"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sampah di Ambang Pintu
Langkah kakiku bergema di lorong luas menuju ruang tamu utama. Di belakangku, aku bisa merasakan kehadiran Liam. Pria itu tidak benar-benar melepaskanku; dia menjagaku dari jarak aman, wajahnya sekaku batu karang, tapi batinnya berisik bukan main.
[Jika dia memeluk pria itu... jika dia hanya selangkah saja mendekat ke bajingan itu, aku bersumpah akan meratakan seluruh bisnis Andreas dalam satu malam. Blair, kumohon... jangan hancurkan hatiku lagi tepat setelah kau memberiku harapan pagi ini.]
Aku menarik napas panjang, menguatkan mental sebagai mantan pegawai bank yang sudah biasa menghadapi nasabah toxic. Begitu sampai di ruang tamu, aku melihatnya.
Bradly Andreas.
Dia berdiri dengan kemeja yang sengaja dibuka dua kancing atasnya, mencoba terlihat seperti pria idaman sejagat raya. Senyumnya yang manipulatif itu merekah saat melihatku.
"Sayang! Akhirnya kau keluar juga," Andreas melangkah maju dengan percaya diri, tangannya terulur ingin menyentuh wajahku. "Kenapa pesanku tidak kau balas? Kau tahu betapa khawatirnya aku? Dan apa-apaan dengan pelayanmu yang kaku itu? Mereka hampir mengusirku!"
Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya seolah-olah dia adalah tumpukan sampah yang berbau busuk. "Jaga jarakmu, Tuan Andreas. Kita tidak sedekat itu."
Senyum Andreas membeku. Ia mengerjapkan mata, tampak bingung dengan sambutan dinginku. "Sayang, apa kau sedang marah karena aku telat menjemputmu kemarin? Maafkan aku, Lucas sedikit rewel. Ayo, lupakan saja. Aku sudah memesan tempat di restoran favoritmu. Mari kita bicarakan surat cerai itu lagi."
Di sudut mataku, aku melihat Liam yang berdiri di balik pilar ruang tamu. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
[Sialan! Dia benar-benar mengajak Blair pergi di depanku! Surat cerai? Jadi mereka benar-benar merencanakannya di belakangku? Hatiku... rasanya seperti disiram air raksa. Sakit sekali.]
Aku menoleh sedikit ke arah Liam, lalu kembali menatap Andreas dengan tatapan paling tajam yang pernah kupelajari dari manajer bankku dulu.
"Surat cerai?" aku tertawa hambar, suara tawaku menggema di ruangan yang sunyi itu. "Surat itu sudah jadi serpihan di tempat sampah. Jadi, kau bisa berhenti bermimpi, Andreas."
Andreas ternganga. "Apa? Kau merobeknya? Tapi... tapi kau bilang kau membenci Liam! Kau bilang pria kaku itu hanya mesin uang yang membosankan! Kau mencintaiku, Blair!"
"Mencintaimu?" aku melipat tangan di dada, melangkah mendekat ke arahnya dengan aura yang mengintimidasi. "Dengar baik-baik. Aku mungkin pernah buta, tapi sekarang penglihatanku sudah pulih total. Melihatmu sekarang, aku hanya melihat seorang parasit yang mencoba mengisap harta suamiku."
"Blair! Kau bicara apa?!" Andreas mulai panik, suaranya naik satu oktav.
"Dan satu lagi," aku menunjuk ke arah pintu keluar. "Jangan pernah lagi menyentuh putraku, Axelle. Jika aku mendengar kau atau anakmu, Lucas, menyentuh seujung kuku pun pewaris Alexander, aku tidak akan segan-segan menggunakan kekuasaan suamiku untuk membuatmu membusuk di jalanan. Mengerti?"
Andreas mundur, wajahnya pucat pasi. Ia menatapku seolah-olah aku adalah orang asing. "Kau... kau bukan Blair yang kukenal."
"Tentu saja tidak. Blair yang bodoh sudah mati semalam," sahutku sinis. "Sekarang, keluar dari rumahku sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu seperti anjing liar."
"Kau akan menyesal, Blair! Kau tidak tahu apa yang sedang kurencanakan!" ancam Andreas sambil berbalik dan lari terbirit-birit menuju mobilnya.
Begitu pintu depan tertutup rapat, aku menghela napas lega. Ketegangan di bahuku sedikit mengendur. Namun, kesunyian di belakangku jauh lebih menekan.
Aku berbalik dan menemukan Liam berdiri di sana. Matanya memerah, napasnya pendek-pendek. Dia menatapku seolah-olah aku adalah keajaiban dunia yang tidak mungkin terjadi.
[Dia mengusirnya... Dia benar-benar mengusir pria itu demi aku? Dia bilang aku 'suaminya' di depan Andreas? Ya Tuhan... apa aku boleh menangis sekarang? Aku ingin memeluknya. Aku ingin mengurungnya di sini agar dia tidak pernah berubah lagi. Blair... kau benar-benar nyata, kan?]
"Liam?" panggilku pelan.
Tanpa sepatah kata pun, Liam melangkah cepat ke arahku. Sebelum aku sempat bereaksi, ia menarikku ke dalam pelukannya. Sangat erat. Begitu erat hingga aku bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu liar.
"Jangan pernah temui dia lagi," bisik Liam, suaranya bergetar hebat di telingaku. "Aku akan memberikan apapun. Berlian, perusahaan, nyawaku sekalipun... tapi jangan pernah temui pria itu lagi."
Aku tertegun, lalu perlahan tanganku terangkat untuk membalas pelukannya. Aku mengusap punggungnya yang tegang. "Aku tidak akan menemuinya, Liam. Aku berjanji."
[Dia membalas pelukanku... Dia memelukku! Oh, haruskah aku membelikan seluruh toko perhiasan di kota ini untuknya sore nanti? Aku akan melakukannya! Aku akan melakukan apapun untuk menjaganya tetap tersenyum seperti ini!]
Aku tersenyum di balik dadanya yang bidang. Pria ini benar-benar tidak tertolong. Dia bukan CEO kejam, dia hanya seorang suami yang sangat, sangat merindukan perhatian istrinya.
"Liam, kau memelukku terlalu kencang," keluhku sambil tertawa kecil. "Aku tidak bisa bernapas."
"Maaf," Liam melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih bertengger di bahuku. Wajahnya kembali kaku, mencoba menyembunyikan telinganya yang merah padam. "Aku hanya... aku hanya ingin memastikan kau tidak membawa kuman dari pria itu masuk ke dalam rumah."
[BOHONG! Aku hanya ingin memelukmu selamanya! Kenapa bibirku susah sekali jujur?!]
Aku tertawa renyah, membuat Liam semakin salah tingkah. "Ya, ya, Tuan Alexander. Sekarang, pergilah bekerja. Cari uang yang banyak, karena aku tiba-tiba ingin mendesain sesuatu yang sangat mahal malam ini."
Liam menatapku dengan binar harapan. "Kau mau kembali mendesain?"
"Tentu saja. Bakatku terlalu berharga untuk disia-siakan hanya demi memikirkan sampah seperti Andreas," balasku mantap.
Liam mengangguk cepat. "Aku akan menyuruh orang mengirimkan semua bahan yang kau butuhkan. Apapun itu."
Aku menatap punggung Liam yang berjalan menuju mobilnya dengan langkah gagah—yang kali ini terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Aku menyentuh bibirku yang tersenyum sendiri.
"Baiklah, Elodie. Mari kita lihat siapa yang akan menulis akhir cerita ini. Kau, atau aku?"
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/