Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Dewa Sejati mengawasi Shen Hao Feng
Konon dahulu kala ketika Dunia tercipta terdapat tingkatan mahluk hidup yang tidak boleh disentuh atau dilewati. Bagi para kultivator Manusia mereka ingin menjadi Dewa Sejati di dunia para Dewa namun salah satu benua terkuat yang pernah ada dalam sejarah berniat menyaingi para Dewa dengan mengirim puluhan ribu Dewa Fana untuk naik ke alam atas.
Alhasil hukuman Dewa pun tak terhindarkan. Para Dewa mengutus satu penjaga gerbang dunia Dewa dan Manusia untuk turun dan ia menghabisi 10.000 Dewa Fana dalam satu malam. Kini sang Penjaga telah melihat sosok kuat kembali berniat masuk ke alam Dewa dan ia pun bangun.
"Mereka tak pernah belajar bahwa dunia ini memiliki batasan." ia berdiri dan sosoknya setingfi 14 meter memegang tombak penghukum pada tangan kiri serta pedang besar pada tangan kanan. "Aku akan mengawasimu... Para Manusia." mata kanannya bersinar keemasan dan saat melihat ke bawah dia melihat Benua iblis itu berperang satu sama lain tiada hentinya dan ribuan iblis mati per menitnya.
Namun ada satu sosok yang menarik perhatian Dewa sepertinya. Saat di pintu utara Benua, sosok 5 Naga datang bersama ratusan ribu pasukan.
"Manusia? Mereka ikut campur konflik dengan Iblis. Apa mereka bodoh? tunggu kenapa aku merasa harus berhati-hati?." ia memperhatikan lebih dekat dan menemukan sosok Shen Hao Feng.
Sontak ia terkejut dan tangannya pada tombak mengerat. "Shen Hao Feng? Manusia yang membunuh Dewa penjaga Dong Fu." ia menarik nafas pendek. "Malam itu Dong Fu bertarung dengan manusia kuat selama 3 hari 3 malam. Dan Dong Fu melarikan diri ke alam Dewa untuk menyembuhkan diri. Sekarang 10 tahun lalu Dong Fu tewas karena bertemu manusia itu lagi bernama Shen Hao Feng."
Wajah sang Dewa penjaga itu melihat lebih dekat ke bawah. "Aku penasaran sekuat apa kau manusia sampai bisa membunuh Dewa. Tapi memang benar aku merasakan aura kuat bahkan lebih kuat dari pada 10.000 Dewa Fana yang aku bunuh."
Saat ia masuk ke jiwa Shen Hao Feng. Ia masuk ke kesadarannya dimana ruang angkasa dan ada berbagai Planet. Namun dirinya merasakan aura menindas kuat di belakang.
"E-energi macam apa ini!." ia terengah-engah.
"Siapa bajingan kecil yang berani masuk ke Kesadaran Jiwaku." Sosok besar Shen Hao Feng bersama Naga Shen mengitarinya dan jiwa Dewa Han di belakangnya.
"Dewa Han?!." ia terkejut lalu tersenyum dan tertawa rendah. "Pantas saja aku merasakan energi besar ternyata manusia ini menerima energi Dewa terutama Naga Bencana ini. Naga Bencana setara dengan Dewa jika di pelihara dengan baik." ia menggeleng kecil. "Manusia kau kuat tapi... Jika aku melihatmu mencoba naik ke alam Dewa maka aku akan memenggalmu tanpa ragu." ancamnya dingin sebelum ia keluar dari kesadaran Shen Hao Feng.
....
"Hm?." Shen Hao Feng merasa ada yang aneh saat Dewa Sejati itu keluar dari dirinya. "Apakah ada sesuatu yang mengawasiku?." dahinya berkerut.
"Guru ada apa?." Chang Jia mengirim pesan suara. "Apakah kita akan segera sampai? Benua ini sepertinya sangat menakutkan. Terutama tekanan energi ini sangat besar."
"Ya... Kamu benar." Shen Hao Feng merasakan hal yang sama saat pertama kali ke tempat ini. "Semuanya berpindah arah ke Utara dan terus lurus maka akan sampai di Kota Jianghou!."
"Baik!."
Seluruh armada berpindah arah ke Utara dan memperkirakan kedatangan mereka dalam beberapa puluh menit saja. Namun apakah mereka akan datang tepat waktu atau terlambat?.
Kota Benteng Jianghou.
"Lepaskan burung-burungnya!." teriak Gong Mo di atas langit memakai zirah gelap Sekte Utara dan memegang gada besar.
"Lepaskan burung-burung iblis!." seru Jenderal di bawah kepada pasukannya.
Puluhan ribu pasukan segera bekerja sama membuka kurungan burung iblis liar dan burung-burung itu beterbangan ke udara. Namun pasukan pemanah segera membakar ujung panah dan lepaskan serangan ke Kota benteng Jianghou.
Burung iblis yang melihat banyaknya anak panah berapi itu menerangi banyaknya pasukan di Kota Jianghou pun tertarik dan terbang kesana untuk membunuh.
Gong Mo menatap tajam tanpa meremehkan sekalipun pertahanan Kota Benteng Jianghou untuk itulah dia memaka strategi 3 arah serangan.
Gong Mo mengerahkan infanteri sebagai pancingan dari dua sisi dan serangan sebenarnya di mulai sekarang.
Xin Lia di atas benteng melihat burung-burung iblis mendekati kota. Ia segera melepaskan serangan sinar energi. "Jenderal! Serangan udara datang!." ia sendiri sudah lelah sampai daya serangnya pun berkurang.
