Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Sisa Sisa Kepercayaan Yang Runtuh
Lorong bawah tanah itu terasa seperti kerongkongan raksasa yang dingin dan lembap. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit beton yang retak beradu dengan deru napas Arga yang masih tidak beraturan. Setiap langkah kaki bot taktis milik Nadia menciptakan gema yang memantul, seolah-olah ada ribuan hantu yang mengikuti mereka dari kegelapan di belakang.
Arga menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang kasar. Rasa perih di paru-parunya mulai mereda, namun rasa sakit di dadanya—rasa sakit karena pengkhianatan—justru semakin mengoyak. Dia menatap tangannya yang gemetar di bawah sinar temaram senter Nadia. Tangan yang tadi siang masih memegang koper warisan kakeknya, tangan yang dulu sering menggenggam tangan Elina dengan penuh janji.
"Kenapa, Nadia?" suara Arga pecah, serak karena sisa gas air mata. "Dani... dia sudah bersamaku sejak aku masih di titik terendah di Jakarta. Dia yang membantuku mengurus dokumen PT Cakrawala. Dia yang menyiapkan kopi setiap pagi saat aku lembur menghancurkan keluarga Winata. Bagaimana bisa semuanya hanya sandiwara?"
Nadia berhenti melangkah. Dia tidak menoleh, namun bahunya tampak menegang. "Di dunia yang dibangun oleh Pak Broto dan Hendrawan, kesetiaan adalah komoditas yang bisa dibeli, Arga. Dani bukan sekadar asisten. Dia adalah lulusan terbaik dari akademi bayangan milik The Iron Circle. Dia ditugaskan untuk mencintaimu sebagai saudara, agar kamu tidak pernah curiga saat dia memasang pisau di punggungmu."
Arga tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih mirip isak tangis yang tertahan. "Jadi, selama ini aku hanya badut? Hendrawan memberikan kekayaan itu padaku hanya agar aku menjadi kunci biometrik untuk membuka harta kakekku? Dan setelah kotak itu terbuka, aku dibuang seperti sampah?"
"Lebih buruk dari itu," Nadia berbalik, menatap Arga dengan mata yang tajam namun menyimpan sedikit rasa simpati. "Kamu bukan dibuang. Kamu sedang digiring. Hendrawan tahu kamu akan lari ke Elina. Dia tahu cintamu pada gadis itu adalah kompas yang paling akurat untuk menemukan lokasi fasilitas medis di Tatra. Kamu adalah pelacak alami yang tidak sadar sedang membawa pemburunya ke sarang mangsa."
Arga memejamkan mata. Bayangan wajah Hendrawan yang tenang dan bijaksana di kantornya di Jakarta kini berubah menjadi sosok iblis yang tertawa di balik kemewahan. Dan Siska... mantan istrinya yang haus akan validasi, ternyata hanya pion kecil yang merasa dirinya pemain besar.
"Lalu kamu?" tanya Arga, menatap Nadia dengan penuh selidik. "Siapa kamu sebenarnya dalam papan catur ini? Kenapa kamu menyelamatkanku? Jangan bilang ini karena tugas dari Hendrawan."
Nadia mematikan senternya sejenak, membuat mereka tenggelam dalam kegelapan total selama beberapa detik yang mencekam. "Ayahku adalah salah satu ilmuwan yang bekerja dengan Pak Broto sepuluh tahun lalu. Dia tewas saat fasilitas di Swiss diledakkan untuk menghilangkan jejak. Pak Broto menyelamatkanku, menyembunyikanku di panti asuhan, dan memastikan aku memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Aku tidak bekerja untuk Hendrawan, Arga. Aku bekerja untuk membayar hutang nyawa pada kakekmu. Dan kakekmu menitipkan satu pesan terakhir untukku: 'Jika Arga akhirnya terjebak dalam labirin yang kubangun, tarik dia keluar, meski dia harus kehilangan segalanya untuk tetap hidup.'"
Arga terdiam. Dia teringat kembali masa kecilnya bersama Pak Broto. Kakeknya selalu melatihnya untuk menghafal rute jalanan Jakarta tanpa peta, melatihnya untuk tetap tenang saat tersesat di hutan saat mereka berkemah, dan selalu menekankan bahwa "jarak terpendek menuju tujuan bukanlah garis lurus, melainkan jalan yang paling aman." Sekarang dia sadar, semua itu adalah latihan untuk menghadapi hari ini.
"Kita tidak punya banyak waktu," Nadia menyalakan kembali senternya. "Sistem pelacakan di jasmu pasti sudah aktif kembali setelah gas air mata itu menipis. Kita harus melepaskan semua identitasmu di sini."
Nadia mengeluarkan sebuah alat pemotong kecil dan mendekati Arga. Dengan gerakan cekatan, dia merobek jahitan di kerah jas Arga, mengeluarkan sebuah chip transparan yang sangat kecil. Dia menghancurkannya dengan tumit botnya. Kemudian, dia meminta ponsel, jam tangan, dan dompet Arga. Semuanya dilemparkan ke dalam genangan air yang berbau karat di sudut lorong.
