NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Basi untuk Sang Istri

Larasati berdiri mematung di ambang pintu masuk Restoran Grand Sky yang megah. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit seolah mengejek kesederhanaan pakaian yang ia kenakan malam itu. Di hadapannya, Bagas Pratama, pria yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun terakhir, melangkah dengan angkuh tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

Ibu Melati, ibu kandung Bagas, berjalan tepat di samping putranya dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat anggun. Diikuti oleh Siska, adik perempuan Bagas yang sibuk memoles bibirnya dengan lipstik mahal sambil sesekali melirik layar ponsel dengan wajah masam.

"Bagas, apakah kita harus menunggu di sini saja?" Laras bertanya dengan nada pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena rasa sesak yang mulai menghimpit dada.

Bagas menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Ibu Melati dan Siska ikut berhenti. Ia berbalik dengan tatapan dingin yang tajam, seolah Laras adalah orang asing yang baru saja melakukan kesalahan fatal.

"Apa kau tidak punya cermin di rumah, Laras?" Bagas berucap dengan suara rendah yang penuh penekanan.

"Lihat pakaianmu itu. Sangat memalukan bagi keluarga kami untuk terlihat bersamamu di tempat eksklusif seperti ini," Bagas menambahkan sambil melirik sinis dari ujung kepala hingga ujung kaki Laras.

Laras menunduk sejenak, menatap gaun sederhana yang ia pilih dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat berlebihan. Namun, baginya, hal itu tidak penting dibandingkan dengan perayaan kenaikan jabatan Bagas yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan bersama.

"Ini hanya makan malam keluarga, Bagas. Bukankah lebih baik kita masuk dan memesan makanan?" Laras mencoba bersabar, suaranya tetap tenang meski hatinya mulai teriris.

Ibu Melati segera maju satu langkah, menatap Laras dengan sorot mata yang penuh kebencian dan rasa jijik yang tak disembunyikan. Ia merapikan perhiasan emas yang menempel di lehernya dengan gerakan yang dibuat-buat agar terlihat sangat mencolok.

"Keluarga? Kau pikir dirimu sudah pantas menyebut dirimu bagian dari keluarga kami?" Ibu Melati mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan.

"Sadar dirilah sedikit, Laras. Anakku sekarang adalah manajer operasional di perusahaan besar, sementara kau? Kau hanyalah seorang istri yang hanya tahu menghabiskan uang suamimu untuk hal-hal yang tidak berguna," Ibu Melati melanjutkan serangannya dengan lidah yang tajam.

Siska, yang sedari tadi hanya sibuk memperhatikan kuku-kukunya, ikut menimpali dengan nada manja yang menyebalkan. Ia sengaja menyenggol bahu Laras saat melewati istrinya itu dengan sengaja.

"Benar kata Mama, Kak. Lagipula, kehadiranmu di sini hanya akan membuat rekan-rekan kerja Kak Bagas bertanya-tanya mengapa pria sukses sepertinya memiliki istri yang terlihat seperti pembantu rumah tangga," Siska tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang di telinga Laras.

Laras memejamkan matanya sejenak, mencoba menelan pahitnya kata-kata tersebut. Selama ini, ia memang menyembunyikan kenyataan bahwa uang yang membiayai gaya hidup mewah mereka, termasuk biaya pakaian mahal Siska, berasal dari bisnis kosmetik yang ia bangun dengan keringat sendiri secara diam-diam.

"Aku tidak bermaksud mempermalukan kalian," Laras berujar dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap tegak berdiri.

"Aku hanya ingin merayakan pencapaian Bagas hari ini, karena aku adalah istrinya," Laras menatap langsung ke mata Bagas, mencari sedikit saja sisa kehangatan yang dulu pernah ada.

Bagas justru tertawa sinis, ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Laras dan membisikkan sesuatu dengan suara yang cukup keras agar keluarganya bisa mendengarnya.

