NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33.Canggung

Suara langkah kaki yang teratur bergaung di sepanjang lorong marmer ruang tamu utama kediaman Adikara. Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun dengan kacamata berbingkai emas melangkah masuk, didampingi oleh dua asisten muda yang membawa beberapa koper kain berukuran besar serta buku sketsa tebal.

"Selamat pagi, Pak Kaivan," sapa wanita itu seraya menundukkan kepala penuh hormat. "Saya Desi, perancang busana yang dipanggil oleh sekretaris Anda."

Kaivan yang sedang berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan tersimpan anggun di saku celananya, berbalik pelan. Wajahnya telah kembali dipasang rapat dengan topeng ketegasan yang dingin, meski gurat merah manis di ujung telinganya bekas kejadian di meja makan tadi belum sepenuhnya pudar.

"Selamat pagi, Bu Desi," sahut Kaivan dengan suara bariton yang berat dan tenang. "Terima kasih sudah datang tepat waktu."

"Tentu saja, Pak Kaivan. Sebuah kehormatan untuk melayani keluarga Adikara," jawab Bu Desi ramah seraya memberi isyarat kepada kedua asistennya untuk menyiapkan pita ukur dan lembar catatan. "Sekretaris Anda menyampaikan bahwa kami diminta menyiapkan seluruh kebutuhan busana harian, pakaian formal, hingga gaun malam untuk Nyonya Aruna."

Mendengar sebutan 'Nyonya Aruna', dada Kaivan berdesir aneh. Ada kehangatan konyol yang mendadak mekar di ulu hatinya, namun ia berdehem kencang untuk menutupi getaran itu. Ehem.

"Ya. Siapkan yang terbaik. Kain berbahan paling lembut, ringan, dan tidak mengiritasi kulit," paut Kaivan tegas, nada bicaranya sangat menuntut detail. "Pastikan desainnya nyaman. Dia tidak suka pakaian yang terlalu terbuka atau terlalu ketat."

Bu Desi tersenyum profesional seraya mencatat poin-poin tersebut di tablet kerjanya. "Baik, Pak. Bisa saya bertemu dengan Nyonya Aruna sekarang untuk mengukur bentuk tubuh beliau?"

Tepat pada saat itu, langkah kaki pelan terdengar mendekat dari arah koridor dalam. Aruna muncul dari balik pilar megah. Gadis itu sudah mengganti gaun tidurnya dengan pakaian santai berupa rok panjang dan kaus bertangan panjang yang agak longgar. Tangan kanannya masih terbebat perban tipis, dan wajahnya dipenuhi rasa canggung luar biasa ketika melihat beberapa orang asing telah berkumpul di ruang tamu mewah tersebut.

Kaivan memutar tubuhnya, menatap Aruna yang berdiri ragu di ambang pintu. Tatapan mata pria itu seketika melunak—sebuah perubahan drastis yang disadari oleh Bu Desi dengan sudut mata yang memicing geli.

"Sini, Aruna," panggil Kaivan dengan nada suara yang jauh lebih halus dibanding saat ia berbicara pada perancang busana tadi.

Aruna melangkah mendekat dengan perlahan. "Ada apa, Pak Kaivan?"

"Ini Bu Desi, penjahit pribadi yang kuceritakan semalam," ujar Kaivan seraya menggeser posisinya sedikit, memberi ruang untuk Aruna. "Beliau akan mengukur tubuhmu dan membuatkan pakaian-pakaian baru."

Aruna menatap Bu Desi, lalu menatap koper-koper besar berisi sampel kain sutra, wol, dan katun premium yang terhampar di atas meja kaca. Rasa canggung dan tidak enak hati mendadak menghimpit dada gadis itu. Selama hidupnya, ia tidak pernah dibelikan baju baru, apalagi sampai mendatangkan perancang busana kelas atas ke rumah.

