Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Akhirnya Kubuat Sendiri
Bayu memilih bertemu di taman kota, tempat netral yang tidak membawa kenangan berat dari yang sudah mereka lalui bersama.Begitu Alya duduk di bangku sebelahnya, dia bisa melihat betapa lelahnya wajah pria itu, seolah beban dua minggu terakhir sudah menuai bayarannya sendiri di garis-garis halus sekitar matanya. Sore itu langit mendung, angin membawa aroma hujan yang akan datang, dan anak-anak kecil masih berlarian riang di sekitar ayunan, tidak menyadari betapa beratnya percakapan yang sedang berlangsung di bangku tidak jauh dari mereka.
"Udah kamu pikirkan?" Bayu bertanya, langsung, tidak ada lagi ruang untuk basa-basi di antara mereka.
"Udah, Kak," Alya menjawab. Auaranya lebih tenang dari yang dia duga sendiri, meski dadanya berat oleh apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. "Dan aku pikir kamu udah tau jawabannya, sebelum aku ucapin."
Bayu mengangguk pelan, matanya menerawang ke arah anak-anak yang bermain di taman, tidak segera menatapnya. "Aku emang udah nyangka," katanya. Suaranya bergetar meski dia berusaha tegar. "Tapi tetep aja sakit denger langsung."
"Aku minta maaf, Bang," Alya berkata, air matanya jatuh tanpa dia sanggup menahannya lagi. "Bukan cuma soal Raze. Tapi soal aku yang nggak adil sama kamu, biarin kamu nunggu. Sementara aku sendiri nggak yakin sama apa yang aku rasain."
"Aku nggak nyalahin kamu sepenuhnya," Bayu berkata, akhirnya menoleh. Matanya basah tapi tatapannya jujur. "Lima tahun itu lama, Alya. Mungkin kita berdua cuma... kebiasaan yang kelamaan dipertahanin, bukan karena itu yang paling bener buat masing-masing kita."
"Kamu masih mau tetep temenan?" Alya bertanya, ragu, tidak yakin apakah pertanyaan itu adil untuk ditanyakan sekarang.
"Nanti," Bayu menjawab jujur, senyumnya pahit. "Butuh waktu buat aku bisa liat kamu tanpa keinget semua rencana yang udah kita susun. Tapi mungkin, suatu hari nanti, iya."
"Kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku, Kak," Alya berbisik. "Seseorang yang bisa kasih kamu jawaban jelas dari awal, bukan yang bikin kamu nunggu sambil bertanya-tanya."
"Mungkin," Bayu tersenyum tipis, pahit. "Tapi lima tahun sama kamu bukan hal yang aku sesalin, Alya. Cuma akhirnya aja yang beda dari yang aku bayangin. Aku selalu ngebayangin kita nikah, punya anak, tua bareng sambil ketawain kenangan konyol kita. Sekarang aku harus belajar ngebayangin masa depan yang nggak ada kamu di dalamnya."
Dia melepas cincin sederhana dari sakunya. Cincin yang sama yang dulu dia berikan dengan penuh harapan, yang kini dia terima kembali dari jari manis Alya dengan tangan yang gemetar. "Simpan aja buat kenangan," Alya berkata, mencoba tersenyum di tengah air mata. "Bukan sebagai beban, tapi sebagai bukti kamu pernah mencintai seseorang dengan tulus banget."
Bayu menerima cincin itu, menggenggamnya erat, lalu menarik Alya ke pelukan terakhir. Pelukan yang penuh kesedihan tapi juga semacam pelepasan yang keduanya butuhkan. "Jaga diri baik-baik, Alya," bisiknya di telinganya. "Dan hati-hati sama dia. Aku masih nggak sepenuhnya percaya orang itu pantas dapetin kamu, tapi itu bukan lagi urusanku buat diputusin."
"Makasih udah pernah jadi bagian terbaik dari hidupku, Kak," Alya berbisik balik. Memeluknya lebih erat sebelum akhirnya melepaskannya. Membiarkan lima tahun kenangan itu perlahan menjauh bersama punggung Bayu yang berjalan menuju motornya, tidak menoleh lagi.