"Istri? Kau hanya status di atas kertas, Laras. Jangan pernah merasa dirimu lebih berharga dari sekadar pelayan di rumah kami," Bagas menarik tubuhnya kembali dan menatap istrinya dengan sorot mata yang picik.

"Jika kau memang ingin merayakan sesuatu, pergilah pulang dan bereskan rumah. Pastikan lantai sudah bersih dan makanan sudah tersedia di meja sebelum aku pulang nanti malam," Bagas memberi perintah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Tanpa menunggu jawaban dari Laras, Bagas kembali membalikkan tubuh dan merangkul lengan ibunya. Mereka bertiga terus melangkah menuju meja reservasi yang telah disiapkan sebelumnya, meninggalkan Laras sendirian di area lobi restoran yang mewah.

Beberapa pelayan restoran tampak melirik ke arah Laras dengan pandangan kasihan, namun mereka tidak berani ikut campur dalam drama keluarga tersebut. Laras berdiri mematung di sana, memperhatikan punggung suaminya yang kian menjauh.

Di dalam pikirannya, Laras mulai menghitung setiap detik dari penderitaan yang ia alami selama tiga tahun ini. Ia teringat bagaimana ia bekerja sampai larut malam demi mengurus bisnis online-nya, sambil tetap menjalankan kewajiban sebagai menantu yang patuh.

"Apakah ini akhir dari segalanya?" Laras bertanya pada dirinya sendiri dalam diam.

Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit. Meskipun hatinya terasa hancur berkeping-keping, ia menolak untuk menangis di tempat umum seperti ini. Ia adalah seorang pebisnis, seorang wanita mandiri yang selama ini hanya berpura-pura lemah demi menjaga keutuhan rumah tangga.

Siska sempat menoleh ke belakang sekali lagi, memberikan tatapan ejekan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kaca utama restoran. Laras bisa mendengar suara tawa riang mereka dari dalam, sebuah kontras yang sangat kontras dengan kesunyian yang ia rasakan sekarang.

Laras pun memutar balik badannya, melangkah keluar dari lobi restoran menuju area parkir. Angin malam yang dingin berhembus menerpa wajahnya, namun ia sama sekali tidak menggigil. Fokusnya saat ini hanya satu, yaitu kembali ke rumah utama dan mulai menyiapkan langkah-langkah selanjutnya yang telah ia rencanakan matang-matang bersama pengacaranya.

Sesampainya di mobilnya yang sederhana, Laras duduk di balik kemudi dengan tenang. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan notifikasi pesan dari Pak Hendra, pengacaranya, yang menanyakan apakah semua dokumen sudah siap untuk proses selanjutnya.

"Ya, semuanya sudah siap," Laras berbisik pada dirinya sendiri dengan nada yang dingin dan tegas.

Ia tidak akan lagi menjadi istri yang disia-siakan. Ia tidak akan lagi menjadi benalu di mata mereka, karena ia sendiri yang selama ini menjadi tulang punggung yang membiayai kesombongan mereka.

Laras menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan gedung restoran mewah itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat ia datang tadi. Ia tidak butuh perayaan, ia tidak butuh pengakuan dari mereka yang tidak tahu berterima kasih.

Saat mobilnya melaju membelah jalanan kota yang ramai, Laras menatap jalan di depannya dengan tatapan lurus. Ia tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya tidak akan sama lagi. Setiap inci dari rumah, setiap sen dari aset, dan setiap pengorbanan yang telah ia berikan akan ia ambil kembali.

Ia memutar musik pelan di dalam mobil, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai menyusun strategi besar. Ia tahu Bagas akan terkejut saat ia akhirnya menunjukkan siapa sebenarnya pemilik dari semua aset yang mereka banggakan selama ini.

Rumah besar di Perumahan Mawar, mobil mewah yang dipakai Bagas, bahkan perhiasan yang melilit leher Ibu Melati, semuanya akan segera kembali ke tangan yang benar. Laras memacu kendaraannya, tidak ada lagi rasa ragu di dalam hatinya yang kini sudah mengeras seperti baja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!