NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERPISAHAN DI HALAMAN BECEK DAN PERJALANAN BARU KE JAKARTA

Pagi itu, Selasa pagi, tanggal 2 Agustus 1977.

Pagi itu bukan pagi biasa di rumah papan beratap seng berkarat milik Abdullah Bin Rais Payobadar di Pande Sikek. Pagi itu adalah pagi perpisahan. Langit di atas Gunung Singgalang cerah sekali, biru bersih tanpa kabut, seolah-olah Singgalang pun tahu hari ini ada dua anaknya yang akan merantau jauh menyeberangi lautan menuju Jakarta.

Ayam jago milik Abdullah belum berkokok, jam baru setengah lima pagi, tapi seluruh isi rumah sudah bangun. Dua lampu petromaks yang semalam sengaja dipompa terang-terang sampai pagi sebagai tanda syukur karena Andi lulus Fakultas Hukum UI, kini sudah padam, kacanya hitam berjelaga, minyaknya habis. Belum ada PLN sama sekali di Pande Sikek tahun 1977 ini. Di dapur, Siti Aminah Sikumbang sudah menyalakan tungku kayu surian sejak jam tiga pagi. Ia memasak nasi baru yang banyak, gulai ayam kampung dua ekor sekaligus, sambal lado cengkeh, dan goreng telur dadar tebal untuk bekal perjalanan 2 hari 2 malam.

Di teras, mobil kijang pick-up warna hijau tua plat B milik Ali Bin Rauf Payobadar, Uwo Ali, sudah dipanaskan sejak jam empat pagi. Bunyinya yang khas, dong... dong... dong... keras sekali memecah sunyi pagi Pande Sikek. Asap solar hitam keluar dari knalpotnya. Bak belakang pick-up yang biasanya dipakai untuk mengangkut besi karoseri di Cakung, pagi itu sudah dibersihkan dan diberi tikar pandan baru dan terpal, untuk tempat duduk Andi dan Arya nanti. Di atas bak itu sudah diikat dua koper kayu cokelat milik Andi dan Arya, koper yang dibeli baru dari Pasar Baso.

Di dalam rumah, semua keluarga besar sudah berkumpul. Ada Mamak Usman Bin Rais Payobadar dengan sorbannya, ada Darlin Aminuddin Chaniago 13 tahun, Arlan Rasyad Sikumbang 13 tahun yang kemarin ngambek main truk kayu di teras, Ibrahim 14 tahun, Faizal 15 tahun.

Di tengah rumah, di atas tikar pandan, dua orang anak muda sudah siap dengan baju terbaik mereka.

Andi Rajo Alam Sikumbang, 19 tahun, calon mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Salemba. Ia memakai kemeja putih bersih yang baru dibelikan Uwo Ali, celana abu-abu, sepatu Bata hitam mengkilap. Jam Seiko pemberian Uwo Ali di pergelangan tangan kirinya berdetak tik... tik... Ia memegang erat amplop cokelat besar berisi surat lulus UMPTN Fakultas Hukum UI, ijazah SMA NEM 52 asli.

Di sebelahnya, Arya Arsyad Sikumbang, 12 tahun, Danem 42 di atas rata-rata, yang baru saja diangkat sebagai anak pewaris bengkel karoseri Cakung. Ia memakai kemeja putih yang kebesaran, jam Seiko kebesaran di tangannya ia ikat dengan karet gelang.

Ali Bin Rauf Payobadar, Uwo Ali, dan istrinya Etek Upik, sudah siap. Uwo Ali memakai batik lengan panjang dan peci hitam.

Tibalah saat perpisahan.

Abdullah Bin Rais Payobadar berdiri di depan pintu. Matanya merah, menahan tangis. Tangannya yang kapalan karena puluhan tahun mengukir kayu surian bergetar. Ia menatap kedua putranya yang akan menyeberangi lautan.

Abdullah menarik Andi dan Arya ke dekatnya. Ia memeluk keduanya sekaligus.

"Uda Andi... Buyuang Arya... anak-anak ayah..." kata Abdullah dengan suara parau, menahan tangis. "Hari ko kalian akan barangkek jauah, ka Jakarta, ka tampek Uwo Ali marantau. Lautan akan kalian arungi, jalan lintas Sumatera nan panjang dan ba debu akan kalian lalui jo pick-up plat B hijau ko."

"Abdullah hanyo tukang ukir kayu surian, hanyo petani sawah pusako, indak bisa ma agiah kalian harato banyak, hanyo bisa ma agiah doa... tapi ado pasan dari ayah nan musti kalian ingek sampai mati."

