Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman yang Tidak Akrab
Lan Suya perlahan meletakkan sumpitnya. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan memberikan senyum tipis kepada perempuan di hadapannya.
“Sudah lama sekali, Saudari Lung.”
Perempuan itu adalah Xian Lung, salah satu teman Lan Suya ketika mereka masih kecil. Keduanya pernah menjalani pelatihan bersama di sebuah sekte. Berbeda dengan Bong Min yang menjadi sahabat dekatnya hingga sekarang, hubungan Lan Suya dengan Xian Lung sebenarnya tidak terlalu akrab. Mereka tidak pernah benar-benar sering bertemu setelah meninggalkan sekte.
Namun teman tetaplah teman. Bertemu seseorang dari masa lalu di tempat yang sama sekali tidak terduga tetap membuat Lan Suya merasa senang. Apalagi pertemuan terakhir mereka terjadi belasan tahun lalu.
Xian Lung tersenyum lebar.
“Aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Aku baru saja datang ke Kota Wuye bersama suamiku.”
Lan Suya tampak sedikit terkejut.
“Suamimu?”
Xian Lung mengangguk. Tidak lama kemudian, seorang pria berjalan dari arah belakangnya. Pria itu terlihat cukup gagah dengan pakaian rapi. Dari arah langkahnya, tampaknya ia baru saja keluar dari kamar kecil.
Xian Lung segera melambaikan tangan.
“Yen gege, kemarilah.”
Pria itu menghampiri mereka. Xian Lung kemudian tertawa kecil sebelum kembali menatap Lan Suya.
“Kalau tidak keberatan, bolehkah aku dan suamiku makan malam bersama kalian?”
Lan Suya terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak merasa keberatan dengan kehadiran Xian Lung. Hanya saja, ada Sha Nuo di meja ini. Entah kenapa, ia merasa sedikit tidak enak jika tiba-tiba mengajak orang lain bergabung.
Lan Suya kemudian melirik Sha Nuo. Tatapannya seolah meminta persetujuan. Namun sebelum Sha Nuo menjawab, Gao Rui justru tersenyum.
“Tidak apa-apa, Bibi. Semakin banyak orang makan di sini, semakin ramai.”
Lan Suya menoleh kepada Gao Rui.
“Rui’er...”
Gao Rui tersenyum santai.
“Aku tidak keberatan.”
Lan Suya kemudian kembali menatap Sha Nuo.
Pria itu hanya mengangguk.
“Tidak masalah.”
Mendengar jawaban tersebut, Lan Suya akhirnya tersenyum.
“Kalau begitu, silakan duduk.”
Xian Lung terlihat senang. Ia kemudian duduk di sebelah Lan Suya, sementara Gong Suyen mengambil tempat di samping istrinya.
Setelah duduk, Xian Lung segera memperkenalkan pria tersebut.
“Saudari Ya, ini suamiku, Gong Suyen.”
Gong Suyen mengangguk sopan.
“Salam kenal.”
“Salam kenal,” jawab Lan Suya.
Xian Lung kemudian melanjutkan dengan nada yang cukup bangga.
“Dia berasal dari Keluarga Gong di ibu kota.”
Lan Suya mengangguk. Ia mengetahui keluarga tersebut. Keluarga Gong memang termasuk salah satu keluarga terpandang di ibu kota. Mereka bahkan masuk ke dalam dua puluh besar keluarga bangsawan terbesar di Kekaisaran Zhou.
Xian Lung sendiri tidak berasal dari keluarga bangsawan besar. Pernikahannya dengan Gong Suyen jelas menjadi sesuatu yang membuatnya merasa bangga.
Setelah memperkenalkan suaminya, Xian Lung baru menyadari keberadaan Gao Rui. Ia menatap bocah itu beberapa saat. Tatapannya kemudian berpindah kepada Lan Suya.
“Kukira dia putramu.”
“Tapi dia tadi memanggilmu Bibi..”
Gao Rui yang sedang mengambil makanan langsung berhenti.
Xian Lung menunjuk Gao Rui dengan dagunya.
“Ternyata bukan, ya? Apa dia anak Lan Guan?”
Lan Suya tersenyum.
“Bukan. Dia sebenarnya,,,”
Xian Lung tiba-tiba memotong ucapan Lan Suya.
“Aku dengar kau belum menikah?”
Suasana meja langsung berubah.
Lan Suya terdiam. Gao Rui juga menghentikan gerakan tangannya. Sha Nuo yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan mereka ikut diam. Tatapannya sedikit berubah ketika mendengar pertanyaan tersebut.
