Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cekikan Kematian
"Dede....oh.... tidak...!!!" teriakan Sarah pecah keras di koridor, air mata langsung menyiram wajahnya saat melihat Dede yang melayang di udara dengan wajah sudah mulai kebiruan.
"Kamu harus selamat De... Kakak gak mau kehilangan kamu!!" ucapnya sambil menangis teresak-esak, lalu mencoba membuka pintu dengan tubuhnya untuk mendobrak pintu. "BAM!!" Tubuhnya menabrak pintu dengan keras tapi pintu tetap tidak terbuka.
Di dalam kamar, Dede melihat ke arah Sarah dengan mata yang sudah mulai kabur, bibirnya bergerak pelan berusaha berkata-kata: "Ka....kak.... to....lo......ng.......!" Suaranya tercekik, diselingi suara batuk yang menyakitkan. "Ahhkkk... ahkkkkkk.....ak...u..... udah gak ku....at.....!"
"DEK BERTAHAN!!" teriak Sarah dengan suara meronta-ronta, tubuhnya sudah mulai lemah tapi tetap berusaha mendorong pintu. "RINI LEPASKAN ADIK KU! DIA GAK SALAH AKU YANG SALAH!!!"
Pada saat itu, tangan Rini yang mencengkeram leher Dede perlahan mulai melepaskan diri. Dede terjatuh dengan keras ke atas ranjang, tapi tubuhnya sudah tidak bergerak lagi lidahnya menjulur keluar, matanya melolot ke atas, dan wajahnya membiru pekat.
Rini lalu berpaling ke arah pintu dengan wajah yang penuh kegembiraan, lalu tertawa dengan suara kencang yang menusuk telinga seperti suara kuntilanak yang menyeramkan. Suaranya bergema di seluruh kamar dan koridor, membuat beberapa pintu kamar lain sedikit terbuka .
"GAK... GAK BOLEH, DE... KAMU GAK BOLEH MATI!!!" teriakan Sarah semakin keras, dia mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa dan membentur pintu sekali lagi dengan tubuhnya. Kali ini pintu akhirnya terbuka dengan suara "CREEEAAK!!!" yang sangat keras, membuat Sarah terjatuh terhuyung-huyung di lantai kamar.
"AAAAWWWW!!!" teriakan kesakitan Sarah pecah saat tubuhnya terjatuh ke lantai kamar yang keras.
"Sarah kamu gak apa-apa?!" tanya Rizky dengan khawatir, langsung berdiri dari sofa untuk membantunya.
"Aku gak apa-apa kok..." jawab Sarah dengan suara masih sedikit terkejut, tangan menyentuh bagian pundaknya yang terasa sakit karena jatuh.
"Saking lelapnya sampai jatuh dari bangku ya Sarah... Sarah..." ucap Rizky dengan nada khawatir tapi juga sedikit tersenyum.
"Ha... apa?!" Sarah melihat sekeliling dengan wajah heran, kemudian menyadari bahwa dirinya bukan di lantai kamar , tapi baru saja terjatuh dari kursi yang dia tempati sambil menunggu Dede tidur. "Aku jatuh dari bangku...?"
Rizky tidak bisa menahan tawa. "Ya dong! Kamu tadi tidur dengan sangat nyenyak di kursi, terus tiba-tiba badanmu condong ke depan dan langsung jatuh aja tuh!"
Sarah melihat sekeliling sinar matahari sudah mulai menerobos melalui jendela kamar, membuat ruangan menjadi terang benderang. Semua terlihat damai dan tenang.
"Rizky, ini sudah jam berapa?" tanya Sarah dengan suara pelan.
"Jam 7 pagi nih," jawab Rizky sambil menunjuk ke arah jam dinding di sudut kamar. "Kamu mimpi apa sih sampai bisa jatuh gitu? Tadi kamu juga berteriak-teriak lho!"
"Apa... mimpi?" Sarah perlahan berdiri dan menoleh ke arah ranjang Dede. Ada dia adiknya masih duduk di ranjang dengan riang sedang makan buah yang diberikan perawat, wajahnya cerah dan sehat. Tanpa berpikir panjang, Sarah langsung berlari menghampiri dan memeluknya dengan sangat erat.
"Kamu masih hidup dek...!" ucap Sarah dengan suara penuh emosi.
"Ihhh... Kakak apaan sih, lepas lah!" teriak Dede dengan sedikit kesal tapi juga tersenyum, mencoba melepaskan diri dari pelukan Sarah.
"Kamu masih hidup...!" ulang Sarah lagi dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kakak nyumpahin aku mati !" keluh Dede sambil sedikit memukul kepala Sarah dengan lembut.
"Awww... sakitnya!" teriak Sarah dengan nada sedikit menyakitkan tapi penuh lega.
"Berarti semalam aku mimpi... syukurlah, rasanya jantungku mau copot..." bisik Sarah dalam hati, tangan mulai mengelus dadanya yang masih berdebar kencang akibat kejutan dari mimpi buruknya tadi.