Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : LUKA YANG MEMBAWAKU KEPADAMU
Suara tamparan Laura masih menggema di dalam ruangan.
Dinda memegangi pipinya sambil menatap Laura dengan mata berkaca-kaca, wajahnya menunjukkan seolah-olah dirinya adalah korban yang paling terluka, padahal beberapa saat lalu tangannya sendiri yang membakar gaun pemberian kakek Arthur.
Laura berdiri di hadapannya dengan napas yang memburu. Tangannya masih gemetar setelah melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah berani dia lakukan.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena membakar gaun itu,” ujar Laura dengan suara bergetar. “Itu bukan sekadar gaun, Itu hadiah dari Kakek.”
Dinda menatap Laura dengan kesal, Namun sebelum sempat menjawab, terdengar langkah kaki dari arah ruang tengah.
“Apa yang terjadi?”Suara Richard membuat Laura menoleh.
Ayahnya datang bersama ibunya, Keduanya langsung melihat Dinda yang masih memegangi pipinya, Tanpa bertanya lebih jauh, Helena segera menghampiri putrinya.
“Dinda, kenapa wajahmu?” tanya Helena panik.
Dinda menundukkan kepala, lalu air matanya mulai jatuh. “Kak Laura memukul Dinda, Mama.”
Helena langsung menatap Laura dengan marah. “Laura!”
“Aku punya alasan,” jawab Laura cepat. “Dinda membakar gaun pemberian Kakek.”
“Gaun?” Richard mengerutkan kening. “Hanya karena sebuah gaun kamu sampai memukul adikmu?”
Laura terdiam sesaat, dadanya terasa sesak mendengar ucapan itu.
“Bukan begitu, Ayah. Dinda sengaja membakarnya. Dia tahu gaun itu pemberian Kakek dan tahu betapa berartinya gaun itu untukku.”
Dinda langsung menyela sambil menangis. “Aku cuma tidak sengaja, Ayah. Kak Laura tiba-tiba marah dan memukulku.”
“Itu bohong!” bentak Laura.
“Jaga bicaramu!” bentak ayah nya dengan suara keras membuat Laura langsung terdiam.
Laura menggigit bibirnya, dia ingin menjelaskan semuanya, tetapi tatapan ayahnya sudah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun perkataannya yang ingin didengar.
“Lihat sendiri!” Laura berlari sebentar ke halaman belakang dan kembali membawa sisa gaun yang sudah hangus. Tangannya mengepal saat menunjukkan kain yang hampir tidak berbentuk lagi. “Ini yang dilakukan Dinda.”
Helena hanya melirik sekilas “Kalau memang sudah terbakar, kenapa kamu mempermasalahkannya sebesar ini?” tanyanya dingin.
Laura menatap ibunya tidak percaya. “Karena itu pemberian Kakek.”
“Arthur bisa membelikanmu yang baru,” jawab Helena seolah masalah itu tidak berarti.
“Bukan soal harga, Bu,” balas Laura dengan suara lirih. “Kakek memberikan gaun itu karena beliau mengingat ulang tahunku, Beliau memilihnya sendiri untukku.”
Dinda mengusap air matanya dan berkata pelan, “Aku juga tidak menyangka Kak Laura akan segila ini hanya karena gaun.”
Kalimat itu membuat Laura kembali menatap adiknya.
“Segila ini?” ulang Laura.
Dinda tidak menjawab.
Laura tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya, Hanya rasa sakit yang sudah terlalu lama dia tahan.
“Selama ini aku selalu mengalah, Din.”ujar Laura ke arah Dinda.
Richard menghela napas kesal. “Jangan mulai lagi dengan cerita lama.”
“Cerita lama?” Laura menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Bagi Ayah mungkin itu cerita lama tapi bagiku, itu hidupku.”
Ruangan mendadak hening Laura mengusap air matanya yang mulai jatuh.
