NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Mimpi Syialannn~!!

Malam harinya.

Meja makan kembali hangat dengan kehadiran dua manusia dan satu kucing.

Adea makan dengan lahap, bukan lahap biasa, tapi lahapnya orang yang seharian menguras otak dan tenaga. Nasi putih, ayam goreng, tumis kangkung, dan sambal terasi buatan Angga. Semua ludes dalam waktu tidak sampai dua puluh menit.

"Pelannya dikit, lu mau nyesek," tegur Angga dari seberang meja, tangannya memegang sendok tapi belum menghabiskan setengah porsinya.

"Lapar, Anji. Tadi gue cuma makan roti buat siang," jawab Adea dengan mulut penuh. "Kantin kedokteran jauh banget. Dan antriannya panjang."

Angga menghela napas. Tanpa bicara, ia mengambil sisa ayam goreng di piringnya dan meletakkannya ke piring Adea.

"Makan tuh."

"Itu punya elu."

"Gue gak terlalu laper. Lu makan aja."

Adea menatap Angga sejenak. Ada sesuatu di matanya, mungkin rasa terima kasih, mungkin sesuatu yang lain. Tapi ia tidak mengatakannya. Ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan makan.

Cumi duduk di samping kursi Adea, ekornya melingkar di kaki meja, matanya bulat menatap ayam goreng yang berpindah tempat. Kucing itu mengeong pelan, protes karena tidak kebagian.

"Cumi udah makan, jangan ngarep," ucap Angga sambil mengelus kepala kucing itu dengan ujung sendoknya.

 

"Hari ini gila banget sih, Angga," Adea memulai ceritanya sambil mengunyah ayam.

"Gimana?"

"Gue praktikum anatomi. Disuruh ngafalin dua belas tulang. DUA BELAS, Anji. Dan semuanya namanya pake bahasa Latin yang gak masuk akal. Tibia, fibula, femur, patella..." Adea menghitung dengan jarinya. "Belum lagi gue harus gambar sistem pernapasan. Selesai gambar, dosennya bilang: 'Ini paru-parunya kekurangan satu lobus, Dea.' Satu lobus! Siapa yang peduli paru-paru punya lobus berapa sih? Yang penting orang bisa napas!"

Angga mendengarkan. Sesekali ia bersuara. "Hm," "Iya," "Terus?" tidak banyak, tapi cukup untuk membuat Adea merasa didengar.

Cumi ikut mendengarkan. Atau setidaknya kucing itu menatap Adea dengan serius sambil sesekali mengedip.

"Terus pas jam istirahat, gue ketemu Eli. Dia udah baikan, makasih ya udah izinin gue ke UKS kemarin. Dia bilang..." Adea berhenti sebentar, matanya berbinar. "Dia bilang, elu ganteng."

Angga yang sedang minum teh hampir tersedak.

"Eli bilang gitu?"

"Iya. Pas gue cerita tentang elu. Dia bilang, 'Itu cowok yang jemput lo kemarin? Ganteng banget sih, tapi judes mukanya.'" Adea tertawa kecil. "Gue bilang, 'Dia mah mukanya doang judes, tapi baik hati kayak ibu-ibu.'"

"Ibu-ibu?" Angga mengangkat alis.

"Iya. Suka masakin, suka nyuciin baju, suka ngelus-elus kucing."

"Gue cowok."

"Cowok yang baik hati kayak ibu-ibu. Itu pujian tertinggi dari gue."

Angga menggeleng. Tapi ia tersenyum.

 

Setelah makan malam selesai, piring-piring kembali ke wastafel. Adea membantu bukan mencuci, tapi mengelap meja dan membereskan sisa makanan.

"Udah, cuci tangan, cuci muka, cuci kaki. Tidur," perintah Angga sambil membalikkan badan ke kompor, tangannya sudah sibuk dengan spons dan sabun cuci piring.

"Belum ngocok gigi," ucap Adea dari balik bahunya.

"Ya ngocok gigi."

"Belum ganti baju."

"Ya ganti baju."

"Belum-"

"Dea." Angga menoleh, matanya sedikit menyipit. "Tidur."

"Iyee~"

Adea melesat ke kamar mandi dengan Cumi yang setia mengekor dari belakang.

 

Tengah malam.

Rumah itu sunyi.

Hujan tidak turun malam ini, tapi langit tetap gelap tanpa bintang. Angin tipis masuk melalui celah jendela, menggerakkan tirai kamar Adea pelan-pelan.

Gadis itu tidur dengan posisi meringkuk, boneka panda di pelukannya, selimut terlepas hingga ke pinggang. Wajahnya tenang pada awalnya.

Tapi perlahan, alisnya mulai berkerut.

Tangannya meremas boneka panda lebih erat.

Bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar.

"Jangan..." bisiknya dalam tidur. "Jangan tinggalin gue..."

Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Tubuhnya bergerak gelisah, bolak-balik di atas kasur. Napasnya menjadi pendek-pendek, tidak teratur.

Lalu tangisannya pecah.

Bukan isak tangis keras. Tapi tangis yang tertahan seperti seseorang yang terbiasa menahan sakit sendirian. Air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, membasahi pipi chubby-nya.

Cumi yang tidur di ujung kasur terbangun. Kucing itu menatap Adea dengan mata bulat, lalu turun dari kasur dan berlari keluar kamar.

 

Pintu kamar Adea terbuka perlahan.

Cumi masuk kembali tapi tidak sendirian.

Di belakang kucing itu, berdiri sesosok bayangan tinggi. Angga.

Ia tidak tahu sejak kapan ia ada di sana. Mungkin sejak ia mendengar suara tangis tipis yang terbawa angin dari kamar sebelah. Mungkin sejak Cumi menggaruk-garuk pintu kamarnya.

