Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Chef Couple
"Ini kenapa kok pada nurunin tas?" Tanya Arjuna saat melihat Mifta dan Dipta membawa masuk beberapa tas berisi pakaian.
"Ya mau nginep lah, Mas. Emang mau ngapain lagi?" Jawab Dipta.
"Emang siapa yang ngizinin kalian nginep di sini?" Ledek Arjuna.
"Parah banget sih, Jun. Ini rumah lumayan besar loh. Kamarnya aja ada tiga." Jawab Mifta.
"Ya satu kamarku sama Istriku, satu kamar Mbak Aci sama Kak Gama, satu lagi kamar adekku yang gadis." Sahut Arjuna.
"Kalian berdua tidur di teras. Nanti tak pinjemin tiker sama bantal satu." Imbuh Arjuna yang membuat Meshwa, Sashi, Nala dan Gama tertawa.
"Ya Allah, Mbak Aci. Lihato Adekmu ini, kalo sama aku dan Mifta kok jahatnya poll." Keluh Dipta.
"Pembagian yang bener tuh gini lho, Jun. Satu kamar Mbak Aci sama Kak Gama, satu kamar buat Meshwa sama Nala. Nah, kita tidur bertiga." Kata Mifta.
"Iya, Mas. Emang Mas Juna gak kangen tidur sama kita berdua? Udah lama kan, kita gak tidur bertiga." Bujuk Dipta.
"Ooo tidak bisa. Aku gak bisa jauh - jauh dari istriku. Nanti aku sawan kalo gak tidur sama dia." Kata Arjuna yang membuat mereka semua menyemburkan tawa.
"Bisanya sawan kalo gak tidur sama istri." Kata Nala yang tertawa sampai terpingkal - pingkal.
"Lah - lah, Mas... Tidur juga cuman merem aja. Kan gak bisa ngapa - ngapain." Kata Dipta.
"Ya dari pada meluk kalian berdua, ya mending meluk istriku lah." Sergah Arjuna.
"Yaudah lah, kita berdua tidur di sofabed aja." Kata Dipta.
"Nyewa hotel loh, jangan kayak orang susah." Kata Gama.
"Lagi mode hemat, Kak. Nabung buat beli sawah sejengkal." Kata Mifta.
"Nabungmu masih panjang, Mif. Enak aja mau ngelangkahin aku." Cicit Dipta.
"Ya kalo nunggu Mas Dipta, aku keburu menopause." Sahut Nala yang membuat mereka semua kembali tertawa.
"Aduh, ampun kalian ini. Bikin perutku kaku aja." Keluh Sashi sambil mengusap - usap perutnya yang sudah memasuki usia kehamilan enam bulan.
"Mbak Aci kapan mau tujuh bulanan?" Tanya Arjuna.
"awal bulan depan kata Ayah." Jawab Sashi.
"Di Desa?"
"Ya di rumah Mbak Aci lah, Jun." Sahut Sashi.
"Terus, kalia berdua, kapan mau pulang ke Kota?" Tanya Arjuna pada Dipta dan Mifta.
"Ya Allah, Jun. Baru juga sampe semalem, udah di tanyain kapan pulang. Kangen sama Cintaku aja belum ilang loh ini." Cicit Mifta.
"Ya jangan lama - lama. Nanti perusahaan, gimana?" Kekeh Arjuna.
"Emang dasar ya, bener - bener Mas Juna ini. Emang Mas Juna gak kasian sama aku? Baru juga ketemu loh ini, setelah dua bulan gak ketemu. Kayak gak tau rasanya LDR aja." Protes Nala.
"Uluh... Uluuh... Adekku, kasihannya." Ledek Arjuna sambil menjawil dagu Nala.
"Mentang - mentang lagi gak LDR." Kata Mifta.
"Aku gak bakal LDR lagi. Tak ikutin kemana aja istriku pergi tugas." Kata Arjuna yang membuat Meshwa geleng - geleng kepala.
"Mbak, njenengan gak pusing to? Ngurusin bayi bajang itu?" Tanya Dipta.
"Alhamdulillah, sama sekali gak ngerepotin kok. Malah telaten banget ngerawat aku." Jawab Meshwa yang membuat Arjuna senyum penuh kemenangan.
"Leh bungah ngasi sundul langit kuwi. Tok lem ngono kuwi, Wa. (bahagianya sampe langit itu, kamu puji kayak gitu, Wa)." Kekeh Sashi.
