Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
" Bukan petak umpet biasa "
"Satu... dua... tiga..." batin Tiana terus menghitung dalam hati, matanya melirik tajam ke arah perut Alex, menunggu pria itu tumbang atau setidaknya lari ke kamar mandi. Kenapa belum mati juga?! Apa aku kurang banyak menuangkan cairannya tadi?
Tiana mulai merasa frustrasi. Seharusnya saat ini Alex sudah mengerang kesakitan, tapi yang ia lihat justru seorang pria yang tampak sangat dominan dan bugar, seolah-olah ia baru saja mendapatkan energi tambahan.
"Sudah selesai, baby, makannya? Ayo," ajak Alex sambil berdiri dari kursinya. Ia merapikan kemeja hitamnya yang licin, lalu mengulurkan tangannya di depan Tiana.
Tiana tersentak dari lamunannya. Ia menatap telapak tangan besar Alex dengan ragu. "K-ke mana, Tuan? Saya masih banyak pekerjaan menyapu..."
"Lupakan soal menyapu," potong Alex dingin. Ia tidak menunggu jawaban Tiana, melainkan langsung menyambar pergelangan tangan gadis itu dan menariknya berdiri. "Kau punya janji yang harus ditepati, dan aku punya kejutan yang sudah menunggumu di bagasi mobil."
Tiana menelan ludah. Kejutan di bagasi mobil? Apa dia akan membuangku ke sungai karena tahu kopinya beracun? pikirnya horor.
Saat mereka berjalan menuju halaman depan, sebuah mobil Jeep terbuka sudah terparkir. Alex membantu—atau lebih tepatnya memaksa—Tiana naik ke kursi samping kemudi.
"Tuan, Anda benar-benar tidak merasa mulas?" tanya Tiana sekali lagi, memastikan ekspektasinya.
Alex menyeringai lebar sambil menghidupkan mesin mobil yang menggelegar. "Tidak sama sekali, Tiana. Justru kopimu tadi membuatku sangat ingin... 'bermain' sedikit lebih kasar hari ini."
------------------------------
Alex menepikan mobil di pinggir area hutan yang sunyi. Ia memutar tubuhnya, menatap Tiana yang duduk kaku di sampingnya dengan wajah yang pucat pasi namun berusaha tetap terlihat polos.
"Tuan... bo-botol apa itu?" tanya Tiana dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan sandiwaranya.
Alex mengangkat botol pembersih kimia yang sama dengan yang Tiana temukan di dapur tadi pagi. Ia menggoyang-goyangkan cairan bening di dalamnya dengan gerakan santai yang justru terlihat mengancam. "Kau bertanya, baby? Bukankah kau sengaja menaruh air ini di kopiku tadi?"
"Enggak, Tuan! Saya tidak menaruh apa-apa... sungguh!" Tiana menggeleng cepat, matanya melebar seolah benar-benar dituduh tanpa alasan. "Mungkin... mungkin itu sisa pembersih dari pelayan lain? Saya hanya membuatkan kopi paling enak untuk Tuan."
Alex terkekeh rendah, suara tawa yang dingin dan membuat bulu kuduk berdiri. Ia melempar botol itu ke jok belakang dan mendadak menarik tubuh Tiana agar mendekat padanya.
"Kau pikir aku bodoh, Tiana? Aku melihat setiap gerakan lincahmu di kamera CCTV dapur," desis Alex tepat di depan bibir Tiana. "Kau menyanyi begitu riang, membayangkan racun ini akan membuatku membusuk. Tapi sayangnya, baby, aku jauh lebih pintar daripada rencana kecilmu yang payah."
Tiana terdiam membeku, wajahnya kini benar-benar kehilangan warna. Rahasianya sudah terbongkar total.
"Lalu... kenapa Tuan tidak marah? Kenapa Tuan malah meminumnya kalau Tuan tahu?" tanya Tiana dengan suara parau, hampir menangis karena takut.
Alex menyeringai lebar, jemarinya mengusap pipi Tiana dengan gerakan yang sangat posesif. "Siapa bilang aku meminumnya? Aku membuangnya tepat di depan matamu melalui cermin kamar mandi, Tiana. Aku hanya ingin melihat seberapa jauh kau berani bermain dengan nyawaku."
Alex kemudian mengeluarkan sebuah borgol besi kecil dari sakunya. "Karena kau sudah mencoba membunuh 'pemilikmu', maka hukuman yang kemarin belum ada apa-apanya dibanding apa yang akan kau terima di tengah hutan ini."
------------------------------
"Tuan mau hukum saya apa? Tuan mau bunuh saya? Ayo Tuan, bunuh saya... sa-saya siap kok," tantang Tiana dengan suara bergetar, mencoba menyembunyikan rasa takutnya di balik kepasrahan yang nekat. Ia memejamkan mata, menunggu peluru atau cekikan yang mungkin akan mengakhiri penderitaannya.
Alex justru terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat gelap dan mematikan di tengah keheningan hutan. Ia mencengkeram rahang Tiana perlahan, memaksanya untuk membuka mata dan menatap obsidian hitam miliknya yang berkilat penuh gairah predator.
"Membunuhmu?" desis Alex sembari mengusap bibir Tiana dengan ibu jarinya. "Itu terlalu mudah, Baby. Kematian tidak akan memberiku kepuasan. Aku ingin bermain denganmu... tiga jam lebih di sini."
Tiana mengerjapkan matanya, bingung dengan arah pembicaraan pria iblis ini. "Tiga jam? Bermain apa... petak umpet?" tanya Tiana polos, namun ada nada sarkasme dalam suaranya.
Alex menyeringai lebar, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Tiana meremajang hebat. Ia mengambil botol pembersih tadi dan membuangnya jauh ke semak-semak, lalu ia mengeluarkan sebuah borgol dan kain hitam dari saku jaketnya.
"Bukan petak umpet biasa, Tiana. Aku menyebutnya perburuan," ucap Alex dingin. "Tiga jam kau akan berada di bawah kendaliku di dalam mobil ini, dan tiga jam kau akan membayar kopi beracun itu dengan setiap jengkal tubuhmu. Jika kau bisa bertahan tanpa menangis memohon ampun selama tiga jam, aku akan memaafkanmu."
Tiana menelan ludah dengan susah payah. Ia melihat ke sekeliling hutan yang sepi, menyadari bahwa tidak akan ada yang mendengarnya meski ia berteriak sampai pita suaranya putus.
"Tuan... Anda benar-benar gila," lirih Tiana saat Alex mulai mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Tiana.
"Aku gila karena racunmu, Baby... sekarang, biarkan aku menunjukkan bagaimana rasanya 'bermain' yang sesungguhnya di alam liar," bisik Alex sebelum akhirnya ia menarik Tiana ke dalam dekapan yang sangat menyesakkan.