Abdullah menatap Andi.

"Uda Andi, Andi Rajo Alam Sikumbang, anak sulung ayah, nan akan kuliah di Fakultas Hukum UI Salemba... ayah pesan... jan pernah sakali pun kalian bikin repot Uwo Ali jo Etek Upik di Cakung. Uwo Ali lah berbaik hati bana ka kito, mambawo pick-up plat B dari Jakarta ka Pande Sikek nan becek ko, ma biayai daftar ulang Hukum UI tanggal 15 Agustus beko, ma agiah tampek tingga di rumahnyo. Jangan bikin repot Uwo. Kalau Uwo manyuruah sapu bengkel karoseri nan 30 karyawan tu, sapu. Kalau Uwo manyuruah angkek ban truk 50 kilo, angkek. Ayah di Pande Sikek hanya bisa mancangkul sawah, tapi Uwo Ali di Cakung mancangkul basi."

Lalu Abdullah menatap Arya, anak bungsunya.

"Buyuang Arya... Arya Arsyad Sikumbang... anak bungsu ayah nan Danem 42... ayah tau ang masih ketek, baru 12 tahun... tapi Uwo Ali lah memilih ang jadi anak pewaris karoseri Cakung... itu amanah barek, Nak... jan pernah ang bikin repot Uwo Ali jo Etek Upik. Kalau di STM Mesin Transportasi di Cakung beko ang disuruah bongkar mesin truk sampai tangan ang hitam oli, bongkar. Kalau disuruah las karbit sampai mata ang perih, las. Ingek, ang dari Pande Sikek, anak tukang ukir kayu surian, bukan anak urang kayo Jakarta. Kerja keras, Nak. Jago namo baik Payobadar dan Sikumbang di Cakung."

Andi dan Arya mengangguk, air mata mengalir ke kemeja putih baru mereka.

Setelah ayah, kini giliran ibu.

Siti Aminah Sikumbang, yang semalam terisak-isak di bahu suaminya karena tidak mau kehilangan Arya, kini maju pelan. Ia memakai baju kurung tenun terbaiknya. Wajahnya pucat tapi tersenyum.

Siti Aminah memeluk tubuh kedua buah hatinya, Andi Rajo Alam Sikumbang dan Arya Arsyad Sikumbang, sekaligus. Pelukannya erat sekali.

"Uda Andi... Buyuang Arya... anak-anak ibu..." kata Siti Aminah terisak-isak tapi ditahan. "Hari ko kalian ka Jakarta... jauah... 2 hari 2 malam di ateh pick-up... menyeberangi lautan... ibu indak bisa ikut..."

Ia mengusap kepala Andi dan Arya bergantian, seperti waktu mereka masih bayi 3 bulan di ayunan tenun.

"Ibu pesan... dimanapun kalian di Jakarta... di Salemba, di Cakung... tetap jago diri... jan lupo makan... jan lupo minum aia putiah..."

"Tetap ingek sholat, Nak... jan pernah tinggakan sholat limo waktu... di Pande Sikek kito sholat di surau ketek jo lampu minyak tanah, di Jakarta beko sholat di masjid gadang... tapi sholatnyo tetap samo... Allah tetap samo di Pande Sikek dan di Jakarta..."

"Uda Andi calon sarjana Hukum UI... jan sombong kalau lah jadi urang hukum di Jakarta... tetap jadi anak Pande Sikek nan santun..."

"Buyuang Arya anak bungsu ibu nan baru 12 tahun... jan nakal di bengkel Uwo Ali... danga kan kato Uwo Ali jo Etek Upik... kalau kangen ibu, caliaklah jam Seiko di tangan ang tu... setiap jam tu berdetak tik... tik... itu detak jantung ibu di Pande Sikek..."

Mendengar pesan ibunya itu, Andi Rajo Alam Sikumbang dan Arya Arsyad Sikumbang tidak bisa lagi menahan tangis. Mereka memeluk tubuh ibunya erat-erat, sambil tersenyum tapi menitikkan air mata deras. Air mata mereka membasahi baju kurung tenun ibunya.

"Ibu... kami janji... kami akan jago diri... kami akan ingek sholat... kami akan pulang..." kata Andi dan Arya bersamaan.

Mamak Usman, Arlan, Darlin, Ibrahim, Faizal, semua keluarga besar menangis. Bahkan Etek Upik dari Jakarta ikut menangis.

