NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Cahaya di Balik Pualam

​Kantong kertas cokelat berlogo emas dari restoran delicatessen premium itu masih tergeletak di atas meja kerja Kanaya Larasati, memancarkan radiasi panas yang berbanding terbalik dengan suhu pendingin ruangan lantai dua puluh lima.

​Naya menatap bungkusan itu dalam keheningan yang panjang, seolah-olah benda tersebut adalah sebuah artefak alien yang baru saja jatuh dari langit. Tangannya perlahan terulur merabanya, merasakan kehangatan dari wadah aluminium di dalamnya menjalar ke telapak tangannya yang sedingin es.

​'Pria iblis itu... baru saja turun tangan sendiri ke lantai ini di tengah malam, hanya untuk membelikanku makanan?' batin Naya tak percaya. Sirkuit otaknya berusaha keras memproses anomali perilaku yang sangat bertentangan dengan profil sang tiran. 'Dengan justifikasi klaim asuransi kesehatan perusahaan? Alasan korporat macam apa itu? Dia baru saja merobek-robek harga diriku dan idealismeku siang tadi di ruang rapat, dan sekarang dia bertingkah seperti... peduli pada kondisi lambungku?'

​Perut Naya kembali bergemuruh hebat, kali ini lebih keras, meruntuhkan sisa-sisa dinding egonya.

​Naya membuka lipatan kantong kertas tersebut dengan tangan bergetar. Kepulan uap tipis seketika menguar, membawa serta aroma bawang putih panggang, kaldu sapi yang kental, dan rempah lada hitam yang langsung menyerbu rongga penciumannya. Di dalam wadah itu, terbaring tiga potong iga sapi bakar premium tanpa tulang yang dilumuri saus karamel lada hitam yang mengilap sempurna, disajikan di atas gundukan kentang tumbuk (mashed potato) yang selembut sutra, lengkap dengan sayuran panggang mentega.

​Naya mengambil sendok garpu polikarbonat transparan yang disediakan, menyendok suapan pertamanya dengan sedikit ragu.

​Begitu rasa gurih daging yang begitu empuk hingga nyaris meleleh di lidahnya itu menyapa indra pengecapnya, Naya tanpa sadar memejamkan matanya rapat-rapat. Sebuah erangan pelan lolos dari bibirnya. Bahunya yang sejak tadi siang menegang kaku, perlahan-lahan merosot turun.

​'Sialan. Kenapa makanan ini enak sekali?' Naya merintih dalam hati, mulai mengunyah dengan kecepatan yang mengkhianati gengsinya sedari tadi. 'Harga diriku, idealismeku sebagai arsitek independen, ternyata bisa dikompromikan dengan sangat mudah hanya dengan seporsi iga bakar berharga jutaan rupiah. Kau sungguh menyedihkan dan murahan, Kanaya. Tapi... ya Tuhan, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku makan makanan sehangat dan selembut ini saat sedang dilemburkan.'

​Di tengah keheningan yang mencekam, Naya menghabiskan makan malam pemberian bos tirannya itu hingga benar-benar tak bersisa. Ia bahkan mengusap sisa saus di sudut wadah aluminium itu dengan perasaan puas yang mendalam.

​'Jangan tertipu, Kanaya. Ini murni taktik manipulasi murahan seorang CEO agar budak korporatnya bisa diperas tenaganya lebih keras lagi tanpa mati di atas keyboard,' Naya memperingatkan dirinya sendiri dengan kejam, mempertahankan kewarasannya agar tidak jatuh pada pesona manipulatif pria itu. 'Dia memberiku bahan bakar karena dia menuntut kesempurnaan besok pagi. Tapi... anehnya... kenapa rasa benci di dadaku sedikit—hanya sekian milimeter—memudar?'

​Naya membersihkan mejanya dengan cepat. Ia meremas bungkus kertas dan wadah kosong itu, lalu berjalan ke sudut pantry dan membuangnya jauh-jauh ke dasar tempat sampah tertutup, seolah ingin memusnahkan barang bukti kelemahannya agar tidak ada yang tahu.

