NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 Tahun Berlalu

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar studio televisi di pusat Jakarta, memantul pada deretan panci tembaga yang berkilat. Bau harum tumisan bawang putih dan herba segar memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang hangat dan menggugah selera. Di tengah set dapur yang mewah itu, Devina Maharani bergerak dengan keluwesan seorang maestro. Setahun telah berlalu sejak badai horor yang diciptakan Aris meluluhlantakkan hidupnya, dan kini, senyum di wajahnya bukan lagi sekadar topeng untuk kamera.

"Dan itulah rahasia Risotto yang sempurna," ucap Devina manis ke arah kamera utama. "Kuncinya adalah kesabaran. Persis seperti hidup, hasil terbaik datang pada mereka yang mau menunggu dan bertahan melalui panasnya api."

"DAN... CUT! Bagus sekali, Chef!" seru sang sutradara.

Tepuk tangan kru pecah. Devina mengembuskan napas lega, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. Jadwal syutingnya kini sangat padat, memecahkan rekor rating televisi nasional. Namun, di balik kesibukan yang luar biasa itu, ada satu hal yang membuat matanya benar-benar berbinar setiap kali ia menatap kalender di ruang ganti.

Tepat tiga puluh hari dari sekarang, sebuah lingkaran merah besar menandai tanggal pernikahannya dengan Gavin Wirya Aryaga. Butuh waktu satu tahun penuh bagi Gavin untuk menyembuhkan retakan di hati Devina, meyakinkannya bahwa dunia tidak lagi berbahaya, dan bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan pengkhianatan.

****

Sore itu, Gavin menjemput Devina di lobi stasiun televisi. Pria itu nampak lebih rileks, meskipun aura ketegasan seorang pemimpin perusahaan besar tetap melekat padanya. Ia membukakan pintu mobil untuk calon istrinya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Bagaimana syuting hari ini?" tanya Gavin sambil menggenggam tangan Devina saat mobil mulai membelah kemacetan Jakarta.

"Melelahkan, tapi menyenangkan. Aku merasa benar-benar 'hidup' kembali, Gavin," jawab Devina, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. "Terima kasih sudah tidak menyerah padaku selama setahun ini. Aku tahu aku sempat menjadi sangat sulit setelah kejadian itu."

Gavin mengecup puncak kepala Devina. "Aku akan menunggumu seumur hidup jika perlu, Dev. Cincin yang sempat tertunda itu... akhirnya akan melingkar secara resmi di jarimu bulan depan. Semua persiapan sudah 90%. Orang tuamu, mereka sangat bersemangat menyiapkan adatnya."

Devina tersenyum, namun sesaat bayangan gelap melintas di benaknya. "Kadang aku masih merasa ini terlalu indah untuk menjadi nyata. Apakah dia benar-benar sudah tidak bisa menjangkau kita lagi?"

Gavin mengeratkan genggamannya. "Dia membusuk di sel isolasi, Dev. Vonis penjara seumur hidup tanpa remisi. Dia tidak punya akses ke dunia luar. Kita aman."

****

Namun, jauh dari hiruk-pikuk kebahagiaan Jakarta, di sebuah pulau karang yang dikelilingi ombak ganas samudera, Aris Wicaksana sedang tidak membusuk. Ia sedang bertransformasi.

Di dalam sel isolasi nomor 09 yang gelap dan pengap, Aris duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Rambutnya yang dulu dicukur habis kini mulai tumbuh kasar dan berantakan. Tubuhnya nampak lebih kurus, namun otot-ototnya justru terlihat lebih kawat dan tajam akibat latihan fisik gila-gilaan yang ia lakukan setiap hari di ruang sempit itu.

Matanya yang cekung menatap lurus ke arah dinding beton di depannya. Di sana, ia telah menggoreskan garis-garis halus menggunakan ujung kuku atau serpihan sendok plastik yang ia tajamkan secara sembunyi-sembunyi selama berbulan-bulan. Garis-garis itu membentuk sebuah peta: sistem ventilasi, jadwal patroli sipir yang telah ia hafal lewat pendengaran, dan titik buta kamera CCTV yang ia amati lewat pantulan bayangan di lantai.

