Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Risa membongkar koper milik suami nya yang beluk sempat dia bereskan kemarin, dia membawa semua pakaian kotor suami nya itu ke ruangan khusus untuk mencuci.
Risa memisahkan satu persatu pakaian yang berwarna dan pakaian putih, untuk urusan suami nya Risa selalu mengerjakan nya sendiri tanpa bantuan dari asisten rumah tangga nya.
"Apa ini?" Risa berguman setelah dia menemukan secarik kertas dari dalam saku celana suami nya.
Risa membuat kertas yang tampak kusut karena sudah berlipat itu, dia membaca dengan teliti apa yang tertulis di sana.
"Mas Arvin beli perhiasan, tapi kok aku tidak lihat perhiasan nya!" Guman Risa dengan heran.
"Apa jangan- jangan mas Arvin mau ngasih kejutan buat aku? Mungkin masih menunggu momen yang tepat aja!" Tebak Risa sambil tersenyum membayangkan keromantisan sang suami.
Risa kembali melanjutkan pekerjaan nya memasuk kan satu persatu pakaian milik suami nya ke dalam mesin cuci, lalu mencuci nya hingga bersih.
Baru saja Risa menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaian milik suami nya, Bi Ina menemui Risa di lantai atas.
"Bu, di depan ada nyonya bersama nona Wulan!" Bi Ina memberi tahu sang majikan.
"Mama sama Wulan, ada apa ya?" Risa bertanya pada diri nya sendiri.
"Bibi gak tahu bu, tapi seperti nya mereka bawa beberapa koper kemari!" Lapor Bi Ina lagi.
"Ya udah bi, biar aku temui mereka. Bibi siap kan saja minuman!" Ujar Risa sambil berlalu dan dia menemui sang Mama dan juga adik nya.
"Mama, Wulan. Tumben pagi - pagi udah datang kemari!" Risa langsung menyambut kedua nya.
"Bebas dong kapan pun Mama mau datang ke rumah ini, ini kan rumah milik anak dan menantu Mama!" Jawab Mama Lia dengan ketus.
"Bukan begitu Ma maksud Risa, selama ini kan Mama jarang - jarang loh mau datang ke sini!" Risa berkata sambil tersenyum ramah pada Mama Lia dan juga Wulan.
"Mulai hari ini Mama sama Wulan mau tinggal di rumah ini!" Mama Lia berkata dengan angkuh nya.
"Tinggal di sini? Memang nya rumah kita kenapa ma?" Tanya Risa sambil menautkan kedua alis nya.
"Rumah itu sudah di jual Risa, untuk menutupi hutang- hutang ayah mu!" Mama Lia berkata lagi.
"Hutang? Hutang apa Ma? Setahun Risa selama ini Ayah tidak pernah punya hutang!" Risa terkejut mendengar penjelasan dari ibu tiri nya tersebut.
"Risa, kamu tidak tahu bahwa selama ini Ayah mu punya banyak hutang. Kau tidak tinggal bersama nya, jadi kau mana tahu jika Ayah mu punya banyak hutang!" Ujar Mama Lia lagi.
"Tapi Ma, selama ini Ayah selalu menceritakan semua pada Risa dan Ayah tidak pernah cerita bahwa dia punya hutang!" Risa masih merasa bahwa apa yang di katakan oleh Mama Lia terasa janggal.
"Risa, Ayah mu itu orang yang penyakitan dan selama ini dia tidak mau membebani mu, maka nya dia berhutang secara diam - diam. Sekarang setelah dia tiada orang yang memberi nya hutang dulu minta supaya hutang nya segera di lunasi. Mama tidak punya uang untuk membayar nya, jdi Mama jual saja rumah kita untuk menutupi hutang Ayah mu!" Mama Risa menjelaskan dengan panjang lebar pada Risa.
Sementara itu Wulan tampak tidak perduli dengan apa yang di bicarakan oleh ibu nya dan juga Risa, sejak tadi dia hanya fokus pada ponsel nya sambil tersenyum - senyum sendiri.