​Setelah lambungnya terisi penuh dengan nutrisi tingkat tinggi, sebuah energi baru seketika memompa aliran darahnya. Gula dan protein mengalir deras ke otaknya, membuatnya kembali tajam. Kantuknya menyingkir, digantikan oleh dorongan adrenalin dan rasa penolakan untuk menyerah.

​Naya kembali duduk di kursinya, menatap monitor raksasanya dengan postur tegap yang baru.

​Dinding virtual lobi di layarnya masih dilapisi oleh marmer Calacatta Gold yang kaku dan mengintimidasi.

​'Baiklah, Arjuna Dirgantara. Kau memberiku kalori premium malam ini, maka aku akan memberimu neraka kesempurnaan desain besok pagi,' tekad Naya dalam hati, matanya memantulkan cahaya biru dari layar dengan nyala api yang terang. 'Kau menginginkan kemewahan fasis yang kaku dan mengintimidasi? Aku akan memberikanmu material yang kau minta. Tapi aku akan memastikan bahwa desain ini tetap memiliki nyawaku di dalamnya. Aku tidak akan membiarkan lobi ini menjadi lorong kuburan marmer yang mati.'

​Terdorong oleh perpaduan antara protein daging sapi, sisa kafein di tubuhnya, dan harga diri yang menolak diinjak oleh arogansi atasannya, Naya kembali merajut cetak biru tiga dimensinya. Ia bekerja layaknya orang yang sedang kesurupan.

​Ia menghitung ulang secara presisi sudut inklinasi pilar penyangga, memastikan pantulan cahaya dari lantai marmer yang diminta Juna tidak akan menyilaukan mata para tamu VIP di siang hari saat matahari Jakarta sedang terik. Ia merombak total tata letak lampu gantung kristal raksasa di tengah ruangan, menyesuaikannya dengan titik gravitasi visual.

​Dan yang paling krusial, ia menyisipkan sebuah 'pemberontakan' arsitektural yang sangat berisiko.

​Naya menggunakan teknik pencahayaan tersembunyi (hidden cove lighting) bersuhu warna 3500 Kelvin—sebuah nuansa amber (kuning keemasan) yang sangat hangat. Ia menyusupkan instalasi lampu LED mikro itu tepat di setiap celah ukiran pilar penyangga marmer dan membingkai area resepsionis, menyembunyikannya di balik ekstrusi aluminium kustom agar sumber cahayanya tidak terlihat oleh mata telanjang.

​Naya menekan tombol render preview.

​Hasilnya membuat Naya sendiri menahan napas. Marmer Calacatta Gold yang tadinya berkesan dingin, fasis, dan mengintimidasi, kini memancarkan pendaran cahaya hangat dari dalam urat-urat emas alaminya. Cahaya amber itu memantul secara halus, menciptakan ilusi optik seolah-olah batu-batu raksasa itu hidup, bernapas, dan memiliki detak jantungnya sendiri. Sebuah kemewahan yang mengundang untuk disentuh, bukan untuk ditakuti.

​"Sempurna," bisik Naya pada dirinya sendiri, sebuah senyum kemenangan yang kelelahan terukir di bibirnya.

​Ketukan tetikus dan ketikan keyboard-nya terus terdengar konstan di lantai dua puluh lima, berpacu dengan pergerakan jarum jam dinding. Naya benar-benar mengabaikan letih di punggungnya, hingga akhirnya warna langit di luar jendela kaca panorama berubah dari hitam pekat menjadi biru pucat keabu-abuan.

​Pukul 05:30 pagi.

​Naya menekan tombol Save dan Export. Ia mengirimkan berkas final beresolusi tinggi itu ke mesin plotter raksasa di sudut ruangan. Begitu ia melihat gulungan kertas cetak biru ukuran A3 itu selesai dipotong oleh mesin, batas toleransi fisik Naya akhirnya habis tak tersisa. Sistem sarafnya memutus koneksi secara paksa.

​Naya menelungkupkan kepalanya di atas lipatan lengan kanannya di atas meja. Dalam hitungan detik, kesadarannya terputus, meluncur ke alam tidur yang dangkal namun sangat dibutuhkan.

​Dua lantai di atasnya, di dalam penthouse eksklusif yang tersambung langsung dengan ruang kerja CEO Dirgantara Group.