Sekarang ia duduk di tepi kasur Adea.

Satu tangannya mengusap keringat di dahi gadis itu. Kulit Adea lembab dan sedikit panas. Tangannya yang lain mengambil handuk kecil dari meja samping, menyeka pipi yang basah oleh air mata.

"Dea," panggilnya pelan. "Dea, bangun."

Adea tidak bangun. Ia hanya menangis lebih keras dalam tidurnya, tubuhnya bergetar.

Angga membangunkannya dengan lembut, tangan di bahu, digoyang pelan. "Dea. Ini Angga. Lu mimpi buruk. Bangun."

Mata Adea terbuka.

Linglung.

Ia menatap langit-langit kamar, lalu menoleh ke samping, menatap Angga. Matanya basah, merah, bingung.

"Angga~?" suaranya parau.

"Iya. Gue di sini."

Dan pecahlah tangis Adea.

Bukan tangis pelan seperti tadi. Tapi tangis keras, tersedu-sedu, seperti air bah yang sudah terlalu lama ditahan bendungan. Gadis itu bangkit dari kasur dan langsung melemparkan dirinya ke dada Angga.

"ANGGA! ANGGA GUE TAKUT!" teriaknya di sela tangis. "GUE MIMPI ELU PERGI! ELU NINGGALIN GUE! ELU GAK PERNAH BALIK!"

Angga terdiam.

Dada rasanya ditusuk ribuan jarum.

Ia tidak bertanya. Ia tidak berkata itu hanya mimpi. Ia hanya melakukan satu hal yang ia tahu bisa menenangkan gadis itu.

Ia menarik Adea ke dalam pelukannya yang besar.

Satu tangan melingkar di punggung kecil Adea, tangan lainnya mengelus rambut panjang gadis itu perlahan. Berulang-ulang. Dari atas kepala hingga ke ujung rambut yang tergerai di punggung.

"Gue di sini," bisiknya pelan di telinga Adea. "Gue gak kemana-mana."

Tapi Adea masih menangis. Tangannya mencengkeram kaus tidur Angga erat-erat, seperti takut pria itu akan lenyap jika ia melepaskannya.

Angga terus mengelus rambut dan punggung Adea. Sesekali ia menunduk, bibirnya menyentuh puncak kepala gadis itu, mengecupnya lembut, tanpa suara.

Sesekali lagi.

Dan lagi.

Matanya mulai berkabut. Sesuatu yang samar..bukan air mata, tapi hampir...tampak di sudut matanya yang gelap. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras, menahan sesuatu di dalam dirinya.

Jangan nangis, Angga. Lu yang harus kuat.

Tangannya tanpa sadar meremas rambut Adea sedikit lebih erat. Bukan untuk menyakiti. Tapi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis ini ada di sini. Nyata. Dalam pelukannya.

Akhirnya, setelah beberapa lama, tangis Adea mulai mereda.

Isaknya menjadi lebih pelan. Napasnya mulai teratur. Tubuhnya yang tadinya kaku karena ketakutan kini mulai lemas, bersandar penuh pada dada bidang Angga.

"Udah tenang?" bisik Angga.

Adea mengangguk kecil di dadanya.

"Mau tidur lagi?"

Anggukan lain.

Angga merebahkan Adea perlahan kembali ke kasur. Ia menarik selimut yang terlepas, menyelimuti tubuh mungil gadis itu hingga ke dagu. Lalu ia mengambil boneka panda yang terjatuh ke lantai, membersihkannya sebentar, dan meletakkannya kembali di pelukan Adea.

"Ini temen lu," ucap Angga pelan. "Jangan sampe jatuh lagi."

Adea memeluk boneka itu erat. Matanya mulai terpejam.

Angga duduk di tepi kasur beberapa saat, memastikan gadis itu benar-benar tenang. Ia mengelus kepala Adea sekali lagi. Pelan, lembut, seperti ia mengelus Cumi saat kucing itu sedang gelisah.

Lalu ia mendekatkan wajahnya.

Bibirnya menyentuh bahu Adea yang tertutup kaus tidur tipis.

Bukan ciuman basah. Hanya tempelan bibir singkat. Sekadar untuk merasakan kehangatan tubuh gadis itu. Sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa ia boleh..setidaknya di saat seperti ini merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar sahabat.

"Goodnight, Adea," bisiknya begitu pelan, hampir tidak bersuara.

Ia bangkit.

Berjalan ke pintu.

Berhenti.

Menoleh sekali lagi.

Adea sudah tidur. Wajahnya tenang sekarang. Boneka panda terpeluk erat. Selimut menutupi tubuhnya dengan rapi.

Cumi sudah kembali ke posisinya di ujung kasur, meringkuk di dekat kaki Adea. Kucing itu menatap Angga dengan mata sayu, lalu menutup matanya.

Angga tersenyum kecil.

Ia keluar dari kamar dan menutup pintu sedikit terbuka, seperti biasa.

 

Di kamarnya, Angga duduk di tepi kasur untuk waktu yang lama.

Ia menatap dinding kosong di hadapannya, tapi tidak melihat apa-apa.

Yang ia lihat hanyalah wajah Adea yang basah air mata. Tangisnya. Pelukannya. Dan betapa rapuhnya gadis itu di tengah malam, padahal di siang hari ia terlihat begitu kuat.

"Gue gak akan pergi, Dea," bisiknya pada kegelapan. "Gue janji."

Ia berbaring.

Cumi tidak ada di sampingnya malam ini. Kucing itu memilih untuk menemani Adea.

Angga tidak keberatan.

Ia hanya memejamkan mata dan berharap mimpi buruk tidak datang lagi baik untuk Adea, maupun untuk dirinya sendiri.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!