NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Malam semakin larut, menyelimuti kediaman megah itu dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kamar tamu yang terletak di ujung lorong lantai dua, Gema duduk terpekur di tepi ranjang. Ruangan itu terasa begitu asing dan dingin, jauh berbeda dengan kamar utama yang selama enam tahun ini ia tempati bersama bayang-bayang masa lalunya. Lampu tidur bersinar temaram, mencetak siluet tubuh Gema yang tampak rapuh dan kehilangan arah.

​Gema menatap nanar layar ponsel di tangannya. Angka jam digital menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Pikirannya masih berputar hebat, mengulang kembali setiap rentetan kejadian hari ini. Penolakan Alana, tatapan dingin istrinya, dan yang paling menghancurkan hatinya fakta bahwa Tania, putri kandungnya sendiri, menatapnya dengan penuh kekecewaan.

​Selama enam tahun, Gema merasa dirinya adalah seorang pria yang paling menderita karena kehilangan Kirana, cinta pertamanya. Ia menganggap pernikahannya dengan Alana hanyalah sebuah tugas, sebuah kewajiban moral untuk menjalankan wasiat terakhir Kirana demi Tania. Ia menutup mata dari segala pengorbanan Alana, mengabaikan senyum wanita itu, dan dengan kejam membangun tembok es yang tak bisa ditembus.

​Dan kini, setelah tembok kesabaran Alana runtuh, Gema baru menyadari betapa sepinya hidup tanpa kehadiran wanita itu. Tidak ada lagi sapaan lembut di pagi hari, tidak ada lagi aroma teh kamomil yang selalu disiapkan Alana di meja kerjanya, tidak ada lagi kehangatan yang selama ini diam-diam menjaga kewarasannya.

​Rasa putus asa mulai menggerogoti akal sehat Gema. Ia butuh bantuan. Ia tidak tahu bagaimana cara meruntuhkan kembali dinding pertahanan Alana yang kini telah membatu.

​Dalam keputusasaannya, jari-jari Gema bergerak mencari sebuah kontak di ponselnya. Mama Mertua. Ibunda dari Kirana dan Alana.

​Gema berpikir, mungkin jika ia menghubungi mertuanya, ia bisa mendapatkan saran atau setidaknya meminta bantuan wanita paruh baya itu untuk membujuk Alana. Gema tahu Alana selalu berusaha menjadi anak yang berbakti. Mungkin, nasihat dari ibunya bisa membuat hati Alana sedikit melunak.

​Tanpa berpikir panjang, Gema menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara sapaan dari seberang sana.

​"Halo? Gema?" Suara wanita paruh baya itu terdengar sedikit serak, namun nada bicaranya seketika berubah ramah dan hangat saat menyadari siapa yang menelepon. "Tumben malam-malam telepon, Nak. Ada apa? Kamu dan Tania sehat-sehat aja kan?"

​Gema menghela napas berat, mencoba menata suaranya yang terdengar parau. "Halo, Ma. Maaf Gema ganggu malam-malam. Gema... Gema sehat. Tania juga sehat, Ma."

​"Syukurlah kalau begitu," sahut Mama Alana riang. "Ada apa, Gema? Kok suaramu kedengarannya lesu begitu? Kerjaan di kantor lagi banyak ya? Jangan terlalu diforsir, Nak. Kamu itu kebanggaan keluarga, jaga kesehatanmu."

​"Bukan soal pekerjaan, Ma," potong Gema pelan. Ia terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengakui kegagalannya sebagai suami. "Ini... soal Alana, Ma."

​Hening sejenak di seberang sana. Namun, alih-alih bertanya dengan nada khawatir seperti layaknya seorang ibu yang mendengar nama anaknya disebut dengan nada bermasalah, suara mertuanya justru berubah menjadi helaan napas panjang yang sarat akan rasa jengah.

​"Alana?" Nada hangat di suara wanita itu seketika memudar, digantikan oleh decakan pelan. "Anak itu bikin ulah apa lagi sekarang, Gema?"

​Gema mengernyitkan dahi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat mendengar respons yang tidak terduga itu. Belum sempat Gema menjelaskan apa pun, mertuanya sudah kembali memberondongnya dengan kalimat yang membuat Gema terpaku.

​"Kamu sabar-sabar aja ya, Gema," lanjut mertuanya dengan nada membujuk sekaligus merendahkan anak kandungnya sendiri. "Mama tahu Alana itu memang keras kepala. Sikapnya kadang kekanak-kanakan, nggak bisa diatur. Beda jauh sama mendiang Kirana yang selalu pengertian dan tahu cara bersikap. Alana pasti ngambek masalah sepele kan? Atau dia cemburu sama masa lalu kamu? Udah, kamu jangan terlalu dipusingkan, Nak. Biar nanti Mama yang telepon dia, Mama yang marahin dia supaya dia sadar diri!"

