Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMPARAN
Alessandro menatap Anastasia dari atas ke bawah, memperhatikan gaun biru tua yang melekat pas di tubuh ramping wanita itu sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Akan ku suruh Tuan Han mengantarkannya ke kamarmu nanti siang, tapi dengan satu syarat," ucap Alessandro dengan senyum miring yang mendadak kembali terukir di wajah tampannya.
"Syarat apa?" tanya Anastasia, menyipitkan matanya waspada.
"Jangan pernah bertindak sendiri di luar kastil ini tanpa memberi tahu ku terlebih dahulu. Jika aku mendengar kamu menyelinap keluar ke hutan atau ke desa sekitar tanpa pengawalan, aku sendiri yang akan mengurung mu di ruang bawah tanah," ancam Alessandro dengan nada suara yang teramat serius.
Anastasia berdiri dari kursinya, merapikan lipatan gaun birunya dengan gerakan yang sangat anggun sebelum menatap Alessandro untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Tidak janji, dan kamu tidak berhak mengatur ku," jawab Anastasia enteng sembari membalikkan badannya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar ruangan.
Alessandro tidak menahan kepergian wanita itu, bahkan pria itu untuk pertama kalinya tidak membunuh orang yang berani membantah nya, dia hanya terus memandangi punggung ramping Anastasia yang bergerak menjauh dengan langkah kaki penuh wibawa.
Rasa hangat yang membakar kulit dadanya sejak semalam mendadak kembali terasa berdesir aneh saat menyadari bahwa pernikahan politik yang awalnya dia benci ini, ternyata akan menjadi awal dari sebuah permainan yang jauh lebih menghibur daripada yang pernah dia bayangkan sebelumnya.
Anastasia melangkah menjauh dari ruang rapat tad, senyum tipis di wajahnya langsung lenyap, digantikan dengan raut wajah yang lebih serius.
"Yang Mulia? Anda baik-baik saja?" tanya Nero, yang ternyata masih menunggu tak jauh dari sana dengan wajah cemas, langsung menghampiri.
Anastasia menoleh, menatap asisten pria itu dengan pandangan datar.
"Aku baik-baik saja, Nero, tapi sepertinya Grand Duke mu itu mulai terlalu banyak berpikir. Itu tidak baik untuk kesehatannya," jawab Anastasia, mendengus dingin.
Nero terbatuk pelan, berusaha menjaga sopan santun.
"Grand Duke memang sulit dimengerti," jawab Nero, sopan.
Anastasia terkekeh pelan sembari melangkah menyusuri lorong yang dingin.
"Katakan padaku, Nero, sejauh mana pengaruh Tuan Han di kediaman ini? Tadi Grand Duke bilang dia yang akan mengurus permintaanku," tanya Anastasia, melirik Nero.
"Tuan Han adalah kepala pelayan senior di kediaman Magnus Yang Mulia, dia sangat teliti, mungkin sedikit kaku, tapi jika Grand Duke sudah memberi perintah, dia tidak akan berani macam-macam," jawab Nero, menjelaskan.
"Anda butuh sesuatu dari Tuan Han?" tanya Nero, hati-hati.
"Hanya barang-barang biasa. Teh, kain bersih, dan air," jawab Anastasia santai.
"Oh, dan satu lagi, bisakah aku meminta akses ke perpustakaan kediaman ini? Aku bosan hanya berada di kamar," ucap Anastasia, beralasan.
"Perpustakaan? Biasanya hanya Grand Duke yang boleh masuk ke sana, tapi saya akan mencoba membicarakannya dengan Grand Duke nanti," jawab Nero mengerutkan kening nya.
"Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri besok, dan jangan coba-coba mengikuti ku, atau kamu akan menyesal," ucap Anastasia, dengan mata berkilat dingin.
"Tapi Yang Mulia, ini berbahaya, jika Grand Duke tahu Anda masuk ke dalam perpustakaan tanpa ijin beliau," ucap Nero, khawatir.
"Kalau begitu, pastikan kamu memberitahunya dengan benar," ucap Anastasia sambil melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.
Anastasia melangkah santai menuju dapur utama, dia tidak butuh Nero untuk memandunya, instingnya sebagai mantan agen pembunuhan sangat tajam dalam mengingat denah bangunan.
Saat Anastasia tiba di area dapur, suasana yang tadinya riuh dengan suara pelayan langsung berubah senyap, semua mata tertuju padanya.
