Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Akademi Fajar
Tiga bulan telah berlalu sejak kejatuhan sang raksasa besi di luar Lembah Fajar.
Bangkai Armada Udara itu tidak dibiarkan membusuk. Sebaliknya, ia diubah jadi tambang emas bagi manusia fana. Ribuan pria dan wanita bekerja siang malam, membongkar kapal raksasa itu, melebur pelat-pelat baja di atas tungku dan menempanya kembali.
Dari puing-puing kapal pemusnah itu, lahir lima ribu set zirah hitam pekat dan pedang berkualitas tinggi yang kini dikenakan Pasukan Pembelah Langit.
Desa Fajar tidak lagi pantas disebut desa. Pemukiman itu berkembang jadi kota batu yang kokoh. Kota Fajar.
Dari atas tebing tertinggi yang menghadap kota, Ye Cangtian berdiri dengan tangan terlipat. Ia mengenakan jubah hitam sederhana, tanpa zirah, tapi auranya terasa sedalam lautan.
Sejak mencapai ranah Master Bela Diri, cara pandangnya terhadap dunia berubah total. Matanya kini bisa melihat aliran energi alam yang melayang di udara, menetes dari daun dan menguap dari sungai. Ia tidak perlu lagi menebak-nebak di mana letak energi. Ia bisa memegangnya.
"Pemandangan yang indah, bukan?"
Cangtian tidak menoleh saat Xing Yun melangkah mendekat. Ahli taktik itu kini mengenakan jubah abu-abu rapi dengan gulungan peta kulit yang selalu terselip di sabuknya.
Di belakangnya menyusul Long Zhan, dan Su Ling'er.
"Ini baru permulaan, Xing Yun." Cangtian berbalik menatap ketiga orang kepercayaannya. "Armada Udara itu hancur karena kesombongan Jenderal mereka. Tapi Penguasa Surga Tiran tidak akan membuat kesalahan yang sama. Saat mereka datang lagi, mereka akan datang dengan kekuatan penuh."
"Biarkan mereka datang!" Long Zhan tertawa menggelegar, meninju telapak tangannya sendiri. "Aku sudah menembus Tingkat 3 minggu lalu! Tombak baruku ini haus akan darah!"
Cangtian menggelengkan kepala nya "Satu Master Bela Diri dan satu monster Tingkat 3 tidak akan cukup menaklukkan langit, Long Zhan. Lima ribu prajurit kita di bawah sana punya semangat, tapi kultivasi mereka berantakan. Mereka berlatih tanpa arah. Kalau mereka berhadapan dengan Jenderal Bintang, semangat saja hanya akan membuat mereka mati lebih cepat."
"Lalu apa rencanamu?" Ling'er menyeka keringat di dahinya. "Kau tidak bisa membedah meridian setiap prajurit satu per satu seperti yang kau lakukan padaku dan Long Zhan."
"Benar. Aku tidak bisa." Cangtian menatap lurus ke alun-alun kota yang luas. "Karena itu, kita akan mengubah cara manusia belajar. Kita tidak akan lagi membiarkan kultivasi jadi kebetulan atau coba-coba. Kita akan menjadikannya ilmu pasti."
Ia menatap ketiga sahabatnya dengan intensitas yang membuat udara terasa berat.
"Mulai besok, kita mendirikan akademi militer pertama dalam sejarah umat manusia. Akademi Fajar. Seluruh rahasia meridian, metode pernapasan Qi, dan teknik tempur yang kutemukan akan kubuka untuk siapa saja yang punya tekad."
Mata Xing Yun melebar. Membagikan rahasia kekuatan mutlak kepada publik adalah konsep yang sama sekali belum pernah ada. Di Kerajaan Surga Tiran, kekuatan disimpan rapat-rapat oleh kasta bangsawan.
"Kau yakin?" tanya Xing Yun hati-hati. "Kalau kau bagikan semua rahasiamu, kau sedang menciptakan ribuan harimau. Bagaimana kalau suatu saat ada yang mengarahkan taringnya padamu?"
"Kalau ada manusia yang bisa melampauiku dan membunuhku, itu artinya umat manusia sudah cukup kuat untuk bertahan hidup tanpaku." Cangtian menjawab tanpa ragu. "Aku bukan penguasa, Xing Yun. Aku pedang yang membuka jalan. Akademi ini akan punya tiga pilar."
Ia berjalan mendekati batu datar di tengah tebing, mulai menggambar dengan jarinya, membakar pola di batu itu dengan Qi keemasannya.