"Ya jelas. Lihat aja itu bulu idungnya sampe nari - nari." Komentar Gama yang memecah tawa mereka semua.
"Oh iya, siang ini makan nasi liwet buatan Mifta sama Nala enak pasti." Celetuk Arjuna.
"Udah lama banget gak makan nasi liwet buatan Mifta atau Nala." Kata Arjuna.
"Eh, iya lagi. Couple itu kan, pada jago masak. Jadi bayangin makan nasi liwet, ayam goreng sama sambel. Duh ya Allah, pasti enak banget." Kata Sashi.
"Tuh, Mif, La. Bumil sudah bersabda. Mau gak mau, suka gak suka, kalian harus lakukan." Kata Dipta.
"Kenapa bisa kalian berdua yang jago masak jadi couple gitu. Kalo ngedate, di dapur aja dong ya. Adu skil memasak atau kolaborasi masak." Kata Meshwa.
"Lomba ngiris bawang merah, tahan - tahanan siapa yang gak mberebes (Meneteskan air mata)." Imbuh Arjuna yang membuat mereka tertawa.
"Kalo berantem ngeri dong, bisa saling cincang. Atau lempar - lemparan wajan sama panci." Timpal Gama yang membuat tawa mereka makin pecah.
"Gek ndang, masak! Itu ada ayam serundeng kelapa buatan Buna di freezer." Kata Arjuna.
"Beuh! Cocok banget sih itu! Ayam serundeng kelapa Buna, the best!" Kata Sashi.
"Enakan Ayam serundeng laos (lengkuas) nya Yang Ti." Sergah Dipta.
"Iya sih. Tapi tetep juara ayam serundeng kelapanya Buna." Kata Sashi.
"Emang punya teri nasinya, Jun? Gak enak kalo gak ada teri nasi." Kata Mifta.
"Gampang! Mblo, sana beli teri nasi di Super Market yang deket kantor Yayasan." Kata Arjuna sembari mengeluarkan uang dari sakunya.
"Asem tenan, Mas Juna ki!" Gerutu Dipta. Meski begitu, tetap saja ia berangkat untuk berbelanja.
Sementara itu, Nala dan Mifta sudah berada di dapur. Keduanya mulai menyiapkan bahan - bahan yang di perlukan untuk membuat nasi liwet. Untung saja Arjuna di bawakan stok lauk yang cukup banyak, hingga mereka tak perlu repot mengolah lauk lagi.
"Biar aku aja yang iris bawangnya, Jo. Nanti matamu pedih." Kata Mifta yang mengambil alih perbawangan juga cabai dari Nala.
"Makasih, Sayangku." Ucap Nala yang dengan senang hati memberikannya pada Mifta.
Sementara itu, Nala menyiapkan bahan - bahan lain seperti daun salam, daun jeruk, serai dan lengkuas.
"Ini bahan masih banyak, beli - beli tapi gak pernah di masak deh." Kata Nala saat memeriksa kulkas Arjuna dan Meshwa.
"Dua orang sibuk itu, pasti milih beli dari pada masak." Sahut Mifta yang membuat mereka terkekeh.
"Liat deh, Jo. Cabe aja sampe jadi mumi di sini." Kata Nala sambil menunjukkan cabai yang mulai mengering di dalam kulkas.
"Jun! Kamu lagi bikin proyek baru, apa?" Tanya Mifta yang berseru dari dapur.
"Enggak tuh! Proyek apaan sih, Mif?" Jawab Arjuna.
"Ini, proyek pembuatan fosil bahan makanan." Sahut Mifta yang memecah tawa mereka semua.
Setelah bergulat hampir satu setengah jam di dapur, akhirnya nasi liwet lengkap dengan ayam serundeng, sambal dan lalap itu pun siap.
"Fix kalian berdua harus buka resto!" Kata Meshwa.
"Enak, Sayang?" Tanya Arjuna.
"Juara banget, Mas!" Jawab Meshwa sambil menyuapi Arjuna.
"Iya sih! No komen saking enaknya. Aku menikmati banget." Kata Sashi.
"Makasih ya, Aunty, Uncle." Imbuh Sashi kemudian.
"Kamu lusa pulang ke Kota sendiri aja, Dip. Mifta sama Nala biar di sini. Tak gaji jadi chef ku sama Meshwa." Kekeh Arjuna.