Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Mia berdiri di tepi jalan sambil memeluk tasnya erat-erat. Matanya terus menatap ujung jalan, berharap angkot berwarna biru yang biasa ia tumpangi segera muncul.
Udara pagi terasa cukup dingin. Namun, rasa dingin itu tidak sebanding dengan sesak yang masih memenuhi dadanya sejak percakapan dengan Edo tadi.
Suaminya semakin hari memang semakin berubah.
Dulu, Edo tidak seperti itu. Dulu lelaki itu masih mau mengantarnya bekerja. Bahkan ketika motor mereka masih Astrea tua, Edo rela berangkat lebih pagi hanya agar Mia tidak perlu berdesakan di dalam angkot.
"Pegangan yang erat, ya."
Kalimat itu masih teringat jelas di kepala Mia.
Dulu, setiap kali dibonceng Edo, Mia selalu tersenyum sepanjang perjalanan.
Sekarang?
Untuk sekadar meminta diantar saja, ia malah dianggap manja.
Mia menghela napas panjang. "Kenapa kamu makin berubah, Do?"
Sebuah angkot akhirnya berhenti di depannya. "Neng, mau ke kawasan industri?" tanya sopir angkot.
"Iya, Pak." Mia segera naik. Ia memilih duduk di dekat jendela. Setelah membayar ongkos, perempuan itu menyandarkan kepalanya ke kaca.
Ponsel Nokia 225 berwarna pink milik Mia bergetar. Ia segera mengambilnya dari tas. "Kirain sms dari Edo," gumamnya tanpa suara. "Ternyata hanya notifikasi dari operator." Mia tersenyum getir.
Entah kenapa, beberapa bulan terakhir ini ia memang sering berharap mendapatkan pesan dari suaminya.
Sekadar pesan sederhana seperti, "Udah sampai? Atau, "Jangan lupa sarapan."
Namun, pesan seperti itu sudah lama tidak pernah ia terima.
Mia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Sudahlah, ngapain aku mengharapkan hal seperti itu?" Ia tidak ingin memikirkan hal itu terus-menerus. Yang terpenting sekarang adalah bekerja.
"Kiri, Bang!" teriak Mia. Sopir angkot menepi dan Mia segera turun. "Duh, udah jam enam lewat empat puluh lima menit," ujar Mia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Ia berjalan cepat menuju gerbang.
"Eh, Mia!" Mia menoleh. Seorang perempuan berseragam biru tua sama seperti dirinya berlari kecil menghampiri. "Baru datang juga?" tanyanya.
Mia mengangguk. "Iya, Teh Neng."
Neneng terkekeh. "Kukira kamu udah datang dari tadi. Tumben banget datangnya mepet begini."
"Tadi angkotnya agak lama."
"Oh." Neneng membulatkan bibir.
Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruang produksi. Begitu memasuki ruangan, suara mesin jahit yang bersahutan langsung menyambut mereka.
Mia menempati tempat duduknya di line lima. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai pemanasan.
Tak lama, pemberitahuan bahwa seluruh karyawan harus segera masuk terdengar dari pengeras suara.
Berhamburanlah para karyawan yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan itu. Duduk di tempat masing-masing.
"Bismillah. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin." Tangan Mia mulai sibuk mengoperasikan mesin jahit. Jarum bergerak naik turun dengan cepat. Satu potong pakaian selesai. Kemudian potongan berikutnya. Begitu terus hingga waktu makan siang tiba.
"Mia!" Neneng menepuk pundak rekan kerjanya itu.
"Iya, Teh?"
"Makan, yuk."
Mia menggeleng. "Teteh duluan aja. Aku mau menyelesaikan permakan. Lima lagi, Teh, nanggung."
Neneng mengerutkan kening. "Jangan terlalu rajin. Nanti target kamu malah dinaikkan."
Mia tertawa kecil. "Kalau target naik, kan uang lemburnya juga bisa nambah."
"Uang lembur buat apa?"
Mia terdiam sebentar. "Buat bayar cicilan."
"Cicilan apa?"
"Cicilan motor."
Neneng langsung menghela napas. "Motor Ninja suamimu itu?"
Mia mengangguk. "Iya, Teh."
"Ya ampun, Mia. Kamu masih bayar cicilan motor itu?"
"Iya, Teh. Soalnya gaji suamiku habis terus. Jadi ya, terpaksa... aku yang bayar setiap bulan."
Neneng menatap sahabatnya dengan prihatin. "Sekali-sekali, biarkan lah suamimu yang bayar. Biar dia nggak leha-leha dan menggantungkan semuanya ke kamu."
Mia tersenyum tipis. "Iya, Teh. Tapi 'kan kami suami istri. Saling membantu itu sudah jadi kewajiban."
