Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Hujan Kehidupan dan Perubahan Besar
Hening menyelimuti ruang singgasana itu. Tatapan Rex yang tadinya tajam dan penuh kebencian, kini berubah menjadi bingung dan rapuh. Kata-kata Elara menembus pertahanan hatinya yang telah dibangun selama ratusan tahun bagai pedang yang tajam namun lembut.
"Kalian... benar-benar tidak ingin membunuhku?" tanya Rex pelan, suaranya kehilangan aura mengerikannya.
"Membunuhmu tidak akan menyelesaikan masalah," jawab Kael sambil melipat tangan di dada. "Dunia ini akan tetap hancur jika penguasanya hilang. Kami di sini bukan untuk menjadi pengecut yang mengambil jalan pintas. Kami di sini untuk memperbaiki."
Rex menunduk memandangi tangannya sendiri. Bayangan hitam yang selama ini menjadi kekuatannya kini terlihat bergelombang tidak menentu, seolah mencerminkan kekacauan di dalam pikiran tuannya.
"Aku sudah lupa... bagaimana rasanya hidup tanpa rasa takut," bisik Rex. "Selama ini aku hanya tahu cara memerintah dan menakut-nakuti. Aku tidak tahu cara memulihkan."
"Maka biarkan kami yang mengajarimu," kata Elara ramah. Ia melangkah mendekat, dan kali ini Rex tidak mundur. "Pertama-tama... kita harus mengembalikan warna ke dunia ini."
Elara berbalik menghadap jendela besar yang menghadap ke seluruh kota. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas.
"Kekuatan Pencipta... turunlah dan basuhlah bumi ini dengan rahmatmu!"
Perlahan, langit yang tadinya mendung abu-abu dan suram mulai berubah. Awan-awan gelap itu berputar, namun bukan badai yang datang. Dari celah-celah awan, tetesan air pertama jatuh.
Tetes... Tetes...
Tapi itu bukan air hujan biasa. Setiap tetesan air itu berwarna-warni, berkilau seperti kristal cair. Itu adalah Air Hidup yang diciptakan langsung dari energi murni Elara.
Saat tetesan itu menyentuh tanah yang retak, sesuatu yang ajaib terjadi.
Tanah kering yang pecah-pecah itu langsung menyerap air itu, dan dalam hitungan detik, rumput hijau mulai tumbuh menyebar dengan cepat! Bunga-bunga liar bermekaran seketika, pohon-pohon yang tadinya kering dan gundul langsung berdaun lebat dan rindang.
Warna kembali!
Warna abu-abu pada bangunan perlahan berubah menjadi batu cokelat yang segar, atap-atap rumah kembali memiliki warna aslinya, dan langit... langit perlahan berubah menjadi biru cerah yang indah!
"Lihat! Lihat ke luar!" teriak Rex dengan mata terbelalak. Ia berlari ke jendela, tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
Dunia yang selama ratusan tahun hanya hitam putih dan kelabu, kini berubah menjadi lukisan yang hidup dan berwarna!
Di bawah sana, penduduk kota yang awalnya ketakutan dan bersembunyi, kini keluar rumah. Mereka membiarkan air berwarna itu membasahi tubuh mereka. Mereka menangis, tertawa, dan berteriak kegirangan.
"Warna! Kami punya warna lagi!"
"Hidup! Kami merasa hidup lagi!"
"Terima kasih! Terima kasih!"
Rex berdiri terpaku. Air mata mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kebahagiaan yang tulus melihat rakyatnya bahagia, bukan karena takut, tapi karena senang.
"Ini... indah sekali," gumam Rex. "Aku tidak tahu dunia bisa seindah ini."
"Dunia ini indah, Rex," kata Kael sambil menepuk bahu penguasa itu. "Hanya saja kau terlalu lama menutup matamu dengan kegelapan hingga kau lupa betapa berharganya cahaya."
Beberapa bulan berlalu.
Dunia Aethelgard berubah total. Tidak ada lagi kemiskinan atau kelaparan berkat sihir penyubur Elara. Keamanan terjamin karena Kael melatih pasukan baru yang disiplin dan adil.
Dan Rex? Ia berubah menjadi orang yang sama sekali baru. Ia melepaskan jubah hitamnya, dan kini memakai pakaian yang lebih cerah dan nyaman. Ia belajar menjadi raja yang baik, sering turun ke jalan berbaur dengan rakyatnya, mendengarkan keluh kesah mereka.
Ia bahkan menjadi murid yang taat bagi Elara dan Kael, belajar cara menggunakan kekuatan bayangannya bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk melindungi dan menjadi tempat berteduh.
Suatu hari, di taman istana yang kini sudah sangat hijau dan indah, mereka bertiga duduk berbincang.
"Jadi..." Rex tersenyum lebar, wajahnya kini terlihat jauh lebih muda dan berseri. "Kalian benar-benar akan pergi lagi?"
"Ya," jawab Elara sambil memandang ke langit. "Ada banyak dunia lain yang mungkin juga sedang menunggu bantuan kita. Tugas kita belum selesai."
"Tapi..." Rex tampak sedih. "Kalian tidak akan melupakan kami, kan?"
"Selamanya tidak," kata Kael tegas. "Dan ingat, cincin komunikasi yang kami berikan padamu... jika ada bahaya besar yang tidak bisa kalian atasi, panggil kami. Sekejap mata saja, kami akan datang."
Rex mengangguk, memainkan cincin perak di jarinya. "Aku mengerti. Terima kasih untuk segalanya, Guru. Kalian bukan hanya menyelamatkan dunia kami, kalian menyelamatkan jiwaku juga."
Keesokan harinya, perpisahan yang haru terjadi. Seluruh kota Aethelgard turun ke jalan untuk mengantar kepergian pahlawan mereka. Rex berdiri di barisan paling depan, membungkuk hormat dengan penuh rasa syukur.
Elara dan Kael melambai perpisahan. Mereka tidak membawa harta atau kemewahan, hanya membawa kenangan indah dan kepuasan batin karena telah melakukan kebaikan.
"Mari kita pergi, suamiku," kata Elara.
"Ayo, istriku," jawab Kael.
Mereka membuka portal baru. Kali ini, di dalam portal itu tidak terlihat apa-apa selain cahaya putih yang misterius dan menjanjikan petualangan baru.
Mereka melangkah masuk, menghilang dari pandangan penduduk Aethelgard selamanya, namun kisah mereka akan terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai legenda yang abadi.
(Bersambung ke Bab 29...)