Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pagi jam 07.00. Dua hari setelah Clarissa Wijaya mantan S2 London diusir dari gerbang Pondok Indah oleh Aditya.
Rumah Pondok Indah kembali tenang di luar, tapi di dalam hati Alena masih tidak tenang. Sejak kejadian Clarissa datang dengan dress merah marun Chanel, tas Chanel, dan membawa foto London Eye Alena jadi lebih diam. Biasanya pagi jam 05.30 ia sudah ceria di dapur masak nasi goreng spesial dengan telur mata sapi bulat sempurna untuk Aditya, tapi dua hari ini telur mata sapinya tidak bulat lagi, agak gosong di pinggir karena ia melamun mikirin kata-kata Clarissa: "Kamu hanya ibu rumah tangga yang bisa masak nasi goreng, saya S2 London."
Aditya sadar perubahan itu. Sebagai CEO dingin yang biasanya cuek, sekarang ia jadi lebih perhatian. Ia tidak tanya banyak, tapi tiap pagi ia memeluk Alena lebih lama dari belakang di dapur, bahkan di depan Bi Ijah, untuk meyakinkan kalau Alena tetap yang paling penting.
Sean sudah selesai ujian akhir kelulusan SMA kemarin. Ia tinggal di kamar menunggu pengumuman lulus 3 hari lagi. Ia main game di lantai 2, tidak tahu ada drama mantan di bawah.
Jam 07.15 pagi, Aditya berangkat kantor. Ia sudah rapi, kemeja putih bersih, dasi hitam, jas abu-abu, sepatu mengkilap. Sebelum masuk ke Porsche hitam, ia mencium kening Alena di depan pintu. Itu pertama kalinya ia cium kening pagi hari.
"Jangan dipikirin Clarissa ya sayang. Dia itu masa lalu Mas. Kamu itu masa depan Mas," bisik Aditya pelan di telinga Alena.
Alena mengangguk, senyum tipis, tapi matanya masih sembab karena semalam kurang tidur.
Porsche hitam melanju pergi ke Pradana Tower.
Jam 09.00 Alena yang tengah menyibukkan diri terkejut saat lagi-lagi bell rumahnya berbunyi.
Ting tong!
Bi Ijah yang buka gerbang. Di luar bukan Clarissa, tapi kurir bunga. Kurir bunga pakai seragam putih, bawa motor listrik, membawa buket besar.
Kurir itu berteriak dari gerbang, "Permisi! Apakah benar ini rumah Ibu Alena Pradana? Ada kiriman bunga untuk Ibu Alena Pradana!"
"iya betul,maaf dari siapa?" tanya bi Ijah sopan.
" Ada buket bunga buat ibu Alena!" ucap kurir sembari menyodorkan buket berukuran jumbo.
Tanpa Ba bi Bu bi Ijah menerima begitu saja.
Buket jumbo 100 tangkai itu dibawa Bi Ijah ke meja ruang tamu. Berat sekali, Bi Ijah sampai pakai dua tangan.
Di tengah buket ada kartu kecil warna hitam dengan tulisan emas mengkilap.
Alena jalan pelan ke ruang tamu, jantung berdetak kencang, takut ini dari Rizky lagi, atau dari orang lain. Ia ambil kartu hitam itu dengan tangan gemetar dan membukanya.
Isinya tulisan cetak rapi, bukan tulisan tangan Rizky:
_"Untuk Alena Putri yang cantik dan baik hati. Terima kasih sudah mau menerima cinta saya selama ini. Saya tahu kamu sudah menikah, tapi saya tidak bisa bohong, saya masih sayang kamu. Tunggu saya di Cafe Senopati jam 8 malam ini ya, saya mau bicara penting soal masa depan kita berdua. - Dari Pengagum Rahasiamu, R"_
Alena langsung pucat pasi. R? Rizky Pratama lagi? Tapi kenapa gaya tulisannya beda? Kenapa ngajak ketemuan di Cafe Senopati?
