"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Nasib Kharisma Di Masa Depan?
"Jadi... ini menantu baru Wimana?"
Kata-kata Lihana menggantung di udara, membawa riak ketegangan yang mampu membungkam mulut-mulut yang berani bicara.
Kharisma yang jelas-jelas ditatap oleh wanita itu tidak hanya diam. Dia mengukir senyum tipisnya lantas mengangguk, masih tidak mengerti mengapa semua anggota keluarga sunyi senyap di sekelilingnya.
Kharisma menoleh ke arah Prabujangga, kepalanya sedikit mendongak untuk menatap sang suami yang jelas melemparkan tatapan tak suka pada Lihana.
"Mas tau dia siapa?" bisik Kharisma, lantas kembali menoleh ke arah Lihana.
Di sampingnya, sekilas Kharisma bisa melihat Nada yang diam tak berkutik dengan mata berkaca-kaca.
"Dia kakak saya."
Bisikan Prabujangga serak, nyaris membuat suaranya tak dapat dikenali oleh Kharisma sendiri. Dan satu kata itu—Kakak—membuat Kharisma langsung menahan napas.
Jadi... ini adalah anak perempuan yang sempat Nada bicarakan? Yang Kharisma anggap sebagai teka-teki?
"Selera para Wimana benar-benar sama," Lihana kembali berucap, sepenuhnya mengabaikan Indra yang mulai lemas di tempatnya.
Wanita itu melangkah mendekat lagi. Kali ini sasarannya adalah Kharisma yang masih berusaha memproses informasi ini.
"Wanita muda yang malang, polos, dan tidak tau apa-apa." Dia berhenti saat Prabujangga mengambil satu langkah maju, laki-laki itu memposisikan diri selangkah di depan Kharisma, menghalangi pandangan Lihana pada istrinya.
"Saya yakin ada tempat di mana hal-hal seperti ini tidak perlu di bahas. Terutama pada istri saya yang belum mengerti apa-apa," Prabujangga menyela dengan dingin.
"Mas kenapa bicara seperti itu?" bisik Kharisma, memegang ujung kemeja Prabujangga sembari sedikit melongokkan kepalanya untuk mengintip ke arah Lihana.
"Belum mengerti apa-apa?" Lihana terkekeh sinis, lalu menaikan sebelah alisnya melihat Kharisma yang mengintip di balik tubuh Prabujangga. "Kenapa kamu takut dia tidak mengetahui apa-apa? Takut jika istrimu ini tau bahwa dia hanya dimanfaatkan?"
Hening terasa semakin mencekam.
"Semua jantan-jantan Wimana biasanya mengakui setelah menikah bahwa para wanita-wanita malang ini hanyalah pion dalam permainan mereka. Hanya mesin penghasil keturunan." Lihana membalas tatapan Prabujangga. "Atau sepertinya... kamu memilih arah yang berbeda? Menganggap bahwa pernikahan bukan sekedar untuk memberikan kepuasan pada Tuan Besar?"
Prabujangga terdiam, tangannya terkepal erat di sisi-sisi tubuh. "Tidak ada yang memilih arah yang berbeda," tekannya.
Lihana menarik sudut bibirnya, membentuk senyum meremehkan. "Seseorang sering kali mengatakan sesuatu yang tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan." Telunjuknya bergerak untuk menunjuk Kharisma di balik lengan Prabujangga. "Laki-laki di keluarga ini tidak melakukan hal seperti itu saat istri-istri mereka berada dalam bahaya."
Di saat bersamaan, tiba-tiba pintu ruangan Ivana terbuka. Wanita itu keluar dengan tubuh yang lunglai, lututnya melemas hingga dia bersimpuh di marmer yang dingin. Matanya sembab. Bengkak. Basah. Mengukirkan ketidakberdayaan.
"Mas..." Suaranya serak, berlutut di hadapan Indra. "Maaf... aku minta maaf, Mas..."