​Arjuna Dirgantara sudah berdiri di depan cermin wastafel marmer di kamar mandinya sejak pukul setengah enam pagi. Itu bukan karena ia memiliki jadwal rapat pagi yang padat, melainkan murni karena ia hampir tidak bisa memejamkan matanya lebih dari tiga jam malam itu.

​Juna menatap pantulan dirinya di cermin. Lingkar hitam yang samar namun pasti mulai terbentuk di bawah matanya yang kelam. Ia memutar keran, menangkup air sedingin es dengan kedua tangannya yang besar, dan membasuh wajahnya dengan kasar. Pikirannya, yang biasanya terstruktur rapi bagai barisan kode algoritma keuangan, pagi ini terasa sangat berisik.

​'Kau mulai bertingkah tidak masuk akal, Arjuna,' batin Juna dengan nada tajam, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian semalam. 'Mengantarkan makanan secara langsung ke kubikel seorang desainer junior? Apa kau lupa siapa dirimu? Jangan biarkan satu variabel emosional yang acak merusak ekosistem profesional yang sudah kau bangun dengan susah payah selama ini. Kau adalah CEO. Jangan tunjukkan kelemahan.'

​Juna menarik selembar handuk tebal dan mengusap wajahnya dengan agresif. Ia melangkah menuju ruang ganti pribadinya (walk-in closet) dan memilih setelan jas abu-abu arang yang memancarkan otoritas absolut, dipadukan dengan kemeja putih tanpa cela berbahan katun mesir, dan dasi sutra berwarna marun gelap.

​Saat ia kembali menatap cermin panjang di ujung lorong, yang ia lihat bukanlah seorang pria manusiawi berusia dua puluh delapan tahun, melainkan sebuah mesin penggerak roda korporat yang tidak memiliki celah. Kaku, dingin, dan tak tersentuh.

​Tepat pukul tujuh pagi, Juna melangkah keluar dari penthouse.

​Gedung Dirgantara mulai berdenyut lambat dengan aktivitas kehidupan. Beberapa manajer dan karyawan yang datang lebih awal menunduk hormat dengan postur sangat kaku dan gugup saat ia berjalan melewati mereka di lorong. Juna hanya membalas sapaan itu dengan anggukan mikro yang sangat terukur.

​Alih-alih berbelok langsung menuju meja kerjanya, arah langkah kaki Juna berbelok secara independen menuju lift eksekutif. Ia menekan tombol lantai dua puluh lima.

​Denting pelan lift yang terbuka menyambut Juna dengan pemandangan area divisi desain yang masih cukup lengang. Lampu utama belum dinyalakan sepenuhnya. Mata elang Juna secara otomatis menyapu ruangan, dan langsung mencari satu kubikel spesifik di sudut ruangan dekat jendela panorama.

​Naya masih di sana.

​Langkah kaki Juna melambat, lalu berhenti sepenuhnya tiga meter dari kubikel itu.

​Gadis itu tertidur sangat lelap, dengan kepala yang bertumpu miring di atas lengannya, menghadap ke arah kaca jendela. Cahaya matahari pagi yang keemasan menembus kaca, menyorot profil wajah Naya yang terlihat begitu damai, sangat kontras dengan tatapan berapi-api yang selalu ia tembakkan pada Juna saat mereka berdebat di ruang rapat. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian pipinya yang pucat. Dan yang membuat Juna mengerutkan kening adalah, ada sebuah jaket kardigan rajut berwarna abu-abu yang tersampir menutupi bahu gadis itu—entah rekan kerjanya atau petugas kebersihan sif malam yang berinisiatif menyelimutinya.

​Juna mematung dalam diam, menatap ritme napas Naya yang teratur.

​'Dia benar-benar tidak pulang semalaman,' batin Juna, sebuah gelombang emosi campuran antara ketidakpercayaan dan kekaguman yang luar biasa berusaha ia tekan mati-matian. 'Dia menelan ego dan amarahnya bulat-bulat, dan memilih menghancurkan tubuhnya sendiri di kursi murahan ini demi memenuhi standar konyolku. Determinasi gadis ini sangat menakutkan.'

