NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JEJAK DARAH DI BELANTARA

Suara gemuruh petir membelah langit Subang, menyatu dengan deru mesin mobil-mobil bertenaga besar yang semakin jelas terdengar dari arah kaki bukit. Di dalam gubuk reot itu, udara yang tadinya dipenuhi kehangatan emosional kini mendadak berubah menjadi kabut kepanikan yang mencekik.

​Zayn Al-Fatih menarik tubuhnya yang terasa kaku. Ia menekan luka di lengannya yang kembali berdenyut nyeri. Waktu mereka telah habis. Sultan tidak lagi bermain dengan skandal digital; ia telah mengirimkan algojo-algojo nyatanya.

​"Aaliyah, masukkan laptopmu ke dalam tas plastik kedap air yang ada di kotak P3K tadi. Kita tidak bisa menggunakan mobil pick-up itu, suaranya terlalu berisik dan akan langsung menjadi target tembak," perintah Zayn cepat, insting bertahannya mengambil alih rasa sakit.

​Aaliyah mengangguk tanpa membuang waktu satu detik pun. Tangannya yang ramping membungkus laptop—satu-satunya senjata yang mereka miliki—dan memasukkannya ke dalam ransel.

​Ya Allah... baru saja hamba merasa lega karena napas Ayah terselamatkan, kini napas kami sendiri yang berada di ujung senapan. Mereka datang untuk membunuh. Bukan untuk menangkap, tapi untuk membantai. Jika mereka menemukan kami di gubuk ini, kami tidak akan memiliki jalan keluar. Kuatkan kaki hamba, ya Rabb. Jangan biarkan hamba menjadi beban bagi Zayn.

​"Kita akan lari ke arah mana, Zayn? Perkebunan teh ini terlalu terbuka," tanya Aaliyah seraya menyampirkan ransel ke punggungnya.

​Zayn menunjuk ke arah belakang gubuk melalui celah jendela kayu yang lapuk. "Di balik bukit teh itu ada hutan pinus yang sangat lebat dan memiliki kontur jurang. Jika kita bisa masuk ke sana sebelum mereka memblokir area ini, hujan lebat ini akan menyamarkan jejak kaki dan suhu tubuh kita dari kamera termal mereka."

​Zayn melangkah tertatih, namun Aaliyah segera berada di sampingnya, memosisikan lengan Zayn di bahunya untuk menopang sebagian berat tubuh pria itu.

​Mereka menerobos keluar dari pintu belakang gubuk tepat saat cahaya lampu sorot dari tiga mobil SUV hitam menyapu pelataran depan. Suara decit rem yang kasar dan teriakan perintah menggema di tengah badai.

​"Cari di dalam! Pastikan mereka tidak hidup-hidup!"

​Suara itu terdengar sangat jelas. Mereka adalah pembunuh bayaran profesional, terdengar dari cara mereka berkomunikasi secara taktis.

​Zayn dan Aaliyah menunduk, berlari menembus rimbunnya semak-semak teh. Hujan yang turun seperti tirai tebal menjadi satu-satunya pelindung mereka. Tanah yang berlumpur membuat setiap langkah terasa sepuluh kali lebih berat. Kaki Aaliyah berkali-kali terperosok ke dalam lubang lumpur, namun ia menolak untuk jatuh.

​Batin Zayn bergejolak: Maafkan aku, Aaliyah. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku bersumpah untuk menjadikanmu permaisuriku, namun aku malah menyeretmu ke dalam pelarian yang kotor dan berdarah ini. Seharusnya kau berada di tempat yang hangat, bukan di tengah hutan badai, memapah tubuhku yang tidak berguna ini. Aku merasa sangat hina sebagai seorang pria. Sultan... kau menang di babak ini. Kau membuatku melihat wanita yang kucintai menggigil kedinginan demi menyelamatkanku.

​"Aaliyah... tinggalkan aku," bisik Zayn dengan napas tersenggal-senggal saat mereka hampir mencapai batas hutan pinus. "Mereka lebih cepat dari kita. Luka di kepalaku... aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku hanya akan memperlambatmu."

​Aaliyah tidak memelankan langkahnya sedikit pun. Ia justru mempererat pegangannya pada pinggang Zayn.