"Sekarang, kamu bukan lagi Arga Adriansyah si pengusaha kaya. Kamu hanya seorang pria yang mencoba bertahan hidup di bawah tanah Praha," ucap Nadia.
Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong itu semakin menyempit, memaksa mereka untuk berjalan merunduk. Bau udara berubah, dari bau tanah menjadi bau bensin dan uap panas. Mereka mulai mendekati jalur pembuangan limbah kota yang terhubung dengan akses keluar di pelabuhan sungai.
Sambil berjalan, Arga mencoba mengingat kembali video Elina yang ditunjukkan Hendrawan. Mata Elina yang kosong... apa yang mereka lakukan padanya? 'Terbangun', kata Hendrawan.
"Nadia, apa yang dimaksud dengan Elina 'terbangun'?" tanya Arga saat mereka berhenti sejenak di sebuah persimpangan pipa besar.
Nadia menghela napas panjang. "Kakekmu mencuri data tentang rekayasa memori bawah sadar. 'The Iron Circle' ingin menciptakan agen yang tidak bisa dikhianati karena mereka tidak memiliki emosi. Elina adalah prototipe yang sempurna karena dia memiliki struktur otak yang unik. Selama sepuluh tahun, kakekmu menanamkan 'jangkar' emosi palsu ke dalam ingatan Elina agar dia tetap merasa sebagai manusia biasa. Salah satu jangkarnya adalah... kamu."
Langkah kaki Arga terhenti. "Maksudmu... pertemuanku dengan Elina di Jakarta... itu sudah diatur kakekku?"
"Tidak semuanya palsu, Arga. Emosinya nyata, tapi pemicunya sudah dirancang. Kakekmu ingin Elina mencintaimu agar 'kemanusiaannya' tetap terjaga. Tapi sekarang Hendrawan sedang mencoba mencabut jangkar itu. Dia ingin menghapus memori tentangmu agar Elina menjadi senjata yang murni. Itulah proses 'terbangun'. Jika proses itu selesai, Elina akan bangun sebagai orang lain. Seseorang yang mungkin akan membunuhmu tanpa ragu sedikit pun saat kalian bertemu nanti."
Dunia Arga runtuh untuk kesekian kalinya. Cinta yang dia anggap sebagai tempat pelarian terakhirnya, ternyata juga merupakan bagian dari eksperimen yang rumit. Rasa bersalah, amarah, dan rindu bercampur menjadi satu, menciptakan api yang membakar di dalam matanya.
"Aku tidak peduli jika dia lupa padaku," desis Arga, suaranya kini terdengar sangat berbeda—dingin dan penuh tekad. "Aku akan membuatnya mengingat kembali. Dan untuk Hendrawan... aku akan memastikan dia merasakan jarak yang sama antara hidup dan neraka yang dia ciptakan untukku."
Nadia menatap Arga, menyadari bahwa pria di depannya sudah tidak lagi sama dengan pria yang datang ke Praha dengan membawa koper penuh harapan. Arga yang sekarang sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih keras dari beton di sekeliling mereka.
"Bagus," ucap Nadia singkat. "Simpan kemarahan itu. Kita akan membutuhkannya untuk menyeberangi perbatasan Tatra. Di sana, salju tidak pernah mencair, dan darah adalah satu-satunya hal yang terasa hangat."
Mereka akhirnya sampai di ujung lorong. Sebuah tangga besi tua menuju ke atas, ke arah dermaga kecil yang tersembunyi di balik gudang kontainer. Di luar, suara sirine polisi Praha terdengar bersahutan, mencari jejak pengusaha Indonesia yang menghilang secara misterius.
Arga menaiki tangga itu dengan perlahan. Saat kepalanya menyembul keluar, udara dingin Praha langsung menghantam wajahnya. Dia menatap ke arah pusat kota, ke arah apartemen Elina yang kini kosong dan sunyi.
"Tunggu aku, El," bisik Arga pada kegelapan malam. "Meski aku harus menarikmu kembali dari ujung ingatanmu yang paling dalam, aku akan datang."
Saat Arga hendak naik sepenuhnya ke dermaga, sebuah cahaya laser merah tiba-tiba muncul di dadanya. Titik merah itu menari-nari di atas jantungnya, stabil dan mematikan.
Nadia yang berada di bawahnya langsung mematikan senter, tapi terlambat. Dari kegelapan di seberang dermaga, sebuah suara yang sangat familiar terdengar melalui pengeras suara.
"Jarak yang kamu tempuh cukup mengesankan, Arga. Tapi sayangnya, perjalananmu berakhir di dermaga ini."
Itu suara Dani. Dan kali ini, dia tidak bicara sebagai asisten. Dia bicara sebagai algojo.