​Mata Juna kemudian melirik ke arah meja kerja Naya, dan ia tidak menemukan kotak sisa makanannya di atas meja. Namun, saat tatapannya beralih menembus sela-sela kubikel ke arah keranjang sampah, ia melihat ujung bungkus kertas cokelat berlogo restoran deli miliknya menyembul di sana.

​Sudut bibir Juna tanpa ia sadari tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum asimetris yang sangat tipis. Sangat singkat.

​'Setidaknya dia masih memiliki akal sehat untuk tidak membiarkan idealismenya membunuhnya kelaparan di dalam gedungku,' gumam Juna di dalam hati.

​Juna segera menghapus senyuman itu dan kembali menarik topeng stoik andalannya. Ia berdeham. Suara baritonnya pelan namun berat, sengaja ia lepaskan untuk memecah keheningan.

​"Ehem."

​Naya terlonjak dari kursinya seolah punggungnya baru saja disengat oleh aliran listrik. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat, mengusap ujung bibirnya secara refleks dengan punggung tangan, lalu menatap siluet pria di depannya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Saat fokus matanya mengenali siapa pria yang berdiri menjulang di dekat mejanya, mata Naya seketika membelalak panik.

​"S-Selamat pagi, Pak Arjuna!" sapa Naya dengan suara yang sangat serak, buru-buru berdiri hingga lututnya terbentur meja. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang mencuat, berusaha dengan putus asa memulihkan sisa-sisa martabat profesionalnya yang telah terserak.

​Juna tidak bergeming. Wajahnya kembali menjadi dinding marmer yang dingin dan datar.

​"Mengingat Anda lebih memilih tidur menggunakan fasilitas listrik dan pendingin ruangan eksklusif milik perusahaan saya daripada pulang ke apartemen, saya berasumsi progres revisi visual Anda sudah mencapai target harian seratus persen untuk dipresentasikan pagi ini, Kanaya?" ucap Juna tanpa nada basa-basi, melipat kedua lengannya di depan dada sambil menatap Naya dari atas ke bawah.

​'Pria ini benar-benar inkarnasi dari iblis tanpa nurani,' rutuk Naya dalam diam, sisa kantuknya seketika terbakar habis menjadi abu. 'Tidak adakah ucapan selamat pagi yang normal di dunia orang kaya? Tentu saja tidak. Dia hanya peduli pada target.'

​Naya menarik napas panjang, menegakkan punggungnya yang berderit nyeri, dan menatap Juna dengan tatapan menantang yang tidak kalah tajam.

​"Saya sudah menyelesaikan seratus persen perombakan desain lobi utama dan material lantai dasar sesuai dengan visi 'kemewahan absolut' yang Anda perintahkan, Pak," jawab Naya dengan ketenangan yang dipaksakan. "Semuanya sudah saya cetak dan siap untuk saya presentasikan di ruang Anda kapan pun Anda mau."

​Juna melirik jam di pergelangan tangannya. "Bagus. Saya tunggu Anda di ruang CEO pukul delapan tepat. Jangan terlambat satu menit pun, atau saya akan menganggap tenggat waktu tiga hari Anda hangus."

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Juna memutar tubuhnya dan berjalan pergi menuju lift eksekutif.

​Satu jam kemudian, udara di area divisi desain interior terasa jauh lebih ringan secara visual. Badai semalam telah tersapu bersih, menyisakan langit biru cerah yang menyilaukan.

​Namun, cuaca cerah di luar sana sama sekali tidak berbanding lurus dengan kondisi internal Kanaya Larasati.

​Naya berdiri mematung di depan mesin pembuat espresso otomatis di area pantry kantor. Matanya menatap kosong pada aliran kopi hitam pekat yang mengalir ke dalam cangkir kertasnya. Lingkar hitam di bawah matanya masih terlihat jelas meski ia sudah memulaskankan lapisan concealer ekstra tebal dari pouch makeup daruratnya.

​'Fokus, Naya. Setengah jam lagi,' Naya merapal sugesti pertahanan di dalam hatinya, meniup uap kopinya pelan. 'Serahkan cetak biru itu, biarkan si manusia es tiran itu mengomel panjang lebar soal margin presisi, lalu kau bisa kembali pada kehidupan normalmu.'

