NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Malam harinya di ruang kerja Baskoro yang luas dan sunyi.

Dewa berdiri tegak di depan meja kayu jati milik ayahnya dengan wajah serius.

Baskoro duduk di kursinya sambil mendengarkan laporan putra bungsunya itu dengan saksama.

Di sofa sudut ruangan, Adrian juga ikut mendengarkan sambil melipat tangannya di dada.

"Mobil kijang perak itu parkir tepat di seberang gerbang sekolah Pa," lapor Dewa.

"Kacanya sangat gelap tapi aku yakin mereka terus mengawasi ke arah Lula saat kami keluar."

Brak.

Adrian memukul meja kaca di dekatnya dengan cukup keras.

"Mereka sudah berani menargetkan anak kecil sekarang," geram Adrian dengan nada sangat dingin.

"Surya benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."

Baskoro menghela nafas panjang dan memijat pelipisnya perlahan.

"Kau ingat nomor pelat mobilnya Dewa?" tanya Baskoro menatap putra bungsunya.

Dewa mengangguk dengan yakin.

"B 8721 KL Pa, aku sengaja menghafalnya sebelum mengusir mereka pergi," jawab Dewa cepat.

Baskoro langsung mengangkat telepon di mejanya dan menghubungi kepala keamanan Grup Lentera.

Dia memberikan nomor pelat itu untuk segera dilacak malam ini juga.

"Kerja bagus Dewa, untung instingmu sangat tajam," puji Adrian yang jarang sekali memuji adiknya.

Dewa hanya memalingkan wajahnya yang sedikit memerah karena gengsi.

"Aku cuma kebetulan melihatnya, lagipula Lula yang pertama kali menunjuk mobil itu," elak Dewa.

Adrian dan Baskoro saling berpandangan mendengar hal itu.

Mereka menyadari bahwa kemampuan Lula melihat nasib buruk lagi-lagi menyelamatkan keluarga ini.

"Mulai besok kita harus melipatgandakan pengawalan di sekitar sekolah," putus Baskoro.

"Aku akan menyuruh sepuluh pengawal berpakaian preman untuk menyamar di sekitar area TK," tambah Adrian setuju.

"Jangan sampai Lula merasa ketakutan karena terlalu banyak orang berjas hitam yang mengikutinya."

Dewa mengangguk setuju dengan rencana kakak pertamanya itu.

Malam itu, keluarga Ayodhya kembali menyusun pagar betis yang tidak kasat mata demi melindungi putri bungsu mereka.

Keesokan paginya di Taman Kanak-Kanak Pelita Hati.

Suasana kelas sangat riuh karena anak-anak sedang bersiap untuk makan bekal bersama.

Lula duduk di meja bundar bersama Riko dan dua anak perempuan lainnya.

Dia membuka kotak bekal pemberian Cakra yang berisi nasi dan sosis berbentuk gurita.

"Wah, sosis Lula bentuknya lucu sekali seperti monster laut," puji Riko dengan mata berbinar.

Lula tersenyum lebar dan menyodorkan satu sosis guritanya ke kotak bekal Riko.

"Ini buat Riko satu, Kak Cakra bawakan bekal Lula banyak sekali," kata Lula ramah.

Riko menerimanya dengan senang hati lalu memberikan sepotong telur gulung miliknya sebagai balasan.

Bu Risa berkeliling kelas untuk memastikan semua anak mencuci tangan sebelum makan.

"Anak-anak, setelah makan kalian boleh bermain di taman belakang ya," umum Bu Risa dari depan kelas.

Horeee.

Semua anak bersorak gembira mendengar pengumuman itu.

Taman belakang sekolah itu sangat luas dan dipenuhi banyak pohon rindang.

Ada ayunan, perosotan, dan juga area berpasir untuk bermain.

Setelah menghabiskan bekalnya, Lula langsung berlari keluar menuju taman belakang.

Udara pagi menjelang siang itu terasa sangat sejuk karena semilir angin.

Lula berjalan mendekati area semak-semak yang berbatasan dengan tembok tinggi sekolah.

Tembok itu memisahkan area sekolah dengan sebuah lahan kosong yang belum dibangun.

Ssshhh.

Telinga Lula tiba-tiba menangkap suara desisan yang sangat pelan dari balik semak-semak daun teh itu.

Langkah kaki Lula terhenti seketika.

Matanya menyipit menatap ke arah bayangan gelap di bawah daun-daun hijau tersebut.

