NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Suara yang Tidak Pernah Pergi

Angin malam berdesir pelan, membawa aroma tanah basah yang anehnya terasa asing di hidung Raka. Ia berdiri di depan cermin tua itu, napasnya berat, matanya tak lagi berkedip.

Sejak kejadian terakhir, sejak ia melihat bayangannya tersenyum tanpa ia gerakkan, ada sesuatu yang berubah—bukan hanya di cermin itu, tapi juga dalam dirinya.

“Apa yang sebenarnya kau mau dariku?” bisiknya lirih.

Tak ada jawaban.

Namun seperti biasanya, kesunyian itu tidak pernah benar-benar kosong.

Sebuah retakan kecil muncul di permukaan cermin. Halus, seperti goresan kuku. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Retakan-retakan itu menyebar perlahan, membentuk pola seperti jaring laba-laba yang hidup.

Raka mundur satu langkah, dadanya berdegup semakin cepat.

“Ini tidak mungkin…” gumamnya.

Tiba-tiba, dari balik retakan itu, muncul bayangan. Bukan sekadar pantulan. Sosok itu berdiri lebih tegak, lebih jelas.

Dan yang paling mengerikan—ia tidak mengikuti gerakan Raka.

Sosok itu menatapnya.

Langsung ke matanya.

“Sudah waktunya,” suara itu terdengar. Tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam kepalanya.

Raka menutup telinganya, tetapi suara itu justru semakin keras.

“Kau sudah membuka pintu.

Sekarang kau tidak bisa menutupnya lagi.”

“Diam!” teriak Raka.

Ia memalingkan wajah, mencoba menjauh dari cermin.

Tapi langkahnya terhenti.

Kakinya terasa berat, seperti ditahan sesuatu dari bawah lantai.

Lalu suara lain muncul.

Pelan. Serak. Familiar.

“Raka…”

Ia membeku.

Itu suara ibunya.

Dengan perlahan, ia menoleh kembali ke cermin. Kali ini, bayangan di dalamnya bukan lagi dirinya.

Itu adalah ibunya.

Wajah pucat, mata cekung, bibirnya membiru seperti mayat yang lama terendam air. Namun ia tersenyum—senyum yang tidak pernah Raka lihat semasa hidupnya.

“Ibu…” suara Raka bergetar.

Sosok itu mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh kaca.

“Kenapa kau memanggil mereka, Nak?” bisiknya.

“Aku… aku hanya ingin melihat… hanya ingin tahu…”

“Tahu?” suara itu berubah, menjadi lebih dalam dan dingin. “Ada hal-hal yang tidak seharusnya diketahui manusia.”

Retakan di cermin semakin melebar. Suara kaca yang merekah terdengar nyaring di ruangan yang sempit itu.

Raka mundur lagi, kali ini berhasil. Namun langkahnya tersandung sesuatu—sebuah buku tua yang jatuh dari meja.

Buku itu terbuka dengan sendirinya, halamannya berdesir tertiup angin yang entah datang dari mana.

Tulisan-tulisan di dalamnya bergerak.

Secara harfiah bergerak.

Huruf-huruf itu berputar, menyusun ulang kalimat menjadi sesuatu yang baru.

Raka menatapnya dengan napas tertahan.

"Langkah ke-10: Jangan pernah menjawab ketika mereka mulai memanggil namamu dari dalam."

Darahnya terasa dingin.

Ia ingat.

Ia sudah melanggar semua aturan itu.

Dan ini adalah yang terakhir.

“Raka…”

Suara itu kembali memanggil.

Namun kali ini bukan hanya dari cermin.

Dari belakangnya.

Dengan perlahan, Raka menoleh.

Di sudut ruangan, dalam kegelapan yang seharusnya kosong, berdiri sosok lain.

Tinggi, kurus, dengan tangan

yang terlalu panjang untuk ukuran manusia. Wajahnya tidak terlihat, tertutup bayangan, tapi Raka bisa merasakan tatapannya.