​"Begadang lagi, Naya? Atau... sibuk mencoba mencari simpati atasan di jam-jam sepi?"

​Suara melengking yang dibalut nada manis beracun itu langsung menghancurkan kedamaian rapuh Naya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara yang menyakitkan telinga tersebut. Siska. Desainer senior yang ambisinya tertahan di level manajerial menengah selama lima tahun berturut-turut.

​Siska berjalan masuk ke dalam pantry dengan sepatu hak tingginya yang berisik, menyandarkan pinggulnya ke meja pantri di sebelah Naya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada. Senyum asimetris yang sangat merendahkan terbentuk di bibir wanita berlipstik merah marun menyala itu.

​Naya menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang meraih sachet gula pasir menegang di udara selama satu detik penuh, sebelum akhirnya ia melanjutkan gerakannya dengan tenang, merobek kemasan gula itu dan menuangkannya ke kopinya.

​"Selamat pagi juga, Mbak Siska. Kopi saya sepertinya kurang pahit pagi ini, tapi terima kasih banyak sudah menambahkan komentar Anda untuk melengkapinya," balas Naya dengan sangat tenang. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Siska tanpa berkedip sedetik pun.

​Siska mendengus pelan, matanya memindai Naya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang tajam.

​"Kau tahu, Naya, di dunia arsitektur korporat, kita sering sekali melihat anak-anak junior baru yang mencoba menggunakan segala cara 'kreatif' untuk naik ke posisi atas dengan cepat," ucap Siska, mengitari Naya dengan langkah pelan seperti predator yang sedang mencari celah kelemahan mangsanya.

​Siska mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik dengan nada mengejek. "Kudengar dari OB yang membersihkan area kerjamu subuh tadi, ada sampah bungkus makanan dari restoran deli VIP di keranjang sampah dekat mejamu. Restoran di lantai dasar yang hanya menerima pesanan langsung dari jalur jajaran direksi eksekutif. Sangat kebetulan, bukan? Hati-hati, Naya, mencari muka dengan cara mengemis belas kasihan atasan di tengah malam tidak akan pernah bisa menutupi kekurangan matematis dalam perhitungan desainmu."

​Rahang Naya mengeras seketika. Ujung kuku di tangan kirinya secara otomatis menancap kuat ke telapak tangannya sendiri—mekanisme pertahanan psikologis tubuhnya setiap kali ia merasa tersudutkan dan dihina oleh sentimen kelas sosial.

​'Dari mana ular berbisa ini tahu soal makanan itu?' batin Naya meradang tajam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena waspada. Rasa insecure tentang latar belakangnya yang sederhana kembali membara. 'Kau tidak tahu seberapa banyak jam tidur yang kukorbankan untuk proyek ini, Siska. Kau hanya iri karena draf desainmu yang usang itu ditolak tiga kali berturut-turut oleh dewan direksi bulan lalu.'

​Naya memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menghadapi Siska. Ia memaksakan sebuah senyum profesional yang luar biasa tipis, ramah, namun mematikan. Posturnya ditegakkan, menantang dominasi senioritas Siska secara visual.

​"Saya mendapatkan makanan itu karena Pak Arjuna tidak ingin proyek bernilai triliunan rupiahnya ini tertunda atau gagal hanya karena desainer utamanya tumbang akibat kelaparan di tengah malam, Mbak Siska," jawab Naya, artikulasinya dipotong dengan sangat tajam, jelas, dan sarat akan arogansi intelektual. "Itu namanya manajemen risiko korporat level eksekutif. Beliau mengamankan aset intelektualnya. Mungkin... jika draf desain Mbak Siska bulan lalu memiliki kualitas yang sepadan dan tidak ditolak berulang kali oleh direksi, Mbak juga akan mendapatkan perlakuan manajemen risiko yang sama berharganya dari beliau."

​Mata Siska terbelalak lebar. Wajahnya yang dilapisi foundation mahal itu seketika memerah padam menahan amarah yang meledak karena egonya diinjak tepat di titik yang paling menyakitkan. Mulutnya terbuka untuk membalas sindiran itu, namun kerongkongannya tercekat.