Dari jendela lantai 2, Sean yang lagi main game lihat buket jumbo itu, langsung teriak kencang, "WAH BUNDA DAPAT BUNGA LAGI! 100 TANGKAI! GEDE BANGET BUN! SIAPA YANG KIRIM BUN?"
Di saat yang sama, suara Porsche hitam masuk gerbang dengan kencang.
Aditya pulang jam 09.30 pagi! Lebih cepat dari biasanya! Tadi di kantor ada yang kirim chat ke Aditya: "Pak Aditya, ada kurir bunga bawa buket jumbo 100 tangkai ke rumah Bapak, atas nama Ibu Alena, kurirnya bilang dari pengagum rahasia."
Aditya yang kemarin baru saja usir Clarissa dan masih trauma bunga, langsung tinggalkan rapat penting dan pulang ngebut.
Aditya masuk ruang tamu dengan wajah panik, kemeja putih agak kusut karena macet dan ngebut. Ia melihat buket 100 tangkai mix merah putih jumbo di meja, melihat Alena pucat memegang kartu hitam.
"Alena, bunga dari siapa lagi?" tanya Aditya, suaranya datar tapi tangannya mengepal kuat.
Alena buru-buru kasih kartu hitam itu ke Aditya, air mata sudah mau jatuh, "Mas aku juga tidak tau,mas jangan salah faham lagi.Ini ada inisial R di kartu ucapannya.
Aditya baca kartu hitam itu, matanya langsung merah membara, sama seperti saat dulu baca kartu bunga 50 tangkai dari Rizky.
"R? Rizky Pratama lagi? Berani-beraninya kirim ke rumah setelah saya usir di Senopati? Dan dia ngajak kamu ketemuan lagi di Cafe Senopati jam 8 malam?"
Aditya membanting kartu hitam itu ke meja dengan keras. BRAKK! Vas bunga kecil di meja sampai pecah. Bukan karna kartunya melainkan karna hentakan dari tangan Aditya membuatnya pecah.
Sean kaget turun tangga," Ayah apa itu dari si pria mawar itu?" tanya Sean penasaran.
Bi Ijah juga kaget.
Alena langsung nangis, memeluk lengan Aditya erat, "Mas tenang mas,ini pasti ada orang yang sengaja mau bikin kita ribut mas,hiks hiks!" Isak Alena.
Tapi Aditya sangat jeli dan teliti, ia bisa melihat detail apa yang Alena tidak bisa lihat. Di bawah bungkus kertas hitam elegan itu ada stiker kecil. Stiker toko bunga "Clarissa Flower - London Florist Jakarta". Stiker itu sama persis dengan yang ia lihat di Instagram Story Clarissa 2 hari lalu. Clarissa pernah posting foto buket hitam elegan yang sama di Story dengan caption "My favorite florist in Jakarta".
Aditya langsung curiga, ini bukan dari Rizky. Ini dari ulah dari Clarissa.
Aditya ambil HP, telepon satpam komplek dengan suara dingin mematikan, "Halo Rudi, cek CCTV gerbang rumah saya jam 08.30 pagi tadi. Siapa yang antar bunga 100 tangkai atas nama Alena. Saya mau tahu pengirim aslinya, nomor HP pemesan, dan plat motor kurir."
15 menit kemudian, Rudi telepon balik, "Pak Aditya saya sudah berhasil melacak kurir tersebut dan saya berhasil mendapatkan nomor telfonya,dia bilang pengirimnya wanita, dress merah marun, pesan dari Cafe Senopati, atas nama Clarissa Wijaya Pak. Dia bayar cash 2 juta Pak, dia bilang kirim atas nama Alena Pradana Pak.
Terbukti bukan Rizky pelakunya tapi Clarissa.
Aditya mengusap air mata Alena yang masih nangis, senyum tipis meyakinkan, "Sayang jangan nangis ya kamu tidak salah ,saya sudah tau siapa pelakunya ini dari Clarissa. Mantan saya dia mau adu domba kita. Dia pesan bunga atas nama kamu, seolah-olah kamu punya pengagum rahasia inisial R, biar saya cemburu buta lagi dan saya ceraikan kamu. Itu Rencana dia setelah kemarin gagal meyakinkan kamu dan berujung diusir."
