NovelToon NovelToon
DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.

​Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.

​Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Melintasi Cakrawala Naga dan Ujian Darah Kuno

Fajar di Puncak Langit Tertinggi menyingsing dengan warna yang aneh—perpaduan antara emas fajar yang tertutup kabut ungu pekat dari Gerbang Kesunyian. Wang Tian berdiri di tepi tebing yang terbelah, menatap busur Sirius yang kini melingkar di punggungnya seperti tulang punggung dewa yang bercahaya. Tubuhnya masih terasa pegal akibat pemakaian energi jiwa semalam, namun matanya tetap tajam, memindai cakrawala yang mulai retak.

"Kita tidak bisa membawa seluruh pasukan ke Dunia Naga Tersembunyi," ucap Long Wei, yang kini mengenakan jubah emas baru untuk menutupi luka-luka bakar Void di punggungnya. "Tempat itu berada di celah dimensi antara Benua Tengah dan Alam Langit Tinggi. Masuk ke sana tanpa darah naga yang murni sama saja dengan bunuh diri. Tekanan ruangnya akan meremukkan tulang manusia biasa menjadi debu."

Wang Tian mengangguk. Ia menoleh ke arah Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora. "Kalian bertiga tetaplah di sini. Pimpin para penatua untuk memperkuat formasi pertahanan Arsenal Primordial. Jika gerbang itu terbuka lebih lebar sebelum aku kembali, gunakan meriam energi dari gudang senjata dewa. Jangan biarkan satu pun makhluk Void menyentuh tanah ini."

"Tapi Wang Tian..." Lin Xuelan hendak memprotes, namun ia melihat keteguhan di mata suaminya. Ia menghela napas dan memeluk Wang Tian erat. "Kembalilah. Jangan biarkan naga-naga tua itu memakanmu."

Mora mengasah sabitnya dengan suara berdenting yang dingin. "Jika kau tidak kembali dalam tiga hari, aku akan membelah dimensi itu sendiri untuk menjemputmu."

Perjalanan Menuju Celah Dimensi

Wang Tian dan Long Wei melompat dari puncak gunung, meluncur menuju sebuah lembah tersembunyi yang disebut Lembah Air Mata Naga. Di sana, Long Wei mengeluarkan sebuah sisik kristal dari jantungnya—pusaka peninggalan ayahnya. Ia menggoreskan sisik itu ke udara kosong.

SREEEET!

Udara di depan mereka robek, memperlihatkan sebuah terowongan cahaya yang dipenuhi dengan badai petir emas. Tanpa ragu, keduanya melangkah masuk.

Di dalam terowongan, Wang Tian merasakan tekanan yang luar biasa. Setiap pori-pori kulitnya seolah-olah ditekan oleh beban sepuluh gunung. Namun, Pusaran Primordial di dalam tubuhnya bereaksi dengan liar. Energi naga yang sangat padat di tempat ini justru mulai terserap masuk, memperkuat fondasi Ranah Spirit Severing miliknya yang sempat tidak stabil.

"Tahan napasmu, Kakak!" teriak Long Wei di tengah gemuruh petir. "Kita akan keluar di Jembatan Pelangi Abadi!"

Dunia Naga: Keagungan yang Terlupakan

Saat cahaya yang menyilaukan meredup, Wang Tian tertegun. Di depannya terbentang sebuah dunia yang melampaui imajinasi manusia. Pulau-pulau terapung yang terbuat dari kristal zamrud melayang di atas lautan awan emas. Di kejauhan, bangunan-bangunan megah setinggi ribuan meter berdiri tegak, dihiasi dengan ukiran naga yang tampak hidup.

Di langit, ratusan naga dari berbagai jenis—naga api merah, naga es biru, naga petir ungu—terbang dengan bebas, mengeluarkan raungan yang membuat ruang di sekitarnya bergetar.

Namun, kedatangan mereka tidak disambut dengan pesta. Dalam hitungan detik, belasan naga berukuran raksasa menukik turun, mengepung mereka di atas jembatan pelangi.

"Long Wei, pengkhianat!" suara menggelegar datang dari naga biru tua yang memimpin pengepungan. "Kau berani membawa manusia kotor ke tanah suci kami? Kau tahu hukumannya adalah pencabutan sisik jantung!"

Long Wei melangkah maju, menghalangi Wang Tian. "Penatua Ao Kuang! Manusia ini bukan manusia biasa. Dia adalah pewaris Primordial yang telah menyelamatkan nyawaku dan menghancurkan pengkhianat klan naga di dunia bawah!"

