Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tanda Tangan Sang Suami Kontrak
Hening kembali merayapi meja privat bagian belakang kedai Kopi Sunyi. Pulpen berlapis emas yang diletakkan Nadia di atas meja marmer tampak mengilap diterpa temaram lampu kedai, seolah menjelma menjadi benda paling berat yang pernah Arga lihat dalam hidupnya. Di hadapannya, selembar kertas dokumen kesepakatan baru bertuliskan nama resminya, Arga Dewa Putra, terbentang menanti ketegasan jemarinya.
Arga meremas jemari tangannya sendiri di atas paha. Dadanya bergemuruh hebat oleh kecemasan dan keraguan yang membuncah. Pikiran Arga berkecamuk hebat, saling bertabrakan antara harga diri, ketakutan akan masa depan, dan tanggung jawab besar yang kini terpikul di pundaknya.
"Bu Nadia... ini beneran gila," bisik Arga seraya menggelengkan kepala pelan. Suaranya terdengar serak, menahan beban pikiran yang sangat berat. "Saya cuma Satpam biasa, Bu. Setiap hari kerjaan saya cuma berdiri di lobi, memarkirkan mobil, dan keliling area parkir. Mana pantas saya jadi suami seorang CEO besar seperti Ibu, walaupun cuma status pernikahan kontrak satu tahun?"
Nadia menatap Arga tanpa berkedip, raut wajahnya tetap tenang dan tidak memperlihatkan keraguan sedikit pun.
"Pantas atau tidak, itu urusan saya yang atur," sahut Nadia dingin namun tegas. "Di mata publik dan pers, kamu hanya perlu berakting menjadi pria tampan yang berwibawa. Kamu tidak perlu mengurus manajemen perusahaan Nugroho Group, cukup ikuti semua instruksi saya."
"Tapi kenapa harus saya, Bu?!" cecar Arga lagi, menatap mata tajam Nadia dengan ketidakpercayaan yang membumbung tinggi. "Di luar sana banyak pengusaha kaya, pria berpendidikan tinggi, atau relasi bisnis Ibu yang jauh lebih layak! Kenapa harus numbalin saya cuma gara-gara kebohongan konyol ini?!"
Bimo yang duduk di sebelah Arga menyenggol paha Arga lagi dengan gestur memohon. "Aduh, Wa... lu jangan banyak nanya lagi dong. Bu Nadia kan udah ngasih tawaran bagus banget buat lu dan panti asuhan. Lu bantu gue sekali ini aja, Wa... Gue beneran enggak sanggup kalau harus dituntut atau dijebloskan ke penjara..."
"Lu diam dulu, Bimo!" tegur Arga tajam seraya menatap Bimo dengan kilatan amarah. "Lu enggak usah ikut campur! Yang mau dijadiin Suami Kontrak ini gue, bukan lu! Lu enak bisa lepas tangan gitu aja!"
Bimo seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menciut dan kembali menundukkan kepalanya lemas.
Rina yang menyaksikan perdebatan itu menghela napas halus. Ia melangkah maju satu tindak, memandangi Arga dengan tatapan yang sedikit lebih lembut namun tetap profesional.
"Mas Arga, tolong dengarkan penjelasan Bu Nadia baik-baik," ujar Rina pelan. "Mas Arga pikir Bu Nadia senang berada di posisi ini? Ini bukan cuma soal menjaga nilai saham perusahaan atau menyelamatkan muka Wira Perkasa Group dari kebangkrutan."
Arga mengalihkan pandangannya ke arah Rina, mengerutkan alisnya. "Maksud Mbak Rina gimana?"
Nadia mengembuskan napas panjang, mengikis sedikit keangkuhannya di hadapan Arga. Sorot matanya yang tadinya sekeras baja mendadak mengendur, menyisakan raut kelelahan emosional yang sangat mendalam.
"Kakek saya... Nugroho Sastro," panggil Nadia dengan intonasi suara yang mendadak melunak, hampir terdengar seperti bisikan bergetar. "Kondisi kesehatan beliau makin hari makin menurun drastis di rumah sakit. Dokter bilang, jantung beliau sudah sangat lemah."
Arga tertegun membisu saat mendengar penuturan itu. Amarah di dadanya perlahan mereda, tergantikan oleh rasa heran dan ketertarikan pada ucapan sang CEO.