Pertanyaan itu terdengar terlalu pribadi. Namun Sha Nuo tidak mengatakan apa-apa. Ia berpikir mungkin karena Xian Lung adalah teman lama Lan Suya, pembicaraan seperti itu memang dianggap biasa di antara mereka. Gao Rui juga tidak ikut campur.
Lan Suya akhirnya tersenyum masam.
“Benar.”
Xian Lung langsung menggelengkan kepala.
“Kau ini terlalu pemilih.”
Lan Suya hanya tersenyum tipis.
“Usiamu juga sudah cukup untuk menikah. Aku tidak mengerti kenapa sampai sekarang kau masih belum menemukan seseorang.”
“Aku masih punya banyak urusan,” jawab Lan Suya tenang.
“Urusan memang penting, tetapi menikah juga penting.”
Xian Lung mulai memberikan nasihat panjang. Ia bercerita bahwa dirinya dulu juga tidak terlalu memikirkan pernikahan, tetapi setelah bertemu Gong Suyen, semuanya berubah.
“Lihat aku sekarang. Menikah bukan sesuatu yang buruk. Bahkan hidup terasa lebih menyenangkan jika ada seseorang yang menemani.”
Lan Suya hanya mengangguk. Ia sebenarnya mulai merasa tidak nyaman. Namun Xian Lung tidak menyadarinya.
“Lagipula, kau bukan anak kecil lagi. Kalau terus memilih, nanti ketika usiamu semakin bertambah, pilihanmu justru semakin sedikit.”
Lan Suya menarik napas perlahan.
Gong Suyen yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
“Lung gee benar. Kalau Nyonya Ya memang belum memiliki pasangan, aku bisa membantu mencarikan seseorang.”
Lan Suya menatapnya.
“Tidak perlu.”
“Jangan sungkan,” kata Gong Suyen. “Keluarga Gong mengenal cukup banyak keluarga di ibu kota. Jika kau menginginkan pria dari keluarga baik-baik, aku bisa membantu memperkenalkan beberapa orang.”
Lan Suya tidak menjawab.
Di bawah meja, jemarinya perlahan menggenggam erat. Ia benar-benar mulai geram.
Lima tahun lalu ia sudah meminta waktu untuk menentukan sendiri siapa yang ingin dinikahinya. Lima tahun itu hampir berlalu, tetapi sekarang ia justru harus mendengarkan nasihat dari orang yang baru saja ditemuinya kembali.
Gao Rui yang duduk di sampingnya memperhatikan gerakan tangan tersebut. Bocah itu menatap wajah Lan Suya.
Sekarang ia mengerti. Bibi Ya ternyata tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
Gao Rui menoleh kepada Xian Lung dan Gong Suyen. Ia berpikir sebentar. Kemudian tanpa ragu berkata,
“Bibi Ya sebenarnya sudah punya kekasih.”
Tangan Lan Suya langsung berhenti. Sha Nuo juga sedikit membeku. Keduanya menoleh kepada Gao Rui secara bersamaan.
“...Apa?”
Lan Suya menatap bocah itu dengan mata melebar. Sha Nuo bahkan tidak menyangka Gao Rui akan mengatakan sesuatu seperti itu. Sementara Xian Lung tampak terkejut. Gong Suyen juga mengangkat alisnya.
“Kekasih?” ulang Xian Lung.
Gao Rui mengangguk dengan wajah polos.
“Iya.”
Lan Suya menatap Gao Rui dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ia ingin menghentikan bocah itu. Namun terlambat, Xian Lung langsung mendekatkan tubuhnya kepada Lan Suya dengan rasa penasaran yang jelas terlihat di wajahnya.
“Serius?”
Lan Suya terdiam. Kini ia tidak tahu harus menjawab apa.
Saat itulah Gao Rui kembali berkata,
“Iya, Nyonya Lung. Bibi Ya sudah mempunyai kekasih.”
Lan Suya langsung menoleh tajam.
“Rui’er...”
Gao Rui sama sekali tidak menyadari bahwa wajah Lan Suya mulai memerah karena panik. Ia justru merasa sudah membantu Bibi Ya keluar dari situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Xian Lung kini menatap Gao Rui dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”
Gao Rui mengangguk.
“Iya.”
Tatapan Xian Lung langsung berubah menjadi penuh rasa ingin tahu. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Gao Rui.
“Siapa kekasih Lan Suya?”
Gao Rui terdiam.
Xian Lung kembali bertanya dengan antusias.
“Pria itu berasal dari keluarga mana?”
menyedihkan di ahir, itulah gu shu...
jgn buat penasaraan