Ali Bin Rauf Payobadar, Uwo Ali, yang dari tadi berdiri di dekat pick-up plat B hijau yang mesinnya masih menyala dong... dong... melihat jam Seiko pemberian dari tokonya sendiri. Jam sudah jam enam pagi. Matahari Singgalang sudah naik. Kapal feri di Teluk Bayur Padang yang akan membawa pick-up mereka menyeberangi Selat Sunda, berangkat jam delapan malam nanti. Mereka harus menempuh jalan lintas Sumatera yang becek hari ini juga.

Ali mengusap air matanya, lalu berkata lantang sebagai Uwo tertua.

"Sudah... sudah... cukup... kalau diteruskan menangis sampai siang, pick-up Uwo ka habis solar, kapal feri di Teluk Bayur ka tingga..."

"Abdullah, adiak denai... Siti, adiak ipar denai... titip Arlan, titip sawah pusako nan manguniang, titip ayam-ayam, titip tenunan... kami ka Jakarta dulu mambawo Uda Andi calon sarjana Hukum UI dan Buyuang Arya calon pewaris bengkel Cakung... doakan selamat di jalan, doakan salamaik mangarungi lautan..."

Abdullah dan Siti mengangguk sambil mengusap air mata.

Uwo Ali pun segera meminta mereka untuk masuk ke mobil kijang miliknya.

"Uda Andi, Buyuang Arya, naiklah ka ateh bak belakang tu, duduak di ateh tikar pandan nan alah Uwo siapkan... Etek Upik di depan jo Uwo... perjalanan kito jauah, kito akan mangarungi lautan malam ko di Selat Sunda..."

Andi dan Arya dengan berat hati melepas pelukan ibu mereka. Mereka mencium tangan ayah dan ibu mereka bergantian, mencium tangan Mamak Usman, mencium tangan Etek Upik. Lalu mereka naik ke bak belakang pick-up plat B hijau tua itu. Duduk di atas tikar pandan baru, di antara dua koper kayu dan rantang seng berisi bekal gulai ayam.

Arlan Rasyad Sikumbang yang 13 tahun yang kemarin ngambek main truk kayu di teras, kini berlari ke dekat bak pick-up, menyerahkan truk kayu surian buatannya yang kecil itu kepada Arya.

"Buyuang Arya... ko untuak ang... truk kayu surian buek ayah... bawa ka Cakung... jan lupo pulang ka Pande Sikek..." katanya dengan mata merah.

Arya menerima truk kayu itu dengan air mata mengalir, ia genggam erat di dada, di dekat jam Seiko kebesarannya.

Mesin pick-up digas, brum... brum... dong... dong... Asap solar hitam mengepul tebal, bau solar bercampur embun pagi.

Siti Aminah melambaikan kain tenunnya dari halaman becek, Abdullah melambaikan tangan kapalnya yang hitam. Semua keluarga melambaikan tangan.

Pick-up plat B hijau tua penuh debu itu pun bergerak pelan, meninggalkan halaman becek rumah papan beratap seng berkarat, meninggalkan sawah pusako yang menguning siap panen, meninggalkan jembatan bambu tempat dulu mereka berkelahi, meninggalkan dua lampu petromaks yang sudah padam dan Mamak Usman yang masih berdiri dengan sorban.

Mobil itu berbelok di tikungan jalan setapak Pande Sikek yang sempit dan becek, menuju simpang Pasar Baso, menuju jalan lintas Sumatera yang panjang dan berdebu, menuju Teluk Bayur, menuju lautan yang akan diseberangi malam nanti, menuju Selat Sunda, menuju Cakung, menuju Salemba.

Dan perjalanan baru Andi Rajo Alam Sikumbang, calon mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, beserta adiknya Arya Arsyad Sikumbang, calon pengusaha karoseri pewaris bengkel Cakung 30 karyawan, pun akhirnya bermula setelah mengarungi lautan menuju arah Jakarta, kota rantau tempat Uwo-nya telah sukses menjadi pengusaha.

Di halaman becek itu, Siti Aminah masih melambaikan kain tenunnya, sampai pick-up plat B hijau itu hilang di balik kabut pagi Gunung Singgalang, sampai bunyi dong... dong... dong... nya tidak terdengar lagi, sampai hanya tinggal jejak ban di lumpur.

Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam 19 tahun, rumah papan beratap seng berkarat itu terasa sangat sepi, tanpa detak jam Seiko, tanpa tawa Arlan main truk kayu, tanpa rumus lidi dan cengkeh di bawah petromaks.

Hanya ada tikar pandan yang masih digelar, dan bau gulai ayam dalam rantang yang tertinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!