​Gema membeku. Tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat.

"Biar Mama yang marahin dia supaya dia sadar diri?."

​Kalimat itu terngiang di telinga Gema bagaikan gema lonceng kematian. Gema bahkan belum menceritakan apa kesalahannya. Ia belum memberitahu mertuanya bahwa dialah yang telah menyakiti Alana, dialah yang mengabaikan Alana, dan dialah yang menjadi sumber air mata wanita itu. Namun, ibunda Alana dengan sangat mudah dan spontan langsung menyudutkan Alana, menyalahkan putrinya sendiri, dan membelanya secara membabi buta.

​"Ma..." suara Gema bergetar tertahan. "Mama belum dengar cerita Gema. Bukan Alana yang salah, Ma. Gema yang salah."

​"Ah, kamu ini terlalu baik, Gema," potong mertuanya tak acuh, seolah tak percaya. "Kamu selalu menutupi kekurangan Alana. Mama tahu tabiat anak itu. Dari dulu dia memang selalu merasa iri sama Kirana. Harusnya dia itu bersyukur, Gema! Kalau bukan karena wasiat Kirana, mana mungkin dia bisa hidup enak dan menikah sama laki-laki sesukses kamu? Harusnya dia melayani kamu dengan baik, bukannya malah cari gara-gara dan bikin kamu repot begini."

​Dada Gema serasa dihantam palu godam. Rasa sesak yang luar biasa mencekik tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, Gema melihat dengan sangat jelas bagaimana posisi Alana di dalam keluarga kandungnya sendiri. Alana tidak pernah dibela. Alana selalu menjadi bayang-bayang Kirana, bahkan di mata ibunya sendiri.

​"Ma, Alana nggak pernah cari gara-gara," ucap Gema parau, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Alana sakit, Ma. Dua hari yang lalu... Alana masuk rumah sakit."

​"Masuk rumah sakit?" Suara mertuanya terdengar terkejut, namun bukan karena khawatir, melainkan karena heran. "Sakit apa? Kok dia nggak ada ngabarin Mama sama sekali?"

​Pertanyaan itu membuat Gema semakin hancur. Keluarganya sendiri bahkan tidak tahu menahu. Alana benar-benar menanggung semuanya sendirian.

​"Alana kena pendarahan lambung kronis, Ma," jawab Gema lirih, membongkar rahasia kelam yang selama ini disembunyikan istrinya. "Kondisinya drop parah. Dia sempat pingsan di toko dan harus dirawat inap. Dan saat itu terjadi... Gema nggak ada di sampingnya. Gema malah lagi dinas di luar kota. Dan... dan Mama keluarganya sendiri juga nggak tahu?"

​Hening kembali menyelimuti sambungan telepon. Namun, yang keluar dari mulut mertuanya beberapa detik kemudian adalah kalimat pamungkas yang benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan Gema malam itu.

​"Ya ampun, Gema... paling cuma maag biasa karena telat makan," sahut ibunda Alana dengan nada meremehkan, seolah pendarahan lambung adalah penyakit flu biasa. "Alana itu memang suka berlebihan. Kalau dia memang sakit parah, pasti dia udah hubungi Mama. Dia sengaja nggak bilang ke siapa-siapa itu pasti cuma mau cari perhatian kamu aja, Gema. Biasa, caper. Namanya juga anak kurang kasih sayang, selalu cari cara supaya diperhatikan. Udah, kamu tenang aja. Nggak usah terlalu merasa bersalah. Besok Mama telepon dia, Mama suruh dia berhenti bersikap drama dan layanin kamu yang bener."

​Drama? Caper?

​Gema tidak tahan lagi. Mulutnya ternganga, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan mertuanya yang begitu menyayat hati.

Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berkata sekejam itu pada anak kandungnya sendiri yang hampir meregang nyawa menahan sakit?

​Gema tiba-tiba teringat ucapan Alana sore tadi saat mereka bertengkar hebat.

​"Enam tahun saya menahan diri. Saya kunci rapat-rapat semua rasa sakit, rasa iri saya pada almarhumah kakak saya sendiri, dan rasa lapar akan kasih sayang..."

