NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Darah hangat menetes dari lubang hidung Ren, jatuh membentuk bercak merah di atas lantai marmer yang retak.

Kepalanya berdenyut perih menahan beban sensorik yang menumpuk. Di balik pelipisnya yang basah oleh peluh dingin, rasa sakit dari belasan kematian yang baru saja ia lalui berputar tanpa henti.

Leher terkoyak taring bergerigi, dada remuk tertimpa reruntuhan pilar batu seberat ribuan kilogram, dan daging melepuh disembur api asam mendidih—setiap rasa sakit itu membekas pekat di saraf otaknya. Tubuhnya bertumpu pada kedua lutut di atas lantai marmer, jemarinya mencakar ubin berusaha mengunci sisa kewarasannya yang nyaris koyak.

Menanggung ingatan mati belasan kali dalam rentang waktu beberapa menit adalah siksaan yang meremukkan daya tahan mental manusia biasa. Setiap kali tubuhnya hancur meregang nyawa, kesadarannya ditarik paksa kembali ke titik tiga puluh detik sebelumnya. Ia dipaksa menatap monster yang sama, lantai berlumut yang sama, dan kawan-kawan yang berdiri menunggu ajal tanpa menyadari bahaya maut yang mengintai di depan mata.

Rasa lelah dan perih di sekujur tubuh sempat membuatnya ingin menyerah di atas lantai dingin. Ketika ia mencoba memanjat pilar marmer untuk menusuk mata monster dari atas, tubuhnya terjepit di bawah reruntuhan batu yang amblas. Ketika ia mencoba berlari ke sisi kiri untuk memancing monster menjauh dari barisan rekrutan, gelombang raungan ultrasonik monster merusak gendang telinganya sebelum tubuhnya tercabik cakar. Dan ketika ia berhasil mendekati perut monster, semburan api asam sekunder dari celah insang dada membakar tubuhnya hingga habis dalam hitungan detik.

Namun, rasa sakit berulang itu memberinya satu keunggulan mutlak: data presisi medan tempur.

Melalui darah yang tumpah berkali-kali, ia merekam setiap jengkal pola serangan monster itu di dalam kepalanya. Sudut ayunan cakar kanan, jeda kepakan sayap sebelum duri ditembakkan, kebiasaan ekor tengah yang selalu mematuk lebih dulu, hingga detik saat para penyihir bangsawan di barisan belakang menembakkan mantra pemusnah mereka tanpa memedulikan siapa yang berdiri di garis lintasan.

"Ren," suara serak Vargas kembali terdengar di sampingnya, memecah dengungan tajam di telinga. "Buka telingamu lebar-lebar kalau kau masih mau melihat jatah—"

"Paman," potong Ren dengan suara parau yang tersendat oleh rasa asin darah di tenggorokan.

Ia menyeka darah di hidung dan bibirnya dengan punggung lengan seragam kulit yang kusam, lalu memaksa kedua kakinya berdiri tegak di atas ubin dingin. Otot pahanya yang gemetar ia paksa menegang kuat demi menopang bobot tubuhnya.

Vargas menoleh dengan mata membelalak saat melihat wajah Ren yang pucat dengan lelehan darah di dagunya. Di barisan belakang regu pelopor, Shizuka memekik kecil tertahan sambil menatap Ren dengan cemas, botol obat di tangannya bergetar halus. Di samping Shizuka, Riku memeluk busur kayunya semakin erat dengan lutut gemetar melihat kondisi rekannya yang berdarah tanpa sebab yang jelas.

"Bocah... kau kenapa?" bisik Vargas dengan nada cemas bercampur heran. "Wajahmu pucat dan hidungmu berdarah sebelum monster itu keluar dari kabut."

"Dengarkan aku, Paman," bisik Ren cepat, matanya terpaku ke arah kabut ungu yang mulai bergulung di ujung aula. "Jangan tancapkan perisaimu di sela retakan pilar ketiga. Di bawah retakan itu ada rongga asam yang akan melelehkan engsel perisaimu saat monster itu mendarat."