Jawaban itu membuat Neneng terdiam. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya. Sebab Neneng tahu, Mia selalu berusaha membela suaminya.
Sekasar apa pun perlakuan Edo. Seberapa sering pun lelaki itu membuatnya kecewa. Mia selalu menemukan alasan untuk memaafkan.
"Mia."
"Iya, Teh?"
"Kamu bahagia nggak hidup sama Edo?"
Pertanyaan itu membuat tangan Mia berhenti bergerak. Ia menatap Neneng. "Kenapa tiba-tiba Teteh nanya begitu?"
"Pengen aja. Soalnya Teteh perhatikan akhir-akhir ini... kamu sering bengong, lesu, pokoknya kelihatan nggak bergairah sekali."
Mia tersenyum. "Aku bahagia kok, Teh. Cuma akhir-akhir ini, aku memang sedang capek aja."
"Hm, ya sudah." Neneng menepuk pundak Mia. "Kalau ada masalah, kamu jangan sungkan, langsung cerita ke aku saja ya."
"Iya, Teh."
"Aku duluan ya, kamu jangan lupa makan siang. Pokoknya harus makan siang. Jangan siksa tubuhmu sendiri, Mia."
"Siap, Teh. Udah selesai memperbaiki ini, aku akan langsung makan siang."
__________
"Do!"
Edo yang sedang menyeruput kopi menoleh. Seorang lelaki bertubuh tambun berjalan menghampirinya. "Apa, Hang?"
Ohang menepuk bahu Edo. "Semalam jadi jalan sama si Bela?"
Edo tersenyum lebar. "Jadi atuh."
"Lo nggak takut ketahuan istri?"
Edo langsung menggeleng. "Nggak lah." Ia tertawa. "Mia itu gampang banget dibohongi. Dia juga percaya dan cinta mati sama gue."
Ohang terkekeh. "Jahat banget lu."
"Jahat apanya? Dia sendiri yang mau jadi istri gue." Edo menyeruput kopinya lagi. "Selama dia masih bisa menghasilkan uang dan nggak banyak nuntut, gue santai." Kalimat itu terdengar jelas.
"Parah lo, Do," timpal Jajang. "Anak orang lo sakiti. Padahal istri lo baik banget, tapi lo malah menduakan cintanya."
"Ah, nggak usah menceramahi gue, Jang," tepis Edo ketus. "Lo urus aja rumah tangga lo," lanjutnya sambil menunjuk wajah Jajang. "Dan awas kalau lo berani buka mulut ke istri gue soal hubungan gue dan Bela!"
Jajang menggeleng, "Gue nggak akan ikut campur. Terserah lo, deh!" Lelaki yang selalu memakai topi itu beranjak pergi meninggalkan warung kopi.
"Sok suci banget sih, si Jajang. Kayak dia orang baik aja," cibir Edo.
"Kan si Jajang emang orang baik, Do. Dia mah setia sama istrinya. Nggak kayak lo!" kekeh Ohang sambil menonjok bahu Edo.
"Ah, lo mah. Gue kayak gini juga karena si Mia membosankan, Hang. Gue kehilangan gairah sama dia. Lo lihat aja, bentukan istri gue kayak gimana? Tubuh kurus kering, wajah kusam, mulai ada flek hitam, nggak bisa dandan, penampilannya aja kayak emak-emak umur empat puluh tahunan, hobinya nyerocos melulu. Ilfeel gue lihatnya..." Edo menjeda ucapannya untuk meneguk kopi lagi. "Makanya gue berpaling ke Yayang Bela yang aduhai." Senyum nakal tersungging di bibirnya. "Dia mah nggak ngebosenin. Jauh banget dari si Mia. Cantik, dan masih muda. Dipamerin oke, dipeluk apalagi. Hangat banget, Hang. Bikin gue pengen ketemu terus! Mana wangi lagi! Hahaha!" tawanya mengudara.
"Anjing lo!" Ohang kembali meninju bahu Edo. "Ya jelas lah si Bela lebih dari Mia... dia kan masih daun muda. Tapi menurut gue nih, ya... istri lo juga kalau nggak sibuk kerja, dan nggak ngurusin lo yang banyak mau kayak gini... bakal jauh lebih segalanya dari si Bela. Perempuan tuh bakal cantik kalau ada dananya."
"Tai ah!" Edo menepis pendapat Ohang mentah-mentah. "Meskipun banyak duit, si Mia mah nggak bakalan cantik kayak Yayang Bela. Dia kan udah tua. Sama gue aja beda tiga tahun. Mia tuh beruntung dapetin berondong kayak gue!" lanjut Edo menepuk dadanya bangga.
