NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu kayu itu terdengar mantap, memecah keheningan ruang tamu yang hanya diisi suara televisi.

Prita yang sedang asyik mengemil sambil menyandarkan kepalanya di sofa, terpaksa bangkit dengan malas.

"Iya, sebentar!" seru Prita sambil merapikan kaus santainya yang sedikit kusut.

Ia melangkah menuju pintu depan, mengira itu mungkin hanya kurir paket atau tetangga yang ingin mengantar sesuatu. Namun, begitu daun pintu terbuka, napas Prita seolah tertahan di tenggorokan.

Di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja flanel yang rapi, rambutnya yang tadi pagi berantakan kini tersisir klimis, dan aroma parfum maskulin yang segar langsung menyapa indra penciuman Prita.

Pria yang tadi pagi membuatnya salah tingkah di mess.

Prita membelalakkan matanya. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena terkejut.

"K-kamu?" gumamnya lirih, hampir tak percaya pria itu benar-benar ada di depan rumahnya.

Sadar akan kekagetannya yang terlalu kentara, Prita segera memutar tubuhnya dan berteriak ke arah dalam rumah dengan nada panik sekaligus bingung.

"Mbak! Mbak Pram! Ini, ada teman Mbak!"

Pramesti muncul dari balik tirai dapur dengan senyum penuh kemenangan yang tertahan. Ia seolah sudah memprediksi reaksi adiknya.

"Oh, Abraham! Sudah sampai ya? Ayo masuk, Ham," sambut Pramesti santai, sementara Prita masih terpaku di ambang pintu, menatap Abraham yang kini tersenyum tipis ke arahnya.

Abraham mengangguk sopan pada Prita. "Malam, Prita. Maaf ya kalau mengagetkan."

Prita hanya bisa mengerjapkan mata, masih berusaha mencerna bagaimana teknisi lapangan yang ia anggap "bukan tipenya" itu sekarang berdiri tepat di depannya untuk menghabiskan malam Minggu.

Abraham tersenyum canggung, namun sorot matanya menunjukkan kesungguhan yang sulit diabaikan.

Ia menoleh ke arah Pramesti yang sedari tadi bersandar di pintu kamar dengan tangan terlipat, menikmati tontonan gratis di depannya.

"Pram, apa aku boleh ajak Prita jalan sebentar?" tanya Abraham dengan nada sopan, hampir seperti seorang siswa yang meminta izin pada guru kelas.

Pramesti tertawa kecil, lalu menganggukkan kepalanya mantap.

"Boleh, Ham. Bawa saja. Asal jangan kemana-mana kalau pulang. Kasihan Simon nggak ada yang ngajak main."

Prita yang masih terpaku di ambang pintu merasa dunianya mendadak berputar cepat.

Ia menatap kakaknya dengan tatapan 'apa-apaan ini', namun Pramesti hanya membalas dengan kedipan mata jahil.

Abraham kembali menatap Prita. "Ayo, mau ikut? Udara Malang malam ini lagi bagus."

Prita sempat terdiam sebentar. Ada pergulatan batin antara gengsi dan rasa penasarannya. Namun, entah mengapa, melihat Abraham yang tampil rapi—sangat berbeda dengan bayangannya tentang teknisi yang kotor karena debu—membuat benteng pertahanannya sedikit retak.

"Ya sudah, sebentar. Aku ambil jaket dulu," gumam Prita akhirnya, menyerah pada situasi.

Setelah berpamitan singkat pada Pramesti, mereka berjalan menuju motor besar milik Abraham yang terparkir di depan pagar.

Prita naik ke boncengan dengan gerakan kaku, menjaga jarak agar tidak terlalu menempel.

"Ayo kita mau ke mana?" tanya Prita saat mesin motor mulai menderu pelan.

Abraham terdiam sejenak. Ia memutar kemudinya perlahan keluar dari halaman rumah Prita.

"Entahlah, aku sendiri juga nggak tahu," jawab Abraham jujur, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di balik helm.

Prita mengernyitkan dahi. "Lho? Mengajak jalan tapi nggak tahu tujuannya?"

"Tujuan utamanya kan cuma mengajakmu keluar rumah dulu," sahut Abraham sambil terkekeh pelan.

"Sisanya, biarkan jalanan Malang yang mengarahkan kita. Atau, kamu punya tempat favorit kalau lagi lapar tengah malam?"

Prita tanpa sadar tersenyum tipis di balik helmnya.

Kejujuran Abraham yang apa adanya itu mulai terasa sedikit lebih menarik daripada sekadar tipe pria ideal yang selama ini ia bayangkan.

Motor Abraham membelah jalanan menanjak menuju arah Batu.

Semakin tinggi mereka melaju, kabut tipis mulai turun menyapa, membawa hawa pegunungan yang menusuk hingga ke tulang.

Lampu-lampu kota Malang perlahan mengecil di belakang mereka, digantikan oleh deretan pohon pinus dan pendar lampu jalan yang temaram.

