NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana matang

Aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidupku akan ada sesuatu yang disebut bulan madu kedua.

Biasanya orang melakukan bulan madu sekali setelah menikah.

Selesai.

Berhasil atau tidak… ya sudah.

Tetapi dalam pernikahanku dengan Ashar, semuanya terasa seperti eksperimen yang berjalan perlahan.

Dan anehnya…

Aku tidak merasa keberatan.

Justru ada sesuatu yang hangat dalam proses belajar bersama itu.

Meskipun kadang membuatku ingin menutup wajah dengan bantal karena malu.

Ide bulan madu ulang sebenarnya datang dariku.

Tetapi orang yang paling serius menanggapinya justru Ashar.

Sangat serius.

Terlalu serius bahkan.

Pagi itu aku terbangun karena suara keyboard laptop di ruang kerja.

Ketika aku keluar kamar, Ashar sudah duduk di meja dengan layar penuh tab browser.

“Sedang apa?” tanyaku sambil menguap.

Ashar menoleh.

“Aku sedang riset.”

“Riset?”

“Bulan madu.”

Aku hampir tersedak udara.

“Se-serius itu?”

Dia mengangguk dengan wajah yang benar-benar serius.

“Aku tidak ingin gagal lagi.”

Aku menahan tawa.

“Ashar… ini bukan ujian skripsi.”

“Menurutku ini lebih sulit dari skripsi.”

Aku tertawa kecil.

Ashar menunjuk layar laptop.

“Ada banyak artikel tentang bagaimana membuat pasangan merasa nyaman.”

“Ada juga tentang destinasi romantis.”

“Dan ini…” ia meng-scroll halaman “…tips komunikasi pasangan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu membaca semua itu?”

“Aku mencoba.”

“Apa kamu juga membaca buku panduan ‘cara menjadi suami dalam tujuh hari’?”

Ashar terlihat berpikir.

“Ada buku seperti itu?”

Aku langsung tertawa.

“Aku bercanda!”

Wajahnya yang serius itu benar-benar menggemaskan.

Kadang aku merasa menikahi pria yang terlalu jujur untuk dunia ini.

Akhirnya kami memilih sebuah tempat di pegunungan.

Tidak terlalu jauh dari kota.

Sebuah villa kecil dengan pemandangan hutan pinus.

Ashar memesan semuanya sendiri.

Ia bahkan mencetak itinerary perjalanan seperti seseorang yang sedang mengatur seminar perusahaan.

Aku membaca kertas itu sambil menahan tawa.

“Jam 08.30 berangkat.”

“Jam 10.45 tiba di lokasi.”

“Jam 11.00 check-in.”

“Ashar…”

“Iya?”

“Ini bulan madu atau study tour?”

Dia terlihat sedikit malu.

“Aku cuma ingin semuanya berjalan lancar.”

Aku menepuk bahunya.

“Tenang saja. Aku tidak akan menilai.”

Ashar bergumam pelan.

“Kamu sudah menilai sedikit tadi.”

Aku tertawa lagi.

Perjalanan menuju villa memakan waktu sekitar tiga jam.

Sepanjang perjalanan, Ashar terlihat lebih santai dari biasanya.

Ia bahkan beberapa kali membuat lelucon kecil.

Hal yang jarang sekali ia lakukan.

“Kamu tahu kenapa pohon pinus tinggi?” katanya tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Supaya bisa mengawasi pasangan yang sedang bulan madu.”

Aku menatapnya datar.

“Itu lelucon?”

Ashar terlihat berpikir.

“Mungkin bukan yang terbaik.”

Aku tertawa.

“Tidak apa-apa. Setidaknya kamu mencoba.”

Dia tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…

Aku melihat Ashar benar-benar terlihat santai.

Villa itu lebih indah dari yang aku bayangkan.

Bangunan kayu kecil dengan balkon yang menghadap ke hutan pinus.

Udara di sana dingin dan segar.

Ashar membuka pintu villa dengan kunci yang diberikan resepsionis.

Begitu masuk, aku langsung terpana.

Ruangan itu hangat dengan dekorasi kayu dan jendela besar.

Di tengah ruangan ada tempat tidur besar dengan selimut putih tebal.

Aku melirik Ashar.

Ia terlihat… gugup lagi.

Aku menahan senyum.

“Tempatnya bagus,” kataku.

“Iya.”

“Kamu memilihnya dengan baik.”

Ashar terlihat sedikit lega mendengar itu.

Kami meletakkan koper dan mulai menjelajahi villa.

Ada dapur kecil.

Ruang duduk dengan perapian.

Dan balkon dengan kursi kayu.

Aku berdiri di balkon sambil menikmati udara dingin.

Beberapa detik kemudian Ashar datang membawa dua cangkir cokelat panas.

“Untukmu,” katanya.

Aku menerimanya.

“Terima kasih.”

Kami duduk berdampingan.

Sunyi.

Tetapi sunyi yang nyaman.

Lalu Ashar berkata sesuatu yang membuatku hampir menjatuhkan cangkir.

“Aku berlatih.”

“Berlatih apa?”

“Romantis.”

Aku menatapnya.

“Serius?”

Ia mengangguk.

“Aku membaca bahwa suami harus menciptakan suasana.”

Aku tertawa kecil.

“Aku tidak tahu kamu se-rajin itu.”

Ashar menatap hutan di depan kami.

“Aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa lagi.”

Kalimat itu membuat hatiku hangat sekaligus sedih.

Aku menyentuh tangannya.

“Aku tidak pernah kecewa padamu.”

Ia menatapku.

Dan untuk pertama kalinya…

Ashar yang menciumku lebih dulu.

Ciumannya masih pelan.

Masih hati-hati.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Kali ini lebih yakin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!