Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 06.
Air hujan yang jatuh ke permukaan payung transparan itu bunyinya bising sekali, mirip seperti isi kepala Stella yang sejak setengah jam yang lalu tidak bisa tenang.
Dia berjalan dengan langkah terseret, membiarkan ujung sepatunya basah kuyup karena genangan air di sepanjang trotoar menuju halte.
Di tangan kanannya, ada gagang payung plastik murah berwarna biru muda—payung yang tadi dipaksakan masuk ke genggamannya oleh cowok yang benama Lingga.
Stella menyeka pipinya yang basah dengan lengan jaket seragam. Dia tidak tahu mana yang lebih banyak membasahi wajahnya sekarang, air cipratan badai sore ini, atau air matanya sendiri yang sejak tadi menolak untuk berhenti.
Dada Stella sesak. Rasa sesak yang familier, yang selalu muncul setiap kali dia sadar posisinya di hidup Gibran itu ada di sebelah mana.
Stella tidak pernah jadi yang utama. Dan sialnya, sore ini dia ia melihat cowok yang selalu menjaga nya di kelas satu pulang bersama cewek lain.
Sesampainya di halte yang sepi, Stella melipat payungnya. Dia duduk di bangku besi yang dingin, memeluk tas sekolahnya erat-erat untuk menghalau angin yang menusuk tulang. Matanya menatap kosong ke arah jalanan.
Namun belum sampai lima menit Stella nunggu bis sekolah lewat, Sebuah mobil Avanza hitam tiba-tiba memotong jalur dan berhenti tepat di depan halte. Stella tersentak, otomatis mundur satu langkah karena refleks defensifnya muncul. Kaca mobil bagian depan perlahan turun, menampilkan wajah seorang pria paruh baya dengan senyum ramah yang agak canggung karena cuaca buruk.
"Dengan Mbak Stella? Atas nama Mas Lingga, ya?" tanya sopir gocar itu, memastikan lewat aplikasi di ponselnya yang terpasang di dasbor.
Stella tertegun.
Bahkan setelah cowok itu memberi payung memilih untuk berbalik dan pergi ke arah lain, Lingga masih sempat memesankan taksi daring untuknya. Menggunakan akun cowok itu sendiri, memastikan Stella pulang dengan aman tanpa harus kehujanan menunggu bus yang jadwalnya makin kacau kalau badai.
Lingga selalu punya cara sendiri untuk membuat Stella merasa dipedulikan.
"Iya, Pak. Betul," sahut Stella pelan. Suaranya agak serak.
Sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, entah karena dorongan apa, Stella menolehkan kepalanya ke belakang. Ke arah area parkir luar sekolah yang jaraknya sekitar seratus meter dari halte. Pandangannya menembus tirai hujan yang tebal.
Di sana, di dekat gerbang samping, ada sebuah mobil sedan tua berwarna marun yang buat Stella curiga kalau di dalamnya itu ada Lingga.
Ya benar, Lingga ada disana, ia sama sekali tidak melihat ke arah halte. Pandangan cowok itu lurus, terkunci sepenuhnya pada sosok gadis di dalam mobil hitam itu.
Stella bisa melihat dari kejauhan bagaimana Lingga tersenyum di balik kaca mobil sedan nya, Senyuman hangat yang baru pertama kali Stella ketahui.
Karena Stella tahu cowok itu anti yang namanya senyum, wajahnya selalu dingin, misterius dan menyendiri di pojokan kelas.
Kemarin, Livy kehujanan sampai seragamnya basah kuyup, Lingga hanya memberikan jas hujan dengan sweaternya.
Dan hari ini, Lingga jelas bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi. Walaupun artinya, dia harus membiarkan Stella berjalan sendirian ke halte pakai payung yang sudah ia kasih.
Stella memandangi pemandangan itu dengan senyum getir yang dipaksakan. Dia melihat bagaimana perhatian Lingga begitu tumpah-ruah untuk Livy. Cara Lingga memastikan pintu mobil Livy terkunci dari dalam, cara cowok itu berdiri tegak menantang angin malam demi menjadi tameng tak kasat mata untuk gadis lain.
Lo selalu sekadar 'pemberhentian sementara' buat dia, Stel. Sadar, bisik suara di dalam kepalanya, kejam namun jujur.
"Neng, apa tidak ada yang tertinggal lagi?" Tanya sopir online itu memecah lamunan Stella.
Stella mengerjapkan mata, buru-buru menghapus setitik air mata yang hampir jatuh lagi. "Ah, iya, Pak. Maaf. Tidak ada pak." Dia membuka pintu mobil hitam itu, masuk ke dalam kehangatan yang instan, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Memisahkan diri dari dinginnya angin sore, dan dari pemandangan di ujung jalan yang perlahan mengikis patah hati dari segala penolakan yang diberikan oleh Gibran.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan yang macet, Stella bersandar pada kaca mobil. Dari balik kaca yang berembun, dia masih sempat melihat siluet Lingga di dalam mobil yang akhirnya berbalik setelah memastikan mobil Livy aman.
Stella tidak pernah tahu, dan mungkin tidak akan pernah peduli, bahwa ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan dengan hati yang patah berkeping-keping.
Sore itu, Stella pulang dengan tubuh yang kering berkat Lingga. Namun, hatinya basah kuyup, kebanjiran rasa sepi yang dia sendiri tidak tahu kapan akan surut.
......................
...****************...
Tbc,