"Pak... ini sepertinya tidak perlu," bisik Aruna lirih, mencoba berbicara sepelan mungkin agar hanya Kaivan yang mendengar. "Baju-baju saya yang kemarin kan sudah dikeringkan oleh Bi Asih. Saya masih bisa pakai baju yang lama..."

Mendengar bisikan polos itu, Kaivan menatap Aruna tajam, namun bukan tatapan marah melainkan tatapan gemas yang ditahan mati-matian.

"Pakaian lamamu sudah bersih, tapi kau butuh pakaian lain yang layak," potong Kaivan pelan namun tak membantah. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Aruna. "Jangan membuatku harus memaksa atau menyuapimu pakaian seperti saat makan bubur tadi."

Ancaman halus itu seketika membuat wajah Aruna merona merah padam. Gadis itu buru-buru menundukkan kepala kaku, tidak berani mendebat lagi. "I-iya, Pak..."

Melihat kepatuhan Aruna yang menggemaskan, sudut bibir Kaivan terangkat sangat tipis sebelum ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Bu Desi. "Silakan dimulai."

"Baik, Pak Kaivan. Mari, Nyonya Aruna, berdiri di sebelah sini," sapa Bu Desi hangat, membimbing Aruna berdiri di tengah karpet bulu yang lembut.

Salah satu asisten wanita Bu Desi melangkah mendekat seraya membawa pita pengukur berbahan kain fleksibel. Asisten itu mulai mengukur lingkar bahu Aruna, panjang lengan, hingga panjang gaun yang diinginkan. Aruna berdiri mematung, merapatkan kedua tangannya kaku di samping tubuh.

Kaivan duduk di atas sofa tunggal tak jauh dari sana. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya memperhatikan setiap inci proses pengukuran tersebut dengan tingkat ketelitian yang mengagumkan—atau lebih tepatnya, pria itu sedang memanfaatkan situasi untuk terang-terangan menatap Aruna tanpa perlu takut ketahuan.

"Permisi ya, Nyonya... saya ukur lingkar dadanya dulu," ucap asisten perancang busana seraya melingkarkan pita pengukur di sekeliling dada Aruna.

Proses itu mengharuskan sang asisten merapatkan berdiri di hadapan Aruna. Namun karena gaun santai Aruna agak longgar, pita pengukur itu sempat tersangkut pada lipatan kain. Sang asisten mencoba membenarkannya, tetapi tangannya yang mendekati area dada Aruna membuat Aruna refleks agak menegang kaku dan mundur setengah langkah karena terkejut.

Brak.

Suara cangkir teh yang diletakkan agak keras di atas meja kaca mengagetkan semua orang di ruangan itu.

Kaivan mendadak berdiri dari duduknya. Garis wajahnya menegang keras, alis tebalnya bertaut rapat. Ada aura protektif yang mendadak meledak keluar dari tubuh tinggi tegap tersebut.

"Biar aku yang pegang kain bagian belakangnya supaya tidak tersangkut," cetus Kaivan dingin seraya melangkah lebar mendekati mereka.

Bu Desi dan kedua asistennya melongo heran, sementara Aruna membelalakkan matanya tidak percaya.

"P-Pak Kaivan?" cicit Aruna kaget. "Bapak mau apa?"

"Kain bajumu menumpuk di belakang, makanya pitanya tersangkut," elah Kaivan dengan wajah amat serius, seolah-olah ia sedang menangani krisis saham bernilai triliunan. Pria itu mengambil alih posisi di belakang tubuh Aruna, berdiri sangat dekat hingga dada bidangnya hampir menempel pada punggung Aruna.

Kedua tangan Kaivan terulur, jemari besarnya merapikan lipatan kain di bagian belakang pinggang Aruna. Sentuhan telapak tangan Kaivan yang hangat di pinggangnya membuat Aruna menahan napas seketika. Tubuh gadis itu membeku total, merasakan sensasi tersetrum halus yang merayapi seluruh tulang belakangnya.

