“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja yang Tak Lagi Tenang
Sementara Anita uring-uringan karena seharian tidak dapat menghubungi Raka, di lain sisi Raka dan Sekar justru tengah bersantai di tepi pantai setelah puas bermain air. Suasana tidak terlalu ramai karena bukan akhir pekan. Angin laut berembus pelan, membawa aroma laut yang khas.
Seharian penuh mereka berjalan santai, melihat biota laut, naik gondola menikmati hamparan laut dari atas, lalu menutup hari dengan membiarkan ombak kecil menyapu kaki mereka di bibir pantai.
Sekar merentangkan tangannya, lalu menghembuskan napasnya panjang-panjang. Matanya terpejam seolah menikmati suasana senja yang menyenangkan. Raka duduk di sebelahnya menatap istrinya itu dengan lembut.
“Puas jalan-jalan hari ini?” tanyanya.
Sekar membuka matanya, menoleh ke arah suaminya.
“Puas ... Makasih, ya, Mas ...”
Raka tak menjawab, ia hanya merengkuh Sekar ke dalam pelukannya. Membiarkan kepala perempuan itu bersandar di dadanya. Untuk sesaat suasana hening.
Hati Sekar terasa nyeri tanpa alasan. Raka begitu lembut, begitu hangat. Siapa pun tidak akan menyangka di balik sikap lembut dan hangatnya, tersimpan sifat busuk yang tidak pernah orang tahu.
Kamu sehangat dan selembut ini, Mas. Tapi siapa sangka, dibalik sikapmu ini, tersimpan duri yang menyakiti semua langkah dalam hidup kita, bisik Sekar dalam hati.
Dulu, aku selalu merindukan pelukanmu yang menenangkan. Menunggumu pulang kerja, memeluk kamu, bermanja-manja sama kamu, dulu terasa begitu menyenangkan, Mas. Tapi ternyata semua itu hanya fatamorgana. Kenapa kamu sejahat itu sama aku, Mas?
Dadanya terasa sesak. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh menetes di punggung tangan Raka.
“Loh … kok nangis?” Raka langsung menjauh sedikit, menangkup wajah istrinya. “Kenapa, Sayang? Kamu sakit? Perut kamu nggak nyaman?”
Sekar menggeleng cepat, mengusap air matanya sambil tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Mas… cuma tiba-tiba ingat Ayah.”
Sekar tidak sepenuhnya bohong. Dia memang merindukan mendiang ayahnya. Dulu, setiap ada masalah, ia selalu bercerita pada ayahnya. Bahkan ibunya pernah setengah cemburu karena kedekatan mereka.
Sekar menarik napas panjang, lalu menatap langit di hadapannya. Semburat jingga mulai meredup. Matahari mulai terbenam perlahan-lahan, mengantarkan senja menutup hari.
“Ayah pernah bilang sama aku, dulu aku lahir waktu senja menjelang magrib. Waktu langit nggak ramai oleh cahaya matahari, tapi juga belum sepenuhnya gelap.”
Ia tersenyum, seolah mengingat kembali kenangan bersama ayahnya.
“Ayah bilang, senja itu indah … bukan karena terang, tapi karena dia tahu kapan harus meredup. Dia yang mengantar malam datang dengan tenang.”
“Karena itu Ayah sama Ibu memberiku nama Senandung Sekar Ratri. Kata Ayah agar kamu tumbuh jadi keindahan yang hadir tanpa banyak suara, tapi selalu mampu menenangkan. Menjadi pribadi yang nggak perlu berisik untuk bersinar.”
Matanya menatap Raka dalam-dalam. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ada makna mendalam yang ia ucapkan dalam setiap kata.
Raka menghembuskan napas panjang. Ia mengusap rambut istrinya yang tertutup hijab dengan lembut.
“Dan kamu berhasil mewujudkan itu, Sayang. Tetaplah jadi Sekar yang menyenangkan, yang menggemaskan, yang cantik dan baik hati. Tetaplah jadi istri Mas yang selalu Mas banggakan.”
Sekar terdiam sejenak.
“Mas …” Suaranya pelan. “Kalau suatu saat nanti senja itu hilang dan yang datang bukan malam yang tenang, tapi malam penuh badai, apa Mas akan tetap ada di sisiku?”
Raka mengernyit. “Maksud kamu?”
Sekar tidak menjawab. Ia kembali menatap laut yang membentang luas di hadapannya, membiarkan suara ombak kecil menelan pertanyaan yang belum sempat mendapat jawaban.
“Terkadang aku takut kalau ternyata semua keindahan ini hanyalah semu. Bukankah memang nggak ada yang abadi di dunia ini, Mas?” Sekar menoleh dan tersenyum penuh misteri.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Sayang. Nggak baik,” tegur Raka. “Udah mau malam, ayo kita beres-beres habis itu kita cari tempat makan.”
Pria itu berdiri membersihkan pasir yang menempel di celananya lalu mengulurkan tangannya.
Sekar menatap tangan Raka beberapa detik. Lalu ia meraihnya, menggenggamnya seperti biasa. Seolah tidak ada yang berubah. Padahal jauh di lubuk hatinya ia sudah mulai mencoba melepaskan.
***
Makan malam telah usai. Sekar mengusap perutnya yang terasa penuh. Matanya berbinar cerah.
“Makasih ya, Mas … sudah nemenin calon anak kita jalan-jalan hari ini.”
Raka tersenyum tipis. “Sama-sama, Sayang. Tapi … boleh Mas minta ponsel sekarang? Seharian Mas nggak pegang. Mau cek informasi ke Bagas. Takut ada informasi penting tentang kantor.”