Vargas mengerutkan dahinya yang penuh bekas luka tempur. "Pilar ketiga adalah titik paling kokoh untuk menahan hempasan—"

"Mundurlah empat langkah ke arah pilar kedua," potong Ren tegas tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar. "Posisikan perisaimu miring ke kiri untuk membelokkan gelombang angin ke dinding samping. Ikuti kata-kataku kalau Paman masih mau melihat matahari luar menara ini."

Vargas menatap tajam ke sepasang mata Ren. Sorot mata pemuda di hadapannya memancarkan ketegasan dingin dari seseorang yang sudah menyaksikan kehancuran tersebut berulang kali secara nyata. Tidak ada keraguan, hanya kepastian mutlak yang lahir dari pengalaman berdarah.

"Bagaimana kau bisa tahu hal semacam itu..." gumam Vargas pelan, namun kakinya tetap bergeser mundur empat langkah ke arah pilar kedua sesuai instruksi.

Sebelum veteran itu sempat bertanya lebih jauh, lantai aula berguncang hebat.

Raungan buas sang monster memecah keheningan aula katedral, disusul derak marmer yang remuk dan denting pecahan rantai besi yang putus disapu cakar depan. Di barisan belakang, perintah dingin Julius kembali terdengar memberi aba-aba bagi para penyihir untuk menyiapkan lingkaran sihir pemusnah.

Peristiwa itu bergulir persis seperti urutan yang telah terpatri di kepala Ren. Tiga prajurit muda melompat maju dengan rantai besi, dan detik berikutnya tubuh mereka terpental berlumuran darah disapu kibasan ekor sang monster. Jeritan ngeri membelah udara pengap aula.

Ren menarik napas dalam-dalam, mengabaikan denyut ngilu di dadanya, dan mulai melangkah maju menyongsong monster.

Ia bergerak cepat dengan pola berliku yang telah ia latih melalui rasa sakit dari kematian-kematian sebelumnya. Tiga langkah cepat ke kanan, satu langkah menyamping ke kiri, lalu melompati celah marmer tepat saat rekahan batu di bawahnya meletupkan cairan asam hijau yang mendidih membakar udara.

Begitu tumitnya menapak marmer yang kering dan kokoh, cakar depan kanan monster menyapu mendatar dengan kecepatan tinggi.

Ren langsung merendahkan badan, meluncur di atas lantai marmer yang berdebu. Ujung kuku hitam monster melesat beberapa jengkal di atas kepalanya, memotong helai rambut dan merobek tepi kain seragamnya tanpa melukai kulit. Hembusan angin tajam dari kibasan cakar meniup wajahnya, menyebarkan bau belerang yang pekat.

Saat cakar monster itu lewat di atas kepalanya, sayap berduri di punggung makhluk itu terangkat dan mengepak ke depan untuk melepaskan hujan duri beracun.

Ren berlari menukik lurus ke arah bawah perut raksasa sang monster.

Di bawah lengkungan sayap dan rongga dada monster itu terdapat ruang sempit yang terlindung dari lintasan tembakan duri di punggung. Itu adalah zona aman yang ia temukan setelah dua kali tewas tertembus duri beracun.

Ratusan duri hitam menghujani lantai aula di belakangnya dengan suara benturan keras, menghancurkan marmer menjadi serpihan runcing dan kubangan racun yang mendesis panas. Di bawah bayangan perut monster yang pengap oleh uap belerang, Ren meluncur dengan kedua lututnya, sepenuhnya terhindar dari hujan duri maut.

Ekor berduri sang monster meliuk ke bawah dari sela kakinya, mematuk lurus ke arah kepala Ren.

Ren sudah mengantisipasinya. Kepala ekor bagian tengah selalu mematuk lebih dulu sebelum dua ekor samping bergerak menyusul.

Ren menggenggam gagang tombak perunggu pendeknya dengan kedua tangan, memusatkan seluruh sisa tenaga di otot lengannya, lalu menghunjamkan mata tombak ke atas, tepat pada celah pertemuan sisik di bawah leher ekor tengah.

