Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
Elfa sedang mengendarai mobilnya. Hari ini ia akan membawa Gavin ke kota. sambil mendengarkan musik, Elfa melakukan panggilan video.
"Hi Elen..ntar aku hubungi"
"Kamu kemana Fa?"
"Lagi di jalan,yaaa aku jalan jalan lah"
"Iiss nikmat banget hidup kau "
"Hahaha ya dong say... ngapain stres, now it's time for me to enjoy my life sayang "
"Ya ya.. Selamat bersenang-senang ya. Aku tunggu di kafe_"
"Oke say..."
Tidak lama kemudian Elfa menelpon Steven---
"Hallo Stev, Aku lagi dalam perjalanan, temani aku ya ke sekolah Gavin "
"Ok, sekalian aku mau menagih janji kamu, sayang "
Tidak ada suara, panggilan telepon itu hening sejenak.
"Fa ...kok diam? Mau sampai kapan Fa ? Ini udah hampir enam tahun loh aku tunggu "
"Aku lagi di jalan pangeran tampan, sampai bahas di telpon, aku marah loh Stev, bisa menunggu dikit aja kan ?"
"Baiklah..."
"Idih... Kok lemas gitu "
"Kamu kelamaan kasih waktu Fa, keburu kamu di ambil sama orang lain "
"Ha...ha...ha...Gilaaa, Udah ah. Udah mau sampai rumah"
Elfa memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah, ia menghirup sebanyak mungkin udara yang begitu sejuk di kampung halamannya "Haaaa ........"
Lingkungan seperti ini yang Elfa inginkan. Tapi dia harus bekerja, ada usahanya di kota sana.
"Bu..aku pulang "
Ibu dan tantenya segera keluar dari dalam rumah " Tante, oleh oleh untuk indra ntar nyusul ya "
"Nak.. jadi hari ini Gavin pindah ke kota ya ?"
"Iya Bu, ayolah Bu. ibu juga ikut ya, rumah ini tante aja yang jaga "
"Tidak nak, ibu di sini saja. di sini ada indra dan ibunya yang menemani ibu. Jadi kamu tidak usah kepikiran sama ibu. Sayang banget kalau ibu tinggalin ternak ternak ibu "
Kalau sudah bicara ternak, Elfa tidak akan bisa lagi membujuk ibunya.
Ting.....
"Bu, Perempuan yang kemarin buat masalah dia datang lagi "
"Layani saja, tapi pantau terus ya. kasih tahu security untuk ikut masuk ke dalam"
"Baik Bu.."
"Ha.. Ada ada aja" Elfa menarik nafas dalam, Ia menatap keluar.
"Ayok nak...makan dulu "
Elfa merasakan tatapan ibunya " Ibu kenapa? Tidak mau Gavin ikut aku ya?"
Senyum tulus terpancar dari wajah wanita yang telah melahirkannya.
"Steven udah mendapatkan izin dari jagoan kamu itu nak, beberapa hari yang lalu mereka berdua pergi memancing di kampung sebelah. Dan pulangnya Gavin bilang begini.. Ayah...kapan ayah sama ibu....me..ni..kahh...?"
"Uhuk..uhuk...uhuk.."
"Ehh pelan pelan makannya nak..."
Elfa ingat ketika pertama kali Steven mengatakan perasaannya, saat itu Steven menemani Elfa periksa kandung.
"Aku ingin menjadi orang pertama yang melihat wajahnya Fa dan aku ingin,aku orang pertama yang ia sebut Ayah "
"Stev...?!"
"Aku cinta sama kamu, dari pertama kali melihat kamu, sampai saat ini "
Ada kehangatan yang Elfa rasakan namun ada sesuatu yang membuatnya tidak mudah percaya begitu saja.
"Aku punya masa lalu yang buruk Stev.. orang akan menganggap kamu pria bodoh "
"Aku tidak perduli "
"Kamu ya.. Tapi aku dan ibuku? Akan jadi hinaan orang orang "
"Apakah ada orang di kampung kita yang menghina keadaan kamu Fa ?' Steven bertanya dengan kening berkerut.
Elfa diam, di sini di kampung ini. Tak ada yang menghinanya, tak ada yang menatap aneh dirinya. Di sini, ia di hargai, di terima dengan tulus. Elfa menggeleng cepat
"Aku akan menunggu Fa, sampai kamu siap "
Lalu, enam tahun kemudian.
"Hari kamu udah jadi tunanganku dan aku akan menunggu sampai jagoan kamu ini besar untuk mendapatkan izin darinya"
Elfa menatap ibunya, dia tersenyum
"Aku sengaja menunggu Gavin besar karena aku tidak ingin memilih pasangan hidup atas pilihan ku sendiri Bu. Gavin sudah bisa menilai mana yang terbaik untuk aku dan dia "
"Iya nak... ibu tau maksud kamu"
Dan hingga hari ini panggilan Ayah hanya untuk Steven.
_____
Setelah selesai mengurus surat-surat dari sekolah Gavin, malam ini mereka berkumpul di rumah Elfa.
"Bu...Kata Ayah, kalau aku udah setuju, ibu sama Ayah boleh menikah " Elfa menatap Steven yang tersenyum penuh kemenangan, Elfa menjaga senyumannya saat mendengar Gavin bicara seperti itu.
"Gimana calon istriku "
"Ihh Stev..."
"Lah kenapa ?"
