Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Persimpangan Jalan
Malam itu ritual penyembuhan yang biasa dilakukan dicoba sekali lagi ke engkel kakinya oleh Randy di kamarnya menjelang tidur. Randy memejamkan mata supaya fokus, dan tangan diletakkan di atas kakinya tanpa menyentuh. Tidak terjadi apa-apa. Sensasi hangat, ribuan rasa clekit-clekit seperti kesetrum dan tangan sedikit berwarna merah yang diharapkannya tidak terjadi.
“Apakah kemampuanku hilang akibat cedera ini?” pikir Randy dalam hati. Pikirannya terus berkecamuk sampai malam. Ketakutan akan kehilangan kemampuannya itu terus memenuhi pikiran Randy sampai larut malam, dan akhirnya dia tertidur pulas.
Dalam tidurnya dia kembali bermimpi di tengah hutan yang ada air terjunnya, tempat kakek buyutnya mewariskan ilmu gaib penyembuhan itu.
“Cucuku Randy,” tiba-tiba Ki Suromenggolo memanggil. Tidak tahu datang dari mana, dia tahu-tahu muncul di hadapan Randy.
“Kakek,” jawab Randy sambil berlutut dan menunduk dengan hormat.
“Bangunlah, cucuku,” kata Ki Suromenggolo sambil memegang dan mengangkat tubuh Randy agar berdiri.
“Apakah kemampuanku telah hilang, Kek?” tanya Randy memberanikan diri.
“Tidak, cucuku,” jawab Ki Suromenggolo. “Hanya ilmu itu tidak bisa dilakukan kepada diri sendiri jika kamu sakit.”
“Betulkah itu, Kek?” tanya Randy yang masih ragu.
“Benar, cucuku,” jawab Ki Suromenggolo dengan bijak. “Kakek sangat bahagia kamu mengamalkan ilmu itu kepada sesamamu yang kekurangan tanpa mengharapkan balas jasa.”
“Terima kasih, Kek,” jawab Randy dengan sopan.
“Kakek harap kamu jangan silau oleh harta dunia, Randy.”
Belum sempat Randy menjawab, Ki Suromenggolo sudah menghilang, dan alarm di HP-nya berbunyi, pertanda dia harus siap-siap berangkat ke kampus pagi itu.
Pagi itu Randy sudah di kampus, bersiap mengikuti perkuliahan sambil duduk-duduk di bangku kayu depan kelasnya. Beberapa teman menyapanya, termasuk Halimah, anak Teknik Kimia yang care dengannya.
“Pagi, Rand,” sapa Halimah. “Bagaimana kondisi kakimu?”
“Udah baikan, Mah,” jawab Randy. “Sudah nggak cenat-cenut kayak kemarin, jadi nggak perlu minum obat penahan sakit semalam, walau warna engkel yang memar masih biru.”
“Syukurlah,” jawab Halimah dengan senyum yang semanis es dawet. “Recovery perlu proses, Rand, nggak bisa instan.”
Saat mereka bercakap-cakap, Kresna, anak Teknik Kimia, teman Halimah, lewat.
“Eh pagi-pagi ngapain di sini, Mah?” kata Kresna. “Ketularan virus idola kampus?”
Perkataan itu cukup menusuk Randy yang merasa tersindir, tapi dia diam saja.
“Kres, nggak boleh ngomong gitu,” tegur Halimah.
“Mengidolai sih boleh-boleh aja,” kata Kresna melanjutkan sindirannya. “Tapi jangan mengkultuskan individu.”
“Ayo kita ke kelas, kuliah sudah hampir mulai,” Halimah buru-buru mengajak kembali ke ruang kuliahnya agar tidak nyerocos menyindir Randy terus. “Rand, kita balik ke kelas dulu, ya.”
“OK, Mah. Take care, ya,” balas Randy.
Randy kemudian termenung dan berkata dalam hati, “Apa salahku sehingga banyak yang tidak suka padaku? Aku tidak pernah meminta cewek-cewek itu mengidolaiku, lantas bagaimana cara melarang mereka mengidolaiku?”
Tak lama kemudian Hartawan tiba dan segera masuk ke ruang kuliah.
“Apa kabar Thom Haye? Gimana kaki lu, udah baikan? Masuk ke kelas, yok?”
“Udah mendingan, Har. Udah nggak sakit, cuma masih agak pincang nih,” jawab Randy. “Yuk masuk kelas.”
Lalu dengan sedikit terpincang Randy mengikuti Hartawan masuk ke ruang kelas untuk mengikuti perkuliahan pagi itu.
Di saat mengikuti kuliah siang hari itu ponsel Randy bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari seseorang yang isinya:
“Saudara Randy, bisa luangkan waktu sebentar? Nama saya Cokro, pemilik Rumah Sakit Royal Citra Husada. Waktu dan tempat terserah Saudara.”
“Deg!”
Suara degup jantung Randy yang berdegup keras terasa. Tapi Randy tidak segera menjawab dan tidak terlalu memperdulikan pesan tersebut karena perhatiannya sedang fokus ke kuliah.
Siangnya, Randy menunggu jam kuliah berikutnya di kantin. Seperti biasa, kantin yang lumayan besar itu terasa pengap dan bising karena celoteh anak-anak kampus yang memadatinya. Bimo dan Raka tengah asyik ngobrol seru saat Randy datang.