"Selamat pagi, Tuan Han," sapa Anastasia dengan senyum yang sangat manis, namun terasa dingin bagi siapa pun yang melihatnya.
Anastasia menghampiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam pelayan yang sangat rapi.
Tuan Han, yang sedang memeriksa tumpukan nampan, segera membungkuk dalam.
"Selamat pagi, Grand Duchess. Ada yang bisa saya bantu? Mengapa Anda repot-repot turun ke dapur sendiri?" tanya Tuan Han, melatih Anastasia.
"Saya hanya bosan menunggu, Grand Duke bilang Anda akan mengurus barang-barang yang saya perlukan, teh, air murni, dan kain bersih. Apakah sudah siap?" tanya Anastasia sambil mengamati sekeliling dapur.
Tuan Han menatap Anastasia dengan tatapan yang masih sama seperti semalam, sedikit meremehkan.
"Tentu saja, Yang Mulia, tapi biasanya barang-barang itu akan dikirim langsung oleh pelayan rendahan, anda tidak perlu membuang waktu di sini," jawab Tuan Han, sarkas.
Anastasia melipat tangannya di dada, dia berjalan mengelilingi Tuan Han, menatap tajam ke arah nampan berisi sarapan yang baru saja disiapkan, dia mengambil sebuah apel, lalu melemparkannya ke lantai.
Bhuk
"Grand Duchess, apa yang Anda lakukan!? Ini sarapan untuk Grand Duke!" bentak Tuan Han, marah.
PLAK
"Turunkan nada bicaramu," ucap Anastasia, menampar pipi pria tua itu.
Para pelayan yang melihat itu terbelalak tidak percaya.
"Apel ini sudah busuk di bagian bawahnya, Tuan Han," ucap Anastasia datar.
"Jika ini yang kalian berikan kepada sang Grand Duke, tidak heran jika dia selalu terlihat kesal dan mudah marah,"lanjut Anastasia, mengendus sinis.
Tuan Han terbelalak, wajahnya memerah karena malu sekaligus tersinggung dan juga marah.
"I-itu pasti kecerobohan pelayan baru! Saya akan menghukumnya!" ucap Tuan Han dengan cepat.
"Tidak perlu menghukum orang lain karena ketidaktelitian mu sendiri," ucap Anastasia dengan nada santai namun menusuk.
"Aku tidak peduli apa yang kalian sajikan untuk orang lain, tapi pastikan barang-barang yang kukirim ke kamarku bersih!" ucap Anastasia, penuh penekanan.
"Dan untuk kamu pria tua, jangan karena kamu kepala pelayan di kediaman ini, kamu jadi tidak tahu sopan santun! Ingat posisi mu hanya seorang pelayan, yang bisa aku tendang keluar dari sini kapan saja," lanjut Anastasia, dingin.
Glek
Tuan Han menelan ludah, dia merasakan aura intimidasi yang sangat kuat dari wanita muda di depannya ini.
"Baik, Yang Mulia, Saya paham," jawab Tuan Ham, menundukkan kepalanya.
"Bagus," jawab Anastasia.
"Dan satu lagi, jangan mencoba menyelipkan racun atau apa pun ke dalam teh ku, ku tahu cara membedakan bau arsenik dari jarak dua meter, kalau kamu berani, akan aku gantung kepala mu di depan kediaman ini," bisik Anastasia, seolah tahu apa isi pikiran dari kepala pelayan itu.
Deg
Wajah Tuan Han memucat pasi, dia hampir menjatuhkan nampan di tangannya.
"T-tentu saja tidak, Yang Mulia! Saya tidak berani!"ucap Tuan Han, gugup.
"Bagus kalau kamu tahu itu," ucap Anastasia sambil tersenyum lebar, seolah tidak baru saja mengancam seseorang.
"Aku tunggu di kamarku dalam sepuluh menit. Jangan terlambat," lanjut Anastasia, pergi dari sana.
Anastasia berjalan keluar dari dapur dengan langkah yang sangat anggun.
Saat dia sudah menjauh, Tuan Han terduduk lemas, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Di sudut ruangan, seorang pelayan muda berbisik pada temannya.
"Apakah itu benar-benar wanita yang rumornya penakut?"
"Diam! Kerja cepat! Jangan sampai dia menemukan alasan lain untuk menghancurkan dapur ini!" bentak Tuan Han menoleh dengan mata melotot.