JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiburan Sang Pangeran
# Hiburan Sang Pangeran #
Suasana di dalam Ruang Tahta Utama Istana Teluk Bayangan serasa membeku seketika. Hembusan napas hangat Nataniel membelai permukaan wajahku yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Telapak tangan kekarnya yang dingin masih mencengkeram erat pinggang rampingku, mengunci tubuh mungilku di pilar kristal utama aula. Di sekeliling kami, puluhan pasang mata para Menteri bersisik emas, Pengawal istana bernapas berat, hingga belasan Selir Istana menatap adegan ini dengan raut wajah syok dan terbelalak penuh skandal.
Pertanyaan Nataniel yang menggema keras, menelanjangi kelakuanku yang sempat duduk di pangkuannya serta mencuri-curi pandang sepanjang lorong tadi, membuat aliran darah di kepala serasa mendidih seketika.
("Mampus kau, Alessia! Mampus!") jerit batin liarku histeris, berputar hebat bagaikan angin puting beliung. ("Pria iblis ini benar-benar tidak punya nurani! Dia sengaja mempermalukanku di depan seluruh petinggi kerajaan! Otak cerdik ku... tolong bekerja sekarang juga, sebelum lehermu dipenggal atau mukamu berubah jadi pajangan dinding kristal!")
Rasa takut yang luar biasa beradu tanding dengan rasa malu yang membakar seluruh paras wajahku. Aku tahu persis, jika aku salah menguntai kata satu kalimat saja dalam posisi terpojok seperti ini, harga diriku bukan hanya terinjak-injak, tetapi posisiku sebagai babu kesayangan bisa mendadak berubah menjadi tumpukan bangkai di kubangan eksekusi, lalu tersaji dimeja makan malam hari ini.
Aku meneguk saliva yang terasa sangat kering. Kerapuhan dan rasa salah tingkah yang memuncak sengaja kumanfaatkan. Aku menaikkan tatapan mata cokelatku, menatap lurus ke dalam iris keemasan Nataniel dengan binar mata yang sengaja kubuat gemetar, pasrah, sekaligus memancarkan kejujuran palsu yang teramat mendalam.
"Am... ampun, Paduka yang Maha Agung..." bisikku dengan suara yang meliuk halus, sengaja kubuat sedikit terbata-bata agar terdengar begitu polos dan tidak berdaya di bawah kuncian fisiknya. "Hamba... hamba mengakui kelancangan mata hamba ini. Tetapi bagaimana mungkin hamba mampu memalingkan pandangan, jika sosok di hadapan hamba adalah Sang Penguasa Lautan yang teramat gagah dengan ketampanan sang maha karya terindah?"
Nataniel menaikkan sebelah alis tebalnya, mempertahankan senyuman miring di bibirnya yang teramat menawan namun sarat ancaman. "Kau bersilat lidah lagi, Serangga?"
"Hamba tidak sedang bersilat lidah, Paduka yang Mulia," balasku cepat seraya menyatukan kedua tangan mungilku di depan dada, memberikan tatapan pemujaan setinggi langit di depan puluhan pasang mata pejabat yang sedang menyimak. "Hamba telah melintasi puluhan daratan dan membaca kisah-kisah tentang penguasa lautan yang diagungkan oleh manusia. Namun demi Sang Penguasa Samudra, seluruh keagungan lukisan dewa laut mana pun sirna tak berbekas saat dibandingkan dengan ketampanan, kegagahan, dan wibawa Paduka Nataniel! Kulit Paduka yang terpendar cahaya sore, otot-otot dada Paduka yang kokoh... semuanya begitu sempurna hingga raga hamba yang kerdil ini terhipnotis tanpa sanggup melawan!"
Langkah silat lidahku yang melancarkan pemujaan ekstrem ini mendadak membuat suasana aula berdesir pelan. Para Menteri saling berbisik heran melihat betapa lihainya seorang manusia kerdil merangkai kata pemujaan.
Nataniel terkekeh rendah. Tawa beratnya bergetar di dalam dadanya yang menempel di tubuhku. Namun bukannya melepaskan kuncian fisiknya, sang Pangeran justru semakin menikmati posisi intim ini untuk mempermalukanku secara total di depan umum!