Bimo, sambil menyeruput es teh manis sampai bunyi krok-krok di dasar gelas berkata sambil tertawa-tawa, “Eh, menurut kalian, kalau kita tiba-tiba punya mesin waktu, hal paling nggak berguna apa yang bakal kalian lakuin?”
Raka, sambil sibuk menuang kecap dan sambal ke dalam sotonya menjawab, “Hah? Kayak gitu ditanyain? Kalau gua mah ya pasti beli saham BCA pas masih murah lah, bego.”
“Seru bener ngobrolnya, gua boleh nimbrung dan duduk di sini?” tanya Randy yang datang sambil agak terpincang.
“Ya silakan aja, Rand. Siapa tahu kita-kita ketiban rezeki ada cewek cakep yang nyari elu, kita bisa numpang kenalan,” jawab Raka sambil tertawa.
Beberapa yang lain juga tertawa, termasuk Randy. Tapi dia nggak ikut ngobrol, hanya mendengarkan saja obrolan mereka sambil senyum-senyum dan minum air mineral dingin.
Bimo menimpali jawaban Raka, “Kalau gua mah bakal beli bitcoin waktu harganya masih $1.”
“Wah, ide genius tuh,” kata Hasyim sambil mengaduk es tehnya.
“Eh, omong-omong gua barusan kuliahnya Pak Hartono,” kata Bimo tiba-tiba berganti topik. “Busyet, ngantuk banget.”
“Iya. Kalau dia ngasih kuliah, gue selalu ngantuk. Waktu gue merem semenit, pas buka mata dia udah nulis rumus yang nggak konek sama otak gua di papan tulis,” timpal Raka.
“Lain kali gua nitip absen aja lah kalau Pak Hartono ngajar. Mending buat nge-crypto di Tokocrypto. Sama-sama boncos, tapi siapa tahu lagi hoki bisa beli Alphard,” tukas Bimo.
Raka nggak mau kalah, “Kalau elu naik Alphard, gua cukup Innova aja deh.”
Randy cuma senyum-senyum dan geleng-geleng mendengar celoteh mereka.
Tiba-tiba ponsel Randy bergetar lagi, dari nomor tak dikenal yang kirim pesan WhatsApp tadi.
“Halo siang, Saudara Randy. Saya Cokro yang tadi kirim pesan WhatsApp,” kata suara di ujung telepon.
“Oh, selamat siang, Pak,” jawab Randy. “Tadi saya pas kuliah, jadi belum sempat menjawab pesan Bapak. Rencana sore ini saya mau menjawab pesan Bapak.”
“Oh nggak apa-apa kalau sibuk,” jawab Pak Cokro. “Sekarang sibuk nggak? Boleh ganggu?”
“Oh sekarang silakan, Pak. Saya sedang di kantin, nunggu kuliah berikut,” jawab Randy.
“Begini, ada hal yang perlu kita sampaikan, dan kita perlu bertemu empat mata,” kata Pak Cokro. “Waktu dan tempat terserah Saudara.”
“Masalah apa ya, Pak?” tanya Randy.
“Singkatnya tawaran bisnis. Detailnya nanti kalau kita bertemu empat mata,” jawab Pak Cokro.
“Bagaimana kalau pulang kuliah, Pak?” kata Randy. “Di Maxx Coffee di Cideng, saya biasa pulang lewat situ.”
“Oh baik, kebetulan itu nggak jauh dari kantor saya,” kata Pak Cokro. “Sampai ketemu nanti.”
Kemudian Pak Cokro menutup teleponnya.
“Siapa, Rand? Serius amat. Calon mertua?” tanya Bimo kepo.
“Nggak tahu nih, ada yang ngajak ketemu,” kata Randy.
Sore pulang kuliah Randy mengendarai motor Ninjanya melewati jalan Cideng dan mampir ke Maxx Coffee, sesuai janji bertemu dengan Pak Cokro.
Ketika Randy tiba, tampak ada bapak-bapak usia 55 tahunan dengan pakaian yang cukup perlente. Dugaan Randy itulah Pak Cokro.
“Ini betul Pak Cokro?” kata Randy menyapa duluan.
“Oh ya, Saudara Randy ya?” kata Pak Cokro sambil menjabat tangan Randy.
“Panggil aja Randy, Pak. Nggak usah formal-formal amat pakai saudara segala,” kata Randy.
“Baik, baik,” kata Pak Cokro. “Omong-omong kenapa kakinya, kok jalannya pincang gitu?”
“Main bola, Pak. Cedera biasa,” ujar Randy. “Apa yang bisa saya bantu, Pak?”
“To the point aja, ya. Nggak usah basa-basi,” kata Pak Cokro dengan serius tapi ramah. “Saya menawari Randy kerja sama bisnis. Saya dengar Randy punya kemampuan supranatural untuk menyembuhkan penyakit.”
“Maksud Bapak?” kata Randy agak bingung.
“Yah, saya sudah dengar kalau Mas Randy punya kemampuan itu,” kata Pak Cokro lebih jauh. “Saya akan mendirikan klinik dan Randy yang mengelolanya. Untuk tiga bulan pertama saya berani menjamin pendapatan Randy Rp50 juta sebulan. Bulan berikutnya bisa tembus Rp100 juta sebulan kalau klinik yang dikelola Randy berkembang.”