Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Jebakan
Di dalam ruangan itu, ada satu orang pria yang sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Kepulan asap memenuhi seisi ruangan dengan bau alkohol yang menusuk. Karissa ditarik ke dalam ruangan dan dibawa ke hadapan pria itu.
"I-ini ... ini adik saya yang akan menemani Kalian! Se-semoga kalian puas!" ucap Karina dengan terbata.
Dia mendorong adiknya ke hadapan pria itu, lalu pergi menuju pintu keluar.
Satu orang yang masih berdiri di dekat pintu tiba-tiba menarik Karina, tidak membiarkannya pergi.
"Bukankah kau juga akan ikut bermain? Kenapa malah pergi?"
"Ti-tidak! Adikku yang akan menemani kalian," jawab Karina dengan lantang.
Dia segera melepaskan diri, membuka pintu, lalu pergi dengan cepat meninggalkan ruangan itu tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi pada adiknya.
"Karin! Kau mau pergi ke mana?" teriak Karissa ketika pintu sudah ditutup.
"Bukankah kau ingin aku datang? Tapi, kenapa sekarang malah ...."
Karissa terdiam, tidak melanjutkan ucapannya.
'Karin memintaku untuk segera datang! Apa untuk ini ... menggantikan dia melayani pria hidung belang ini?'
"Kemarilah, Nona!" ucap pria yang tadi berdiri di dekat pintu.
Pria itu menarik tangan Karissa. "Kami sudah membayar mahal untuk malam ini! Kau harus memuaskan kami!"
Karissa ditariknya hingga ke sofa. Dan pria itu bersiap menyentuh tubuhnya.
"Stop!" Tiba-tiba Karissa berteriak.
Ia berdiri dengan kaki bergetar, mundur dua langkah ke belakang untuk menghindar.
"Jangan sentuh aku!" Ia mengangkat tangan, melarang pria itu untuk mendekat.
"Kalian salah kalau menyentuhku!" teriak Karissa dengan menegakkan punggung.
Mencoba bersikap kuat, ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria-pria itu.
"Yang sudah kalian bayar itu aku atau Karin?"
"Kalau yang kalian bayar itu adalah Karin, mengapa harus aku yang melayani kalian, hah?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Seharusnya, Karin yang memuaskan kalian, bukan aku!"
"Hey, cantik! Berani sekali kau berteriak pada kami!" ucap pria yang sedang duduk di sofa. Ia membuang rokoknya ke karpet, lalu menginjaknya.
"Ya, kami memang sudah membayar Karin untuk malam ini!" Pria itu bangkit berdiri, berjalan menghampiri Karissa. "Tapi ... dia bilang akan mendatangkan satu wanita untuk menggantikan tugasnya!"
"Itu artinya ... kau yang harus menggantikan tugasnya, bukan?" tanya pria itu dengan senyum samar di bibirnya. Tangannya terulur, mengelus wajah cantik Karissa dengan lembut.
"Kalau tidak ... aku akan mengambil kembali uang yang sudah dia terima menjadi sepuluh kali lipat!" tambah pria itu dengan sedikit ancaman.
"Aku tidak perduli!" sergah Karissa sambil menepis tangan pria itu.
"Toh, Karin sedang banyak uang! Dia pasti bisa mengembalikan uangmu sepuluh kali lipat!"
Bagaimana Karina tidak banyak uang? Dari hasil penjualan rumah saja, itu mencapai enam belas miliar. Dia masih bisa mengembalikan uang pria itu sebanyak sepuluh kali lipat.
"Hemmm?" Pria itu mengangkat alisnya. "Banyak uang? Karin punya banyak uang? Kalau itu benar, untuk apa dia meminta bayaran yang sangat besar sebagai upah pelayanannya malam ini?" cibirnya dengan tatapan penuh minat pada Karissa.
"Mana 'ku tahu!" jawab Karissa dengan mengangkat bahu. Sama sekali tidak perduli dengan hal itu.
"Baiklah ... baiklah! Mari kita duduk saja," ucap pria itu dengan santai. Ia kembali ke tempat duduknya.
"Sini!" Menepuk sofa kosong di sampingnya. "Duduklah!"
"Temani aku minum saja!" ucap pria itu, masih mencoba bersikap santai.
"Bram! Tinggalkan aku berdua dengan gadis ini! Kau pilih satu gadis di bawah, nanti kubayar," ucap pria itu pada temannya.
"Oho ... baiklah! Dengan senang hati!"
Dia tersenyum, lalu pergi keluar meninggalkan Karissa di ruangan itu.