"Pewaris Primordial atau bukan, dia tetaplah manusia yang darahnya penuh dengan kerakusan!" naga itu berubah wujud menjadi seorang pria tua bertubuh kekar dengan janggut biru yang menjuntai. "Tangkap mereka!"

Ujian di Aula Sembilan Naga

Wang Tian tidak melakukan perlawanan saat mereka digiring menuju Aula Sembilan Naga, pusat pemerintahan Dunia Naga. Ia tahu bahwa ia butuh aliansi mereka, bukan peperangan baru.

Di dalam aula, duduk tujuh orang tua yang memancarkan aura luar biasa kuat—semuanya berada di Ranah Dao Seeking tingkat awal. Di tengah mereka, duduk seorang wanita dengan rambut emas yang menyentuh lantai dan mata yang memancarkan kebijaksanaan purba. Dia adalah Ratu Naga Emas, Long Meiling.

"Wang Tian," suara Ratu Naga terdengar lembut namun penuh otoritas. "Kau membawa aroma busuk Void di jubahmu, namun kau juga membawa cahaya yang sudah tidak kami lihat selama sepuluh ribu tahun. Katakan, kenapa kami tidak harus membunuhmu sekarang?"

Wang Tian menatap langsung ke mata sang Ratu. "Karena jika aku mati di sini, Benua Tengah akan jatuh. Dan jika Benua Tengah jatuh, Gerbang Kesunyian Abadi akan meluas hingga menelan Dunia Naga kalian. Void tidak mengenal batas dimensi. Mereka hanya mengenal rasa lapar."

"Kami memiliki pertahanan kuno yang tidak bisa ditembus oleh Void," sahut salah satu penatua dengan nada sombong.

"Pertahanan kalian dibangun oleh Kaisar Primordial Pertama," balas Wang Tian dingin. "Dan aku membawa busur Sirius di punggungku. Jika aku bisa mengaktifkannya, itu berarti aku adalah pemilik sah dari semua pertahanan itu. Jika kalian menolak membantuku, berarti kalian mengkhianati sumpah naga kalian kepada leluhur Primordial."

Aula itu mendadak sunyi. Sebutan tentang sumpah purba itu membuat para penatua gelisah.

"Buktikan," ucap Ratu Long Meiling. "Jika kau benar-benar pewaris yang sah, kau harus melewati Ujian Darah Kuno di Kolam Reinkarnasi Naga. Jika kau selamat, kami akan mengikutimu. Jika kau gagal, jiwamu akan menjadi nutrisi bagi pohon kehidupan kami."

Kolam Reinkarnasi: Pertarungan Melawan Diri Sendiri

Wang Tian dibawa ke sebuah gua bawah tanah di mana terdapat sebuah kolam berisi cairan perak yang mendidih. Cairan itu bukan air, melainkan sari pati dari darah ribuan naga yang telah mati selama jutaan tahun.

"Masuklah," perintah Penatua Ao Kuang dengan senyum sinis.

Wang Tian melangkah masuk ke dalam kolam. Seketika, rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menghantam jiwanya. Rasanya seperti ribuan naga sedang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam.

Di dalam penglihatan batinnya, ia tidak lagi berada di kolam. Ia berdiri di tengah-tengah kehampaan hitam. Di depannya, muncul sosok dirinya sendiri—namun versi yang telah dikuasai sepenuhnya oleh Void.

"Kenapa kau bertarung, Wang Tian?" sosok bayangan itu bertanya dengan suara yang persis seperti miliknya. "Kau dihina, kau dikhianati oleh ayahmu sendiri, kau kehilangan ibumu. Dunia ini hanya memberimu rasa sakit. Kenapa tidak kau biarkan Void menelan segalanya? Kita bisa menjadi penguasa di dalam kegelapan itu."

Wang Tian mengepalkan tangannya. "Aku bertarung bukan karena dunia ini baik. Aku bertarung karena di dunia yang busuk ini, aku menemukan Long Wei yang rela mati untukku. Aku menemukan Xuelan, Sui Ren, dan Mora yang mencintaiku tanpa syarat. Jika aku menyerah pada kegelapan, aku menghianati cahaya yang mereka berikan padaku."

Ia menghunus Dragon's Wrath versi jiwanya. "Aku tidak butuh menjadi penguasa kegelapan. Aku adalah cahaya yang membakar kegelapan itu!"