Sang Jenderal menghunuskan pedangnya. "Kerahkan sekarang para Raider!."
"Wuungg..." terompet isyarat di bunyikan dan para penunggang Naga iblis bergegas mengudara dan membalas serangan udara. Mayat-mayat burung iblis maupun dari Naga iblis berjatuhan per detiknya.
Xin Lia menghentikan serangan dan merasa tubuhnya tidak kuat lagi. "Hah... Hah... Tuan Shen- tubuhnya hampir saja jatuh dan untungnya ada prajurit yang menahannya.
"Kapten Xin Lia mundurlah ke garda belakang! Disana lebih aman dari-
Tusk!.
Sebuah pedang kecil nan tipis melesat dan menghancurkan kepala prajurit itu dan Xin Lia jatuh ke tanah. "S-serangan utama?." gumam Xin Lia. Ia berusaha bangkit dan menopang diri dengan benteng.
Saat itulah matanya melebar serta rahangnya mengeras. "Kota bentenh Jianghou akan jatuh hari ini.... Tuan Shen Hao Feng, maaf..." matanya terpejam.
"Haaaa!!..."
Pemandangan yang membuat putus asa semua pasukan termasuk Xin Lia adalah pasukan berzirah berat seperti lautan iblis. Langkah mereka tak tergoyahkan sama sekali oleh serangan anak panah maupun Raider.
Bahkan pasukan yang bertempur di bawah tertembus begitu mudah sampai pasukan berzirah berat lawan berusaha menghancurkan tembok dengan senjatanya.
Gong Mo terkekeh senang. "Kalian akan kalah sekarang. Tidak sia-sia aku menyewa pasukan dari Sekte lain." jarinya menunjuk ke depan dan pasukan Sekte Utara segera meluncur dan masuk ke dalam Kota Benteng Jianghou dari atas.
"Ahk!."
"Jangan biarkan mereka merebut Kota!." teriak Sang Jenderal serta terus bertarung. "Xin Lia mundurlah ke Ke Kota benteng-
Tusk!.
"Hah!." Xin Lia tersadar dan menoleh ke Jenderal yang tertusuk pada perutnya oleh murid Sekte Utara. "Jenderal!." teriaknya gemetar.
"hm sampah." ia membuang mayat nya ke bawah benteng dan mendekati Xin Lia. "Sekarang giliranmu!." ia mengangkat pedangnya untuk merebut kepala Xin Lia.
Xin Lia memalingkan muka tak mau melihat kematiannya. Ia tahu tidak ada yang bisa menolongnya saat ini. Dipikir-pikir semua pasukan Kekaisaran saat ini membutuhkan bantuan, mereka terbantai dengan mudah karena serangan gabungan kedua Sekte.
"Xin Lia..." panggil Shen Hao Feng pelan.
"Crash!." suara renyah terdengar dan saat itu sebuah tangan menyentuh bahu Xin Lia. "Xin Lia bukalah matamu."
"Eh?." Mata Xin Lia terbuka dan melihat sosok Shen Hao Feng bersama mayat murid yang kini tewas itu. "S-shen Hao Feng?."
"Ya." Shen Hao Feng tersenyum. "Dan aku tidak sendiri, aku datang tepati janjiku untuk membawa bantuan."
"Wush!." dua sosok perempuan jatuh dari langit, satu membawa pedang perak dan satu membawa tombak berapi.
"Tebasan kilat." Chang Jia bergerak cepat bak petir dan tebasan pedangnya tak terlihat dan dalam sepuluh detik ia berhenti di ujung benteng. Pedang peraknya ia masukan kembali ke sarung dan ratusan iblis berjubah hitam di pihak Sekte Utara tewas tertebas pedangnya.
"Aku akan melampaui batasanku! Pedang Api!." Jing Yun merubah tombaknya menjadi pedang dan tubuhnya terlahap api Naga dan ia bertarung seperti orang gila membakar semua iblis Sekte Utara tanpa pandang bulu dan kasihan.
Xin Lia sekali lagi terkejut namun ia menerima uluran tangan Shen Hao Feng untuk berdiri dan mereka berdua bersama menatap ke bawah.
"Haaa!!..."
"Serang!."
"Habisi mereka tanpa tersisa!."
"Krarhhk!!..." Naga Jade meraung membunuh para burung iblis dengan nafas api hijaunya. Di bawah Chen Ming berpencar bersama Ning Mei membantai setiap iblis di jalurnya dengan cepat. Shen Luo mengatur serangan cepat kapal udara untuk memberikan dukungan dari atas.
"Siapa... Mereka?." Xin Lia mendengar pertanyaan dari pihaknya.
"Ayo!." satu dari mereka bersorak.
"Ya! Habisi mereka! Mereka brengsek sialan yang harus mati sekarang juga!."
"Bunuh semua!."
"Ya! Semangat!."
Iblis berzirah berat di bawah benteng tak bisa bergerak leluasa akibat terkepung. Mereka semua hancur bak kayu tanpa akar setelah diterbangkan angin.
Wajah Gong Mo berubah jelek saat semua pasukannya di hancurkan oleh tamu tak di undang.
"Manusia!!!."
Tekanan membunuh yang hebat merembes keluar dari tubuh Gong Mo. Akan tetapi Naga Jade tidak tertindas oleh aura itu dan sebaliknya terbang ke arah Gong Mo.