Ohang tertawa ngakak. "Beruntung dari mananya, Do? Yang ada si Mia malah buntung. Terus-terusan diperas sama berondong gelo kayak lo!"
"Gelo siah!" Kini giliran Edo yang meninju bahu Ohang.
_______
Mia membuka bekalnya setelah menunaikan salat zuhur. Ia menatap nasi dan telur dadar di dalam kotak makan. "Bismillah..." Mulailah Mia menyuapkan makanan ke dalam mulut. Perlahan tapi pasti, bekal itu pun akhirnya habis.
Setelah meneguk air minum yang dibawanya, Mia bergegas masuk lagi ke ruang produksi.
"Mia, kamu sudah makan siang?" tanya Neneng yang sudah duduk di depan mesin obras, tepat di depan meja Mia.
"Udah, Teh. Baru saja," jawab Mia sambil duduk.
"Syukurlah." Neneng tersenyum lega. "Katanya nanti malam, baju yang dijahit line delapan bakal ekspor ya?"
"Wah, yang bener, Teh?" tanya Mia sambil merenggangkan kedua tangan.
"Iya, barusan Teteh dengar dari leader line delapan, Bu Fatma. Tapi katanya masih banyak permakan. Mana di line delapan ada beberapa karyawan yang nggak masuk lagi."
"Aduh, gawat dong!" seru Mia. "Bisa-bisa keteteran!" lanjutnya.
"Iya, kayaknya mereka bakal lembur deh. Bisa jadi minta bantuan line lain."
Angguk-angguk kepala Mia. "Bisa jadi, Teh."
Belum sempat obrolan itu berlanjut lagi, pengumuman waktu istirahat telah habis berkumandang dari pengeras suara. Para pekerja mulai kembali mengisi posisi masing-masing.
Mia juga kembali fokus pada pekerjaannya.
Detik berubah menjadi menit, dan menit pun berubah menjadi jam. Hingga tak terasa waktu pulang pun tiba. Pengeras suara kembali berbunyi, menyuruh para karyawan untuk beres-beres. "Terkecuali karyawan Line delapan dan beberapa karyawan yang ditunjuk untuk membantu Line delapan, diminta tetap berada di area produksi karena hari ini akan dilaksanakan lembur."
Bu Ayu, Leader Line lima menghampiri Mia. "Mia, kamu ikut lembur, ya. Bantu Line delapan. Mereka kekurangan orang dan targetnya masih banyak."
Mia langsung mengangguk. "Siap, Bu."
"Kamu nggak keberatan?"
"Nggak, Bu. Kebetulan saya memang mau lembur." Mia justru merasa lega. Semakin banyak jam lembur, semakin besar uang yang bisa ia bawa pulang untuk membantu membayar cicilan motor.
"Bagus!" Bu Ayu mengangguk senang. Wanita berkerudung itu kemudian menghampiri operator lain di belakang Mia, meminta lembur juga.
Neneng menoleh ke belakang, "Semangat ya, Mi. Aku pulang duluan," pamitnya.
"Iya, Teh. Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Neneng mengangguk sambil melempar senyum kecil.
"Alhamdulillah, aku diajak lembur," batin Mia bahagia.
______
Motor yang dikendarai Edo berhenti tepat di depan gang. Mesin dimatikan, Edo melepas helm.
Tak lama kemudian, Bela muncul dengan penampilan yang tidak terlihat seperti gadis seusianya. Celana jeans dan kaus lengan panjang ketat membungkus tubuh gadis itu, membuat lekuk tubuhnya menonjol.
Edo seketika tersenyum lebar, bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kagum. "Pacarku cantik dan seksi sekali," batinnya.
Bela berjalan menghampiri Edo dengan senyum manis. "Aa udah lama nunggu?" tanyanya.
"Nggak." Edo segera turun dari atas motor. "Aa baru saja datang." Jemarinya membelai kepala Bela. "Sayang, kamu cantik banget. Aa jadi nggak kuat ingin segera..." Edo menggantungkan ucapannya, ia merunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Bela. "Memelukmu," lanjutnya nakal.
Bela spontan memukul dada Edo. "Aa nakal."
"Beneran, Sayang. Aa ingin segera membawamu pergi ke tempat yang indah."
Bela tersipu. "Iya, Aa. Aku juga sebenarnya udah nggak kuat. Tapi aku nggak mau kayak tadi malam ah. Masa mesra-mesraannya di kebun orang. Aku mau di tempat yang nyaman," rengek Bela dengan bibir mengerucut.
Edo mencomot bibir merona kekasihnya itu. "Siap, Sayang. Kita pergi ke tempat yang nyaman. Yuk buruan naik," ajaknya.
Wajah Bela berbinar. "Ayo!"
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