Alya duduk sendirian di bangku taman itu beberapa menit lebih lama. Membiarkan hujan gerimis yang mulai turun membasahi rambutnya, tidak buru-buru mencari tempat berteduh. Seolah dia butuh hujan itu untuk mencuci bersih lima tahun yang baru saja resmi berakhir sebelum dia siap melangkah ke bab berikutnya dalam hidupnya.
Malam itu, Alya pergi ke rumah Raze tanpa memberi kabar dulu, hanya mengetuk pintu dan menunggu sampai pintu itu terbuka, menampakkan Raze yang tampak terkejut melihatnya berdiri di sana tanpa pemberitahuan.
"Alya? Ada apa—"
"Aku udahin hubunganku sama Bayu," Alya berkata, langsung, suaranya masih sedikit gemetar dari pertemuan sore itu. "Dan aku tau soal Alia, Raze. Aku tau kamu udah nyari dia bertahun-tahun."
Untuk sesaat, Raze berdiri diam di ambang pintu. Matanya penuh keterkejutan yang bercampur dengan sesuatu yang menyerupai kelegaan, sebelum akhirnya melangkah mundur, membiarkannya masuk.
"Siapa yang cerita soal Alia?" tanyanya, suaranya hati-hati.
"Ibuku," Alya menjawab, duduk di sofa ruang tamunya. Tangannya masih gemetar menahan emosi yang menumpuk sepanjang hari. "Aku punya kembaran, Raze. Dan kamu udah tau itu dari awal, kan? Sejak malam kecelakaan itu."
Raze duduk di kursi seberangnya dulu, tidak langsung mendekat. Memberi Alya ruang untuk kemarahan yang berhak dia rasakan. "Duduk dulu," katanya, lembut. "Aku akan jelaskan semua yang aku tahu, sejauh yang aku tahu."
Dia bangkit, mengambilkan segelas air hangat. Menyerahkannya dengan kedua tangan seperti sesuatu yang berharga, sebelum akhirnya duduk kembali. Kali ini lebih dekat, cukup dekat untuk memberi kehangatan tapi tidak cukup dekat untuk terasa memaksa.
"Aku tahu ada dua bayi di mobil itu malam itu," katanya, akhirnya, suaranya berat oleh kenangan yang sudah lama dia simpan. "Aku menstabilkan salah satunya. Yang lain sudah dibawa tim medis lain ke ruang berbeda sebelum aku sempat memeriksanya sendiri."
"Dan?"
"Dan aku tidak pernah sepenuhnya percaya laporan yang mengatakan dia tidak selamat," Raze melanjutkan, matanya menatap lurus. Jujur untuk pertama kalinya tanpa satu pun perhitungan tersembunyi di baliknya. "Ada kejanggalan dalam laporan malam itu. Jumlah pasien yang tercatat tidak sesuai dengan jumlah yang sebenarnya ditangani. Aku masih residen waktu itu, tidak punya kuasa untuk mempertanyakan apa pun. Tapi aku tidak pernah berhenti bertanya-tanya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu."
"Kenapa kamu nggak lapor ke pihak berwajib waktu itu, kalau kamu curiga ada yang aneh?" Alya bertanya, suaranya masih penuh kemarahan yang belum sepenuhnya reda.
"Aku masih dua puluh tiga tahun, Alya, residen paling junior di rumah sakit itu," Raze menjawab, jujur, tanpa berusaha membela diri berlebihan. "Siapa yang akan mendengarkan kecurigaan seorang residen, melawan laporan resmi dari dokter senior dan pihak kepolisian? Aku belajar waktu itu juga, bahwa kekuasaan adalah satu-satunya bahasa yang benar-benar didengarkan dunia ini. Itu salah satu alasan kenapa aku membangun semua ini." Dia mengibaskan tangannya ke arah sekeliling rumah mereka, isyarat untuk seluruh kerajaan bisnis yang dia bangun.