“Sejak kecil aku selalu diminta mengalah, Kalau Dinda ingin sesuatu, aku harus memberikan. Kalau Dinda melakukan kesalahan, aku yang diminta memahami. Kalau aku sedih, aku harus diam. Bahkan ketika aku berhasil masuk ke universitas ternama, tidak ada seorang pun yang peduli.”
“Cukup!” bentak Richard.
Laura terdiam sejenak namun kali ini dia tidak menundukkan kepala “Aku hanya ingin sekali merasa dianggap sebagai anak,” lanjut Laura dengan suara bergetar. “Apa itu terlalu banyak?”
Richard yang sudah kehilangan kesabaran melangkah mendekatinya.“Kamu semakin tidak tahu diri.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Laura,
Kepalanya terdorong ke samping dan Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Laura perlahan menoleh kembali Matanya membesar, bukan hanya karena rasa sakit di pipinya, tetapi karena tidak percaya bahwa ayahnya sendiri baru saja memukulnya.
“Ayah...” suaranya hampir tidak terdengar.
“Berani sekali kamu melawan orang tua,” ujar Richard dengan emosi dengan tatapan dingin.
Helena yang seharusnya menghentikan suaminya justru berdiri di sisi Dinda.“Laura, kamu memang sudah keterlaluan,” ucap Helena.
Air mata Laura semakin deras.“Jadi... tidak ada yang mau mendengarkanku?”
Tidak ada jawaban sama sekali semua orang di sana hanya diam bahkan para pelayan dan sopir pribadi tidak berani menolong nona Laura.
Laura menatap satu per satu wajah keluarganya, tidak ada satu pun yang menunjukkan rasa khawatir kepadanya dan tidak satu pun yang berada di pihak nya.
Hanya Dinda yang berdiri di belakang Helena dengan tatapan yang sulit dibaca.
Laura mundur beberapa langkah.“Aku mengerti.”
Richard mengerutkan kening. “Mengerti apa?”
Laura menggeleng sambil menahan tangis.“Tidak apa-apa.”
Laura berbalik dan berlari menuju kamarnya Pintu kamar ditutup keras.Laura bersandar di balik pintu sambil menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar. Pipinya terasa panas dan sakit. Namun rasa sakit di wajahnya tidak seberapa dibandingkan luka yang ada di dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, Laura melihat sisa sisa gaun yang di bakar dinda dan mengambil gaun itu dia memandang kain yang sudah rusak itu dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf, Kek,” bisiknya. “Aku tidak bisa menjaganya dengan baik.”Laura memeluk gaun itu erat.
Kemudian di mengambil tas kecil dan memasukkan beberapa barang seperlunya. Tidak banyak dia bahkan tidak peduli dengan pakaian atau benda-benda lain.
Malam itu, Laura hanya ingin pergi dia membuka pintu kamar perlahan.
Rumah masih ramai, tetapi tidak seorang pun mencarinya.
Laura berjalan melewati ruang tengah tanpa mengatakan apa pun. Richard dan Helena bahkan tidak menoleh ketika Laura membuka pintu depan.
Begitu keluar dari rumah, Laura menarik napas panjang air matanya kembali jatuh.
Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar tidak memiliki rumah untuk pulang.
Laura berjalan menyusuri jalan tanpa tujuan. Langkahnya semakin lambat ketika rasa lelah mulai menguasai tubuhnya.
Sampai akhirnya dia melihat sebuah taman yang cukup sepi, Laura masuk ke taman itu dan menemukan sebuah bangku kosong di bawah pohon.
dia duduk perlahan gaun pemberian kakek Arthur yang sudah rusak tadi masih berada dalam pelukannya, Laura menundukkan kepala dan memeluk gaun itu semakin erat.
“Kenapa semua orang tidak pernah menginginkanku?” bisiknya di antara tangisan.