"Divisi Pertama: Divisi Teknik dan Pedang. Aku yang memimpinnya. Untuk mereka yang meridiannya stabil. Mereka akan belajar memampatkan Qi, manipulasi energi presisi, seni berpedang. Mereka jadi kekuatan penyerang utama kita."
Ia beralih ke Long Zhan.
"Divisi Kedua: Divisi Fisik dan Penghancuran. Ini milikmu, Long Zhan. Kau melatih mereka yang meridiannya cacat atau tidak sensitif terhadap Qi, tapi punya fisik kuat. Ajari mereka memakai Qi murni untuk merobek otot sendiri dan membangunnya kembali jadi baja. Ajari mereka kebuasan tombak dan kapak. Aku ingin divisi ini jadi tembok yang tidak bisa ditembus ras dewa mana pun."
Long Zhan menyeringai lebar, memperlihatkan gigi taringnya. "Aku suka ini. Akan kubuat mereka memuntahkan darah tiap hari sampai mereka lupa rasa sakit. Aku akan menciptakan pasukan monster!"
** (Di masa depan, ribuan tahun kemudian, ajaran brutal Long Zhan ini akan berevolusi dan melahirkan klan-klan petarung garis keras, termasuk fondasi awal aliran Harimau Putih.) **
Cangtian menatap Su Ling'er, yang tampak terkejut karena tiba-tiba diperhatikan.
"Divisi Ketiga: Divisi Spiritual dan Medis. Ling'er, pasukan ini tidak akan bertahan sebulan tanpa obat-obatanmu. Kau memimpin divisi ini. Rekrut pemuda-pemudi yang cerdas—mungkin tidak pandai bertarung, tapi punya ketelitian. Ajarkan mereka mengenali tanaman beracun, menyalurkan Qi penyembuhan ke titik akupunktur, meracik cairan dari darah binatang buas."
Ling'er menelan ludah, matanya berbinar haru. Selama ini ia hanya meneliti sendirian di gubuk kumuhnya. Kini ia diberi fasilitas dan mandat untuk menciptakan pasukan medis pertama.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Cangtian," bisiknya mantap.
** (Kelak, divisi medis inilah yang akan tumbuh menjadi raksasa yang dihormati di seluruh benua—Sekte Lembah Bambu Biru.)**
"Lalu, di mana posisiku dalam akademi sucimu ini, Cangtian?" potong Xing Yun, nadanya setengah bercanda meski matanya menatap tajam. "Aku tidak sekuat kau, sebrutal Long Zhan, atau sepintar Ling'er dalam meracik tanaman."
Cangtian menatap sahabat yang pertama kali membantunya memicu pemberontakan di Gunung Darah itu.
"Kau tidak akan berada di bawah cahaya matahari akademi, Xing Yun." Ia serius. "Kau memimpin Divisi Bayangan. Kau pegang kendali intelijen, logistik, dan penyusupan. Sementara kami melatih pasukan di sini, tugasmu memastikan mata dan telinga manusia fana menyebar ke seluruh ibu kota Surga Tiran."
Xing Yun tersenyum tipis. "Posisi yang cocok untukku. Aku terima."
Di balik senyum itu, otak jeniusnya mulai berputar. Ia sadar—sementara Cangtian sibuk mengurus kehormatan militer dan akademi, seseorang harus melakukan pekerjaan kotor di belakang layar.
Seseorang harus paham bahwa perang melawan dewa tidak bisa dimenangkan hanya dengan pedang. Ia butuh racun, kelicikan, dan pengorbanan berdarah.
Keesokan paginya, matahari terbit menerangi alun-alun raksasa di tengah Kota Fajar.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, lima ribu manusia duduk bersila dalam barisan yang sangat rapi. Mereka tidak lagi memegang alat tambang. Mereka mengenakan seragam kain hitam. Di depan mereka, di atas panggung batu, Ye Cangtian duduk dengan mata terpejam.
"Tarik napas dari pusar. Rasakan aliran dingin di pangkal tenggorokan kalian." Suara Cangtian, dilapisi Qi, bergema lembut ke telinga setiap prajurit. "Jangan paksa energi itu masuk. Biarkan ia mengalir seperti air ke tempat yang rendah."
Lima ribu dada kembang kempis serentak.
Huuuffffff.....
Ketika lima ribu manusia mempraktikkan metode pernapasan Qi secara sinkron di bawah bimbingan seorang Master Bela Diri, sebuah fenomena alam yang luar biasa terjadi.
Udara di atas alun-alun bergetar hebat. Awan badai musim dingin yang menggantung di langit tersibak, terdorong pilar resonansi energi yang tercipta dari pernapasan massal itu. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyiram seluruh Kota Fajar.