​"Aku sudah bilang di mobil tadi, Zayn. Tutup mulutmu dan simpan tenagamu. Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini setelah kau memberikan nyawamu untuk ayahku," desis Aaliyah, suaranya bergetar menahan tangis dan hawa dingin yang menusuk tulang.

​"Mereka akan membunuhmu juga, bodoh!" Zayn mencoba melepaskan rangkulan Aaliyah.

​Aaliyah menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia memutar tubuhnya dan menatap mata Zayn di tengah guyuran hujan lebat. Air hujan membasahi wajah Aaliyah yang tidak tertutup niqab, membuat matanya yang bulat tampak semakin bersinar dalam gelap.

​"Jika kita mati, kita mati bersama, Zayn Al-Fatih! Kau melamarku di depan seluruh dunia, apakah kau pikir lamaran itu hanya berlaku saat kau kaya dan sehat? Aku sudah mengiyakannya! Di mata Allah, hatiku sudah terikat padamu. Jadi jangan berani-berani menyuruhku membuang calon suamiku sendiri!"

​Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Aaliyah, mengalahkan gemuruh guntur di langit.

​Zayn terpaku. Waktu seolah berhenti berputar. Di tengah lumpur, darah, dan hujan badai, pengakuan Aaliyah menghantam dadanya jauh lebih kuat daripada ledakan bom mana pun. Rasa hangat yang luar biasa menjalar dari jantungnya, mengusir rasa sakit yang merobek lengannya.

​Batin Zayn: Dia menganggapku calon suaminya. Dia benar-benar menganggap lamaran itu sebagai janji suci, bukan sekadar pelarian media. Wanita ini... bagaimana mungkin dia terbuat dari daging dan darah yang sama dengan manusia lain? Dia adalah bidadari yang diturunkan ke neraka hanya untuk menuntunku keluar. Aku tidak boleh menyerah. Jika dia bersedia mati untukku, maka aku harus hidup untuknya.

​Zayn mengangguk perlahan. "Maafkan aku. Ayo kita jalan."

​Mereka kembali melanjutkan langkah, menembus batas hutan pinus yang gelap gulita. Pepohonan yang menjulang tinggi menghalangi sebagian besar air hujan, namun kegelapan di dalam sana sangat pekat. Suara anjing pelacak mulai terdengar sayup-sayup dari arah gubuk. Mereka membawa anjing.

​"Mereka menggunakan anjing, Zayn. Bau darahmu..." Aaliyah panik.

​Zayn menyadari hal itu. Darah dari luka jahitannya yang terbuka terus menetes, meninggalkan jejak merah yang samar di atas lumpur.

​"Kita harus mencari air mengalir. Sungai atau parit yang bisa memutus jejak bau," ucap Zayn.

​Aaliyah mempertajam pendengarannya. Sebagai anak yang tumbuh di pinggiran desa sebelum pesantrennya dibakar, ia memiliki insting alam yang cukup baik. "Ke arah sana. Aku mendengar suara gemericik air."

​Mereka menuruni kontur hutan yang curam. Aaliyah tergelincir, lututnya menghantam batu tajam yang tersembunyi di balik semak. Ia meringis menahan sakit, kain gamisnya robek di bagian bawah. Namun ia segera bangkit kembali. Ia tidak mengizinkan dirinya menjadi lemah.

​Di bawah tebing kecil, mereka menemukan sebuah aliran sungai selebar dua meter yang airnya mengalir deras dan keruh akibat badai.

​"Turun ke air, Aaliyah. Kita berjalan mengikuti arus ke arah hilir," instruksi Zayn.

​Air sungai itu sedingin es, menusuk hingga ke tulang sumsum. Gigi Aaliyah bergemeretak, tubuhnya bergetar tak terkendali. Mereka berjalan di dalam air setinggi betis, melawan arus yang licin dengan batu-batu kali. Bau darah Zayn perlahan tersapu oleh aliran air yang keruh.

​Setelah berjalan sekitar lima ratus meter di dalam sungai, mereka melihat sebuah rongga gelap di tebing tanah yang menjorok ke dalam—seperti gua kecil yang tertutup oleh akar-akar pohon beringin raksasa yang menggantung.

​"Kita sembunyi di sana," Zayn menunjuk celah itu.