"Satu tahun..." bisik Aris. Suaranya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu kering, pecah dan mengerikan. "Kalian pikir tembok ini adalah akhir? Bagiku, ini adalah tempat tidur yang nyaman untuk merencanakan kematian kalian."

Aris merogoh saku rahasia di dalam jahitan seragam oranyenya. Ia mengeluarkan sepotong kecil foto dari potongan koran bekas yang dilemparkan sipir bulan lalu. Foto itu menampilkan wajah Devina yang sedang tersenyum di acara peluncuran buku masaknya.

Aris mengelus wajah Devina di foto itu dengan ibu jarinya yang kasar. "Pernikahan bulan depan, ya? Aku tidak akan membiarkanmu memakai gaun putih itu, Devina. Aku akan menggantinya dengan kain kafan yang paling mahal."

Setahun berada di dalam kesunyian total justru membuat daya ingat dan insting predatornya semakin tajam. Ia telah menjalin kontak diam-diam dengan seorang narapidana baru yang memiliki koneksi dengan sipir yang korup. Sebuah rencana pelarian yang jauh lebih nekat, lebih berdarah, dan lebih terorganisir sedang matang di kepalanya. Aris tidak ingin sekadar kabur; ia ingin meruntuhkan seluruh dunia Devina dan Gavin tepat di hari mereka merasa paling bahagia.

*****

Sementara itu, di sebuah desa yang tenang di Jawa Barat, Bu Imroh berjalan perlahan menuju pemakaman umum. Langkah kakinya sedikit terseret, sisa dari luka jatuh ke jurang setahun lalu yang tak pernah benar-benar sembuh sempurna. Di tangannya, ia membawa sebakul bunga mawar dan melati yang harumnya menyerbak di udara desa yang sejuk.

Ia berhenti di depan sebuah nisan sederhana bertuliskan: Salsabila binti Jainudin.

"Salsa, Sayang... Ibu datang," bisik Bu Imroh sambil berjongkok. Ia mulai menaburkan bunga di atas gundukan tanah merah yang terawat rapi itu.

"Bulan depan Nak Devina mau menikah, Nak. Dia dan Nak Gavin akhirnya bersatu. Ibu senang sekali, setidaknya ada kebahagiaan setelah semua air mata yang kita tumpah karena pria itu. Ibu harap kamu tenang di sana, tidak ada lagi yang mengganggumu."

Bu Imroh mulai merapalkan doa-doa syahdu. Namun, tepat saat ia sampai pada kalimat penutup, sebuah embusan angin yang sangat kencang dan dingin tiba-tiba datang dari arah hutan di belakang pemakaman. Angin itu menerpa wajah Bu Imroh begitu keras, hingga kelopak bunga yang baru ia taburkan beterbangan liar ke udara, seolah-olah ditolak oleh tanah.

Bu Imroh tersentak. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, jenis hawa dingin yang sama dengan yang ia rasakan saat berada di tepi jurang Cadas Pangeran bersama Aris. Bulu kuduknya meremang hebat.

"Ya Allah..." gumam Bu Imroh, matanya memandang berkeliling.

Langit yang tadinya cerah mendadak tertutup awan abu-abu yang bergerak cepat. Burung-burung gagak yang bertengger di pohon kamboja tiba-tiba terbang serentak sambil berkaok nyaring, sebuah suara yang di desa itu dianggap sebagai pertanda maut.

Bu Imroh mencengkeram dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Firasatnya sebagai seorang ibu bergejolak hebat. Ia merasa kegelapan yang selama ini ia sangka sudah dikunci rapat di dalam penjara, kini sedang merayap keluar, mengincar cahaya yang baru saja menyala.

"Jaga mereka, ya Allah... tolong jaga mereka," rintih Bu Imroh, air matanya jatuh di atas nisan Salsa. Ia tahu, ketenangan satu tahun ini hanyalah kesunyian sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.

Di dalam selnya, Aris Wicaksana tersenyum saat mendengar suara guntur di kejauhan. Baginya, itu adalah musik pembuka untuk pertunjukan terakhir yang akan ia mainkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!