Nataniel sengaja merendahkan posisinya, menempelkan sudut bibirnya tepat di samping daun telingaku. Ia mengumbar keintiman mendadak itu dengan sengaja menaikkan intonasi suaranya agar terdengar jelas oleh para Menteri dan para Selir yang berada di barisan depan.
"Jadi, kau mengaku terpesona sampai kehilangan akal sehatmu?" bisik Nataniel dengan nada bicara yang teramat manis namun beracun. "Lalu bagaimana dengan kelakuan beranimu tadi pagi di balkon kamar? Bukankah jemari mungilmu ini mengelus dada bidangku dengan teramat penuh hasrat saat kau duduk manis di atas pangkuanku?"
*BOM!*
Wajahku yang semula sudah merah padam kini terbakar sempurna bagaikan kepiting rebus yang dimasukkan ke dalam air mendidih! Pipiku terasa begitu panas hingga mataku berair karena menahan malu yang teramat sangat!
"Paduka... mohon jangan diperjelas di depan umum..." cicitku dengan suara teramat pelan, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan karena tidak sanggup lagi menahan rasa malu yang meluap-luap.
Melihat reaksi ku yang salah tingkah brutal, dengan tubuh gemetar kaku dan wajah semerah darah, Nataniel justru meledakkan tawa terbahak-bahak!
"Hahaha! Lihatlah manusia kerdil ini!" seru Nataniel seraya melepas kuncian tangannya di pilar kristal, berbalik menghadap ke arah para Menteri dan Pengawal Dalam dengan raut wajah puas tak terhingga. "Dia berpura-pura menjadi pelayan yang cerdik di medan perang, tetapi begitu dihadapkan pada ketampanan dan suaraku, otaknya langsung melayang sampai berani meraba dadaku tanpa rasa takut!"
Gema tawa Nataniel seketika memicu gelombang tawa riuh dari para Menteri dan Pengawal istana! Seluruh aula utama Ruang Tahta mendadak meledak oleh suara tawa mengejek yang menjadikan diriku sebagai bahan hiburan dan lelucon segar bagi kerajaan bawah laut ini.
"Luar biasa Paduka! Manusia kerdil itu memang sangat lucu!" seru salah seorang Menteri bersisik emas seraya membungkuk tertawa.
"Ternyata bangsa manusia sangat mudah ditaklukkan hanya dengan pesona fisik Paduka!" timpal pengawal lainnya.
Aku berdiri mematung di samping pilar kristal dengan kepala menunduk dalam-dalam. Jariku mencengkeram erat pinggiran selendang perakku. Di dalam batinku, rasanya aku ingin menghilang menembus lantai koral ini saat itu juga! Namun di sisi lain, batin rasionalku menghela napas lega. Menjadi bahan tertawaan dan hiburan konyol jauh lebih baik daripada harus kehilangan leher di atas meja eksekusi!
Nataniel melangkah anggun menuju tahta koral utamanya, melambaikan tangan mengisyaratkan agar para Menteri mulai menyampaikan laporan mereka. Sang Pangeran tampak sangat puas setelah berhasil memainkan emosi dan mempermalukan babu manusianya hingga salah tingkah setengah mati.
---
Pemeriksaan laporan perang dan urusan logistik kerajaan berlangsung selama dua jam penuh. Sepanjang proses tersebut, aku hanya berdiri kaku di sudut aula, berusaha menjadi seolah-olah patung kristal yang tidak terlihat.
Namun, rasa lega di hatiku tidak bertahan lama. Dari sudut barisan depan, belasan Selir Istana bersisik indah dengan mahkota mutiara terus-menerus melemparkan pandangan penuh dengki, kebencian, dan dendam yang teramat pekat ke arahku. Bagi mereka, tindakan Nataniel yang memojokkan dan memelukku di depan umum bukanlah bentuk lelucon, melainkan sinyal ancaman bahwa seorang babu manusia kerdil telah mencuri perhatian sang Pangeran!