Prita merapatkan jaket tebalnya, namun angin malam tetap saja menemukan celah untuk menyelinap masuk.

Ia refleks sedikit memajukan duduknya, berlindung di balik punggung lebar Abraham yang seolah menjadi tameng dari hantaman angin.

"Dingin sekali..." gumam Prita, suaranya hampir tertelan deru mesin.

Abraham melirik dari spion, menyadari tubuh Prita yang sedikit gemetar.

Tanpa banyak bicara, ia sedikit melambatkan laju motornya.

"Tahan sebentar ya, kita cari jagung bakar di depan. Biar badanmu hangat."

Tak lama kemudian, mereka sampai di salah satu kedai jagung bakar pinggir jalan yang menyuguhkan pemandangan city light dari ketinggian.

Asap mengepul dari tungku arang, membawa aroma manis jagung yang terbakar sempurna.

Begitu motor berhenti, Prita langsung turun dan menangkupkan kedua tangannya di depan mulut, meniup-niup nya agar hangat.

"Nah, ini obatnya," ujar Abraham sambil memesankan dua jagung bakar manis pedas dan dua gelas susu ketan hangat.

Mereka duduk di bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah lembah. Prita masih tampak kedinginan, bahunya sedikit terangkat.

"Masih dingin?" tanya Abraham lembut.

Prita mengangguk kecil, wajahnya merona—entah karena suhu udara yang ekstrem atau karena perhatian pria di sampingnya ini.

"Malang kalau malam memang nggak bercanda dinginnya. Tapi pemandangannya bagus banget dari sini."

Abraham menatap Prita, bukan ke arah lampu-lampu kota di bawah sana.

"Iya, bagus banget. Aku bersyukur tadi nekad minta izin ke Mbak Pram buat mengajakmu ke sini."

Prita menoleh, mendapati tatapan Abraham yang sama persis seperti di mess pagi tadi—tajam, jujur, dan penuh kekaguman. Untuk pertama kalinya, Prita tidak merasa ingin berpaling.

Ia mulai bertanya-tanya, apakah standar tinggi yang selama ini ia pegang teguh benar-benar lebih penting daripada kenyamanan sederhana yang ia rasakan saat ini?

Asap dari jagung bakar mengepul di antara mereka, menari-nari ditiup angin malam Batu yang semakin menusuk.

Abraham menyesap susu ketan hangatnya, lalu menoleh ke arah Prita yang masih sibuk menghangatkan jemarinya di pinggiran gelas.

"Prit, kamu, masih kuliah apa sudah kerja?" tanya Abraham perlahan, mencoba membuka percakapan yang lebih pribadi.

Prita terdiam sejenak, menatap kerlip lampu kota Malang di kejauhan.

"Sudah lulus, Mas. Ini aku lagi menunggu panggilan kerja. Kemarin sempat tes di salah satu bengkel besar di Jakarta. Kalau lolos, ya mungkin bulan depan berangkat."

Mendengar kata "Jakarta", senyum di wajah Abraham sedikit memudar, namun ia segera menutupinya dengan cengiran jahil khasnya.

Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi kayu yang dingin.

"Wah, jauh juga ya sampai ke Ibu Kota," gumam Abraham. Ia terdiam sesaat, lalu menatap Prita tepat di matanya dengan kilat jenaka yang provokatif.

"Terus, kalau kamu ke Jakarta. Aku di sini sama siapa?"

Kalimat itu meluncur begitu saja, setengah menggoda namun ada nada kehilangan yang tulus di dalamnya.

Deg!

Jantung Prita seolah berhenti berdetak sesaat. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya—perasaan asing yang tidak masuk akal.

Padahal, mereka baru benar-benar bicara beberapa jam yang lalu. Dan tadi pagi ia dengan tegas mengatakan pada kakaknya bahwa Abraham "bukan tipenya".

Namun, mengapa sekarang rasanya seolah ia berat untuk membayangkan keberangkatannya sendiri.

Prita memalingkan wajah, berpura-pura sangat tertarik pada butiran jagung di tangannya agar Abraham tidak melihat rona merah yang menjalar di pipinya.

"Mas ini apa sih, baru juga kenal sudah bicara begitu," sahut Prita pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

"Memangnya kenapa kalau baru kenal?" balas Abraham lebih serius, suaranya kini merendah.

"Terkadang, pertemuan singkat itu justru yang paling susah buat dilupakan, Prit. Aku saja masih ingat jelas gimana cara kamu merapikan rambut waktu turun dari motor tadi pagi."

Prita tertegun. Di bawah langit Batu yang pekat, di tengah aroma jagung bakar dan dingin yang mencekam, Prita mulai menyadari satu hal: tembok yang ia bangun tinggi-tinggi untuk menjaga status sosialnya, perlahan mulai retak oleh kehadiran seorang pria yang bahkan tidak takut kulitnya terbakar matahari demi menyambung kabel-kabel komunikasi.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!