Tidak ada yang menjawab Hanya angin malam yang bergerak pelan melewati pepohonan dengan kesunyian malam.
sementara itu, sebuah mobil hitam melaju melewati jalan di depan taman.Di dalamnya, seorang pria duduk dengan tenang tatapannya tertuju ke luar kaca mobil.
Pria itu adalah Hero Valdren.
Sejak beberapa menit lalu, Hero sedang membicarakan urusan pekerjaan dengan sekretarisnya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seseorang di dalam taman.
Seorang wanita yang duduk sendirian di bangku, Hero menyipitkan matanya dari kejauhan, dia bisa melihat wanita itu sedang memeluk sesuatu sambil menangis entah kenapa, dada Hero tiba-tiba terasa panas.
Perasaan aneh muncul begitu saja.“Berhenti,” ucap Hero tiba-tiba.
Sekretarisnya langsung menoleh. “Tuan?”
“Berhenti sekarang.”Mobil segera menepi.
Hero membuka pintu dan turun tanpa menjelaskan apa pun dan dia berjalan ke arah Laura yang lagi duduk di bangku taman sambil memeluk sisa sisa gaun itu.
“Tuan, Anda mau ke mana?” tanya sekretarisnya.
Hero tidak menjawab tatapannya masih tertuju pada wanita yang duduk sendirian di taman dia berjalan mendekat Semakin dekat, semakin jelas wajah wanita itu terlihat.
Wajahnya memar, matanya sembap karena terlalu banyak menangis dan Hero berhenti beberapa langkah di depan Laura.
Laura yang menyadari ada seseorang berdiri di depannya perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya bertemu dengan mata Hero Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.
Laura kemudian bertanya dengan suara lemah, “Siapa kamu?”
Hero sendiri tidak mengerti mengapa hatinya terasa begitu panas saat melihat wanita ini terluka.
“Aku...” Hero berhenti sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku hanya orang biasa.”
Laura menatapnya bingung"Orang biasa?
Entah kenapa, Laura merasa pria di depannya sama sekali tidak terlihat seperti orang biasa.
Namun sebelum Laura sempat bertanya lagi, Hero memperhatikan memar di wajahnya.
Tangannya mengepal dia tidak tahu siapa yang melakukan itu dia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita ini.Tetapi melihat Laura terluka membuat sesuatu di dalam dirinya seperti terbakar.
Hero kemudian berjongkok di depan Laura.“Siapa yang melakukan ini kepadamu?” tanyanya pelan.
Laura menggeleng.“Tidak ada.”
“Kamu berbohong.” kata Hero dengan lembut.
Laura menundukkan kepala lagi.“Aku hanya... lelah.”
Melihat air mata yang terus jatuh dari mata Laura, Hero akhirnya tidak mampu menahan dirinya, dia berdiri dan perlahan menarik Laura ke dalam pelukannya.
Tubuh Laura menegang karena terkejut, Laura tidak mengenal pria ini,Namun anehnya pelukan itu terasa hangat untuk pertama kalinya malam itu, Laura tidak mendengar bentakan.
Tidak ada yang menyalahkannya tidak ada yang menyuruhnya mengalah.
Hanya ada seseorang yang memeluknya tanpa meminta apa pun,Laura akhirnya menangis lebih keras di dalam pelukan Hero.
Hero mengusap rambutnya perlahan.“Menangislah kalau itu bisa membuatmu sedikit lebih lega,” ujar Hero lembut.
Laura mencengkeram sisa gaun di tangannya sementara Hero memejamkan mata sejenak di dalam hatinya, muncul sebuah keyakinan yang bahkan tidak bisa dia jelaskan.
Wanita ini berbeda ini bukan seseorang yang ingin dia tinggalkan begitu saja.
Hero membuka matanya dan menatap Laura.“Mulai malam ini, jangan menangis sendirian lagi.”
Laura perlahan mengangkat wajahnya dan Hero menatap matanya dalam-dalam.
Kemudian dengan suara penuh keyakinan, Hero tersenyum ke arah Laura .“Kamu adalah mempelai ku.”