​"Adapun soal kekurangan desain saya," Naya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka untuk memberikan tekanan terakhir, "saya akan membuktikan presisinya sebentar lagi di ruang CEO. Dengan otak saya, bukan dengan gosip pantri murahan. Permisi."

​Tanpa repot-repot menunggu balasan atau teriakan amarah dari seniornya, Naya meraih cangkir kopinya dan berjalan keluar dari pantry dengan derap langkah yang konstan dan percaya diri.

​Namun, begitu ia berada jauh di luar jarak pandang Siska, langkah Naya mendadak melambat. Tangan kanannya yang memegang cangkir kopi bergetar hebat tak terkendali. Ia bersandar sejenak pada dinding lorong, menarik napas panjang dengan dada yang kembang kempis.

​'Buktikan pada mereka semua hari ini, Naya. Bungkam mulut Siska, dan bungkam mulut arogan Arjuna Dirgantara dengan cetak birumu.'

​Tepat pukul delapan pagi, Naya berdiri di depan pintu kayu mahoni ganda yang memisahkan dunia karyawan biasa dengan ruang kekuasaan absolut sang CEO.

​Ia membawa sebuah tabung gambar berbahan polimer hitam di tangan kanannya, berisi cetak biru fisik ukuran A3 yang telah ia kerjakan semalaman. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah iPad Pro perusahaan yang berisi kalkulasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah direvisi hingga ke digit desimal terakhir.

​Pintu terbuka dari dalam. Riko, sang asisten eksekutif, mengangguk sopan padanya dan mempersilakannya masuk.

​Arjuna Dirgantara sedang berdiri membelakangi pintu, menghadap ke jendela panorama raksasa yang menampilkan pemandangan SCBD. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang membingkai posturnya dengan sempurna. Saat mendengar langkah kaki Naya, Juna memutar tubuhnya secara perlahan.

​Tatapan mereka terkunci di udara selama satu detik.

​'Dia sama sekali tidak terlihat seperti pria yang diam-diam meletakkan makan malam hangat di mejaku semalam,' batin Naya, menelan ludah dengan susah payah saat melihat ekspresi bosnya. 'Wajahnya telah kembali menjadi dinding es pualam. Tatapannya kembali menelanjangi dan penuh penilaian.'

​Juna tidak mengucapkan salam. Ia melangkah menuju meja kaca panjang yang khusus digunakan untuk pertemuan arsitektural di tengah ruangan. Ia menunjuk permukaan meja kaca itu dengan gerakan kepalanya.

​"Bentangkan draf akhir Anda di sini, Kanaya. Saya sangat berharap waktu tenggang tiga hari yang saya berikan tidak berakhir dengan Anda membuang-buang waktu saya hari ini."

​Naya berjalan maju dengan postur tegap. Ia membuka tutup tabung polimernya, mengeluarkan lembaran cetak biru yang masih memancarkan aroma tinta, dan membentangkannya dengan hati-hati di atas meja kaca. Ia meletakkan empat buah pemberat logam di keempat sudut kertas tebal tersebut.

​Keduanya kini berdiri berhadapan, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kaca dan selembar cetak biru yang akan menentukan nasib Naya.

​Juna menundukkan wajahnya. Matanya yang awas layaknya mikroskop mulai memindai garis-garis arsitektural yang tergambar di atas kertas. Jemarinya yang panjang dan kokoh menyusuri jalur sirkulasi lobi yang tergambar di sana. Ia diam. Sepenuhnya diam tanpa komentar.

​Keheningan di ruangan itu begitu absolut dan mencekam, hingga Naya berani bersumpah ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdegup liar.

​Juna meneliti setiap sentimeter persegi desain tersebut. Matanya menyipit saat ia memeriksa secara teliti kalkulasi struktural penahan beban di area pintu masuk utama.

​'Sirkulasi jalur servis untuk staf hotel sudah dipindahkan sepenuhnya ke sayap barat tanpa mengorbankan integritas struktural pilar utama penyangga lobi,' batin Juna, otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa membedah logika desain tersebut lapis demi lapis. 'Beban mati dari marmer Calacatta Gold yang sangat berat ini telah didistribusikan secara merata. Risiko tergelincir bagi tamu VIP di area depan sudah dieliminasi total seratus persen.'