Sekar mengangguk. Ia mengambil ponsel Raka dari dalam tas, lalu menyerahkannya.
“Mas, aku ke toilet sebentar, ya.”
Perempuan itu berlalu. Raka langsung menyalakan ponselnya yang sejak pagi sengaja dimatikan oleh Sekar.
Layar ponsel seketika dipenuhi notifikasi. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab muncul di layar. Raka menghela napas pelan. Baru saja ia hendak membuka pesan, panggilan masuk kembali muncul.
“Halo—”
“Mas, kamu di mana?!” Suara Anita terdengar tajam dari seberang. “Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi? Ini pasti ulah istri kamu, kan?!”
Raka menoleh ke sekeliling sekilas, memastikan Sekar belum kembali.
“Sabar, dong, Sayang,” ucapnya pelan. “Besok aku jelaskan. Jangan telepon atau chat dulu … aku lagi sama Sekar.”
“Mas, tapi—”
“Besok kita ketemu,” potong Raka cepat.
Tanpa memberi kesempatan Anita melanjutkan, Raka langsung memutus panggilan. Jarinya bergerak cepat menghapus riwayat panggilan dan pesan. Tak lama kemudian, Sekar sudah kembali.
“Kita pulang, ya. Udah malam. Nanti kamu kecapekan, nggak baik buat anak kita,” ujar Raka, seolah tak terjadi apa-apa.
Sekar mengangguk. Namun, tiba-tiba tangannya menahan lengan Raka.
“Kenapa?” tanya pria itu.
Tanpa menjawab, Sekar dengan cepat mengambil ponsel dari tangan Raka. Gerakannya lincah dan terlalu cepat untuk dicegah.
Ia membuka kamera, merapat ke sisi Raka, berjinjit dan mengecup pipi Raka, lalu klik. Foto mereka berdua tersimpan. Beberapa detik kemudian, Sekar mengunggahnya ke story media sosial dan WhatsApp Raka.
“Sekali-kali pamer kemesraan boleh, kan?” ujarnya ringan, mengedipkan mata.
Ia mengembalikan ponsel itu, seolah tidak terjadi apa-apa. “Yuk, pulang.”
Langkahnya ringan menuju parkiran. Sementara itu, di tempat lain, Anita menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
“Sialan …” gumamnya geram. “Kamu mau manas-manasin aku, Mas?”
Matanya menyipit tajam.
“Kita lihat saja besok… apa yang aku lakukan sama kamu.”
***
Di tempat lain, Bagas duduk termenung di kamarnya. Tatapannya jatuh pada sebuah foto lama—seorang gadis SMA dengan wajah ceria, berseragam rapi, dan jilbab bergo yang tampak sedikit berkibar tertiup angin.
Sekar.
Ia masih ingat jelas bagaimana gadis itu dulu selalu datang dengan tawa yang ringan, seolah dunia tidak pernah benar-benar membebaninya.
Keluarga itu … Hadinata, Miranti, dan Sekar. Keluarga Cemara yang dulu ia anggap seperti rumah.
Keluarga yang memberinya kesempatan hidup yang lebih baik setelah kedua orang tuanya tiada. Dari biaya kuliah hingga pekerjaan setelah lulus, semuanya datang dari mereka. Bagas bahkan langsung diangkat menjadi asisten Hadinata di perusahaan.
“Selamat, Mas Bagas! Mas Bagas hebat!”
Suara Sekar seperti kembali terdengar di kepalanya. “Tapi Sekar tetap yang paling hebat, kan? Juara satu paralel se-provinsi!”
Saat itu Sekar baru lulus SMA. Usianya terpaut cukup jauh darinya, tetapi sikapnya selalu membuat Bagas merasa seperti punya adik sendiri. Seseorang yang ingin ia jaga tanpa sadar.
Ia juga sering membantu Sekar mengerjakan tugas-tugas kuliah tanpa merasa terbebani sedikit pun, meski dirinya sendiri sibuk dengan pekerjaan kantor.
Bagas mengembuskan napas panjang.
Ia mencoba mengingat lebih jauh, mencari sesuatu yang terasa janggal. Namun yang muncul hanya potongan-potongan samar.
Satu-satunya hal yang ia ingat dengan cukup jelas adalah ia pernah melihat Hadinata dan Miranti terlibat pembicaraan cukup serius soal Raka dan Sekar.
“Ya biarin aja, Yah. Yang penting Sekar bahagia. Toh, Nak Raka juga orangnya baik.“ Suara Miranti saat itu terdengar tenang.
“Bu, Ayah bukan tidak setuju,” jawab Hadinata pelan. “Tapi Sekar masih kuliah. Usia mereka juga terpaut jauh. Bahkan dengan Bagas saja, Raka lebih tua.”
Miranti terkekeh kecil. “Emangnya Ayah lupa jarak usia kita berapa?”
Bagas yang saat itu sedang merapikan berkas di sofa hanya tersenyum kecil, mendengar percakapan itu dari kejauhan. Suasana itu terasa sederhana. Hangat. Seperti tidak akan berubah menjadi apa pun yang rumit di kemudian hari.
Tapi sekarang, semuanya terasa berbeda ketika ia mengingatnya kembali.
“Apa semua yang terjadi sebenarnya ada hubungannya sama Pak Raka? Ucapan Bapak waktu itu seperti menyiratkan sesuatu.“
Bagas membuang napas kasar. “Aku harus cari informasi bagaimanapun caranya. Dan saya janji, Pak. Sekar akan keluar dari jerat pria itu secepatnya.“
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