​Aaliyah membantu Zayn naik dari sungai dan masuk ke dalam celah gua tersebut. Ruangannya sangat sempit, hanya cukup untuk mereka berdua duduk berdesakan. Tanah di dalamnya lembap, berbau akar basah dan lumut, namun setidaknya mereka terlindungi dari pandangan luar.

​Zayn menyandarkan punggungnya ke dinding tanah. Napasnya sangat berat. Demamnya kembali naik dengan cepat akibat suhu air sungai yang ekstrem.

​Aaliyah duduk merapat di sampingnya. Kegelapan di dalam sana membuat mereka tidak bisa melihat wajah satu sama lain dengan jelas, namun mereka bisa merasakan kehadiran masing-masing.

​"Aaliyah... kau kedinginan," bisik Zayn. Ia merasakannya dari getaran bahu wanita itu yang menempel padanya.

​Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zayn menarik Aaliyah ke dalam dekapannya. Ia melingkarkan tangannya yang tidak terluka di bahu Aaliyah, mencoba memberikan perlindungan terakhir yang bisa ia tawarkan. Aaliyah tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Zayn, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan tidak beraturan.

​Batin Aaliyah: Detak jantungnya sangat lemah. Tubuhnya panas seperti bara api, sementara tubuhku membeku. Ya Allah... hamba takut. Hamba sangat takut. Jika anjing-anjing itu menemukan kami di sini, kami tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Jika ini memang akhir kisah kami, hamba bersyukur karena Engkau mengizinkan hamba menghabiskan waktu terakhir bersama pria yang telah banyak berkorban untuk hamba.

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot berat yang menginjak ranting basah terdengar tepat di atas gua tempat mereka bersembunyi. Cahaya lampu senter berkekuatan tinggi menyapu menembus akar-akar beringin, menerangi sebagian wajah Aaliyah.

​Aaliyah menahan napasnya seketika. Ia menutup mata dengan rapat.

​"Cari di sekitar sungai! Anjingnya kehilangan jejak di sini!" teriak seorang pria dari atas tebing.

​"Bos, sungainya mengalir deras. Mungkin mereka terseret arus. Orang yang terluka parah tidak akan selamat di air sedingin ini," sahut pria lain.

​"Jangan berasumsi! Sutan akan membunuh kita jika kita tidak membawa kepala Zayn Al-Fatih! Pencar dan sisir sepanjang pinggiran sungai!"

​Langkah kaki mereka terdengar mondar-mandir di atas. Tumpukan tanah dan kerikil kecil berjatuhan dari atap gua, mengenai rambut Aaliyah.

​Dalam ketegangan yang memuncak itu, Zayn terbatuk pelan. Ia menahan batuk itu dengan tangannya, namun darah segar keluar dari mulutnya. Guncangan di dadanya membuat luka jahitannya kembali berdenyut brutal.

​Zayn sadar, jika ia terus terbatuk, suara mereka akan terdengar.

​Dalam kegelapan, Zayn menangkup wajah Aaliyah. Tangan besarnya yang kapalan dan dingin menyentuh pipi Aaliyah yang basah oleh air hujan.

​"Tutup matamu," bisik Zayn tanpa suara, bibirnya nyaris menyentuh telinga Aaliyah.

​Aaliyah memejamkan mata. Zayn menarik kepala Aaliyah ke arahnya, menyembunyikan wajahnya sendiri di lekuk leher Aaliyah untuk meredam suara batuknya ke kain jilbab wanita itu. Posisi mereka begitu intim, sebuah pelukan keputusasaan di ambang maut. Aaliyah bisa merasakan napas Zayn yang panas dan bergetar hebat di lehernya.

​Setiap detik terasa seperti jutaan tahun. Cahaya senter terus bergerak acak di luar akar-akar pohon. Aaliyah merapal doa-doa keselamatan di dalam hati, memohon keajaiban.

​Setelah lima belas menit yang menyiksa, suara langkah kaki itu perlahan mulai menjauh. Cahaya lampu senter memudar ke arah hilir sungai. Mereka selamat untuk sementara waktu.

​Aaliyah membuang napas panjang. Ia hendak melepaskan diri dari pelukan Zayn untuk memeriksa keadaan pria itu.

​"Zayn... mereka sudah pergi," bisik Aaliyah.

​Namun, tidak ada jawaban.

