Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KELAHIRAN KEGELAPAN
Nama yang diucapkan Lunareth menggantung di udara Aula Cahaya, bukan sebagai kata, melainkan sebagai sebuah kutukan yang membeku.
Nihilum.
Bagi dunia yang teratur dan penuh cahaya ini, nama itu adalah antonim dari kehidupan. Ia bukan sekadar kegelapan biasa—karena kegelapan masih bisa ditembus cahaya, dan bayangan masih memiliki bentuk. Nihilum adalah sesuatu yang jauh lebih purba, lebih menakutkan, dan lebih asing. Ia adalah ketiadaan yang memiliki kesadaran. Ia adalah kekosongan yang lapar.
Bayangan visual yang diciptakan Lunareth masih berputar di tengah aula, memperlihatkan wujud yang terus berubah-ubah, tak pernah menetap pada satu bentuk. Terkadang ia tampak seperti lautan tinta hitam yang bergelombang, kadang seperti asap tebal yang menelan segalanya, dan kadang hanya berupa titik kecil yang gelap gulita—namun titik itu terasa begitu berat, seolah menekan seluruh ruang di sekitarnya.
“Dia bukan musuh yang bisa kita lawan dengan cara biasa,” bisik Altharion, suaranya berat memikul beban pengetahuan kuno. “Pedang tidak bisa memotongnya, sihir tidak bisa meledakkannya. Karena untuk bisa dihancurkan, sesuatu harus memiliki materi. Untuk bisa diserang, sesuatu harus memiliki eksistensi. Dan Nihilum… adalah lawan dari semua itu.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, keheningan itu terasa mencekik. Setiap sosok di sana memikirkan skenario terburuk. Jika Nihilum benar-benar bangun dan menembus batas realitas, maka apa yang menanti bukanlah kematian, bukanlah kehancuran, melainkan penghapusan. Seolah-olah mereka, dan seluruh dunia ini, tidak pernah ada sejak awal.
Tiba-tiba, Isriel menggeletakkan tangannya ke dada, wajahnya pucat pasi seolah baru saja menerima pukulan telak di ulu hati. Sayap transparannya bergetar hebat, kehilangan kilau biasanya.
“Apa yang terjadi, Isriel?” tanya Elyndra sigap, segera mendekat dan menyalurkan sedikit energi hangatnya ke tubuh sahabatnya itu.
“Aku… aku merasakan distorsi,” jawab Isriel terbata-bata, matanya terbelalak menatap kosong ke depan. “Pada aliran jiwa. Jalur yang seharusnya lancar seperti sungai besar… kini tersumbat.”
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, dan di udara muncul gambaran abstrak dari benang-benang cahaya perak—representasi dari perjalanan jiwa-jiwa di seluruh alam semesta. Biasanya, benang-benang itu bergerak indah, berputar, terhubung satu sama lain dalam harmoni yang sempurna.
Namun sekarang, mereka melihatnya dengan ngeri.
Beberapa benang itu berhenti bergerak. Beku. Diam total. Seperti jam yang mesinnya tiba-tiba macet.
“Beberapa jiwa… tidak bergerak,” Isriel menghembuskan napas dengan susah payah. “Mereka tertahan. Tidak maju, tidak mundur. Terjebak di antara dua keadaan.”
“Itu mustahil!” seru Elyndra, suaranya meninggi karena keterkejutan. Wajahnya yang biasanya penuh kasih sayang kini dipenuhi ketidakpercayaan. “Aliran jiwa adalah hukum dasar realitas! Itu adalah denyut nadi alam semesta! Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan kami sekalipun!”
“Namun itu terjadi,” jawab Isriel tegas, meski suaranya lemah. “Dan setiap kali ada yang berhenti, ada ruang yang ditinggalkan. Setiap stagnasi… menciptakan celah.”
Kata terakhir itu jatuh seperti palu godam.
Celah.
Sama seperti retakan di langit. Sama seperti celah yang memungkinkan sesuatu masuk.
Perlahan, seolah ditarik oleh sebuah magnet tak kasat mata, semua kepala di ruangan itu bergerak serempak. Pandangan mereka beralih, melintasi lantai cermin, melewati pilar-pilar kristal, dan berhenti tepat pada sosok yang berdiri paling jauh di ujung aula.
Nyxarion.
Ia masih berdiri membelakangi mereka, menatap keluar menuju langit yang berwarna ungu. Tubuhnya tegak, kaku, dan tak bergerak sedikit pun. Tidak ada getaran, tidak ada emosi yang terpancar. Ia tampak seperti patung yang diukir dari malam abadi.
Namun di ruangan yang hening ini, kebisuan Nyxarion justru berteriak paling keras.
Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Jika aliran jiwa terhenti, jika celah terbuka, jika Nihilum mulai bangkit—maka ada pihak yang menggerakkan roda-rodanya. Dan kekuatan untuk mengutak-atik akhir dan awal, hanya dimiliki oleh satu orang di antara mereka.
Nyxarion seolah merasakan tatapan ratusan mata yang menusuk punggungnya. Perlahan, sangat perlahan, ia memutar tubuhnya.
Wajahnya datar. Tidak bersalah. Tidak takut. Tidak juga bangga. Hanya ada kedalaman yang gelap dan tak terduga di balik iris matanya. Ia menatap mereka satu per satu, menatap ketidakpercayaan, kecurigaan, dan kemarahan yang mulai membara di mata para saudaranya.
Dan kemudian, bibirnya bergerak.
Sebuah senyuman tipis terbentuk. Bukan senyuman ramah, bukan pula senyuman jahat yang kejam. Itu adalah senyuman seseorang yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Senyuman seseorang yang telah mengambil keputusan berat jauh sebelum orang lain sadar bahwa mereka sedang berdiri di tepi jurang.
Di luar aula, guntur bergemuruh jauh di angkasa, seolah langit sendiri ikut menahan napas menanti jawaban darinya.
Misteri tentang retakan itu, tentang Nihilum, dan tentang jiwa-jiwa yang tertahan, perlahan mulai menemukan ujung benangnya. Dan ujung itu berada tepat di genggaman tangan Nyxarion.
Bab ini belum berakhir, namun panggung telah disetting. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan taruhannya adalah keberadaan seluruh alam semesta.