​Juna perlahan mengalihkan pandangannya pada detail spesifikasi pencahayaan di area pilar utama.

​'Pencahayaan hidden cove bernuansa amber hangat bersuhu 3500 Kelvin...' Juna bergumam dalam hati, merasakan sebuah sengatan kekaguman murni yang jarang sekali terjadi menyengat egonya. 'Hasil proyeksi visualnya luar biasa. Marmer yang tadinya kaku dan mengintimidasi, kini memancarkan pendaran cahaya hangat dari dalam urat-urat emasnya. Batu-batu itu seolah-olah hidup dan bernapas. Estetika kemewahan absolut dan sentuhan kemanusiaannya berpadu tanpa cela. Gadis ini... dia benar-benar telah menciptakan sebuah mahakarya di bawah tekanan yang nyaris mematikannya.'

​Meski di dalam kepalanya Juna sedang memberikan tepuk tangan berdiri untuk karya tersebut, wajahnya di dunia nyata tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun.

​Juna menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada untuk menyembunyikan keterpukauannya, dan menatap Naya dengan ekspresi datar yang sangat tidak bisa ditebak.

​Naya menahan napasnya tanpa sadar. Jemarinya di bawah meja mencengkeram tepi iPad-nya erat-erat, menunggu jatuhnya vonis eksekusi.

​"Kalkulasi margin pemborosan material (material wastage) untuk pemotongan lengkungan marmer yang sangat rumit ini, berada di angka toleransi berapa?" tanya Juna tiba-tiba, melontarkan pertanyaan jebakan dengan suara sedatar aspal jalan tol.

​"Empat koma dua persen, Pak," jawab Naya dengan tempo sangat cepat dan mantap, tanpa perlu melirik layarnya. Ia sudah menghafal seluruh angka kematian itu di luar kepalanya. "Angka itu berada jauh di bawah batas toleransi standar industri kita yang biasanya ditetapkan maksimal di angka delapan persen. Anggaran material yang dialokasikan sangat aman."

​Juna menghela napas pendek yang hampir tidak terdengar. Ia merapikan ujung jas mahalnya dengan satu gerakan elegan, lalu bersandar sedikit pada tepi meja kerjanya. Matanya menatap lurus ke arah Naya, menembus dinding pertahanan profesional gadis itu.

​"Draf perancangan visual dan alokasi teknis ini," Juna sengaja menjeda kalimatnya selama dua detik penuh, membiarkan ketegangan menggantung di udara seperti pedang yang siap jatuh, "saya nyatakan disetujui secara keseluruhan."

​Waktu di dunia Kanaya Larasati seolah membeku. Otaknya yang kelelahan menolak memproses sintaksis kalimat barusan.

​'Disetujui? Disetujui sepenuhnya? Tanpa revisi tambahan? Tanpa cacian soal idealismeku?' batin Naya menjerit histeris kegirangan di dalam tempurung kepalanya. Rasanya ia ingin melompat, menari-nari di atas meja marmer berharga miliaran itu, dan meneriakkan kemenangannya.

​Namun, Naya sadar ia adalah seorang profesional sejati. Ia mengunci euforia meledak-ledak itu di dalam dadanya. Naya menghembuskan napas lega yang luar biasa panjang, bahunya yang sejak subuh tadi menegang kaku, akhirnya turun dan rileks.

​Sebuah senyum kecil—sangat tipis, namun memancarkan kelegaan yang tulus dan binar kemenangan—terbentuk di bibir Naya.

​"Terima kasih banyak, Pak Arjuna," ucap Naya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. "Berarti tugas utama saya untuk tahap perancangan desain lobi ini sudah selesai."

​Juna menatap senyum tipis di wajah gadis itu, merasakan sebuah tarikan gravitasi aneh di dalam dadanya. Namun sang CEO segera mematikan perasaan itu.