​Tubuh Zayn terasa sangat berat, merosot sepenuhnya ke bahu Aaliyah. Tangannya yang tadi menangkup wajah Aaliyah telah jatuh lemas ke tanah.

​"Zayn?!" Aaliyah mengguncang tubuh Zayn. Kepanikan yang luar biasa kembali menyergapnya.

​Zayn benar-benar tidak sadarkan diri. Denyut nadinya sangat lemah, dan kulitnya membakar tangan Aaliyah karena demam infeksi yang parah. Luka di kepalanya kembali merembeskan darah, mungkin karena racun infeksi dari air sungai kotor yang memperparah keadaannya.

​Ya Allah! Dia pingsan! Infeksinya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Jika dia tidak segera mendapatkan antibiotik dan pertolongan medis dalam hitungan jam, dia tidak akan bertahan!

​Aaliyah menangis tertahan. Ia berada di tengah hutan antah berantah, bersembunyi dari pembunuh bayaran, dengan seorang pria yang sedang berada di ambang kematian di pelukannya. Otak jenius H_Zero-nya tidak berguna tanpa koneksi internet atau rumah sakit.

​Di tengah keputusasaan yang menggelapkan logikanya, telinga Aaliyah menangkap suara lain. Bukan suara langkah kaki sepatu bot pembunuh bayaran, melainkan suara langkah pelan dan berhati-hati yang menginjak dedaunan.

​Cahaya remang dari sebuah lentera minyak tanah muncul dari balik akar beringin.

​Aaliyah merapatkan tubuh Zayn ke dinding tanah, mengambil batu sebesar kepalan tangan, bersiap melawan dengan sisa nyawanya. Jika itu adalah anak buah Sultan, ia akan memastikan mereka berdarah sebelum menyentuh Zayn.

​Akar beringin itu disingkap perlahan. Di balik cahaya lentera yang temaram, bukan wajah preman bayaran yang muncul, melainkan wajah keriput seorang pria tua renta dengan pakaian pangsi tradisional Sunda. Di tangan kirinya, pria itu memegang sebuah senapan angin tua.

​Pria tua itu menyipitkan mata, menatap Aaliyah dan Zayn yang terkapar bersimbah darah.

​"Siapa kalian? Apa kalian dikejar oleh orang-orang kota berbaju hitam tadi?" tanya pria tua itu dengan suara serak namun tidak mengancam.

​Aaliyah tidak langsung menjawab, ia masih memegang batu di tangannya. "S-siapa Bapak?"

​Pria tua itu menurunkan senapannya. Matanya tertuju pada wajah Zayn yang tidak sadarkan diri, lalu beralih ke kalung emas berliontin "A" milik Aaliyah yang tersembul keluar dari balik jilbabnya yang robek.

​Mata pria tua itu melebar sempurna. Lentera di tangannya sedikit bergetar.

​"Kalung itu..." gumam pria tua tersebut, suaranya bergetar hebat. "Kalung itu... milik Nyonya Halimah dari Pesantren Al-Azhar yang terbakar dua puluh tahun lalu."

​Dunia Aaliyah seakan berhenti. Napasnya tercekat di kerongkongan.

​Bagaimana pria tua di tengah hutan ini tahu nama ibuku? Siapa dia? Apakah dia adalah kunci dari semua teka-teki berdarah dua puluh tahun lalu yang disembunyikan oleh Sultan dan keluarga Al-Ghifari?

​"Bapak... Bapak kenal ibu saya?" tanya Aaliyah, suaranya pecah berkeping-keping.

​Pria tua itu jatuh berlutut di tanah yang basah. Air mata mengalir dari mata keriputnya.

​"Astaghfirullahaladzim... Jadi kau adalah putri Kyai Abdullah yang selamat? Masuklah... ikut ke gubuk Bapak di atas bukit. Anak muda itu tidak akan selamat jika terus di sini," pria tua itu menunjuk ke arah Zayn. "Dan Bapak akan menceritakan siapa yang sebenarnya memerintahkan Bapak untuk membakar pesantren kalian malam itu."

​Rahasia terbesar yang terkubur selama dua dekade kini berdiri di depan mata Aaliyah, dibawa oleh seorang pria tua di tengah badai.

1
Erni Yustriyanti
Keren bgt
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!