Wang Tian melepaskan sebuah ledakan energi primordial murni dari dalam intinya. Sosok bayangannya hancur berkeping-keping. Di dunia nyata, kolam perak itu mendadak berhenti mendidih dan mulai berputar membentuk pusaran yang masuk ke dalam tubuh Wang Tian.

Terobosan: Ranah Dao Seeking Setengah Langkah

Cahaya perak meledak dari dalam gua, menembus hingga ke langit Dunia Naga. Wang Tian berdiri di tengah kolam yang kini kering. Rambutnya kini tidak lagi perak murni, melainkan memiliki guratan emas yang samar. Auranya telah berubah secara drastis. Ia telah menyerap esensi naga kuno dan menggabungkannya dengan energi primordialnya.

Ia kini telah mencapai Ranah Dao Seeking Setengah Langkah.

Para penatua naga, termasuk Ratu Long Meiling, berlutut dengan satu kaki. Mereka merasakan tekanan garis keturunan yang lebih tinggi dari naga mana pun yang pernah ada.

"Kami, Klan Naga, mengakui kepemimpinanmu, Dewa Primordial Baru," ucap Ratu Long Meiling dengan kepala tertunduk.

Persiapan Perang Antar Dimensi

"Bangunlah," ucap Wang Tian. "Waktu kita tidak banyak. Aku butuh naga-naga tercepat untuk membawa persenjataan dari Arsenal Primordial ke titik-titik lemah di Benua Tengah. Dan aku butuh kalian, para penatua, untuk membantuku menyegel kembali Gerbang Kesunyian dari sisi ini."

"Kami akan menyiapkan pasukan sepuluh ribu naga perang, Tuanku," jawab Ao Kuang, yang kini menunjukkan rasa hormat yang tulus. "Namun ada satu masalah. Pemimpin para Penelan Agung, Void Overlord Malphas, telah menyadari keberadaanmu. Dia tidak akan membiarkan kita mendekati gerbang dengan mudah."

"Biarkan dia datang," ucap Wang Tian sambil menatap busur Sirius yang kini berpendar emas di punggungnya. "Aku punya sesuatu untuknya."

Kembali ke Benua Tengah: Badai yang Sesungguhnya

Saat Wang Tian dan Long Wei kembali ke Puncak Langit Tertinggi dengan membawa armada sepuluh ribu naga di belakang mereka, pemandangan yang menyambut mereka adalah neraka di bumi.

Gerbang Kesunyian Abadi telah terbuka sepenuhnya. Ribuan makhluk Void yang menyerupai malaikat jatuh dengan sayap hitam sedang bertempur dengan para kultivator Faksi Primordial. Mora terlihat sedang bertarung melawan tiga jenderal Void sekaligus, sabitnya sudah retak di banyak bagian. Lin Xuelan dan Sui Ren sedang mempertahankan gerbang Arsenal Primordial dengan sisa-sisa tenaga mereka.

"Bantu mereka!" raung Wang Tian kepada pasukan naga.

Sepuluh ribu naga meluncur dari langit, menyemburkan api dan petir yang membakar barisan makhluk Void. Kedatangan bala bantuan naga ini segera mengubah arus pertempuran.

Wang Tian melesat lurus menuju pusat Gerbang Kesunyian. Di sana, melayang sesosok raksasa dengan zirah hitam pekat yang terbuat dari bintang-bintang yang mati. Dia adalah Malphas, sang Overlord.

"Kecil... kau kembali membawa cacing-cacing bersisik ini?" suara Malphas merambat seperti racun di pikiran setiap makhluk hidup. "Kau hanya menunda pemusnahan yang sudah pasti."

Wang Tian tidak menjawab. Ia menarik busur Sirius. Kali ini, anak panahnya tidak lagi abu-abu, melainkan emas-perak yang berdenyut dengan energi naga.

"Ini bukan penundaan, Malphas," ucap Wang Tian. "Ini adalah akhir dari rasa laparmu."

Duel di Ambang Kehancuran

Pertempuran antara Wang Tian dan Malphas adalah bentrokan antara dua hukum alam yang berbeda. Malphas menggunakan Hukum Penghancuran Materi, di mana setiap tebasannya menghapus molekul di depannya. Wang Tian menggunakan Hukum Penciptaan Primordial, di mana ia terus-menerus meregenerasi ruang yang dihancurkan Malphas sambil menyerang dengan kecepatan yang melampaui waktu.