Ada gumpalan asap abu-abu pekat yang melayang rendah di sekitar semak-semak itu.

Asap itu menandakan adanya bahaya fisik yang bisa melukai seseorang.

"Siapa di sana?" tanya Lula pelan dengan suara bergetar.

"Aku lapar, aku marah, jangan mendekat anak manusia," sebuah suara balasan terdengar sangat dingin dan mendesis.

Lula mengintip dari celah daun dan melihat seekor ular berwarna hitam pekat sedang melingkar.

Kepala ular itu sedikit pipih dan matanya menatap tajam ke arah Lula.

Itu adalah ular kobra liar yang menyelinap masuk dari lahan kosong di sebelah sekolah karena kelaparan.

Lula tidak berteriak ataupun berlari kabur.

Dia tahu kalau dia berteriak, ular itu akan kaget dan mungkin malah menyerang.

"Tuan Ular jangan marah, Tuan Ular lapar ya?" tanya Lula dengan nada yang sangat menenangkan.

Ular kobra itu sedikit menurunkan kepalanya mendengar suara lembut yang bisa dia pahami.

"Di sini berisik sekali, aku mau cari tikus tapi tidak ada," desis ular itu kesal.

Lula merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan setengah potong sosis gurita yang belum dia makan.

Dia sengaja menyimpannya di saku untuk diberikan pada kucing jalanan kalau dia bertemu nanti.

"Lula punya sosis, rasanya enak rasa daging, Tuan Ular mau?" tawar Lula dengan polos.

Lula melemparkan potongan sosis itu secara perlahan agar jatuh tepat di dekat kepala ular tersebut.

Ular kobra itu menjulurkan lidah bercabangnya untuk mengendus sosis itu.

Karena rasa lapar yang luar biasa, ular itu akhirnya memakan sosis tersebut dalam satu kali telan.

"Lumayan, perutku sudah tidak terlalu sakit sekarang," desis ular itu merasa sedikit puas.

"Kalau begitu Tuan Ular pulang ya, di sini banyak anak kecil nanti mereka bisa menginjak ekor Tuan," bujuk Lula pelan.

Di saat yang bersamaan, terdengar suara langkah kaki yang berlari kencang dari arah belakang Lula.

"Lula! Ayo main kejar-kejaran sama aku!" teriak Riko yang tiba-tiba berlari menghampiri.

Lula menoleh dengan kaget dan melihat Riko berlari lurus ke arah semak-semak tempat ular itu berada.

Riko tidak melihat ada bahaya yang mengintai di bawah sana.

Asap abu-abu di mata Lula tiba-tiba berubah menjadi warna kemerahan yang sangat pekat.

Itu adalah tanda bahaya mematikan yang akan segera terjadi dalam hitungan detik.

Ular kobra yang kaget mendengar teriakan Riko langsung mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Ular itu melebarkan tudung lehernya dan bersiap untuk mematuk kaki Riko yang semakin dekat.

"Jangan Riko!" teriak Lula dengan suara melengking panik.

Tanpa mempedulikan rasa takutnya, Lula menerjang maju dan mendorong tubuh Riko dengan sekuat tenaga.

Bruk.

Riko terjatuh ke atas rumput dengan keras karena dorongan tiba-tiba itu.

Namun karena dorongan itu, posisi kaki Lula kini berada tepat di jangkauan patukan sang kobra.

Ular itu sudah terlanjur melesatkan kepalanya ke arah depan.

Sret.

Taring ular itu menyambar ujung kaos kaki putih Lula hingga robek sedikit.

Untungnya taring mematikan itu tidak sampai menembus kulit kaki Lula.

Hanya ada goresan merah yang sangat tipis di kulit betisnya karena gesekan.

"Maaf anak manusia, aku kaget," desis ular itu menyadari kesalahannya.

"Cepat pergi dari sini Tuan Ular, lewat lubang di tembok itu," perintah Lula tegas.

Ular kobra hitam itu segera berbalik dan merayap cepat masuk ke dalam lubang kecil di bawah tembok pembatas.

Dalam sekejap mata, hewan berbahaya itu menghilang dari area sekolah.

Riko yang jatuh terduduk mulai menangis keras karena lututnya terbentur tanah.

"Huaaa! Kenapa Lula dorong aku?" tangis Riko kencang.

Teriakan Riko langsung menarik perhatian Bu Risa dan guru-guru lain yang sedang berjaga.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!