Elfa menatap ibunya, Gavin dan Steven. Mereka semua menatap Elfa. Elfa bangun berdiri, dengan langkah pasti dia mendekati Gavin, Menggenggam tangan Gavin.
"Steven.. Beri aku waktu enam bulan lagi "
" Enam bulan lagi ? Kenapa?"
Elfa menatap nanar ke depan, Steven bisa melihat tatapan itu, lalu
"Baiklah, jagoan.. Kita hitung mulai hari ini, tepat enam bulan kita bertiga tinggal serumah "
Gavin dan ibunya tertawa..
Steven menatap Elfa, Steven melihat gerakan bibir Elfa yang mengucapkan terimakasih padanya.
"Maafin aku Stev..aku harus jelaskan pada Gavin tentang laki-laki itu. Aku tidak ingin Gavin berpikir bahwa dia.."
"Aku mengerti Elfa, Kamu wanita yang kuat dan aku akan menunggu, kamu pasti tau itu "
Steven adalah satu-satunya pria yang tidak pernah menilai kekurangan Elfa, tidak melihat lingkungan Elfa seperti apa, Steven--- ramah dan lembut, tidak hanya Elfa yang merasakan kenyamanan, Gavin juga sangat menyukai Steven---
Sejak awal, Elfa tau dunianya akan di mulai dari pria ini. Pria yang sudah menunggu selama tiga belas tahun.
"Terima kasih Steven.."
*
Elfa dan Gavin masuk ke dalam sekolah yang sangat besar, Elfa baru saja mendaftarkan Gavin di Sekolah Menengah Pertama di lingkungan keluarga berada. Elfa tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat lebih mirip seringai, Sebuah tatapan mata yang seolah-olah mengatakan "Aku di sini "
"Ayo sayang..."
Tiga puluh menit kemudian..
Elfa di sini, ia berhenti tepat di lampu merah. Ia melihat lihat beberapa detik lalu tiba-tiba Elfa terkejut, tatapannya terpaku pada sosok pria yang berlari, mengejar seorang perempuan dan anak kecil. Kening Elfa berkerut.
Sosok pria itu berlari membelakangi Elfa " Mungkin dia mau ditinggal sama istrinya, ada ada saja" Batin Elfa.
Elfa berlalu pergi, ia kembali ke rumah lama mereka, rumah yang mereka tinggalkan tiga belas tahun lalu. Seseorang yang di percaya untuk menjaga rumah itu menelpon Elfa.
Elfa sengaja membiarkan rumah itu seperti awal, Elfa hanya membayar orang untuk membersihkan rumah itu.
"Mbak... kirain masih malam datangnya, ini aku mau keluar, mau menghindar lagi mbak "
"Menghindar ? Dari siapa ? petugas koperasi ya ?"
"Ya enggak lah mbak, ayo masuk dulu.."
Mereka masuk dalam rumah, tanpa Elfa tahu seseorang baru saja mengambil gambar Elfa di depan rumah itu, penampilan Elfa yang selalu sederhana, justru menampakkan senyum meremehkan dari pria misterius itu " Tetap sama..apa yang tuan ingin kan darinya?"
"Kemarin ada seorang pria yang mencari mbak Elfa di sini, Katanya teman mbak Elfa. Udah lama nggak ketemu katanya mbak "
"Temen pria ?" Keningnya berkerut mencoba mengingat-ingat
"Tapi orangnya udah seumuran aku, mbak...masa mbak punya teman sekolah udah tua kayak gitu"
Elfa penasaran "Terus ?"
"Sesuai pesan ibu dulu, kalau ada yang tanya. bilang saja udah pindah ke Bali "
"Makasih pak.. Sekarang kalau ada yang mencari lagi. Bilang saja ini rumah ku dan kalau di tanya lagi. Bilang saja. Aku kerjanya tukang cuci ya pak "
"Tapi mbak..'
"Jawab gitu aja pak, aku nggak punya teman pria pak. Jangan percaya gitu aja. Oh ya, ini titip untuk ibu ya. Hadiah untuk lebaran nanti "
"Makasih ya mbak Elfa "
Di tempat ini tidak ada yang tau di mana kampung asal Elfa dan tidak ada yang tahu tentang Gavin.
Elfa masuk ke dalam rumah itu, ia menatap rumah sederhana " Siapapun kamu, aku berhasil itu kamu..! Dan aku akan menyempurnakan permainan ini " Ucap Elfa lirih.
Elfa menatap dua nama dalam lingkaran buah hati, kamar sederhana ini menjadi saksi bagaimana bodohnya yang begitu tergila-gila pada pada pemilik nama ini. Menghabiskan waktunya berkhayal tentangnya, Kamar yang menjadi saksi,dia meratapi nasibnya.
Elfa ingat ketika ia menulis kedua nama itu, ia menulis dengan hati yang berbunga-bunga. Nama yang membuatnya melupakan segalanya. Nama yang mampu membuat Elfa melakukan apa saja. Tidak perduli dengan akibat yang akan ia dapat.
Satu tangannya terangkat meraba kertas yang menempel pada dinding kamar yang kosong-- Kertas itu kasar dan sedikit berdebu.
Seharusnya saat itu ia merobek tulisan ini, menghapus semua kenangan tentang nya namun Ia ingin ada yang ia ceritakan kepada anaknya kelak dan ia ingin ini tetap menjadi akar kebencian nya. Nama yang memberinya luka. nama yang ia benci. Aditya..!
.
.
.
Next
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.