Benturan energi mereka menciptakan lubang-lubang hitam kecil di atmosfer Benua Tengah.

"Mora! Sekarang!" teriak Wang Tian.

Mora, yang telah menunggu kesempatan ini, muncul dari bayangan Malphas sendiri. Ia tidak menyerang Malphas, melainkan menusukkan belati kecil yang berisi Inti Kunci Primordial ke titik lemah di zirah Malphas.

CRACK!

Zirah sang Overlord retak. Wang Tian melepaskan anak panah Sirius tepat ke arah retakan tersebut.

BOOOOOOOOOOMMMM!

Ledakan itu membelah langit menjadi dua. Malphas meraung kesakitan saat energi naga dan primordial mulai menghancurkan intinya dari dalam. Namun, dalam upaya terakhirnya, Malphas menarik Wang Tian bersamanya ke dalam Gerbang Kesunyian.

"Tidak! Wang Tian!" teriak Lin Xuelan dari bawah.

Gerbang itu mulai menutup, menghisap Wang Tian dan Malphas ke dalam dimensi Void yang tidak diketahui. Long Wei mencoba mengejar, namun tekanan ruang yang menutup melemparkannya kembali ke tanah.

Kehampaan dan Harapan

Gerbang Kesunyian Abadi akhirnya tertutup, meninggalkan langit Benua Tengah yang kembali jernih namun sunyi. Pasukan Void yang kehilangan pemimpin mereka segera hancur menjadi abu.

Di Puncak Langit Tertinggi, Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora berdiri menatap langit yang kini kosong. Mereka tidak merasakan aura Wang Tian lagi. Namun, di tangan Lin Xuelan, sebotol darah perak ibunda Wang Tian mendadak bersinar hangat.

"Dia belum mati," bisik Lin Xuelan dengan air mata yang mengalir. "Dia sedang berjuang di sana. Dan dia akan kembali."

Di dimensi Void yang gelap gulita, Wang Tian berdiri di atas reruntuhan bintang. Di depannya, Malphas telah hancur, namun ribuan Overlord lainnya mulai bermunculan dari kegelapan.

Wang Tian menyeka darah dari wajahnya, lalu tersenyum dingin. Ia menarik busur Sirius sekali lagi.

"Jadi, kalian ingin makan?" tanya Wang Tian. "Biar kutunjukkan menu utamanya."

Cahaya primordial meledak di tengah kegelapan Void, menandakan bahwa perang Wang Tian belum berakhir. Ia tidak lagi hanya membela Benua Tengah; ia kini menjadi cahaya yang akan menerangi dimensi yang paling gelap sekalipun.

Statistik Bab 28:

Karakter: Wang Tian, Long Wei, Ratu Long Meiling, Malphas (Tewas), Lin Xuelan, Sui Ren, Mora.

Pencapaian: Menaklukkan Ujian Darah Naga, Mencapai Dao Seeking Setengah Langkah, Mengalahkan Malphas, Membawa Aliansi Naga.

Status: Wang Tian terjebak di dimensi Void (Status: Aktif Bertempur).

Kondisi Dunia: Benua Tengah selamat dari invasi pertama; Gerbang Tertutup.

Bab 29 akan menceritakan petualangan Wang Tian di dimensi Void dan bagaimana ia menemukan sisa-sisa "Klan Primordial Sejati" yang ternyata masih hidup di pengasingan.

Gimana kita Lanjut...?

1
septian arista
ke mana lin sia?
septian arista
cerita pertemuannya dengan naga kok berbeda sama bab yang sebelumnya
Abai Shaden: author lagi pusing,,maaf ya,,,
kurang ngopi
total 2 replies
septian arista
Baru kali ini ada cultivator yang melakukan terobosan di penginapan yang dan menghancurkan penginapan itu karena terobosannya
septian arista
selalu saja ada tuan muda sebuah klan yang bersikap arogan dan sangat angkuh
Abai Shaden
terimakasih masukkan nya
Abai Shaden
nanti di season II nya,,,
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah
Joe Maggot Curvanord
terlalu cepat op thor ga ada ber darah2nya
Abai Shaden: kita bikin berdarah nanti di NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL
total 1 replies
Nanik S
Mantap
Nanik S
ikut Tes Lagi
septian arista: cepat banget kenaikan kultivasinya
total 1 replies
Nanik S
Sama sama bermarga Lin
Nanik S
Pertemuan awal
Nanik S
Oky Lanjut
Nanik S
Awal yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!