"Jadi sepuluh perusahaanmu," Alya berkata, pelan, mulai memahami sesuatu yang lebih besar, "sebagian dibangun demi nyari Alia?"
"Sebagian besar, sebenarnya," Raze mengakui, jujur. "Rumah sakit ini punya akses ke catatan medis di seluruh negeri. Properti memberiku alasan untuk masuk ke kota-kota kecil tanpa dicurigai. Bahkan tambang dan bar memberiku jaringan informan yang tidak akan pernah kudapatkan lewat cara-cara resmi. Semuanya, entah bagaimana, selalu kembali ke satu tujuan yang sama."
Alya menggenggam tangannya, mencari kekuatan dari kehangatan yang selalu ada di sana meski dunia di sekitarnya terasa runtuh. "Kamu nyari dia ke mana aja selama ini?"
"Ke mana pun jejaknya membawaku," Raze menjawab, jujur. "Rumah sakit tempat dia dilaporkan meninggal, panti asuhan di sekitar lokasi kecelakaan, bahkan jaringan yang biasa menangani adopsi ilegal. Karena itu salah satu kemungkinan paling gelap yang harus kupertimbangkan. Aku membangun separuh kerajaan bisnisku dengan koneksi yang, jujur saja, awalnya kubangun demi satu tujuan itu. Memiliki cukup kekuasaan untuk mencari satu anak yang mungkin tidak seharusnya hilang begitu saja."
Pengakuan itu menghantam Alya dengan cara yang tidak dia duga. Bukan lagi ketakutan akan kekejaman Raze, melainkan pemahaman baru tentang betapa dalam luka yang mendorongnya menjadi seperti sekarang.
"Kamu nemuin sesuatu?" Alya bertanya, suaranya penuh harap yang hampir tidak berani dia biarkan tumbuh terlalu besar.
Raze mengangguk pelan, berdiri, berjalan ke lemari kerjanya, mengeluarkan sebuah map tipis yang sudah lama tersimpan rapi di sana. "Satu nama," katanya, menyerahkan map itu. "Seorang wanita, usianya sama seperti kamu, tinggal di kota pelabuhan tiga jam dari sini, dengan riwayat masa kecil yang tidak lengkap, diadopsi tanpa catatan resmi yang jelas. Aku belum berani menghubunginya, karena aku tidak ingin memberimu harapan kosong tanpa kepastian penuh."
Alya membuka map itu dengan tangan gemetar, menemukan selembar foto seorang wanita dewasa. Meski wajahnya sudah berubah oleh waktu, ada sesuatu di garis rahangnya. Di bentuk matanya, yang terasa begitu familiar, seperti menatap pantulan dirinya sendiri dari sudut yang berbeda.
"Ini dia, Raze," Alya berbisik, air matanya jatuh deras sekarang, campuran antara harapan dan ketakutan yang sama besarnya. "Aku yakin ini dia."
"Namanya, di catatan yang aku temukan, adalah Rani," Raze berkata pelan, duduk di sebelahnya sambil menunjuk halaman berikutnya di map itu. "Dia bekerja sebagai penjahit di kota pelabuhan itu, tinggal sendirian, tidak menikah. Catatan adopsinya menyebutkan dia dibawa oleh sepasang suami istri yang sekarang sudah meninggal, tanpa keluarga dekat lain yang bisa dihubungi."
"Dia tau dia diadopsi?" Alya bertanya, suaranya bergetar.
"Setahu catatan yang aku miliki, iya," Raze menjawab. "Tapi dia tidak pernah tahu dari mana asalnya sebenarnya. Orang tua angkatnya membawanya dari sebuah panti asuhan kecil, tanpa dokumen kelahiran yang lengkap."
"Berapa lama kamu udah punya informasi ini, Raze?" Alya bertanya, matanya menatap tajam, mencoba menilai berapa lama lagi kebenaran ini tertahan darinya.