“Raka…” ulang suara itu, kini lebih dekat.

Raka menutup mata, mencoba mengingat apa yang harus ia lakukan.

Jangan menjawab.

Ia menggigit bibirnya, menahan diri.

“Raka… lihat aku…”

Sosok itu melangkah maju.

Kakinya tidak menyentuh lantai.

Ia melayang, perlahan tapi pasti.

Keringat dingin mengalir di pelipis Raka.

Jangan menjawab.

Namun suara itu berubah.

Menjadi suara sahabatnya.

“Rak, tolong aku…”

Raka membuka mata.

“Dimas?”

Sosok itu berhenti.

Lalu perlahan, kepalanya miring.

Senyum tipis muncul di wajah yang kini mulai terlihat—wajah

Dimas, tapi tidak sepenuhnya.

Ada sesuatu yang salah. Mata itu terlalu gelap. Terlalu kosong.

“Kenapa kau tidak menolongku waktu itu?” bisiknya.

Raka mundur lagi.

“Aku… aku tidak tahu…”

“Kau tahu,” potong suara itu tajam. “Kau hanya pura-pura tidak melihat.”

Bayangan itu mendekat lebih cepat.

Raka menutup telinganya lagi, tapi percuma.

Suara-suara lain mulai bermunculan.

Bisikan.

Jeritan.

Tawa.

Semuanya bercampur menjadi satu, memenuhi ruangan, memenuhi kepalanya.

Cermin di depannya akhirnya pecah.

Dengan suara keras, serpihan kaca berjatuhan ke lantai.

Namun anehnya, tidak ada satu pun yang mengenai Raka.

Dari balik cermin yang kini hancur, terbuka sesuatu.

Sebuah ruang gelap.

Lebih gelap dari malam.

Lebih dalam dari bayangan.

Dan dari sana, tangan-tangan mulai muncul.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Semua meraih ke arahnya.

Raka terdiam.

Ia tahu ini adalah akhir dari semua yang ia mulai.

Namun di tengah ketakutan itu, sesuatu dalam dirinya bangkit.

Keinginan untuk bertahan.

Ia meraih buku tua itu, tangannya gemetar, dan membalik halaman dengan cepat.

Matanya mencari sesuatu—apa pun yang bisa menyelamatkannya.

Lalu ia menemukannya.

Sebuah kalimat pendek di bagian bawah halaman.

"Apa yang datang dari bayangan hanya bisa dikembalikan oleh cahaya."

Cahaya.

Raka menoleh ke sekeliling ruangan.

Gelap.

Tidak ada lampu yang menyala.

Tidak ada jendela.

Namun kemudian ia teringat sesuatu.

Senter di ponselnya.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya, mengambil ponsel itu, dan menyalakannya.

Cahaya kecil muncul.

Tidak besar.

Tidak kuat.

Namun cukup.

Saat cahaya itu diarahkan ke tangan-tangan yang keluar dari cermin, sesuatu terjadi.

Mereka mundur.

Perlahan, seperti terbakar.

Suara jeritan memenuhi ruangan.

Raka mengangkat ponselnya lebih tinggi, mengarahkan cahaya itu ke seluruh ruangan.

Bayangan-bayangan mulai menghilang.

Sosok Dimas memudar.

Sosok ibunya lenyap.

Dan lubang gelap di cermin mulai menutup.

Retakan-retakan itu menyatu kembali, seperti waktu yang diputar mundur.

Hingga akhirnya—

Semua kembali diam.

Raka jatuh berlutut, napasnya tersengal.

Cermin itu kini utuh kembali.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun Raka tahu.

Ini belum selesai.

Ia menatap bayangannya.

Untuk pertama kalinya, bayangan itu mengikuti gerakannya lagi.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Sangat halus.

Hampir tidak terlihat.

Bayangannya… terlambat satu detik.

Raka menelan ludah.

Dan di saat itu, bayangannya tersenyum.

Lebih dulu darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!