Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Santet Yang Salah Alamat
Bangkai ayam hitam yang ditata melingkar di bawah Beringin Kembar dengan tulisan darah "KAMI AKAN KEMBALI - DARAH PERAWAN BELUM LUNAS" itu masih ada di sana sampai Maghrib.
Aku tidak berani buang. Malik bilang, "Jangan sentuh dengan tangan manusia, Arga. Itu santet. Santet tingkat tinggi dari Banaspati. Kalau kamu sentuh langsung, santetnya pindah ke kamu."
Kami biarkan saja, tapi kami siram dengan air sungai yang baru bening tadi. Bangkai ayam itu berasap, tapi tidak hilang.
Jam 19:00.
aku di rumah. Baru selesai sholat Isya berjamaah dengan keluarga Kiai Jirji. Rumahku sudah tidak penuh 300 Jin Islam lagi seperti kemarin malam Jumat Kliwon, hanya keluarga Kiai Jirji saja yang jaga.
Dari luar, aku dengar gamelan fals lagi. Tapi kali ini bukan dari hutan. Dari arah rumah Pak Lurah.
Aku curiga. Aku lari ke rumah Pak Lurah.
Rumah Pak Lurah gelap. Tidak ada lampu. Tapi dari dalam, terdengar suara Sari menangis, dan suara Pak Lurah dan istrinya baca ayat kursi terbata-bata, salah-salah.
Aku dobrak pintu lagi, untuk kedua kalinya dalam sehari.
Dan aku melihat santet yang salah alamat itu.
Sari duduk di kursi tengah rumah. Tubuhnya diikat dengan kain jarik oleh ibunya sendiri, karena Sari kejang-kejang hebat. Tapi yang bikin aku merinding, bukan kejangnya.
Di sekujur tubuh Sari, dari leher, tangan, kaki, keluar paku. Paku karatan, paku besar 10 cm, keluar dari dalam kulitnya, menembus keluar darah segar menetes.
Sari berteriak, "Sakit! Sakit! Cabut! Cabut!"
Pak Lurah menangis, mencoba cabut paku itu dengan tang, tapi setiap paku dicabut, muncul paku baru dari lubang yang sama.
Di lantai, di depan Sari, ada boneka jerami kecil, boneka santet. Boneka itu pakai baju sobek yang aku kenal. Baju itu... baju kakekku. Baju yang aku buang tiga hari lalu karena sobek kena duri.
Boneka itu juga penuh paku.
Aku langsung paham. Ini santet Banaspati untukku.
Banaspati kirim santet ke penjaga baru, Arga. Caranya lewat bangkai ayam di Beringin Kembar itu. Santetnya harusnya masuk ke rumahku dan masuk ke tubuhku.
Tapi kenapa yang kena Sari? batinku.
Malik muncul dari belakangku, wajahnya tegang.
"Karena Sari masih ada sisa darah sesajen di tubuhnya, Arga!" kata Malik cepat. "Tadi pagi waktu dia kesurupan, Banaspati sudah tandai darahnya. Jadi santet yang dikirim Banaspati ke rumahmu, belok arah, nyari darah yang sudah pernah dia makan. Darah Sari. Makanya santet yang harusnya untuk penjaga, salah alamat ke tumbal yang gagal tadi pagi! ucap Malik.
Santet yang salah alamat.
Sari jadi korban kedua karena ulah bapaknya sendiri yang kasih sesajen pakai foto dia.
Sari menjerit lagi, kali ini dari mulutnya keluar bukan darah, tapi rambut hitam panjang, rambut Ulo Sowo yang tadi aku bunuh di sungai. Rambut itu keluar terus menerus dari mulut Sari, seperti dia muntah rambut.
"Ulo Sowo belum mati total!" kata Malik. "Jiwanya pindah ke Sari karena Sari minum air hitam tadi pagi sebelum airnya bening lagi!ucap Malik.
Situasi kacau.
Pak Lurah sujud di kakiku lagi. "Nak Arga, tolong anak saya lagi, Nak... saya janji tidak akan kasih sesajen lagi..."ucap pak Lurah.
Aku tidak punya Banyu Suci lagi. Botol terakhir sudah aku habiskan untuk bunuh Ulo Sowo di sungai.
Malik melihat boneka santet di lantai, dia ambil dengan tongkatnya, tidak pakai tangan.
"Arga, santet ini harus dibalikkan. Harus dikembalikan ke pengirimnya. Satu-satunya cara, bakar boneka ini di atas retakan masjid tanpa karpet. Bakar di segel. Segel akan kirim balik santetnya ke Alas...."ucap Malik.
Kami bawa boneka santet itu lari ke masjid tua, jam 20:00, gelap gulita, hanya pakai obor.
Masjid tanpa karpet yang kemarin retakannya aku tutup total dengan tahajud, sekarang retak lagi, sesuai kata Malik tadi pagi. Retaknya 3 meter, menganga, keluar asap hitam dan bau bangkai ayam.
Dari dalam retakan tiga meter itu, aku bisa dengar suara Banaspati tertawa, "KENA KAU, PENJAGA BARU!"
Malik melempar boneka santet penuh paku itu tepat ke atas retakan tiga meter yang menganga dan berasap.
Aku disuruh baca doa yang kemarin keluar sendiri saat sujud: "Ya Hafidz, Ya Mani', Ya Jabbar..."ucapku.
Begitu boneka itu menyentuh lantai cahaya yang retak...
BLLLAAARRR!
Api putih besar keluar dari retakan, membakar boneka itu. Paku-paku di dalam boneka meleleh. Jerami boneka menjerit seperti manusia.
Dan dari dalam retakan, terdengar jeritan balasan, jeritan Banaspati yang sangat keras, seperti dia yang kena paku.
Santetnya berbalik.
Di waktu yang sama, dari arah rumah Pak Lurah, terdengar Sari menjerit terakhir yang sangat keras, lalu diam.
Kami lari balik ke rumah Pak Lurah.
Sari sudah terlepas dari ikatan jarik. Paku-paku di tubuhnya hilang. Rambut-rambut hitam yang keluar dari mulutnya juga hilang. Dia pingsan di pangkuan ibunya, tapi napasnya normal, wajahnya sudah tidak pucat, sudah merah muda.
Di lantai, di depan Sari, ada genangan darah hitam yang membentuk tulisan:
"SANTET GAGAL - TAPI DARAH PERAWAN TETAP KURANG SATU"
Banaspati gagal santet aku, gagal ambil Sari lagi.
Tapi dia masih menagih hutang darah perawan yang dijanjikan Pak Lurah.
Dan aku tahu, dia akan coba lagi dengan cara yang lebih kejam.
Karena santet yang salah alamat hari ini, hanyalah percobaan pertama.
Di luar rumah Pak Lurah, langit hitam yang menutupi dusun sejak pagi, perlahan-lahan mulai retak, ada cahaya bulan masuk sedikit.
Tapi di bawah Pohon Beringin Kembar, bangkai ayam hitam yang tadi sore sudah hilang, sekarang diganti dengan kain kafan kecil, kain kafan bayi, yang masih basah.
Tanda selanjutnya akan lebih mengerikan.