NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Arya masih berdiri di ambang pintu ketika pertanyaan itu terlintas di benaknya tentang pakaian yang kini dikenakan Nadia. Ia sempat melirik Rio, berniat menanyakan langsung pada asistennya itu, namun sesuatu di dalam dirinya berubah arah. Ada rasa penasaran yang lebih kuat, dorongan untuk melihat sendiri. Bukan sekadar pakaian, melainkan reaksi Nadia. Cara gadis itu berdiri, bergerak, dan yang paling penting cara ia memandang atau menghindarinya.

Tanpa menunggu jawaban Rio, Arya melangkah pergi.

Rio dan Melia saling bertukar pandang. Keduanya tahu apa arti langkah itu Arya ingin berhadapan langsung. Tidak ada yang bisa, atau berani, menghentikannya.

Di dalam kamar, suasana jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Cahaya sore masuk melalui jendela besar, menyinari ruangan dengan warna keemasan lembut. Nadia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan perasaan yang sulit ia definisikan.

Pakaian yang kini ia kenakan sederhana, tertutup, namun jelas bukan pakaian biasa. Kainnya jatuh dengan rapi mengikuti lekuk tubuhnya tanpa menekan, warnanya lembut dan menenangkan. Tidak ada potongan berani, tidak ada kesan memamerkan diri. Namun justru karena itulah Nadia merasa berbeda.

Ia tampak seperti orang lain.

Bukan gadis kos dengan pakaian murah yang dicuci berulang kali. Bukan pula perempuan yang tubuhnya terasa asing setelah direnggut paksa. Pantulan di cermin menunjukkan seseorang yang lebih tenang setidaknya di luar meski di dalam, badai belum juga reda.

Melia berdiri tidak jauh di belakangnya, memperhatikan dengan saksama. Sejak Nadia selesai berganti pakaian, gadis itu lebih banyak diam. Terlalu diam.

Apakah ia tidak menyukai pakaian ini? Melia bertanya-tanya. Kekhawatiran kecil muncul di hatinya. Ia memilih pakaian itu dengan hati-hati, sengaja menghindari apa pun yang terlalu mencolok atau memancing reaksi tertentu dari tuannya.

“Nona…” Melia akhirnya membuka suara. “Apakah pakaiannya tidak nyaman?”

Nadia tersentak kecil, lalu menoleh. Ia tersenyum tipis senyum yang lelah, namun tulus.

“Tidak,” jawabnya pelan. “Aku menyukainya.”

Melia sedikit terkejut. “Benarkah?”

Nadia mengangguk. “Terima kasih. Aku… akan segera mengembalikannya nanti.”

Melia langsung menggeleng. “Tidak perlu.”

Nadia mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Pakaian itu milik Anda,” jelas Melia. “Disiapkan untuk Anda.”

Kalimat itu membuat Nadia terdiam.

Ia kembali menatap cermin, kali ini dengan pandangan yang lebih berat. Di dunia Arya, memberikan pakaian semahal ini bukanlah hal besar. Bukan hal yang mustahil. Namun justru kesadaran itulah yang membuat perutnya terasa mual. Pemberian semacam ini bukan hadiah melainkan penegasan kepemilikan.

Nadia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, menelan perasaan yang muncul tanpa izin.

“Jika Anda mengizinkan,” lanjut Melia, berusaha mengalihkan suasana, “saya ingin mengoleskan gel anti-memar di punggung Anda.”

Nadia ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”

Ia duduk perlahan di tepi ranjang, punggungnya menghadap Melia. Gerakannya masih hati-hati, namun jauh lebih stabil dibandingkan sebelumnya.

“Maaf,” ucap Nadia tiba-tiba. “Aku sudah merepotkan.”

Melia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tidak. Ini memang tugas saya.”

Ia mengoleskan gel dengan gerakan ringan dan profesional. Sentuhannya hati-hati, seolah takut meninggalkan bekas baru di tubuh yang sudah cukup terluka. Nadia menutup mata, mencoba rileks. Sensasi dingin gel itu sedikit membantu meredakan nyeri.

Belum lama proses itu berlangsung, suara langkah kaki terdengar di luar.

Melia menegang halus.

Ketukan ringan terdengar di pintu, diikuti suara yang sudah sangat Nadia kenal dan tak pernah ia nantikan.

“Sayang,” panggil Arya santai. “Ka.u sudah bangun?”

Nadia membuka matanya, tubuhnya menegang seketika. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena rindu, melainkan kewaspadaan.

Arya membuka pintu tanpa menunggu jawaban, lalu masuk dengan langkah percaya diri. Pandangannya langsung tertuju pada Nadia.

“Apakah kau merindukanku?” tanyanya, nada suaranya ringan, nyaris bercanda.

Melia segera menyelesaikan tugasnya. Ia berdiri dan membungkuk sedikit. “Saya sudah selesai, Tuan.”

Arya mengangguk. “Kamu dan Rio bisa keluar.”