"Kakek adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki di dunia ini," lanjut Nadia seraya menatap lurus ke arah cangkir kopinya. "Satu-satunya impian terbesar beliau sebelum tutup mata adalah melihat cucu tunggalnya menikah dan memiliki pasangan hidup yang bisa menjaga saya. Waktu berita perjodohan saya dengan keluarga Wira Perkasa terdengar oleh beliau dua hari lalu, wajah Kakek yang tadinya pucat mendadak berseri-seri. Beliau sangat bahagia."
Nadia mendongak kembali, memandangi Arga dengan ketegasan yang dibalut kesedihan mendalam.
"Kalau hari ini saya membatalkan pernikahan ini karena kebohongan konyol yang kalian ciptakan," ucap Nadia pelan namun amat menusuk hati, "kabar itu akan langsung sampai ke telinga Kakek. Kondisi jantung Kakek bisa drop seketika, dan saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri kalau sampai Kakek pergi gara-gara masalah ini."
Arga menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir Nadia. Di dalam hatinya yang paling dalam, Arga yang tumbuh besar tanpa orang tua di panti asuhan sangat memahami rasa sayang mendalam seorang cucu kepada sosok pelindungnya. Hati Arga yang keras mendadak luluh mendengarkan alasan tulus tersebut.
"Lalu kenapa enggak sama Bimo saja, Bu?" tanya Arga lirih, melirik Bimo di sampingnya. "Bimo kan anak kandung Wira Perkasa. Kakek Ibu pasti lebih senang kalau Ibu menikah sama dia."
"Kamu lihat sendiri kelakuan sahabatmu ini dari tadi," pangkas Nadia dengan nada cemooh yang jujur. "Bimo itu pengecut, cengeng, tidak punya tanggung jawab, dan cuma bisa merengek seperti anak kecil saat ada masalah. Kamu pikir Kakek saya tidak akan curiga kalau melihat pria seperti ini mendampingi saya? Kakek saya itu pebisnis handal, Arga. Beliau bisa membaca raut muka orang dalam hitungan detik."
Nadia menunjuk Arga dengan ujung jarinya. "Sedangkan kamu... kamu punya ketegasan, kamu jujur, kamu berani pasang badan demi panti asuhan tempat kamu dibesarkan, dan yang paling penting, kamu adalah pria yang sebenarnya menandatangani surat kesepakatan itu di depan saya. Kamu punya karakter yang jauh lebih layak dihargai."
Penjelasan Nadia yang begitu jujur dan terbuka membuat Arga bungkam seribu bahasa. Tidak ada lagi kalimat bantahan yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Semua argumen yang ia persiapkan seolah runtuh begitu saja di atas meja marmer itu.
"Saya butuh pria yang bisa berdiri tegap di samping saya di depan Kakek dan media selama satu tahun," tambah Nadia dengan intonasi penuh wibawa. "Dan saya siap membayar semua kebaikanmu itu dengan jaminan masa depan panti asuhanmu."
Rina menyodorkan pulpen berlapis emas itu tepat ke dekat jemari Arga. "Mas Arga... tolong bantu Bu Nadia. Ini satu-satunya jalan keluar terbaik untuk kita semua."
Arga memandangi kertas dokumen kesepakatan nikah kontrak atas nama Arga Dewa Putra tersebut. Bayangan senyum anak-anak panti asuhan yang membutuhkan tempat tinggal layak dan perawatan Kakek Nugroho yang sedang terbaring lemah di rumah sakit berkelebat bergantian di benaknya.
Dengan perasaan yang tidak tenang, dada yang bergemuruh liar, serta napas yang berembus amat berat, Arga akhirnya mengulurkan tangan kanannya.
Jemari Arga meraih pulpen emas yang dingin itu. Ia membetulkan posisi duduknya, menekan mata pulpen tepat di atas kolom tanda tangan yang tertera di samping nama lengkapnya. Dengan sekali tarikan garis yang mantap dan tegas, Arga membubuhkan tanda tangan resminya di atas lembaran kertas dokumen tersebut.
SREKK! SREKK!
Bunyi gesekan mata pulpen di atas kertas tebal itu memecah keheningan kedai kopi, menandai terikatnya kesepakatan takdir baru antara seorang Satpam biasa dan sang CEO dingin.
Arga meletakkan pulpen emas itu kembali ke atas meja dengan helaan napas pasrah yang sangat panjang. "Sudah saya tanda tangani, Bu Nadia. Sekarang... hidup saya resmi berada di dalam permainan Ibu."