Tapi Indra menghindar, kakinya menyentak kasar tangan Ivana seolah-olah sentuhan wanita itu adalah hina.
"Jangan berani-beraninya kamu sentuh-sentuh saya lagi!"
Bentakan Indra terdengar nyaring di lorong rumah sakit yang sepi. Kharisma yang masih berada di belakang Prabujangga terbelalak melihat adegan di hadapannya.
"Kamu sudah berjanji pada saya untuk memberikan anak laki-laki! Tapi lihat hasil itu! Lihat hasil sialan itu!"
"Indra—"
"Mama tidak usah ikut campur!"
Dela terkesiap, tangannya menyentuh dada mendapati bentakan keras dari putranya.
Di sisi lain, Batra dan Viraj tidak berani mengatakan apapun. Mereka yang seharusnya mampu mengendalikan situasi sama sekali tidak berkutik—tidak saat yang mereka lawan ini adalah orang suruhan resmi Tuan Besar Wimana.
"Saya sudah menghabiskan banyak sekali uang untuk merawat bayi itu karena kamu terlalu yakin bahwa dia adalah laki-laki," suara Indra bergetar, menggelegar oleh marah. "Saya membuang-buang waktu saya untuk meladeni sikapmu yang menyusahkan, tapi semua itu sia-sia!"
Ivana menggeleng, tubuhnya gemetar sesenggukan. Kepalanya menyentuh lantai, berlutut meminta belas kasihan dari suami yang selama ini telah ia layani.
"Mas... aku juga nggak berharap seperti ini..."
"Diam!"
Ivana tersungkur keras, kaki Indra mendorongnya dengan sangat kasar hingga tubuh wanita itu terjatuh di lantai. Ivana memekik kesakitan, perutnya yang besar menekan permukaan yang keras.
"Ivana!"
Jeritan Dela menggelegar. Wanita itu cepat-cepat membantu menantunya yang ambruk kesakitan.
Tanpa sadar, genggaman Kharisma pada kemeja Prabujangga mengendur. Matanya ikut memanas, seakan-akan jiwa Ivana merasuki dirinya, membuatnya bisa merasakan setiap sayatan nyeri di hati wanita itu.
"Mengamuk tidak akan mengubah jenis kelamin anakmu itu, Indra." Lihana menyaksikan pemandangan itu seakan-akan itu hanyalah gangguan biasa. "Bersyukurlah sebelum Tuhan memutuskan untuk tidak memberimu anak sama sekali."
Lihana menoleh kembali ke arah Kharisma, sorot tajamnya menusuk penuh ancaman. Senyum dingin terukir di bibirnya melihat mata perempuan itu yang berkaca-kaca. "Seperti inilah gambaranmu di masa depan."
...***...
"Seperti inilah gambaranmu di masa depan."
Kata-kata Lihana terus berputar-putar di kepala Kharisma bahkan setelah beberapa jam adegan menegangkan itu berlalu. Indra diseret menjauh dari Ivana oleh keamanan rumah sakit, Ivana yang meraung-raung di pelukan Dela, semuanya masih terasa segar di ingatannya.
Jadi begini keadaan para wanita di keluarga Wimana? Jadi bukan hanya Kharisma yang dinikahi hanya untuk memberikan seorang anak?
Kharisma semakin menenggelamkan tubuhnya di dalam air. Aroma lavender yang menenangkan perpadu dengan manisnya aroma vanila, bercampur dengan uap-uap panas yang mengepul dari dalam bak mandi.
Sejenak ia memejamkan mata, tak bisa membayangkan bagaimana Prabujangga akan menendangnya menjauh jika saja di masa depan ia memiliki nasib kurang beruntung seperti Ivana.
"Kamu sudah berendam selama satu jam."
Suara dingin nan rendah itu membuat kelopak mata Kharisma kembali terbuka.
"Mas Prabu?" Kharisma terbelalak, secara naluriah memeluk tubuhnya sendiri saat mendapati kehadiran suaminya yang tiba-tiba.
Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, lengan kemejanya digulung di bawah siku.
"Untuk apa menutupi tubuh? Saya sudah melihat semuanya setiap malam." Prabujangga mendekat, berhenti tepat di tepi bak mandi.
"Tetap saja Mas harus meminta izin dulu jika ingin masuk." Kharisma memalingkan wajah, jelas menghindari tatapan Prabujangga. "Memangnya kenapa Mas tiba-tiba datang?"
"Kamu berendam selama satu jam. Saya hanya memastikan kamu tidak mati kedinginan di dalam sini," jawab Prabujangga sekenanya. Dia meraih handuk terdekat, tatapannya tak lepas dari Kharisma.
"Tidak akan kedinginan," balas Kharisma dengan nada yang sedikit ketus. "Mas Prabu kan tau kalau aku mandi air hangat."
Kharisma ragu-ragu menatap Prabujangga, melihat handuk di tangannya. "Itu kenapa mengambil handukku?"
Prabujangga yang tampak malas menanggapi itu hanya menghela napas lelah. Dia melangkah lebih dekat lagi, lalu mengulurkan tangannya ke arah Kharisma.
"Keluar dari sana," perintahnya, dengan nada datarnya yang biasa. "Air hangat tidak akan selamanya hangat. Ini sudah satu jam. Jangan kekanak-kanakan."
Tapi alih-alih menerima uluran tangan Prabujangga, Kharisma justru bangkit dari bak mandi dan melewati suaminya. Prabujangga langsung menurunkan tangannya saat diabaikan begitu saja.
Kharisma meraih handuk lain yang lebih besar, berpura-pura tidak menghiraukan handuk di tangan Prabujangga yang jelas ingin diberikan padanya. Kharisma mengelap jejak-jejak air di tubuhnya sebelum melilitkan handuk itu di tubuhnya yang ramping.
"Saya belum sempat menjelaskan yang tadi. Kamu tidak bisa terus-terusan berasumsi dan tiba-tiba tidak bicara saat merasa kesal."
Kharisma menghentikan gerakannya. Ia mengerti bahwa Prabujangga pasti memaksudkan percakapan mereka di lorong rumah sakit beberapa jam yang lalu, saat ia mengatakan bahwa Prabujangga menganggap memiliki anak laki-laki adalah persaingan yang ingin laki-laki itu menangkan. Kharisma langsung pergi bahkan sebelum Prabujangga bicara tadi.
"Memangnya Mas ingin menjelaskan apa?" Kharisma tidak menoleh, sengaja menyibukkan diri dengan menarik beberapa helai tisu untuk mengelap wajahnya. "Aku tidak kesal, hanya malas bicara saja."
Melalui cermin buram yang ditutupi embun, Kharisma bisa melihat keberadaan Prabujangga di belakangnya. Laki-laki itu menyipitkan mata tak suka mendengar jawabannya.
"Hanya malas bicara?" ulang Prabujangga, nadanya semakin dingin. "Jadi kamu mulai mempermainkan saya sesuka hatimu sekarang? Menganggap kamu bisa memperlakukan saya seenaknya?"
Kharisma tersentak saat merasakan jari-jari kokoh Prabujangga melingkari pergelangan tangannya. Cengkraman laki-laki itu tidak kasar, namun Kharisma jelas bisa membaca amarah tertahan di balik sentuhan itu.
"Lihat saya jika saya bicara. Jangan seperti anak kecil," desak Prabujangga.
Saat Kharisma tidak juga menurut, Prabujangga langsung menarik pergelangan tangan Kharisma ke arahnya, memancing pekikan kaget Kharisma yang langsung memenuhi kamar mandi.
Kharisma terbelalak, tubuhnya langsung menubruk tubuh keras Prabujangga. Seakan-akan tidak dibiarkan kabur, sekarang tangan Prabujangga melingkari pinggangnya dengan kokoh.
"Jika kamu tidak mau mendengarkan, maka saya akan memaksa."
Bersambung...