"Genggam bahuku kalau kau merasa limbung," bisik Kaivan sangat pelan dari belakang kepala Aruna. Suaranya yang berat dan dalam bergema tepat di tengkuk leher Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah.

"S-saya tidak limbung, Pak..." bisik Aruna gemetar, berusaha menahan detak jantungnya yang sudah berdentang seperti drum perang.

"Sudah, diam saja," potong Kaivan kaku, padahal sebenarnya telapak tangannya sendiri di belakang pinggang Aruna juga ikut bergetar halus. Rasa gengsi dan keinginan untuk selalu menyentuh serta melindungi Aruna bergelut hebat di dalam kepala sang presdir.

Bu Desi yang menyaksikan adegan tersebut di depan matanya harus menahan napas seraya menutupi mulutnya dengan buku sketsa. Perancang busana senior itu menyenggol lengan asistennya pelan, memberi kode mata penuh arti. Siapa yang tidak tahu bahwa Presdir Kaivan Adikara dikenal sebagai pria dingin yang anti-sentuhan dan sangat membenci interaksi tak penting? Namun kini, pria bernilai triliunan itu justru bersukarela menjadi 'asisten pengukur baju' demi bisa berdiri menempel di dekat wanita pilihannya.

"Ehem... baik, Pak Kaivan," ujar Bu Desi seraya tersenyum penuh makna. "Bisa tolong ditahan posisi pita pengukur di lingkar pinggang Nyonya Aruna?"

Kaivan menelan ludahnya kaku. Dengan jemari yang sedikit canggung, ia menekan ujung pita pengukur tepat di pinggang ramping Aruna. Ibu jarinya secara tidak sengaja mengusap pinggang gadis itu, membuat Aruna memejamkan mata kencang-kencang seraya meremas kain roknya sendiri.

"Lingkar pinggangnya lima puluh delapan sentimeter... sangat ramping," catat Bu Desi. "Nyonya Aruna tampaknya terlalu kurus. Pak Kaivan harus lebih sering menyuapinya makan."

Jleg.

Kalimat santai Bu Desi bagai petir di siang bolong. Wajah Kaivan seketika memerah padat hingga ke leher, sementara Aruna makin menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu yang tak tertahankan.

"S-saya memang selalu memastikan dia makan tepat waktu," sahut Kaivan cepat dengan nada suara yang ditinggikan untuk menutupi kecanggungannya. Pria itu dengan terburu-buru menarik kembali kedua tangannya dari pinggang Aruna dan mundur dua langkah ke belakang.

"Baiklah, untuk sampel kain dan modelnya..." Bu Desi membuka koper besarnya, memperlihatkan puluhan gulungan kain sutra lembut bertema warna pastel dan bumi. "Nyonya Aruna lebih menyukai warna apa?"

Aruna memutar tubuhnya perlahan, memandangi deretan kain mewah tersebut. "Saya... saya terserah Pak Kaivan saja."

Kaivan yang sedang berpura-pura melipat tangannya di dada kembali melangkah mendekat. Matanya menyapu gulungan kain tersebut, lalu jemari tangannya terulur mengambil sepotong kain sutra berwarna merah muda pucat (baby pink) dan warna krem lembut.

Kaivan melangkah mendekati Aruna, membawa kain sutra krem tersebut dan menempelkannya secara perlahan di bawah dagu Aruna untuk melihat kecocokannya dengan warna kulit gadis itu.

Jarak mereka kembali terkikis rapat. Aruna mendongak tipis, menatap manik mata hitam Kaivan yang kini berjarak begitu dekat darinya. Ada ketelitian yang sangat lembut di mata pria itu—sebuah binar perhatian yang membuat dada Aruna terasa begitu penuh dan hangat.

"Warna ini cocok untukmu," bisik Kaivan lirih, jari-jarinya yang memegang kain sutra sempat menyapu lembut garis rahang Aruna. "Membuat kulitmu tampak lebih bersinar."

Aruna merasakan sapuan halus di rahangnya. Gadis itu mengerjapkan mata polosnya. "Pak Kaivan suka warna ini?"