"Tiga bulan," Raze menjawab, jujur, tidak berusaha mengurangi beratnya angka itu. "Aku menunggu, karena aku takut ini jalan buntu lain seperti puluhan jalan buntu sebelumnya, dan aku tidak ingin memberimu harapan yang berakhir kecewa lagi."
"Kamu seharusnya kasih tau aku dari awal, Raze. Ini hidupku juga."
"Aku tahu," katanya, menunduk, untuk sekali ini tidak mencari pembenaran. "Aku salah. Aku janji, mulai sekarang, tidak ada lagi keputusan sepihak soal apa pun yang menyangkut dirimu, atau Alia."
Raze berlutut di depannya, menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menghapus air matanya dengan ibu jarinya. "Kalau ini benar dia," katanya, lembut, "aku janji, kita akan membawanya pulang, bersama-sama. Tidak ada lagi rahasia yang perlu kusimpan sendirian setelah ini."
Alya menariknya ke dalam ciuman dalam dan penuh. Melepaskan segala ketegangan yang menumpuk sepanjang hari itu ke dalam satu momen yang terasa seperti awal baru bagi mereka berdua. Sebagai dua orang yang akhirnya berdiri di sisi yang sama, menghadapi kebenaran yang sama. Tangan Raze bergerak dari wajahnya turun ke punggungnya, menariknya lebih dekat. Alya membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam pelukan itu, merasakan setiap detak jantung yang beradu dengan detak jantungnya sendiri, seolah dua tahun kecurigaan dan kebingungan akhirnya menemukan muaranya malam itu.
"Aku mencintaimu," Alya berbisik, untuk pertama kalinya mengucapkannya sendiri, tanpa menunggu Raze mengucapkannya lebih dulu. "Meski dengan semua yang udah aku tau tentang kamu."
"Itu kalimat paling berharga yang pernah kudengar seumur hidupku," Raze berbisik balik. Dahi mereka saling menempel. Untuk pertama kalinya, Alya melihat air mata yang tidak sanggup lagi dia tahan, jatuh diam-diam di pipi seorang pria yang selama ini begitu dikenal karena ketidakterkalahkannya.
Mereka duduk berpelukan cukup lama di sofa itu, tidak ada lagi kata-kata yang diperlukan. Hanya kehangatan dan kelegaan yang saling mereka bagi, sampai akhirnya Raze mengecup puncak kepalanya. Membisikkan bahwa dia akan mengatur perjalanan ke kota pelabuhan itu secepat mungkin, mungkin akhir minggu ini juga. Begitu dia memastikan tidak ada satu pun celah yang bisa menghancurkan harapan yang baru saja mereka bangun bersama.
Di lantai dua puluh dua, malam itu, meski Raze memilih tidur di rumahnya sendiri malam itu, ditemani Alya untuk pertama kalinya tanpa jarak apa pun di antara mereka. Buku bersampul kulit hitam itu tetap terbuka esok paginya, tulisan yang dia buat penuh harapan yang jarang sekali menghiasi halaman-halamannya.
Dia bilang dia mencintaiku, tanpa aku memintanya lebih dulu. Aku sudah menunggu kalimat itu lebih lama daripada yang pantas kuakui pada diriku sendiri.
Kami akan mengejar jejak wanita di kota pelabuhan itu minggu ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, menghalangi ini. Bukan lagi demi diriku sendiri, tapi demi Alya, dan demi anak yang mungkin sudah terlalu lama menunggu untuk ditemukan.
Aku sudah menyiapkan tim kecil untuk memverifikasi identitas Rani secara diam-diam sebelum kami datang langsung. Aku tidak ingin mengejutkannya dengan kabar sebesar ini tanpa persiapan yang matang. Pelajaran yang kupetik dari terlalu banyak kesalahan yang pernah kubuat dengan cara mendekati orang secara paksa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa seperti versi diriku yang bisa kutoleransi, bukan cuma versi yang kubangun demi bertahan. Aku berharap versi ini yang akan bertahan lebih lama dari yang lain.