Mata perunggu tombaknya menembus celah lunak di antara lempeng sisik hitam monster dengan suara robekan yang renyah.

Cairan darah hijau berbau tajam menyembur keluar dari luka tusukan, membasahi kain lengan baju Ren dan membakar kulitnya dengan rasa perih yang menyengat. Monster itu melolong keras karena rasa sakit mendadak dari mangsa kecil yang seharusnya sudah remuk di bawah kakinya.

Ekor monster menggelepar liar di udara, kehilangan kendali serangannya dan memberi Ren waktu berharga untuk melepaskan gagang tombak lalu berguling keluar dari bawah perut monster yang berguncang.

"Paman Vargas! Sekarang!" teriak Ren dari balik kepulan debu batu yang berhamburan.

Di dekat pilar kedua, Vargas yang telah memiringkan perisai besinya sesuai petunjuk Ren berhasil menahan gelombang hempasan angin dan serpihan batu tanpa kehilangan keseimbangan. Mendengar seruan Ren, veteran itu segera menghentakkan perisainya ke lantai marmer dengan suara denting keras, memancing perhatian monster yang sedang murka ke arahnya.

Monster zirah hitam memutar tubuhnya dengan geram, mengangkat kepala tinggi-tinggi dan membuka rahangnya lebar-lebar untuk menyemburkan api asam ke arah perisai Vargas.

Saat kepala monster terangkat tinggi ke udara, celah tipis di bawah leher berzirahnya terbuka lebar tanpa perlindungan sisik obsidian.

Titik celah itu telah dibayar Ren dengan belasan kematian dan rasa sakit yang menguras kewarasannya.

Di barisan belakang yang terlindung perisai emas, Julius von Ravensburg mengangkat rapier kristalnya ke udara. Sorot mata sang komandan muda berkilat tajam melihat celah serangan yang terbuka lebar di hadapannya.

"Penyihir, lepaskan tombak petir ke arah leher sekarang juga!" seru Julius lantang memberi komando tanpa memedulikan posisi Ren yang masih berada di dekat lintasan tembak.

Mantra sihir bercahaya biru terang melesat membelah udara aula dengan kecepatan mematikan, mengarah lurus ke titik lemah sang monster yang kini berdiri tanpa pertahanan di hadapan barisan ksatria kekaisaran.

Gelombang kilat sihir itu mendesing tepat di atas bahu Ren, membakar udara hingga memancarkan bau ozon dan percikan bunga api yang menyengat kulit pipinya. Tekanan mana dari mantra tingkat tinggi itu begitu padat, merontokkan sisa kain penutup kepalanya dan memaksa Ren menjatuhkan tubuh ke sela ubin marmer yang pecah.

Ledakan sihir petir menghantam telak rongga leher monster zirah hitam.

Suara dentuman keras memekakkan telinga meledak di tengah aula. Cahaya biru menyilaukan membutakan pandangan para prajurit selama beberapa detik, diiringi raungan panjang penuh penderitaan dari monster penjaga lantai sepuluh.

Lempeng sisik di lehernya hancur terkelupas, menyemburkan cairan darah hijau mendidih yang melelehkan lantai batu di sekitarnya. Tubuh raksasa berkaki enam itu terhuyung-huyung ke belakang, langkah kakinya yang berat menghantam lantai tak beraturan sebelum akhirnya menabrak pilar marmer keempat hingga retak menjalar ke kubah atas.

Debu batu dan asap hangus membumbung tinggi, menutupi sebagian besar pandangan di medan tempur.

Ren terbatuk-batuk di atas lantai marmer, menatap monster yang terluka parah itu dengan napas tersengal. Bahu kirinya kebas akibat rembesan mana liar dari tombak petir Julius, tetapi ia masih bernapas. Empat belas kematian yang ia lalui telah membimbingnya melewati neraka ini hidup-hidup.

Namun, di balik kepulan asap putih, ia melihat mata merah sang monster belum sepenuhnya padam. Makhluk itu masih menggeliat, mempersiapkan amukan terakhir yang jauh lebih mematikan.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!