"Berapa jumlah hutang Ayah, Ma?" Tanya Risa lagi.
"Udah lah Risa, kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting kan semua hutang Ayah mu sudah lunas dan kami tidak membebani mu untuk membayar nya!" Ujar Mama Lia lagi.
Risa menarik nafas panjang dan Risa masih tidak percaya dengan apa yang di ucap kan oleh Mama Lia.
"Risa, bawa koper - koper kami ke dalam kamar, kami mau istirahat!" Mama Lia memberi perintah pada Risa seolah - olah dia adalah pemilik rumah ini.
"Mama dan Wulan bisa istirahat dulu di kamar tamu, aku mau bicarakan dulu semua ini sama mas Arvin!" Ujar Risa pada Mama Lia dan juga Wulan.
"Tidak perlu bicara sama mas Arvin mbak, dia pasti tidak keberatan jika aku dan Mama tinggal di sini!" Setelah diam sejak tadi, kini Wulan pun mulai bicara.
"Iya Risa, benar sekali apa yang di katakan oleh Wulan, Arvin pasti setuju kami tinggal di sini!" Mama Lia berkata lagi.
"Iya Ma, tapi setidaknya aku harus sampai kan dulu sama mas Arvin!" Jawab Risa sambil tersenyum.
"Mbak, aku dan Mama tidak mau tinggal dalam satu kamar. Aku dan Mama mau kamar masing- masing!" Wulan berkata pada kakak nya.
"Silah kan kalian istirahat di sini, ini kamar nya!" Risa menunjuk kan 2 kamar tamu yang berada saling berdampingan.
"Jangan lupa kamu bawa semua koper - koper kami ke dalam kamar!" Perintah Mama Lia lagi sambil berjalan menuju ke kamar tamu.
Risa segera menghubungi sang suami lewat sambungan telepon, biar bagai mana pun semua nya harus di bicarakan sama Arvin. Risa tidak mau mengambil keputusan secara sepihak, apapun yang akan di lakukan nya harus dengan persetujuan dari Arvin.
"Hallo mas, mas lagi sibuk gak? Ada hal penting mengenai Mama dan Wulan yang mau aku bicarakan sama mas!" Risa berbicara lewat sambungan telepon pada Arvin.
"Ada apa sayang? Kata kan saja, aku lagi gak terlalu sibuk kok!" Jawab Arvin di seberang sana.
"Mas, Mama dan Wulan minta tinggal di rumah kita. Kata nya rumah Ayah udah di jual!" Risa berkata pada sang suami.
"Gak papa sayang mereka tinggal di rumah kita. Rumah kita kan luas dan kamar nya juga banyak, biarin aja. Lagian kan mereka berdua adalah keluarga mu dan tentu saja juga keluarga ku!" Ujar Arvin di seberang sana.
Seketika Risa menjadi lega setelah mendengar langsung kata - kata yang keluar dari mulut suami nya, bagi Risa izin dari suami itu penting agar rumah tangga nya lebih barokah. Risa sendiri tidak mau menjadi istri yang pembangkang karena melakukan sesuatu tanpa izin dari sang suami.
"Makasih ya mas udah mengizin kan Mama dan Wulan tinggal di sini, ya udah deh mas lanjut kan lagi pekerjaan mas. Aku tutup dulu ya mas!" Risa segera menutup sambungan telepon nya dengan sang suami.
Risa segera pergi ke belakang mencari bi Ina, dia ingin meminta bantuan pada bi Ina untuk memindahkan koper - koper milik Mama Lia dan juga Wulan ke dalam kamar tamu.
"Bi, tolong bantuin aku memindahkan koper - koper Mama dan Wulan ke kamar tamu!" Risa meminta tolong pada bi Ina.
"Baik bu!" Jawab Bi Ina sambil mengangguk kan kepala nya.
Dengan di bantu oleh bi Ina, Risa memindahkan koper - koper itu dan membawa nya ke kamar tamu di mana Mama Lia dan Wulan sedang beristirahat.