​"Jangan berpuas diri terlalu cepat, Kanaya," balas Juna dengan bariton yang kembali mendingin. "Tahap perancangan di atas kertas ini hanyalah sepuluh persen dari total pekerjaan. Eksekusi presisi tiga dimensinya di lapangan baru saja akan dimulai. Persiapkan mental dan fisik Anda untuk tahap fabrikasi yang sesungguhnya. Silakan kembali ke meja Anda dan selesaikan rincian dokumen vendornya hari ini juga."

​Naya mengangguk mantap. "Baik, Pak Arjuna. Saya permisi."

​Naya membereskan dokumennya dan melangkah keluar dari ruang CEO dengan dada yang membusung bangga. Ia telah memenangkan pertempuran pertamanya. Ia telah berhasil membuktikan kemampuannya di depan sang tiran.

​Namun, Naya tidak menyadari bahwa kemenangan kecil ini barulah awal dari badai yang jauh lebih besar. Sebuah badai yang akan menyeretnya keluar dari zona nyamannya di Jakarta, dan membawanya terbang melintasi awan menuju sebuah pabrik berdebu di pulau Bali.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​Kamera mengambil sudut pandang dari bawah (low angle), menyorot ruangan kerja mewah bergaya Eropa klasik dengan dinding rak buku mahoni yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Suasana ruangan itu sangat suram dan mendominasi.

​Sembilan belas tahun yang lalu.

​Arjuna, yang saat itu masih berusia sembilan tahun dan bertubuh kurus, sedang berdiri mematung di sudut ruangan. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kebesaran. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah ibunya, Maria, yang sedang duduk di kursi berlengan (armchair) beludru.

​Ruangan itu sangat gelap karena tirai tebalnya ditutup rapat atas perintah sang ayah, Chairman Dirgantara, yang sedang pergi. Ayahnya tidak menyukai cahaya matahari langsung yang masuk ke ruang kerjanya.

​Maria, yang wajahnya terlihat sangat pucat namun memancarkan kelembutan yang luar biasa, memanggil Juna kecil untuk mendekat. Di tangan ibunya, terdapat sebuah lampu baca kecil berselubung kaca kristal berwarna kuning keemasan.

​Ibunya menyalakan lampu kecil itu. Pendaran cahaya kuning amber seketika menyebar, mengusir kegelapan yang mengintimidasi di sekitar kursi beludru tersebut, menciptakan sebuah radius kehangatan di tengah ruangan yang dingin dan fasis.

​"Lihat ini, Arjuna sayang," bisik ibunya dengan suara yang sangat menenangkan, mengelus rambut putranya. "Ayahmu berpikir bahwa untuk menjadi kuat, kau harus mengubah segalanya menjadi gelap, dingin, dan keras seperti batu marmer di dinding ini. Dia berpikir bahwa kehangatan adalah sebuah kelemahan."

​Ibunya menempelkan tangan Juna kecil ke kaca lampu yang hangat tersebut.

​"Tapi ibumu tahu rahasianya," lanjut Maria tersenyum sedih. "Kedinginan yang paling absolut sekalipun, dinding marmer yang paling keras dan angkuh di dunia ini, bisa dikalahkan dan diluluhkan oleh satu titik cahaya hangat yang disembunyikan dengan baik dari dalam. Jangan biarkan ayahmu mematikan cahayamu, Juna. Sembunyikan kehangatanmu jika kau harus melakukannya, tapi jangan pernah biarkan hatimu benar-benar membeku menjadi batu."

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada mata Juna kecil yang merekam pendaran cahaya amber tersebut ke dalam memori permanennya, tepat sebelum penyakit merenggut nyawa ibunya setahun kemudian.

​Kamera secara sinematik beralih (fade out), kembali ke masa kini. Wajah Arjuna Dirgantara dewasa yang mematikan dan kaku duduk di kursi CEO-nya. Ia menatap layar monitornya yang menampilkan render lobi dengan cahaya amber rancangan Kanaya. Ia akhirnya menyadari mengapa desain gadis itu begitu memukul ulu hatinya dengan sangat keras; karena Naya, tanpa sengaja, telah berhasil mewujudkan filosofi cahaya terakhir dari almarhumah ibunya ke dalam tumpukan batu pualam yang ia perintahkan.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!