Kaivan tertegun. Ia menatap bibir pucat Aruna yang agak terbuka, lalu kembali menatap mata jernih gadis itu. Rasa gengsinya perlahan runtuh, digantikan oleh kejujuran manis yang meluncur tanpa bisa ditahan.

"Aku suka apapun yang terlihat indah padamu," jawab Kaivan pelan, suaranya sarat akan kehangatan yang tulus.

Kalimat sederhana namun mematikan itu berhasil mengunci lidah Aruna rapat-rapat. Semburat warna merah muda mekar sempurna di kedua pipi mulus Aruna, menjangkau hingga ke ujung telinganya. Aruna buru-buru memalingkan wajahnya ke arah Bu Desi, menahan letupan bahagia dan rasa malu yang membakar dadanya.

Bu Desi yang melihat momen slow burn di hadapannya hanya bisa terkekeh pelan seraya mencatat semua pesanan. "Baik, kalau begitu kita gunakan bahan sutra krem, cashmere pastel, dan katun organik untuk semua gaun harian Nyonya Aruna."

Setelah proses pengukuran yang penuh dengan gejolak dada dan detak jantung yang tak beraturan itu selesai, Bu Desi dan para asistennya pamit mundur untuk segera memproses pakaian-pakaian tersebut.

Kini, ruang tamu megah itu kembali menyisakan Kaivan dan Aruna dalam hening yang teramat manis.

Kaivan berdiri kaku di tempatnya, mendadak bingung harus berbuat apa setelah melontarkan kalimat manis tadi. Pria itu berdehem kencang. Ehem!

"A-aku... aku harus berangkat ke kantor sekarang," ujar Kaivan terbata-bata seraya merapikan jam tangan mewahnya yang sebenarnya tidak miring sama sekali. "Ada rapat penting jam sembilan."

Aruna mengangkat kepalanya perlahan, menatap Kaivan dengan gurat kelembutan di matanya. "Iya, Pak Kaivan. Hati-hati di jalan."

Kaivan menatap Aruna selama beberapa detik. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk tidak pergi dan tetap berada di rumah menyiksa diri dengan kecanggungan manis ini. Namun tugas perusahaan memanggilnya.

Pria tinggi tegap itu melangkah mendekati Aruna satu kali lagi. Tangannya terulur kaku, lalu dengan sangat perlahan dan lembut, jemari Kaivan merapikan helai rambut hitam Aruna yang terurai di dekat telinganya, menyelipkannya ke belakang daun telinga gadis itu.

Sentuhan singkat itu membuat Aruna menahan napasnya lagi.

"Istirahatlah di rumah. Jangan melakukan pekerjaan berat," pesan Kaivan lirih, matanya menatap Aruna penuh kehangatan. "Kalau bosan... panggil Bi Asih untuk menemanimu. Paham?"

"Paham, Pak Kaivan," jawab Aruna pelan.

Kaivan membalikkan badannya dan melangkah lebar menuju pintu keluar utama. Namun, baru empat langkah berjalan, sang presdir angkuh itu kembali menyenggol ujung meja kecil di dekat pintu karena matanya sibuk mencuri pandang ke belakang arah Aruna.

Klek, tak!

Vas bunga kecil di atas meja bergoyang hebat. Kaivan dengan refleks kilat menangkap vas tersebut sebelum jatuh, lalu buru-buru menegakkannya kembali dengan wajah yang sudah memerah padam seperti udang rebus.

Tanpa menoleh lagi karena malu setengah mati, Kaivan berlari kaku keluar menuju mobil mewahnya yang sudah menunggu di depan kediaman Adikara.

Aruna yang berdiri di tengah ruang tamu menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sebuah tawa renyah dan senyuman paling manis yang pernah ada akhirnya pecah dari bibirnya, mewarnai pagi yang dingin itu dengan benih-benih cinta yang kian mekar indah di antara mereka.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!