"Cepat, kemarilah! Aku tidak akan menyentuhmu, hanya ingin ditemani minum saja!" Pria itu kembali menepuk sofa di sampingnya. Menuangkan minuman dari botol ke dalam gelas yang kosong.
"Benarkah hanya itu?" Karissa sedikit ragu, menatap pria itu dengan penuh waspada.
"Iya, cepatlah ... sebelum aku berubah pikiran!" ucapnya lagi tidak sabar.
Takut pria itu berubah pikiran, Karissa segera duduk di samping pria itu. "Baik, aku temani! Hanya minum saja, kan?"
"Hemm ... hehe!" Pria itu mengangguk. Senyum samar terlintas di wajahnya.
"Mari kita bersulang!" Dia menyerahkan satu gelas berisi minuman pada Karissa. Lalu mengangkat satu gelas lagi untuk dirinya sendiri.
Dengan ragu, Karissa mengambil gelas itu. Diam sejenak, memperhatikan pria di sampingnya yang sekarang terlihat sangat ramah. Tidak ada lagi sikap angkuh seperti yang ia lihat ketika baru masuk ke dalam ruangan itu.
Karissa mulai mengangkat gelas.
Tring!
Suara nyaring dari gelas yang beradu terdengar sangat jelas di sana. Pria itu mulai meneguk habis minumannya, diikuti Karissa. Ia segera menghabiskan minumannya dalam satu tegukan.
"Ssrruuttt ... ah! Sudah!" Karissa segera menyimpan gelasnya ke atas meja, menyeka mulutnya dengan punggung tangan.
Gerakan sepertinya, sangat menggoda di mata pria itu.
"Sekarang, aku mau pergi!" ucap Karissa seraya bangkit berdiri. Ia berjalan menuju pintu keluar.
"Hey, mau pergi ke mana? Temani aku minum sampai tiga botol ini habis." Pria itu menghampiri Karissa, lalu meraih tangannya.
Karissa seolah tidak mendengar. Ia masih terus berjalan menuju pintu keluar. Namun, pintu itu ternyata dikunci dari luar. Karissa berdiri sambil terus menarik pegangan pintu.
"Jangan dulu pergi, manis! Permainan baru akan dimulai!" bisik pria itu sambil memeluk Karissa dari belakang.
"Ayolah! Malam ini kita akan bersenang-senang!"
Dia menciumi leher putih Karissa, memeluknya dengan erat.
"Aish, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Karissa menghindari sentuhan di lehernya. Menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Ahh, lepas!" Karissa menggeliat lagi.
Tiba-tiba ia merasakan hawa panas di tubuhnya. Sentuhan-sentuhan lembut dari pria itu, tubuhnya merespon dengan sangat baik.
'Brengsek! Ada apa ini? Kenapa aku menginginkannya?' gumam Karissa dalam hati.
Mulut berkata tidak, namum tubuhnya menyukai sentuhan-sentuhan itu.
"Ahhhhhh ...."
'Ada apa ini? Apa ada yang salah dengan minuman tadi? Kenapa aku jadi ingin ....'
"Ada apa?" bisik pria itu penuh godaan, lalu menggigit pelan telinga Karissa. "Kau menyukainya, bukan?"
Tangan pria itu mulai masuk ke dalam pakaian Karissa, menyentuh tubuhnya dengan lembut.
"Ahhh, hen-hentikan!"
'Jangan, Kariss! Jangan terjerumus ke dalam permainannya! Kau harus sadar, kau harus sadar!'
Karissa menyemangati dirinya sendiri. Ia tidak boleh terhanyut ke dalam perangkap pria itu.
Sekuat tenaga Karissa melawan keinginannya. Ia menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya, maju beberapa langkah ke samping untuk menghindar.
"Mau ke mana, Sayang?"
Pria itu mengikuti langkah kecil Karissa, terus melangkah sampai mentok di dinding.
"Kemarilah! Aku akan membuatmu puas!"
"Tidak, jangan, aku mohon!" lirih Karissa.
Dirinya sudah tidak bisa kabur lagi. Di belakangnya ada tembok yang dingin, ia sudah tidak bisa melangkah lagi.
"Ayolah! Jangan menghindar, itu tidak ada gunanya! Hanya sia-sia saja kau menghindar!" ucap pria itu sambil menarik tubuh Karissa.
Ia menggendong wanita itu dan dilempar ke sofa.
"Patuhlah! Kalau kau patuh, aku tidak akan menyakitimu!"
Pria itu menyeringai penuh ancaman, membuka pakaiannya sendiri dan dilempar ke lantai. Ia segera mendekati Karissa, menunduk dan mulai memegang sweater wanita itu.
"Ja-jangan ... jangan!"