" Ck,trik murahan!"
Alena kaget dan berhenti nangis, "Mbak Clarissa? Dari mana mas tau?"
"Iya. Lihat stiker ini, London Florist, ini toko langganan Clarissa.
Aditya tersenyum jahil, ia lantas melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan dulu. Dulu bunga 50 tangkai dari Rizky dibanting ke tempat sampah.Tapi sekarang ia tidak banting. Ia ambil gunting taman di gudang, potong pita merah besar itu, dan bagi-bagi 100 tangkai itu satu-satu ke Bi Ijah, ke Mbak Siti, Mbak Rina, ke satpam komplek, ke tetangga sebelah.
"Ini bunga fitnah, tapi bunganya tidak salah. Bagi-bagi ke semua orang. Biar rumah kita wangi, tapi bukan wangi fitnah."
Semua asisten rumah tangga senang dapat mawar gratis.
Alena yang melihat sikap Aditya merasa tersentuh, tangannya terulur memeluk suaminya yang tengah berdiri didepan gerbang.
"Mas... terima kasih Mas sudah percaya aku Mas..."
Sore jam 18.00, Aditya dan Alena datang ke Cafe Senopati sesuai alamat di kartu hitam.Alena tidak datang sendiri,dia datang berdua dengan suaminya bahkan mereka bergandengan tangan mesra tak ketinggalan Sean juga ikut serta.
Di Cafe Senopati, Clarissa sudah duduk cantik dengan dress merah marun yang sama, pesan 2 kopi, menunggu Aditya datang marah-marah dan kemudian menceraikan Alena.
Tapi yang datang Aditya gandeng Alena mesra.
Clarissa kaget berdiri, "Adit? Kok kamu bawa Alena?"
Aditya duduk, tatap Clarissa dingin, meletakkan kartu hitam dan stiker London Florist di meja, "Rencana kamu gagal Clarissa. Saya sudah cek CCTV. Kamu pesan bunga 100 tangkai atas nama istri saya, fitnah seolah istri saya punya pengagum rahasia berinisial R. Kamu mau saya cemburu buta dan ceraikan Alena. Tapi saya sudah tidak bodoh seperti dulu Clarissa!"
Clarissa tampak pucat karna begitu cepat ketahuan oleh Aditya.
Alena yang duduk sebelah Aditya, untuk pertama kalinya berani bicara tegas ke Clarissa, sambil genggam tangan Aditya erat, suara malu-malu tapi berani, "Mbak Clarissa,saya memang hanya perempuan kampungan.Hanya bisa masak nasi goreng,telor ceplok,saya juga tidak berpendidikan tinggi,saya bukan sarjana yang kuliah di London.Tapi saya adalah istri sah mas Adityy,sah secara agama dan hukum.Saya akan mempertahankan pernikahan saya,menjaga suami saya dari wanita ulat bulu seperti mba!"
Clarissa diam,dia tak menyangka Alena berani mengatakan banyak hal kepadanya.
Karena malu Clarissa pergi begitu saja meninggalkan Alena dan Aditya yang belum sempat ia tawari kopi.
Malam jam 20.00, di rumah Pondok Indah, kamar utama lampu warm temaram, ranjang king size.
Aditya memeluk Alena dari belakang di ranjang, berbisik, "Maaf ya sayang tadi pagi saya sempat cemburu lagi lihat bunga 100 tangkai. Tapi saya sudah belajar percaya kamu."
Alena membalik, memeluk Aditya, berbisik manja, "Alena juga minta maaf ya Mas, telur Alena gosong pagi tadi karena mikirin omongan Mbak Clarissa."
Malam itu mereka tidur tanpa guling lagi, bergandengan tangan, lebih erat dari malam ketiga, karena habis melewati badai fitnah mantan.
Bersambung...