​Air mata yang sejak tadi ditahan Gema akhirnya luruh membasahi pipinya. Pria itu menyadari satu kenyataan yang sangat brutal. Alana tidak pernah memiliki tempat berlindung. Di masa lalunya, ia harus mengalah pada Kirana yang menjadi anak emas keluarganya. Di mata ibunya, Alana hanyalah anak kedua yang tidak pernah cukup baik, anak yang harus selalu mengalah dan berkorban untuk nama baik keluarga dan demi kebahagiaan orang lain.

​Dan ketika Alana masuk ke dalam kehidupan Gema, berharap menemukan rumah baru dan tempat untuk bersandar... Gema justru melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan keluarga Alana. Gema menjadikan Alana sebagai bayangan Kirana. Gema membandingkannya. Gema mengabaikannya. Gema merampas sisa-sisa harga diri dan harapan yang Alana miliki.

​Alana benar-benar hidup sendirian di dunia ini. Wanita itu berjuang menata hatinya yang hancur berkeping-keping, menelan rasa sakit fisiknya sendirian, tanpa ada satu pun orang yang menanyakan kabarnya, membela haknya, atau sekadar memeluknya saat ia menangis.

​Hanya ada satu hal yang membuat Alana tetap bertahan hidup dan waras selama ini Tania. Anak dari wanita yang ironisnya menjadi sumber segala perbandingan yang menghancurkan hidupnya. Alana memberikan seluruh kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun kepada Tania.

​"Gema? Halo? Kamu masih di sana, Nak?" Suara mertuanya kembali memanggil, menyadarkan Gema dari keterpakuannya.

​"Ma..." Gema menjawab dengan suara serak yang bergetar hebat. "Jangan telepon Alana."

​"Loh, kenapa? Biar Mama kasih tahu dia"

​"Saya bilang jangan telepon Alana, Ma!" sentak Gema dengan nada tinggi, air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya naik turun menahan ledakan emosi yang luar biasa. "Jangan pernah berani memarahi Alana lagi. Dia nggak salah. Dia nggak pernah cari perhatian! Alana hampir hancur, Ma... dan kita semua, saya dan keluarga Mama, adalah alasan kenapa dia hancur!"

​"Gema, kamu bicara apa"

​Gema langsung menekan tombol merah, memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan muak yang luar biasa muak pada keluarga istrinya, dan yang paling utama, amat sangat muak pada dirinya sendiri.

​Pria yang dikenal keras, arogan, dan selalu memegang kendali itu kini merosot dari tepi ranjang, jatuh berlutut di atas karpet tebal kamar tamu. Gema menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

​Isak tangis yang tertahan selama ini akhirnya pecah. Bahu bidang Gema bergetar hebat seiring dengan suara tangisan yang menyayat hati memenuhi kamar yang sepi itu. Penyesalan datang menggulung jiwanya bagaikan tsunami yang meluluhlantakkan segala keangkuhannya.

​"Maafkan aku, Alana... Ya Tuhan, maafkan aku..." racau Gema di sela isak tangisnya yang pilu.

​Gema akhirnya menyadari betapa jahat dan butanya dirinya selama ini. Ia telah menghukum seorang wanita yang tidak bersalah atas kematian Kirana. Ia telah memaksa seorang wanita rapuh yang tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari keluarganya sendiri, untuk memberikan seluruh hidupnya mengabdi di rumah yang tidak pernah menghargai keberadaannya.

​Di saat Alana masuk rumah sakit, menahan sakit pendarahan lambungnya sendirian di bangsal yang dingin, wanita itu pasti berpikir bahwa tidak akan ada satu orang pun yang peduli jika ia mati saat itu juga. Ibunya tidak akan peduli, dan suaminya pun sedang sibuk menceramahi perubahannya tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

​Kenyataan itu mencabik-cabik hati Gema. Rasa bersalahnya kini berubah menjadi ketakutan yang teramat kelam. Gema takut semuanya sudah terlambat. Ia takut hati Alana telah mati seutuhnya, membeku dan tak bisa lagi dihangatkan oleh permohonan maaf sebesar apa pun.

​Malam itu, di dalam kamarnya yang dingin, Gema menangisi kebodohannya hingga matanya membengkak. Di lantai yang sama, di balik pintu kamar yang terkunci, istrinya tengah memeluk erat Tania, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan untuk melangkah pergi dari neraka yang diciptakan oleh orang-orang yang seharusnya paling mencintainya. Kesalahan Gema bukanlah sesuatu yang bisa ditebus hanya dengan kata maaf. Gema harus membangun ulang dunia Alana dari awal, jika wanita itu masih sudi memberinya kesempatan.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!