Tanpa banyak bicara, Melia melangkah pergi. Rio yang menunggu di luar mengikuti langkahnya. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan dua orang itu sendirian di ruangan yang terasa tiba-tiba menyempit.

Keheningan menggantung di udara.

Nadia memalingkan wajahnya, menolak menatap pria itu. Ia tidak ingin melihat senyum arogan itu. Tidak ingin memberinya kepuasan sekecil apa pun.

Arya memperhatikan reaksi itu dengan senyum miring. Baginya, penolakan Nadia bukan hal baru dan justru itulah yang membuatnya tertarik.

Ia melangkah lebih dekat, matanya mengamati penampilan istrinya dari ujung rambut hingga kaki. Pakaian yang dikenakan Nadia tertutup, sederhana, namun entah bagaimana justru menonjolkan kecantikannya dengan cara yang lebih halus.

“Lumayan,” gumam Arya. “Cocok denganmu.”

Nadia tidak merespons. Tangannya mengepal di pangkuannya. Di dalam kepalanya, umpatan demi umpatan berputar tanpa suara. Jika tatapan bisa membunuh, Arya sudah mati berkali-kali.

Rasanya ia ingin menyerang. Ingin meluapkan semua amarah, ketakutan, dan rasa hina yang dipendamnya sejak semalam. Ingin menghapus senyum itu dari wajah Arya dengan caranya sendiri.

Arya terkekeh pelan, seolah mendengar sesuatu yang tidak terucap.

“Apa kau ingin membunuhku, Nadia?”

Pertanyaan itu membuat Nadia tersentak. Ia menoleh dengan cepat, matanya membelalak.

Arya melangkah mendekat.

Nadia refleks mundur, punggungnya hampir menyentuh sandaran ranjang. “Jangan mendekat,” ucapnya, suaranya tajam meski bergetar.

Di dalam hatinya, pikirannya kembali berlari liar. Jika saja ia bisa… jika saja ia berani… Ia membayangkan hal-hal gelap, keputusasaan yang bercampur amarah. Bayangan membuang tubuh Arya ke laut, membiarkan arus menyeretnya pergi, lenyap tanpa jejak.

Ia berdecak kesal dalam hati. Tidak. Ia tidak ingin dekat dengan pria ini. Tidak sekarang. Tidak pernah.

Namun Arya berhenti tepat satu langkah darinya, cukup dekat untuk membuat Nadia menahan napas.

Ia menyeringai.

“Kalau kau berhasil,” kata Arya pelan, “apa kau akan membuang mayatku ke laut? Supaya jadi santapan ikan?”

Nadia membeku.

Darahnya terasa mengalir mundur. Bagaimana… bagaimana pria itu tahu?

Matanya menatap Arya dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan semua topeng.

Arya tertawa kecil, puas. “Lihat wajahmu,” ujarnya. “Tebakanku benar.”

Nadia menelan ludah. Jantungnya berdegup keras. “Kamu… gila.”

“Mungkin,” jawab Arya ringan. Ia kembali melangkah mendekat, mempersempit jarak yang tersisa. “Atau mungkin aku hanya pandai membaca pikiran.”

Ia mengangkat tangannya, lalu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Gerakannya lambat, disengaja, penuh makna intimidatif bukan untuk menggoda, melainkan untuk menguasai situasi.

Nadia membalikkan wajahnya dengan cepat. “Hentikan.”

Arya berhenti di tengah gerakan, lalu tertawa rendah. “Jadi,” katanya, “bagian mana yang akan kau berikan pada ikan-ikan itu?”

Ia mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya hampir berbisik. “Leherku? Atau dadaku?”

Nadia gemetar, bukan karena takut semata, melainkan karena campuran emosi yang terlalu banyak untuk ditahan. Ia ingin berteriak, ingin mendorong pria itu pergi, namun tubuhnya terasa berat.

“Menjauh dariku,” ucapnya, kali ini lebih tegas.

Arya terdiam sejenak, menatap wajah Nadia dengan seksama. Ada sesuatu di mata gadis itu ketakutan, ya, tetapi juga api kecil yang belum padam. Api perlawanan.

Dan entah mengapa, itu membuat Arya tersenyum lebih lebar.

Ia tidak menyentuh Nadia. Tidak kali ini. Ia hanya berdiri di sana, menikmati ketegangan yang tercipta.

“Kamu masih berani melawan,” katanya akhirnya. “Dan aku penasaran… seberapa lama kamu bisa bertahan.”

Nadia tidak menjawab. Ia menatap lurus ke depan, mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.

Di dalam hatinya, satu hal ia yakini: permainan ini belum selesai.

Dan meski Arya merasa memegang kendali, Nadia perlahan menyadari selama pikirannya masih miliknya sendiri, selama ia belum menyerah sepenuhnya ia masih punya sesuatu untuk diperjuangkan.

Pertemuan sore itu berakhir tanpa sentuhan, tanpa teriakan. Namun justru itulah yang membuatnya lebih berbahaya.

Karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai bukan di tubuh, melainkan di pikiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!