan sang istri.
"Anisa, lihat aku. Tarik napas, Sayang... Tahan. Huuu... haaa... ikuti aku!" Burhan mempraktikkan latihan pernapasan yang pernah mereka pelajari sewaktu cek kehamilan di puskesmas namun suaranya justru terdengar lebih tidak stabil daripada Anisa.
"Mas yang tarik napas! Kenapa malah Mas yang ngos-ngosan?!" sahut Anisa di tengah ringisannya, membuat Burhan semakin salah tingkah.
"Aku takut, Anisa! Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita!" aku Burhan jujur. Tanpa ragu, ia membunyikan klakson berkali-kali, nekat mengambil jalur darurat demi menembus antrean kendaraan.
Setelah dua puluh menit yang terasa seperti bertahun-tahun, mobil tetangga Burhan akhirnya berhenti tepat di depan pintu IGD Rumah Sakit Medika. Burhan melompat keluar tanpa sempat mematikan mesin dengan benar.
"Tolong! Istri saya mau melahirkan! Tolong!" teriak Burhan heboh begitu menerobos pintu kaca IGD.
Beberapa suster dan petugas medis dengan sigap membawa kursi roda dan brankar. Anisa segera dipindahkan ke atas brankar dan didorong cepat menuju ruang bersalin. Burhan terus berlari di sampingnya, memegang erat jemari Anisa yang terasa dingin.
"Kamu kuat, Sayang. Sebentar lagi kita ketemu anak kita," bisik Burhan, air matanya menetes di punggung tangan Anisa.
"Mas... jangan tinggalkan aku..." Anisa memohon dengan tatapan sayu saat mereka menembus pintu ruang tindakan.
"Nggak akan. Aku di sini. Aku bakal terus mendampingi kamu," janji Burhan tegas.
Di dalam ruang bersalin, Dokter Maya sudah bersiap. "Ibu Anisa, pembukaannya sudah hampir lengkap. Nanti kalau ada dorongan, mengejan yang kuat ya," instruksi Dokter Maya dengan tenang.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik! Istri saya dari tadi kesakitan!" seru Burhan heboh dari samping kepala Anisa.
"Pak Burhan, mohon tenang. Bapak mendampingi Bu Anisa saja, berikan dia semangat," ujar suster menenangkan Burhan yang mondar-mandir tidak karuan.
"Bagaimana bisa tenang, Suster?! Itu istri saya sedang bertaruh nyawa!" balas Burhan dengan wajah merah padam.
"Mas... diamlah... Kepalaku makin pusing dengar kamu teriak-teriak," keluh Anisa lirih di sela napasnya yang berburu.
Burhan langsung bungkam. Ia berlutut di samping tempat tidur, menggenggam kedua tangan istrinya dan menempelkannya di pipinya sendiri. "Maaf, Sayang. Maafkan Mas. Mas di sini. Ayo, kamu pasti bisa."
"Bagus, Bu Anisa. Sekarang, tarik napas dalam... dan dorong!" perintah Dokter Maya.
Anisa mencengkeram tangan Burhan sekuat tenaga. Pekikan panjang terdengar memenuhi ruangan. Burhan meringis menahan sakit di tangannya yang dicengkeram dan dicakar Anisa, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan istrinya.
"Ayo, Anisa! Sedikit lagi! Aku bisa lihat kepala anak kita!" seru Burhan, matanya membelalak antara takjub, haru, dan ketakutan yang mencekam.
"Nggak kuat, Mas... aku lemas..." bisik Anisa, matanya perlahan terpejam exhaustion.
"Jangan menyerah, Anisa! Tolong, demi aku, demi bayi kita!" Burhan mencium dahi Anisa yang dibasahi keringat, menumpahkan seluruh rasa cinta dan kekhawatirannya. "Kamu wanita terkuat yang pernah aku kenal. Ayo, sekali lagi, Sayang!"
Mendengar bisikan dan dorongan kasih sayang itu, Anisa membuka matanya kembali. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, ia menarik napas sedalam-dalamnya dan mengejan sekuat yang ia mampu.
"Arghhhhh!"
Oeeekkk! Oeeekkk! Oeeekkk!
Suara tangisan nyaring membahana menyapu seluruh ketegangan di ruangan itu. Waktu seolah berhenti seketika.
Dokter Maya tersenyum lega sambil mengangkat bayi yang masih berlumuran darah. "Selamat, Pak Burhan, Bu Anisa. Bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat telah lahir."
Burhan terpaku. Tangisan bayi itu meruntuhkan seluruh pertahanan dan kepanikannya. Air matanya menetes deras tanpa bisa ditahan lagi. Ia menatap Anisa yang tersenyum lemah di atas ranjang.
"Terima kasih, Anisa... Terima kasih banyak, Sayang..." bisik Burhan seraya memeluk kepala istrinya dengan penuh kehangatan. Perjuangan dramatis hari itu berakhir dengan tangis bahagia dan hadirnya jiwa baru di tengah-tengah mereka.