Begitu sidang kerajaan selesai dan Nataniel mengibaskan jubahnya untuk melangkah meninggalkan Ruang Tahta menuju ruang latihan prajurit, bencana yang sesungguhnya baru saja dimulai bagiku. Nataniel melangkah keluar aula tanpa membawaku serta, membiarkanku tertinggal di area transit lorong belakang istana untuk merapikan sisa-sisa selendang.
Begitu sosok tegap sang Pangeran menghilang di belokan lorong, belasan Selir Istana yang dipimpin oleh Selir Utama bersisik merah darah bernama Lyra, langsung bergerak cepat melingkari dan mengurung keberadaanku!
*SREETTT!*
Tiga pengawal wanita bersisik kelabu mendadak mencengkeram kedua lengan mungilku dari belakang, mengunci gerak-gerikku hingga aku tidak bisa berkutik sedikit pun!
"Lepaskan! Apa-apaan ini?!" seruku panik seraya berusaha memberontak.
Selir Lyra melangkah maju dengan gerakan meliuk anggun namun mematikan. Wajah cantiknya yang dihiasi sisik merah berkilauan menatapku dengan sudut mata yang penuh dengan cemoohan dan kebencian mendalam. Tangan bersisik dengan kuku-kuku tajam berwarna hitam menjangkau wajahku, mencengkeram daguku dengan sangat kasar hingga kuku tajamnya menancap tipis di kulit pipiku!
"Dasar manusia kerdil tak tahu diri!" desis Selir Lyra dengan suara penuh racun yang menusuk telinga. "Kau pikir hanya karena Pangeran Nataniel menjadikan mu bahan lelucon dan memelukmu di pilar tadi, kau sudah menjadi wanita istimewa di samudra ini? Kau hanyalah serangga daratan yang berbau busuk!"
"Hamba hanya menjalankan perintah Paduka!" balasku dengan napas memburu, berusaha mempertahankan ketenangan meski hatiku panik luar biasa.
"Diam kau, Babu!" bentak selir lainnya bersisik biru tua seraya melangkah maju. "Kau telah membuat kami para selir kehilangan muka di depan para Menteri! Kau sengaja memikat Paduka dengan gaya kepolosanmu yang menjijikkan itu!" Selir Lyra mempererat cengkeraman kuku tajamnya di daguku, memaksaku mendongak menatap iris matanya yang menyala merah murka.
"Malam ini, Paduka Nataniel menuntut jamuan makan malam yang istimewa di aula perjamuan bersama kami," ujar Selir Lyra dengan senyuman culas dan kekejaman yang teramat nyata. "Dan kau... babu manusia kerdil... kau yang akan memasak seluruh hidangan malam ini untuk Pangeran dan kami semua!"
Aku mengerutkan dahi, berusaha mencari celah. "Hamba tidak tahu cara mengolah bahan makanan di dapur Istana Siren!"
Selir Lyra terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri kaku. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, memberikan perintah yang teramat biadab dan gila!
"Kau tidak perlu bingung, Serangga," bisik Selir Lyra penuh intimidasi yang mematikan. "Bahan utamanya sudah kami siapkan di dapur bawah tanah. Malam ini... kau harus memasak potongan daging segar dari tawanan manusia yang baru saja ditangkap dari kapal daratan tadi siang! Kau harus mengolah daging manusia itu menjadi hidangan paling lezat untuk makan malam Pangeran dan kami!"
Mata cokelatku membelalak maksimal! Rasa mual dan horor yang luar biasa dahsyat seketika meledak menembus seluruh pembuluh darahku!
("Apa?! Daging... daging manusia?!") jerit batinku histeris dengan wajah yang seketika pucat pasi bagaikan mayat tanpa darah!
⭐ ⭐⭐⭐⭐
GILA BANGET!! 😱 Bukannya selamat setelah dipermalukan Nataniel, Alessia malah makin kena apes luar biasa!! Para selir istana yang cemburu memanfaatkannya dan memaksa Alessia memasak daging sebangsanya untuk jamuan makan malam nanti! 🤮🔥
Gimana cara Alessia lolos dari perintah biadab para selir ini tanpa membuat Nataniel murka di Bab 18 nanti?
Jangan lupa klik **LIKE**, tinggalkan **KOMENTAR** heboh kalian, dan **VOTE** cerita ini ya! Sampai jumpa di Bab 18! ✨